Manusia dan Televisi

Hujan deras turun
Banjir melanda Jakarta
Gardu listrik terendam air
Listrik padam
Mati lampu
Pompa air tidak dapat bekerja
Mati air
Kamar gelap gulita
Aku merana

Saat ini sebenarnya aku sedang off duty selama satu minggu. Seharusnya aku tidak perlu mengalami semua ini dan justru bisa menikmati liburan panjang di Bandung. Akan tetapi, bagiku “hal itu” lebih penting dan lebih berharga untuk kulakukan sehingga aku memutuskan untuk stay di Jakarta hingga hari Sabtu nanti aku on duty  ke lapangan.

Pagi itu, aku baru saja berbelanja dari mini market. Ketika aku masuk melewati pagar kost, mas yang ngekost di tempat yang sama denganku sedang duduk di depan pintu. Kamipun berbincang sedikit mengenai ketidaknyamanan ini, terutama mengenai listrik yang padam karena gardu listrik terendam air.

“Ya kalaupun banjir sih gapapa, asalkan ga mati lampu. Lampu ini loch yang bikin susah.
Coba ga mati lampu, masih terhibur lah kita kan?”

Sampai di situ, aku masih setuju dengan apa yang beliau katakan. Akupun menanggapinya.

“Iya sih Mas, ini aja saya mau ke kantor. Harusnya sih saya off nih Mas.
Tapi kalau kayak gini situasinya, mending aku ke kantor saja.”

Itulah yang kukatakan padanya. Tetapi kemudian dia menanggapi ideku itu dengan suatu pertanyaan.
Pertanyaan itu sungguh tidak masuk di akalku.

“Bisa nonton TV toh di kantor, Mas?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Whaaaaatttttt, situ serius menanyakan itu?”
Tentu saja aku tidak mengatakannya

Di luar, aku mungkin tampak biasa saja dengan pertanyaannya
Mungkin alis dan dahiku tidak mengerut
Mungkin ekspresiku tidak berubah sama sekali saat itu

Tetapi di dalam hatiku
Oh, terjadi gempa yang sangat besar
Aku benar-benar tidak habis pikir

“Aku tidak mengerti.
Aku sungguh tidak mengerti.
Bagaimana… Bagaimana mungkin…
Bagaimana mungkin di sini aku tidak punya air sama sekali, literally sama sekali.
Bagaimana mungkin di sini aku tidak bisa melihat karena kamarku yang, literally, gelap gulita.
Bagaimana mungkin di sini aku tidak punya listrik untuk mengakses data-dataku yang berharga.
Tetapi beliau malah menggusarkan hal seperti, well you know, tidak bisa menonton televisi?

Pertanyaan pagi itu menyadarkanku akan satu hal
Betapa seharusnya aku sangat bersyukur karena Tuhan memampukanku untuk move on dari televisi
Ternyata, di luar sana, masih ada begitu banyak orang yang menderita karena tidak bisa menonton TV

Kasihan sekali mereka. Penderitaan semacam itu adalah penderitaan yang tidak perlu karena pada dasarnya setiap manusia bisa menghindarinya. Seperti kata Sidharta Gautama, keterikatan adalah akar dari penderitaan. Benar sekali, tanpa kita sadari, ada begitu banyak penderitaan yang kita alami yang bersumber dari keterikatan kita akan sesuatu yang fana. Solusi untuk tidak mengalaminya lagi sebenarnya sangat sederhana, jangan mengikatkan diri padanya. Sesederhana itu. Tetapi masih ada banyak sekali manusia, yang dengan sukarela, justru menambah dan menambah lagi keterikatannnya kepada sesuatu yang sifatnya sementara. Prediksiku, mereka akan menemukan banyak sekali penderitaan sebanding dengan ikatan yang mereka buat. Well, pada akhirnya, itu adalah keputusan mereka masing-masing.

Adapun bagiku, TV adalah hal yang akan selalu berada di prioritas bawah
Terlalu sering menonton hanya akan menjadikan “menonton ya menonton, tidak berpikir”
Aku lebih memilih untuk berpikir sendiri dibanding menonton

Lagipula, sebelum menonton, ada pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan kepada diri kita:
“Apakah tontonan ini memuliakan Tuhan?”
Dan yang seperti kau tahu, akhir-akhir ini, jawabannya hampir akan selalu “Noooo”

Ada begitu banyak tontonan bodoh yang terbang di angkasa setiap detiknya
Dan sebanyak detik yang berlalu, sebanyak itulah detik yang terbuang dari anak-anak manusia
Mereka menyia-nyiakan waktu mereka yang berharga hanya untuk dibodohi
Para penghibur merasa diri mereka “menghibur”, padahal yang mereka lakukan adalah “membodohi”
Oh dunia, sedalam itukah engkau sudah terjatuh?

Tetapi
Dunia belum kiamat
Dan sepanjang waktu masih terus berjalan, akan selalu ada orang-orang berhati mulia
Dan kau bisa melihat karya mereka dalam acara-acara televisi yang mendidik
Oh, dunia beruntung masih memiliki orang-orang seperti mereka
Semoga Tuhan menyertai mereka dan karya mereka

Dan aku di sini, juga tidak akan tinggal diam
Aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk mencegah dunia ini tenggelam semakin jauh
Dan demikianlah aku menuliskan ini semua untuk kita bersama
Aku menunggu karya kalian, teman-teman

Sekali lagi
Sebelum kau menonton, tanyalah dirimu apakah tontonan itu memuliakan Tuhan atau hanya sampah
Dan jangan pernah lupa, keterikatan adalah akar penderitaan

Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan;
melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.
~Ayub 5:7

Advertisements

2 thoughts on “Manusia dan Televisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s