Resolusi oh Resolusi

Di awal tahun 2014 ini aku membuat suatu resolusi, suatu janji kepada diriku sendiri, yakni jika aku melihat seseorang merokok di tempat umum, maka aku akan menegurnya. Resolusi itu terdengar penuh ketegasan dan kekuatan, setidaknya di telingaku. Resolusi itu juga nampaknya feasible untuk dikerjakan dan tidak terlalu menakutkan atau membahayakan jiwa, menurutku. Itu berarti seharusnya aku bisa menjalankannya secara konsisten. Akan tetapi, aku tidak menyangka bahwa baru di bulan pertama saja, resolusiku itu sudah terguncang.

Adalah ketika aku off dari pekerjaan dinasku di lapangan. Setiap karyawan off, kami akan menaiki travel (mobil off-road) yang akan mengantar kami dari lokasi ke perhentian sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju kota. Tempat perhentian berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari lokasi. Seperti biasa, aku mengambil bangku paling depan supaya aku bisa membaca buku dengan tenang. Sayangnya, harapanku itu tidak terwujud kali ini. Bagaimana tidak, orang-orang di belakangku tidak henti-hentinya berbicara. Sempat terbersit olehku pikiran bahwa lelaki yang banyak omong itu ternyata jauh lebih menyebalkan dibanding wanita dengan kebiasaan yang sama. Tetapi itu bukanlah masalah utamaku saat itu, masalah utamaku adalah ini…

Aduh, kalian sih ngajak saya ngomong terus. Saya jadi jenuh nih, hahaha. Mas dibuka yah jendelanya!“, kata Pak Supir.

Oke, Pak“, kataku yang setuju membuka jendela supaya udara segar pagi hari masuk ke dalam mobil sebagai ganti hawa dingin dari AC. Aku bahkan membukanya dengan penuh semangat. Ternyata aku terlalu polos. Bapak supir kemudian menyalakan rokoknya.

Ini nih kalau saya diajak ngobrol terus. Saya jadi harus mikir sambil nyetir. Jadi pusing. Harus merokok deh, hahahaa“, kata Pak Supir yang pasti memikirkan hal yang sama seperti yang para perokok lain pikirkan.

Whaaaaaaaaaatttttttttttttttttttttttttt“, kataku, tapi dalam hati.

Saat itu, aku sangat sangat terganggu. Di satu sisi aku sangat tidak membenarkan kelakuan itu. Mana boleh merokok di dalam mobil seperti itu. Sekalipun cuma aku yang terganggu, mobil ini tetaplah sarana umum sehingga tidak diperbolehkan merokok di dalamnya.

Tetapi di sisi lain, aku merasa harus bisa memberi toleransi karena kasihan juga si Bapak kalau harus tetap fokus menyetir di jalan off road selama 3 jam padahal seperti pengakuannya, kepalanya sudah jenuh (udah butuh rokok banget). Bapakku, sebelum terkena serangan jantung dan dioperasi, juga adalah seorang perokok berat. Hal ini membuatku sedikit banyak tahu apa yang seorang perokok rasakan ketika dia berkata, “otakku udah jenuh.” Akan tetapi, di antara semua kegundahan dan kekesalan itu, aku paling sebal terhadap diriku sendiri yang tidak berani mengambil keputusan saat itu. Aku tidak berani menentukan di mana posisiku seharusnya berdiri. Such a hame.

“Richard, ingat resolusimu!
Look at yourself, kamu bahkan sampai menulis resolusimu itu di blog
Tapi lihatlah, baru bulan Januari kamu sudah melanggarnya
Ayo, beranilah, tetapkan pendirianmu!

Ayo, kamu tahu mana putih mana hitam, mana salah mana benar

Tetapi pengetahuanmu akan sia-sia kalau kamu tidak berani mengambil tindakan.

Richard, ayooo, masakan kamu mau membiarkan yang salah berdiri di atas yang benar.
Richard, kalau begini saja kamu sudah takut, bagaimana kamu mau mengubah dunia?

Richard… pendidikanmu jauh di atas si Bapak loh
Richard… secara struktural, kamu itu bos-nya si Bapak loh
Percuma tahu kamu sudah tinggi-tinggi kuliah, percuma juga Tuhan kasih kamu kesempatan punya jabatan sedemikian rupa, tapi sama bawahanmu yang tidak benar kamu malah memble. Sama bawahan itu ga boleh sombong atau keras, tapi kalau mereka salah, kamu punya kuasa dan kesempatan untuk menegur dan memberikan contoh yang benar.”

Itulah bagaimana sisi diriku yang radikal sedang lecturing sisi diriku yang penakut. Sayangnya, untuk beberapa saat, sisi penakutku masih lebih dominan. Hingga akhirnya salah seorang dari kami meminta mobil diberhentikan karena harus buang air kecil. Semua penumpang keluar dan menyelesaikan urusannya dan seperti yang sudah kuduga, momentum itu digunakan si Bapak untuk merokok lagi.

Si Bapak punya momentumnya. Aku juga punya momentumku, zeehahahahaha.“, tawaku licik (yang positif) dalam hati. Aku tidak boleh gagal kali ini. Aku punya prediksi dan rencana menuju kesuksesan.

Dan prediksiku ternyata benar, si Bapak masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan, sambil memegang rokok yang masih tersisa setengah potong lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi. Aku sudah punya rencana. Aku sudah belajar dari pengalaman. Aku sudah menguatkan dan meneguhkan hatiku untuk menentukan di mana aku akan berdiri, tetapi tidak sampai di situ saja, kini aku mendapatkan keberanian untuk menyuarakan apa yang benat. Aku bersyukur sekali karena aku yakin saat itu Tuhan sedang memberikan kesempatan kedua bagiku untuk memperbaiki kesalahan. Aku punya KUASA dan KESEMPATAN untuk menghentikan kegilaan ini. Dan puji Tuhan, aku menggunakannya kali ini.

“Pak, kalau merokoknya masih belum selesai, tolong merokok di luar saja ya Pak. Ga baik soalnya, Pak.”

Aku tahu apa yang kukatakan mungkin akan menggangu penumpang di belakangku sebab mereka tidak keberatan dengan asap rokok itu dan mereka sangat ingin segera pulang. Dan yang jelas, perkataanku pasti sangat menganggu bagi si Bapak. Mungkin aku akan dicap sebagai orang yang sombong atau sok suci. Tapi aku tidak peduli, bahkan aku sangat bahagia, karena saat itu aku berhasil melakukan apa yang kuyakini benar, dan yang memang benar.

Sisa perjalanan itu kami lewati tanpa asap rokok
Tetapi masih ada satu asap yang mengitariku
Itu adalah asap dari persembahan hati ini
Aku membakar zona nyamanku
Aku membakar sikap pengecutku yang takut dianggap sombong atau sok suci
Dan mempersembahkannya kepada Allah-ku yang kucintai dan kuhormati
Semoga persembahanku berbau harum di hadapan-Nya

Hari itu aku belajar satu hal. Menggenapi resolusi, dan lebih dari itu, melakukan apa yang benar, tidaklah semudah mengucapkannya. Tetapi aku juga belajar hal lain yang bahkan lebih penting. Yakni walaupun sulit, menegakkan kebenaran bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Kau butuh 2 hal untuk itu. Pertama, kau butuh pengetahuan yang jelas untuk membedakan mana yang benar dan yang mana yang salah. Kedua, kau butuh keberanian dan kesiapan untuk dibenci ketika kamu menegakkan kebenaran itu.

Semakin lama, tantangan melakukan resolusi dan menegakkan kebenaran akan semakin sulit. Jika kepada masalah dan tantangan yang kecil saja kita sudah memberi toleransi, hampir bisa dipastikan kita akan tenggelam ke zona abu-abu sejak dini. Jika hal itu terus dibiarkan, akan semakin banyak kejahatan yang subur berkembang di dunia ini karena semua manusia terus memberikan toleransi. Lebih parah, mungkin akan tiba masanya di mana kejahatan berkembang bukan karena manusia memberikan toleransi, melainkan karena manusia sudah buta sepenuhnya untuk membedakan mana yang benar dan yang mana yang salah.

Dan aku tidak ingin dunia menuju ke arah itu
Aku benci dunia yang seperti itu
Dan kalau kamu adalah salah satu orang yang akan membawa dunia ke arah itu
Atau kalau kamu adalah salah satu orang yang akan terus memberikan toleransi bodoh itu
Aku berdoa supaya suatu saat kita berhadapan karena aku ingin memberimu pelajaran

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.
~ Edmund Burke

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
~ Jesus Christ 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s