Kuasai Hatimu!

Hari ini aku tersadarkan akan satu hal, dan apa yang terjadi hari ini, meneguhkan apa yang kusadari di hari sebelumnya. Dua pelajaran yang sama datang bertubi-tubi, kenyataan ini “memaksaku” untuk memastikannya menjadi pelajaran dan catatan yang tidak boleh kulupakan, bahkan harus kutulis.

Malam ini aku pergi berbelanja ke super market. Karena cuaca di Jakarta pada malam hari cenderung tidak menentu, ditambah dengan kenyataan bahwa saat itu gerimis sudah turun, walau masih sangat kecil, aku memutuskan untuk tetap pergi ke super market dengan langkah buru-buru. Aku kunci kamar kost-ku, menuruni tangga, dan sampailah aku di pintu gedung kost kami. Sesampainya aku di depan pintu, aku diperhadapkan dengan realitas yang cukup tidak menyenangkan mengingat aku sedang terburu-buru.

“Duh, baru jam 19.00 kok kost-an sudah dikunci sih? Dikunci dua kali pula.”

Akupun membuka pintu dan siap berlomba dengan waktu untuk tiba di super market secepat yang kubisa. Satu dua langkah semua tampak baik-baik saja hingga akhirnya batang hidungku tepat berada depan pagar kost. Apa yang kudapati kali ini lebih tidak menyenangkan dari sebelumnya. Benar sekali, pagarku bukan sekadar dikunci, tetapi digembok.

“Seriously? Jam segini sudah dikunci?”

Aku tidak benar-benar marah, tetapi aku akui, aku cukup bersungut-sungut ketika harus membungkuk dan membuka gembok yang besar itu ditambah lagi tetesan air gerimis semakin meningkat frekuensinya. Aku rasa keadaan hatiku akan lebih buruk dari itu seandainya saja hatiku tidak berkata…

“Richard, stop it. Jangan bersungut-sungut.
Buka saja gemboknya dan pergi. Jangan marah.
Jangan pikirkan siapa yang bersalah karena menutup kost terlalu cepat.
Jangan pikirkan apapun yang bisa membuat hatimu semakin keruh.
Just calm down, cool off, smile, and your heart will absolutely be better in no time.
Just… just open it. Let it go.”

Akupun menuruti apa yang dikatakan hatiku. Dan aku membuktikannya sendiri, hatiku langsung tenang saat itu. Gembok terbuka, aku berdiri, dan melangkahkan langkah pertamaku keluar dari kost. Seketika, malam menjadi terasa menyenangkan kembali.

Aku cukup kaget dengan kesuksesanku menenangkan hatiku secepat dan semudah itu. Aku menjadi tersadarkan, ternyata setiap manusia benar-benar memiliki kuasa yang cukup untuk bisa mengendalikan diri dan emosinya. Ternyata seperti itulah cara kerja pengendalian diri. Kitalah yang memutuskan apakah kita akan menjadi tenang atau malah kian menjadi-jadi dalam amarah atau kesedihan. Jujur saja, perasaan gemes dan tidak habis pikir itu tetap ada ketika aku membuka gembok itu. Perasaan sedikit kesal itu tidak serta merta hilang seolah-olah aku tidak memiliki emosi sama sekali. Aku manusia, bukan robot, tentu saja aku bisa merasa kesal jika aku terganggu. Akan tetapi, aku punya KUASA dan KESEMPATAN untuk memutuskan apakah rasa gemes itu akan kusiram menjadi ketenangan atau malah kukibas-kibas supaya apinya menjadi semakin besar. Dan aku tahu, aku menggunakan kuasa dan kesempatanku itu dengan baik. Malamku pun berjalan menyenangkan.

Seperti yang kusinggung di awal. Pelajaran hari ini mengingatkanku pada hari sebelumnya yakni ketika satu hari penuh listrik di kosanku padam. Aku benar-benar merasa tidak nyaman saat itu. Okelah, aku tidak akan menutupinya, aku kesal. Tentu saja aku kesal dengan kenyataan aku tidak bisa melihat apapun di dalam kamarku yang tidak kebagian akses ke sinar matahari. Tentu saja aku kesal tidak bisa men-charge handphone dan laptopku yang kehabisan tenaga, bahkan tidak bisa menggosok gigiku karena tidak ada air. Aku sedih, aku kesal, dan secara manusiawi, aku cenderung mencari-cari siapa dalang dari semua ini.

“Uuuhhh, masyarakat ini sih, kerjaannya buang sampah sembarangan mulu.
Sekarang sudah kebanjiran sakitnya ke mana-mana kan, uuhhhh.”

Benar sekali, aku mendapatkan kambing hitamnya. Aku tahu siapa yang harus kusalahkan dan kuhakimi di dalam hati. Dan seperti yang kau pasti mengerti, ketika kita tahu siapa pihak yang harus disalahkan atas suata perkara, kita akan cenderung terus menyalahkan dia dan tanpa kita sadari, kita semakin tenggelam dalam kekesalan dan kesedihan. Which is why aku sangat bersyukur karena seketika itu juga hatiku berkata…

“Richard, stop it. Semakin kau menyalahkan, kau akan semakin marah.
Semakin kau pikirkan, kau tidak hanya akan menjadi marah dan sedih, tetapi kau akan membenci.
Jadilah tenang, lupakan, ampuni.
Jangan bersungut-sungut.
Kau tahu kau bisa melewati semua ini. Ingat Tuhan.
Nah gitu dooongg.”

Dan puji Tuhan, aku bisa melewatinya. Tetapi kau harus tahu, rasa sedih dan capai hati karena mati lampu seharian itu tidak hilang sebegitu mudahnya. Aku rasa perasaan kecewa dengan keadaan itu tetap ada bahkan hingga aku mengakhiri hari itu dengan tidur. Keresahan itu tetap ada, karena, seperti yang kau tahu, aku manusia yang punya emosi. Tetapi puji syukur kepada Allah, melalui tuntunan Roh Kudus, aku sanggup mengendalikan amarahku, mencegahnya dari terus berkembang, meredakannya, bahkan bisa merubahnya menjadi sesuatu bisa kupetik sebagai pelajaran, sebagaimana aku menuliskannya saat ini untuk menjadi perenungan bagiku dan BAGI KAMU, yang bukan kebetulan membaca ini.

Dan demikianlah yang bisa kubagikan saat ini. Aku rasa cukup, sekarang sudah pukul 00.21, aku harus tidur, kamu juga.
Tetapi sekali lagi:

“Kamu punya KUASA dan KESEMPATAN untuk menguasai hatimu, jangan sia-siakan itu.”

Kamulah yang menentukan apakah harimu akan menyenangkan atau penuh kekesalan. Kau harus tahu satu rahasia, orang yang marah akan cenderung memikirkan hal-hal yang membuatnya semakin marah, demikian juga pada orang yang sedih, mereka akan cenderung memikirkan hal-hal yang membuat dirinya semakin sedih. Dan kini ketika kau sudah tahu rahasianya, jangan lagi biarkan dirimu terhanyut dalam tipu daya amarah. Ketika amarah dan kesedihan (yang negatif) melandamu, hentikan pikiran itu dan mulailah mengenang apa-apa yang bisa membuatmu tersenyum atau perlu kau syukuri. Itu jauh lebih baik dan memang akan membuat suasana hatimu menjadi luar biasa lebih baik, aku pastikan hal itu.

Terakhir, seperti kata salah seorang teman Ayub, oke aku tahu Tuhan sempat marah pada mereka, tapi kita tahu bersama kalau mereka cukup bijak sehingga tidak salah untuk mengutip perkataannya:

Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan;
melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya
~Ayub 5:7

Advertisements

2 thoughts on “Kuasai Hatimu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s