Nice Made Up Story : Pemandu Museum

Adalah seorang pemuda yang bekerja sebagai pemandu di museum seni. Tugasnya sebagai pemandu sangatlah sederhana dan dapat diringkas hanya dalam satu kalimat: mengantar orang ke tempat lukisan dipamerkan, menjawan pertanyaan mereka, lalu mundur, membiarkan mereka menikmati lukisan-lukisan itu. Pada awalnya dia berhasil. Ia mengantar para kliennya kepada harta karun berbingkai itu, memperkenalkan senimannya, lalu melangkah mundur.

“Ini karya Monet”, tuturnya, lalu bergerak menjauh saat orang berdecak kagum serta mengajukan satu atau dua pertanyaan. Ketika mereka sudah puas, ia akan mengantar mereka ke adikarya yang lain dan mengulangi hal yang sama. “Ini karya Rembrandt.” Ia mundur ke belakang sementara para pengunjung mencondongkan tubuh mereka ke depan agar dapat melihat lukisan itu lebih dekat. Si pemandu berdiri; mereka menatap lukisan.

Tugas yang sederhana. Pekerjaan yang menyenangkan. Ia sangat bangga dengan pekerjaannya.

Terlalu bangga, mungkin bisa dibilang begitu. Sebab, tak lama kemudian, ia melupakan perannya. Ia mulai mengira orang datang untuk melihat dirinya. Bukannya menjauhkan diri dari karya seni itu, ia malah berlama-lama di dekatnya. Saat mereka berdecak kagum, ia tersenyum. “Sungguh senang melihat kalian menyukainya,” sahutnya dengan dada membusung dan wajah merona merah. Ia bahkan kadang-kadang mengucapkan “terima kasih” saat menerima pujian atas karya orang lain tersebut seolah-olah itu adalah karyanya.

Para pengunjung mengabaikan komentarnya. Tetapi, mereka tidak dapat mengabaikan gerak-geriknya. Berlama-lama di dekat lukisan masih kurang bagi si pemandu. Sedikit demi sedikit ia makin mendekati lukisan itu. Mulanya membentangkan tangannya hingga menutupi bingkai, lalu badannya menutupi sebagian kanvas. Akhirnya tubuhnya menutupi seluruh karya itu. Orang dapat melihatnya, tetapi tidak dapat melihat karya itu. Karya yang seharusnya disingkapnya malah ditutupinya.

Sangat-sedikit-di-edit-dari: It’s not about me, karangan Max Lucado

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sama dengan pemandu muda itu?
Apakah kita selama ini selalu berusaha untuk mencuri kemuliaan Tuhan?

Apakah kita haus akan pengakuan orang lain?
Menyebut nama tokoh-tokoh terkenal dan istilah-istilah rumit, agar terlihat pintar?
Memperlihatkan betapa banyak hal baik yang telah kita lakukan?

Apakah kita sering mengiklankan diri di hadapan manusia dan berupaya sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa kita tidak sedang berusaha mencicipi, walaupun sedikit, kemuliaan yang seharusnya ditujukan pada Dia?

Mari menyelidiki dan menginstropeksi diri
Dalam lubuk hati yang terdalam, kau tahu bahwa kau pasti pernah, bahkan sering, melakukannya
Jangan takut dan malu untuk memulai merenungkannya, sebelum semua terlambat

Ketika kita merenungkannya, mungkin kita akan merasa malu, bahkan jijik atas dosa itu
Tapi tak apa, Tuhan tidak pernah memandang hina hati yang hancur
Yang Dia benci adalah hati yang sombong dan enggan meminta pengampunan

Dan setelah beroleh pengampunan-Nya, mari kita awali hidup yang telah diperbarui ini
Kita hidup untuk menyatakan kemuliaan Tuhan saja, bukan untuk mengiklankan diri
Kita adalah duta-dutaNya, cermin-cerminNya

Kita bulan dan Dia mataharinya
Kita tidak mencerminkan sinar kita sendiri, Dia-lah sumber terang itu

Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku;
Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
~ Yesaya 42:8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s