About Time

Paul-Mccartney-9390850-1-402

“Siapa yang tidak tahu dia? Dia adalah Paul McCartney, bassist sekaligus vokalis The Beatles, salah satu band favoritku………………………..”

Yup, cukup sampai di sana saja. Aku tidak akan melanjutkan kalimat itu karena aku, ya diriku, penulis tulisan ini, bukanlah seorang penggemar berat The Beatles. Aku memang cukup suka dengan The Beatles, tetapi tidak lebih dari itu dan aku tidak berani menyebut diriku sebagai penyuka berat mereka. Kalimat yang kutulis itu adalah hasil khayalanku. Aku hanya mengandai-andai apa yang akan dipikirkan oleh seorang yang suka menampilkan dirinya ketika mempunyai gambar ini. Beberapa orang yang suka menampilkan diri, dan aku rasa akupun pernah seperti itu, akan berkata misalnya, “aku suka banget sama The Beatles”, padahal mungkin dia hanya suka sekadar suka akan grup band itu. Mungkin mereka pikir, menjadi fans berat dari sosok yang terkenal, akan membuat mereka lebih menarik. Mungkin mereka pikir, menampilkan kesukaan diri pada sesuatu yang imut, akan membuat orang-orang memandangnya imut pula.

Citra diri, orang-orang haus untuk mencitrakan dirinya di hadapan orang lain. Orang-orang ingin dilihat indah dan memiliki daya tarik tertentu walaupun itu memaksa mereka untuk melebih-lebihkan diri mereka. Mungkin kamu adalah salah satu orang yang suka melakukannya. Jika iya, coba kau renungkan kembali rasa haus semacam itu. Jika bukan, coba kau bayangkan juga. Kuberi waktu 10 detik padamu untuk merenungkannya. Bagaimana? Nah, sekarang aku bertanya padamu…
“Menjengkelkan banget ga sih pemikiran pencitraan diri tak berkelas seperti itu?”

Dalam bahasa sehari-hari, mungkin bisa dibahasakan seperti ini:
“Tahu diri dong!”
Benar juga, kan? Orang yang selalu berusaha menampilkan dan melebih-lebihkan diri di hadapan orang lain pada dasarnya adalah orang yang tidak mengetahui dan memahami dirinya sendiri.

Kalau kau adalah orang yang pernah, atau mungkin sering melakukannya, maafkan aku. Aku mengatakan ini sungguh bukan untuk merendahkanmu. Dan kalau kamu adalah seorang yang tidak punya intensi sama sekali untuk melakukan pencitraan rendahan semacam itu, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu membenci orang-orang yang suka merendahkan dirinya sendiri dengan gaya pencitraan yang rendahan. Tapi aku mengatakan ini, supaya, aku, kamu, dan kamu yang di sana, sama-sama membenci dan meninggalkan dosa pencitraan diri yang sebenarnya hanyalah bualan dan kebohongan besar.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Ups, aku menulis terlalu panjang nampaknya. Sesungguhnya hal utama yang ingin kubagikan bukanlah hal itu. Melainkan tentang sesuatu yang bermula dari kekagetanku saat melihat aksi Paul di Grammy Awards 2014 baru-baru ini.

paul-mccartney1

“Astaga… betapa kaupun tidak berdaya di hadapan sang waktu. Look at you Paul, betapa waktu sudah menghabisimu dan membuatmu tua.”

Memang benar, Paul telah melakukan hal yang sungguh luar biasa. Di usia yang sudah setua ini, dia masih menjadi salah satu pemenang di acara bergengsi tingkat dunia itu. Tetapi bukanlah kesuksesan itu yang ada di mata dan benakku saat melihat Paul bernyanyi.

Ketika melihatnya…
Aku bukan merasa sedih
Aku bukan merasa kasihan
Aku tidak tahu perasaan apa yang melanda diriku saat itu
Mungkin istilah yang paling mendekati perasaan itu adalah
I felt so helpless…

Aku menghela nafas panjang. Aku mengerutkan dahiku. Aku menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Ah, sungguh itu kenyataan yang sangat pahit. Manusia, sampai kapanpun tidak akan bisa mengalahkan sang waktu. Manusia, akan selalu, dibuat babak belur oleh waktu. Mungkin di masa mudanya, seseorang bisa menjadi orang yang sangat terkenal di dunia ini. Tetapi itu hanyalah sementara, sepasti waktu akan terus berjalan maju dan bukan mundur, sepasti itu juga the time will knock him out.

The time will KO him. Waktu akan menghabisi orang itu. Waktu akan melucuti semua kebanggaan dan kebesarannya. Dia akan menjadi tua. Lemah. Keriput. Butuh pertolongan. Sudah tidak ada lagi orang yang satu era dengan orang yang pernah populer ini. Dia tidak terkenal lagi. Mata-mata yang pernah melihatnya bak melihat dewa kini telah tiada. Yang ada hanyalah mata-mata yang akan berkata, “ngapain lagi orang tua yang satu ini masih berusaha menjadi terkenal. Mundurlah kakek, kau terlalu mudah disingkirkan sekarang dan aku tidak mau membuatmu terlihat jelek di masa tuamu. Jadi pergi sana, hush hush!

Aku tidak sedang bermaksud untuk pesimis atau berpikiran sempit. Aku juga tidak bermaksud mengatakan bahwa menjadi tua adalah hal yang buruk atau mengatakan bahwa tidak ada harapan bagi orang-orang yang sudah menjadi tua. Tidak, bukan itu.

Yang kumaksudkan adalah betapa menjadi tua adalah sebuah kepastian (tentunya jika Tuhan memberi umur panjang). Ya, manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan sang waktu. Manusia tidak dapat menghentikan atau memutar balik waktu. Manusia akan menjadi tua dan lemah. Kesempatan manusia terbatas. Manusia memiliki jangka waktu.

Dan itu mengantarkanku kepada satu kalimat yang membakar hatiku:
Hidup ini hanya sementara…

Orang bodoh akan melanjutkannya dengan:
“…………. oleh sebab itu nikmatilah hidupmu dan lakukanlah segala sesuatu sesuka hatimu.”

Tetapi sungguh aku berdoa bagimu yang membaca ini, janganlah berpikiran demikian, melainkan:
“………….. kalau begitu, penderitaankupun hanya sementara…”
“………….. kalau begitu, keletihankupun hanya sementara…”

Kawanku, waktu kita terbatas. Waktu kita singkat. Temukanlah apa yang Tuhan ingin Dia kerjakan melaluimu dalam hidup ini. Dan ketahuilah, hidup ini terlalu singkat bagi kita untuk melakukan hal lain yang tidak berguna. Sebanyak detik yang kita habiskan untuk fokus yang lain, mengumpulkan harta, mengejar kepopuleran, sebanyak itu pula cadangan waktu kita untuk melakukan hal yang utama akan berkurang.

Ketika kuliah dulu, ada beberapa teman yang sering mengajakku untuk bermain. Aku sering menolak ajakan tersebut. Memang aku seringkali merasa gundah karena telah melewatkan banyak momen kegembiraan bersama mereka. Tapi satu prinsip yang menguatkanku:
“Boy, satu semester itu cuman 4 bulan. CUMAN 4 bulan.
Apa susahnya sih berjuang dan fokus selama 4 bulan toh setelah itu lu punya 2 bulan.
Bayangkan, 2 BULAN PENUH buat main-main sepuasnya. Jadi tahan-tahanlah dirimu untuk sebentar saja.”

Prinsip itu sangat sering meloloskanku dari banyak ajakan yang menggoda. Tetapi ada prinsip yang jauh melebihi itu. Prinsip utama tidak bermain pada skala 4 bulan-2 bulan saja. Prinsip yang utama berurusan dengan kekekalan.
“Hidupmu di dunia ini hanya sementara, Boy. Masa hidup di bumi itu cuma seiprit jika dibanding dengan kekekalan.”

Ya, kalau kau menghabiskan masa hidupmu di bumi hanya untuk menikmati hidup, mengumpulkan harta, menampilkan diri, menjaring kepopuleran, mengiklankan diri, menjual dirimu, aku yakin, kau akan menyesalinya di kekelakan nanti. Sungguh semua itu fana dan sia-sia. Lupakan, relakan, tinggalkanlah semua itu.

Sebaliknya, layanilah Tuhan, layanilah orang lain. Sangkallah diri, berkorbanlah. Setialah dalam setiap perkara kecil. Berikan hatimu dalam setiap hal yang kau kerjakan. Lakukan segala sesuatu sebaik mungkin walau hal itu akan membuatmu lelah. Ingat, hal baik yang kita lakukan, jika kita tidak sedang mengiklankan diri, akan bisa Tuhan pakai untuk kemuliaan-Nya.

Rendahkanlah hatimu, tidak usah menunjukkan diri, tidak usah melebih-lebihkan diri. Tidak apa kau tidak terkenal di dunia sebab semua ini hanya sementara. Ketahuilah, akan tiba masanya di mana kau akan dikenal di seluruh pelosok negeri. Bukan negeri di bumi ini, melainkan di negeri sorga kelak. Dan di atas semua itu, kau akan terkenal di hati Tuhan. Sebab Dia mengenal orang yang berkenan kepada-Nya, tetapi Dia tak mengenal orang-orang yang sombong dan melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Lakukan yang terbaik yang kau bisa dalam segala sesuatu, tak apa, keletihanmu hanya sementara. Sisihkan uangmu untuk orang miskin, tak apa, rasa laparmu hanya sementara. Fokuslah, mungkin kau akan bosan dan penat, tak apa, itu hanya sementara. Layanilah Tuhan, beritakanlah kabar baik tentang Tuhan, tak apa, penderitaanmu hanya sementara.

Hidup ini hanya sementara
Hidup ini adalah sebuah pertandingan

Aku berdoa agar kita semua menemukan panggilan hidup kita
Fokus dengan itu
Setia dengan itu
Hidup dengan itu
Bahkan mati dengan itu

Alangkah indahnya jika suatu saat nanti kita bisa berkata:
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, 
aku telah mencapai garis akhir  dan aku telah memelihara iman

Dan Allah berkata pada kita:
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia;
engkau telah setia dalam perkara kecil,
aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

One thought on “About Time

  1. Wonderful…
    Baru aja siang ini aku menyusun to do list yang panjang banget.
    Sedikit frustasi mengenai kenapa aku merasa kekurangan waktu untuk melakukan hobi-hobiku. Siang ini aku bertanya-tanya, selain berpuasa dan berdoa, dan baca firman Tuhan, apa lagi sih yang membuat aku bisa dituntun secara langsung oleh Tuhan?
    Sekitar 2 jam lagi pulang kantor, kenapa aku gak buka blog bang richard sebentar ya? Eh, nemu jawabannya.
    Tuhan berbicara lewat artikel ini.

    Thank you.
    Memberkati sekali. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s