Apa Dong?

IMG_281928611502881

Hufff…

Yang kedua adalah mengenai memperlihatkan kemesraan kepada dunia

Sebelum memulai ini, aku ingin memperjelas, terserah apakah engkau percaya atau tidak, bahwa aku menulis ini tanpa ada perasaan iri sama sekali kepada mereka yang sudah berpacaran. Benar, aku tidak sedang berpacaran tetapi aku sadar bahwa hal ini merupakan yang terbaik bagiku dan aku benar-benar bahagia menjalaninya. Status single, bagiku, sama sekali bukanlah hal yang rendah atau layak membuat seseorang merasa malu. Sebaliknya, keadaan ini merupakan hal yang patut disyukuri dan dinikmati. Status single juga merupakan suatu kesempatan yang luar biasa besar, untuk merencanakan dan bahkan melakukan hal-hal paling indah, istimewa, dan bersejarah dalam kehidupan seseorang.

Oh iya, sebelum aku lupa, aku ingin mengingatkan kita semua, kalau-kalau ada yang lupa atau tidak sadar, bahwa pacar bukanlah suami atau isteri dari seseorang. Status pacaran belum tentu akan berakhir di pelaminan. Semoga peringatan ini membuatmu tidak terlalu menganggap tulisanku berikut ini sebagai omong kosong.

Baiklah, aku akan melanjutkannya kembali dengan pertanyaan:

Mengapa kau melakukannya?
Apa gunanya orang lain melihat kemesraan atau perasaan cintamu kepadanya?
Bagaimana jika ada orang yang begitu sedih dalam kegalauannya melihat foto kemesraanmu?

Bukankah kau punya hal lain yang lebih berguna dan membangun orang lain untuk kau publikasikan?
Mana yang lebih baik, mempubliskasikan cintamu kepadanya, atau cinta Tuhan kepada dunia?
Mana yang lebih baik dan yang mana yang justru kau lakukan?

Aku yakin beberapa orang akan berpikiran bahwa mempublikasikan kemesraan dengan pacar dapat mengerjakan kebaikan kepada orang lain. Mungkin mereka berkata, “kami hanya memperlihatkan kasih di antara kami, bukankah kasih adalah hal yang baik untuk dilihat orang?”. Mungkin beberapa juga akan berpikir, “toh aku yakin bahwa dia akan menjadi suami/isteriku, jadi apa salahnya memperlihatkan kemesraan dan kisah cinta kami?”

Jika ada orang yang berpikir demikian untuk membenarkan perilakunya, aku punya pertanyaan:

Kalau memang Anda yakin bahwa memperlihatkan kemesraan dan kisah cinta adalah hal yang membangun orang lain, dan kalau memang Anda yakin bahwa dia akan menjadi pasangan hidup Anda, siapkah Anda terus menerus mempublish dan mengupdate kemesraan itu di dunia maya sampai Anda tua nanti? Harusnya siap dong, kalau kemesraan saat pacaran saja baik untuk dilihat orang, seharusnya kemesraan saat pernikahan justru lebih baik dan layak dong buat dilihat orang-orang di facebook.

Dan siapkah Anda untuk tidak hanya memperlihatkan momen-momen mesra saja, tetapi juga momen-momen sedih atau pertengkaran kepada dunia maya? Harusnya siap dong, kan momen sedih dan perselisihan juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam kisah cinta dan juga bisa jadi pelajaran/hikmah buat orang-orang yang melihatnya di facebook. 

Bagaimana engkau mencoba menjawabnya? Aku yakin engkau pasti tidak akan mau terus menerus mem-publish kemesraan itu. Suatu saat kau pasti akan merasa lelah dan merasa tidak harus, bahkan tidak perlu untuk mempublikasikannya. Dan aku yakin, kau pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa orang-orang juga pada hakikatnya sangat tidak perlu melihat kemesraanmu di home facebook mereka. Aku juga yakin bahwa kau pasti tidak akan mau memperlihatkan kepada dunia momen-momen di mana engkau berselisih paham atau bertengkar. Kau mungkin berpikir bahwa hal yang “baik” (belum tentu “benar”) untuk dilihat orang hanyalah momen-momen mesra.

Dan itu semua mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa:
Kemesraan bukanlah hal yang sepatutnya dipublikasikan baik sebelum atau setelah menikah

Hentikanlah mempublikasikan kemesraan masa pacaran karena itu akan berakhir sia-sia.
Sekali lagi, dia hanya pacar, bukan suami/isterimu.

Suatu saat nanti kau akan lelah dan berhenti mempublikasikannya. Jadi mengapa harus menunggu sampai nanti untuk mengakhiri hal yang akan menjadi kesia-siaan? Akhirilah kebiasaan itu sekarang dan sebagai gantinya, sebarkanlah hal-hal yang lebih berguna.

IMG_206766773130877

Aku tidak mengatakan bahwa mempublikasikan kemesraan adalah hal yang buruk atau negatif
Aku juga tidak mengatakan bahwa hal itu adalah hal yang baik atau positif
Tetapi aku yakin bahwa itu adalah hal yang tidak perlu
Dan hal yang tidak perlu biasanya, jika dibiarkan, akan lebih cenderung mengarah ke hal negatif

Aku memang tidak sedang berpacaran, tetapi aku punya saran untuk mereka yang sedang berpacaran. Jika engkau benar-benar mengasihi dan mencintai dia, ujilah rasa itu dengan menguji kemampuanmu mengendalikan diri untuk tidak mengumbarnya ke hadapan media dan dunia. Biarlah kesucian cintamu teruji dalam kemampuan untuk mengumpulkan, memadatkan, mengemas rapat-rapat, kemudian mempersembahkan cinta itu hanya kepada dia seorang dan tidak membaginya kepada mata-mata yang tidak perlu melihatnya. Jika engkau tidak bisa menahan keinginanmu untuk memperlihatkan kemesraanmu kepada dunia, kau patut menguji lagi kemurnian dan ketulusan cintamu.

Aku yakin bahwa tidak menggembar-gemborkan kisah cinta,
merupakan salah satu tindakan paling penuh penghormatan kepada pasangan hidup kita kelak

Before you speak and/or publish, THINK:
T – Is it True?
H – Is it Helpful?
I – Is it Inspiring?
N – Is it Necessary?
K – Is it Kind?

Amsal - Pengetahuan

Baiklah, aku akan segera mengakhirinya. Terima kasih karena sudah membaca sejauh ini. Kau bebas untuk setuju atau tidak kepada apa yang kusampaikan. Yang pasti, sejarah akan menunjukkan kebenarannya pada akhirnya. Beberapa orang mungkin akan merasa kesal dengan penuturanku ini dan sebagai upaya konfrontasi, akan segera mempublikasikan kegalauan atau kisah kemesraannya dengan lebih intensif.

Jika kamu, yang sedang membaca setiap deretan huruf ini, berniat melakukan hal itu karena muak terhadap celotehanku, kumohon, jangan biarkan dirimu diliputi amarah. Dan ketahuilah, aku bukanlah musuhmu. Tuhan mengasihimu. Dia juga mengasihiku. Kasih itulah yang mendorongku untuk bisa mengasihimu sedemikian cukup untuk bisa “memaksaku” menggunakan waktuku untuk menulis ini. Aku tidak berniat menyerang siapapun melalui ini, sebaliknya, aku rasa inilah hal yang baik untuk kita renungkan. Adapun, kekurangan dan kelemahan dalam penyampaianku ini, semua berasal dariku, manusia yang lemah dan tidak sempurna ini. Tetapi apa yang baik, pastilah itu dari Allah.

Kasih-Nya memampukan manusia untuk bisa mengasihi. Mari kita saling mengasihi dan dengan kasih itu, kita perbaiki diri kita, lalu… mari kita ubah dunia ini.

Dan terakhir…
Janganlah bermegah karena dirimu, karena pasanganmu, atau hubunganmu.
Jikalau kita hendak bermegah, maka bermegahlah hanya dalam satu hal ini:
Salib Tuhan kita, Yesus Kristus

Ayat - Galatia

Semoga Tuhan menuntun kita selalu
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

One thought on “Apa Dong?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s