Diam dan Tersembunyi

Pernah ada masa, di mana aku ingin menunjukkan kepada dunia, terutama kepada seseorang yang saat itu sedang aku sukai,
“aku sudah melakukan hal-hal ini” 
“aku mendapatkan ini dan itu”
“aku sedang berada di sini”
aku suka sama hal-hal ini loch, aku cute kan, aku pintar kan, aku gaul kan, aku so sweet kan
“rupaku sekarang seperti ini loch”
“coba tebak apa tempramenku”
“kalau dunia ini adalah film Harry Potter, menurutmu aku akan menjadi siapa”

Aku tidak ingin menjadi manusia munafik. Aku sadar bahwa, at some point, aku masih belum berbeda dari orang-orang normal di dunia ini. Dan sebagaimana menunjukkan-diri adalah sebuah kenormalan di dunia yang fana ini, aku tahu bahwa masih ada kecenderungan hatiku untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi kemudian aku sadar
Semua itu tidak benar-benar berguna bagi mereka
Mereka tidak benar-benar perlu untuk tahu seperti apa diriku sekarang
Itu tidak akan membangun mereka
Dunia tidak akan berakhir hanya karena tidak mengetahui update tentangku
Mereka tidak akan mati jika mereka tidak mengetahui hal-hal spesifik mengenai aku

Ketika aku mencoba untuk merenungkannya, aku mendapati diriku tidak bisa menemukan hal positif yang dapat kujadikan sebagai alasan untuk menunjukkan diriku, dalam hal ini di social media. Buat apa mereka tahu aku di mana? Buat apa mereka tahu, jika aku ada di dunia Naruto, maka aku akan menjadi tokoh siapa? Buat apa mereka tahu update tentang aku? Baiklah, aku rasa pertanyaan terakhir cukup layak untuk ditanyakan karena akan selalu ada masa di mana kita ingin ingin mengetahui kabar terbaru dari teman-teman lama kita yang kini telah jauh terpisah dari kita. Tetapi, kalau demikian kasusnya, kalau benar orang itu adalah teman yang berarti bagi kita, bukankah seharusnya update diri bisa dilakukan dari pribadi yang satu ke pribadi yang lain secara langsung? Bukankah itu bisa dilakukan dengan menelepon atau sms? Bukankah itu akan membuatnya lebih spesial dan sebagai hasilnya, akan lebih mengakrabkan dua teman lama? Jadi, buat apa update harus dilakukan melalui media sosial?

Aku rasa,  kecenderungan update diri di media sosial seperti itu tidak memberikan dampak apapun yang positif. Kalaupun ada, pengaruh positif yang ditimbulkannya pasti sangat kecil dan tidak signifikan dibanding potensi negatif yang bisa ditimbulkannya. Orang-orang akan merasa bahwa jika mereka eksis di dunia maya, maka mereka sudah benar-benar ada di realita. Tidak lagi diperlukan adanya tatap muka langsung selama masih ada kesinambungan dalam update status.

Orang-orang akan menjadi dahaga untuk menunjukkan dirinya. Orang-orang akan haus akan “like” dan lebih banyak lagi “like”. Orang-orang akan menjadi lebih senang jika dirinya dikenal sebagai orang yang berkarakter “Hermione” daripada dikenal sebagai dirinya sendiri. Kalau demikian kasusnya, kalau kecenderungannya lebih besar ke arah yang buruk, mengapa update diri semacam itu masih harus diteruskan?

Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk sekuat tenaga menahan segala keinginan untuk memperlihatkan. Sebelum aku benar-benar terlepas dari keinginan, sekecil apapun itu, untuk memperlihatkan diriku, apalagi jika caranya seperti itu, aku rasa aku belum benar-benar dewasa.

Mungkin dunia akan menyanggahku dengan pertanyaan:
“bagaimana jika seisi dunia berpikiran sama denganmu?”
“bagaimana jika tidak ada orang yang meng-update atau mem-publish keberadaannya?”
“bukankah itu akan membuat dunia maya menjadi sangat sepi?”
“bagaimana aku bisa tahu kabar teman-temanku saat ini?”
“bagaimana aku bisa menunjukkan kepada orang yang kusukai tentang seperti apa aku sekarang?”
“bagaimana aku bisa tahu update dari orang yang aku sukai saat ini?”
“ah, sepiii….!!!”

Itulah pertanyaan yang juga kutanya pada diriku. Kalau dipikir-pikir, benar juga, dunia mungkin akan terasa lebih sepi andaikan saja tidak ada social media di dunia ini. Coba kau bayangkan bagaimana dunia ini jika tidak ada Facebook, Twitter, atau media sejenis!

Tetapi kemudian aku tersadarkan. Justru kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu adalah bukti bahwa dunia ini tidak sedang benar-benar merdeka. Namanya saja sudah dunia maya, bukan realita, perlakukanlah itu sebagai dunia maya. Mengapa harus menderita tanpanya? Mengapa harus merasa begitu susahnya untuk mengendalikan diri terhadap godaan untuk menunjukkan diri melalui media? Kalau kita yakin bahwa kita benar-benar sudah dimerdekakan, maka tunjukkanlah kualitas hidup layaknya seorang yang benar-benar merdeka dari hal apapun yang fana.

Ujilah segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri
Mari kita tes kedewasaan kita, kemampuan kita untuk mengendalikan diri
Mari kita tes pertumbuhan kita, kemampuan kita untuk melepaskan dan merelakannya
Selama kita masih menderita tanpanya, kita masih belum merdeka sepenuhnya

Keluarlah dari belenggu “menampilkan diri
Jika kita masih terus mengikatkan diri padanya, kita tidak akan pernah bertambah dewasa
Jangan penjarakan diri di level yang rendah seperti itu
Sebab pada level di atas sana…
Masih ada sangat banyak hal indah dan tugas yang lebih besar sedang menanti

Jika tidak ada hal baik yang bisa kuberitakan…
Jika cerita yang ada di kepalaku hanyalah cerita tentangku…
Lebih baik aku diam dan tersembunyi
Lebih baik orang-orang tidak tahu update mengenai diriku
Daripada tindakankan itu hanya akan mengalihkan pandangan mereka kepada kepadaku
Padahal yang seharusnya mereka lihat adalah Allah

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, 
pikirkanlah semuanya itu…
# Filipi 4 : 8

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s