Apa Sich?

Dengan menulis ini aku sadar bahwa aku sedang menempatkan diriku pada posisi yang akan membuat beberapa orang, yang mungkin itu banyak, untuk tidak menyukai pendapatku. Mungkin engkau akan merasa aku seperti menggugatmu. Mungkin engkau akan segera tersinggung dengan apa yang kupikirkan. Mungkin engkau akan menduga bahwa tulisan ini khusus kubuat untuk satu orang yang adalah dirimu dan itu membuatmu memikirkan apa yang tidak baik mengenai aku. Mungkin engkau akan segera keluar dari blog ini dan bersumpah tidak akan membukanya lagi.

Tidak apa. Sungguh aku tidak keberatan mengenai itu. Tapi ketahuilah bahwa aku tidak bermaksud menulis ini untuk menyerang orang-orang tertentu. Aku tidak menulis ini untuk merendahkan siapapun. Tapi aku menulis ini dengan kasih, yang aku yakini selain mengandung kelembutan, juga mengandung ketegasan yang kuat di dalamnya. Aku menulis ini dengan kebenaran, yang aku tahu bahwa jika aku hendak menguji kebenaran itu, aku harus memulainya dengan memberanikan diri untuk dibenci saat mengumandangkan kebenaran itu. Dan terakhir, aku menulis ini karena aku masih memiliki kesempatan untuk mengakses dunia maya, dan aku yakin aku sedang menggunakan kesempatan ini dengan cara yang lebih baik dibanding jutaan orang di luar sana yang menggunakan kesempatan yang sama denganku hanya untuk mempublikasikan sesuatu yang tidak berguna bagi orang lain.

Baiklah, aku mulai…

Setidaknya ada 2 hal yang bertolak belakang yang membuat hatiku resah saat melihatnya di dunia maya. Hal pertama adalah ketika saudaraku seiman (dan mungkin akupun salah satunya), yang dengan cara apapun, baik secara langsung atau sedikit menjurus, yang hendak mengutarakan atau bahkan terang-terangan mengumumkan perasaan galau-nya mengenai teman hidup kepada dunia dan media. Dan hal yang kedua adalah ketika saudaraku seiman (aku tidak ambil pusing jika ini dilakukan oleh saudaraku yang lain), yang dengan metode apapun, baik secara langsung atau sedikit tapi jelas-jelas menjurus, yang hendak memperlihatkan kemesraannya dengan pacarnya, yang jelas-jelas belum tentu menjadi suami atau isterinya, juga kepada dunia dan media.

Bagaimana, apakah engkau mulai merasa aku menyerangmu? Apakah kau merasa tersinggung? Apakah sudah mulai muncul ide untuk tidak akan pernah lagi membuka blog ini? Apapun yang engkau rasakan saat membaca ini, percayalah ini bukan tentangmu. Ketahuilah hidup ini akan jauh terasa lebih ringan dan indah jika kita berhenti menganggap bahwa segala sesuatu adalah “tentang kita” atau “hendak ditujukan kepada kita”. Ketahuilah, walau kuakui aku belum bisa mengasihimu sedemikian besarnya, tetapi sungguh aku rindu agar bisa mengasihimu, dan siapapun, sebagaimana Yesus mengasihimu. Aku berharap itu juga yang sedang kau rindukan di dalam hatimu, mengenai siapapun.

Dan jika kau setuju, kita bisa melanjutkan kembali ini semua…

Yang pertama adalah mengenai mengutarakan kegalauan kepada dunia

Mari kita menjawab pertanyaan ini:
Mengapa kau melakukannya?
Apa pengutaraan kegalauanmu kepada publik mengerjakan sesuatu untuk kebaikan orang lain?
Apa yang kau ingin orang lain pikirkan mengenaimu tentang rasa galaumu itu?

Apakah dengan memberitahu bahwa kau sedang galau, orang-orang akan melihatmu lebih hebat?
Apakah kau ingin orang mengasihanimu seakan-akan kau kurang akan kasih?
Apakah kau ingin menarik perhatian seolah-olah kau kurang diperhatikan oleh Bapamu yang di sorga?

Ataukah kau hanya ingin bercanda?
Ataukah kau merasa bahwa tindakan itu adalah salah satu tindakan “menertawai diri sendiri” seperti yang orang-orang bijak maksud saat mereka berkata “menertawakan diri sendiri adalah awal dari hikmat”?

Jika kau menjawab “iya” untuk dua pertanyaan terakhir, kumohon, kau harus mengubah selera humormu dengan humor yang lebih mendidik dan berguna bagi orang-orang yang melihat dan mendengarnya. Dan itu juga bukan tindakan menertawai diri sendiri melainkan mengasihani (juga meminta dikasihani oleh orang lain) sekaligus merendahkan diri sendiri pada saat yang sama.

Aku tidak sedang menghakimi. Jujur, aku melakukan hal yang sama beberapa tahun yang lalu dan sungguh aku tidak menemukan alasan untuk tidak menyesali pekerjaan sia-sia dan bodoh itu. Ketika aku melihat jejak-jejak kebodohanku di facebook itu, aku mendapati diriku geleng-geleng kepala. “Bagaimana mungkin aku bisa segalau ini”, “bagaimana mungkin aku mencari perhatian orang dengan cara seperti ini”, “kok aku lupa yah pernah membuat status seperti itu di facebook“, itu adalah beberapa hal yang terlintas di benakku saat aku men-scroll FB-ku ke halaman yang berasal dari tahun-tahun terdahulu. Sungguh semua itu adalah kesia-siaan dan aku yakin jika kau, di masa yang akan datang, melakukan kilas balik sepertiku, kaupun akan menyesali diri karena pernah mengutarakan kegalauan yang tidak berguna itu. Oleh sebab itu, mari selamatkan beberapa waktu yang tersisa untuk tidak melakukan hal-hal yang pasti berujung pada kesia-siaan seperti itu.

Jangan utarakan kegalauanmu untuk menarik perhatian.
Jangan pernah merasa bahwa nilai dirimu akan meningkat saat melakukannya.
Jangan sekalipun berpikir bahwa hal itu bisa berguna dan membangun orang lain.

Jangan mengasihani dirimu dengan cara yang demikian.
Jangan mengharapkan orang mengasihanimu karena hal yang demikian.

Jika kau galau, jangan utarakan itu pada benda mati seperti facebook.
Jika kau galau, jangan utarakan itu pada kerumunan orang yang tak perlu tahu akan hal itu.
Jangan jadikan Tuhan sebagai pihak ke-sekianjuta yang mendengar kegundahanmu.

Jadikanlah Dia yang pertama untuk menjadi Teman curahan hatimu!

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s