Gebrakan Besar di Hari Valentine

“Ketika kau melakukan sesuatu yang penting, lakukanlah itu dengan grand style”

Itulah yang selama ini menjadi prinsipku. Jika aku melakukan sesuatu yang menurutku cukup penting dan bukan sekadar rutinitas, aku sebisa mungkin melakukannya dengan grand style. Dengan demikian, aku bisa menciptakan momen-momen bersejarah dan legendaris yang pasti akan membuatku tersenyum tiap kali aku mengenangnya. Bukan untuk dilihat oleh orang lain, karena memang kebanyakan dari momen-momen paling penting dalam hidup ini tidak bisa dilihat oleh orang lain, melainkan untuk dikenang oleh diriku sendiri. Aku sarankan kau juga mencobanya.

Dibandingkan menjalani hari-hari yang biasa saja, tidak enak untuk diingat, bahkan terlalu mudah terlupakan, mengapa tidak buat hari-harimu menjadi legenda?

Beberapa momen yang dirasa biasa saja bisa menjadi jauh lebih signifikan dan memiliki daya tarik apabila dilakukan pada tanggal-tanggal yang penting. Dan setiap tahunnya, tanggal paling awal yang memiliki keistimewaan adalah 14 Februari, yakni Hari Valentine. Kabar baik bagiku, aku sudah punya rencana besar untuk menjadikan Hari Valentine di tahun ini menjadi salah satu legenda dalam hidupku.

Sebelumnya, Valentine sudah menjadi hari penting bagiku walau maknanya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang berpacaran. Hari Valentine, 5 tahun lalu, adalah kali pertama aku selesai membaca Alkitab. Tentu saja itu tidak terjadi secara kebetulan, aku merencanakannya. Aku suka dengan angka 7, orang-orang menyebutnya “Lucky Seven”. Hari Valentine terjadi di tanggal 14 bulan ke-dua. Empat belas dibagi dengan dua adalah 7. Dan kala itu adalah tahun 2009, ada angka 2 dan 9 di sana. Sembilan dikurang dua akan menghasilkan angka 7. Wah, aku menemukan banyak angka tujuh. Kemudian, untuk membuatnya sempurna, aku mengeset agar kata terakhir untuk menyelesaikan Alkitabku akan kubaca pada pukul 7 pagi, menit ke-7, detik ke-7, di hari tersebut. Dan voila, aku khatam membaca Alkitab. zehahahahahaaa….

Mungkin kau akan mengernyitkan alis dan dahimu saat membaca ini. Kedengarannya aku terlalu memaksakan diri, bukan? Tidak apa, seperti yang kukatakan sebelumnya, banyak dari momen-momen penting dalam hidup ini memang tidak untuk dilihat oleh orang lain atau membuat mereka merasa itu juga penting bagi mereka. Yang terutama adalah kerjakanlah sesuatu sedemikian hingga dirimu di masa depan akan sangat berterima kasih padamu karena kau sudah melakukannya dengan sangat baik dan dalam grand style a.l.a dirimu sendiri.

Dan kabar yang lebih baik dibanding Valentine 5 tahun yang lalu, Valentine tahun ini memiliki kombinasi angka yang lebih nyentrik untuk kukenang, 14-02-2014. Sempurna. Angka 14, angka 2, kemudian 2 lagi, dan 14 lagi. O I love it so much, ahahaha. Dan tidak hanya itu, pada hari yang sama, PMK sedang mengadakan regenerasi pengurus baru. Kepengurusan ini adalah kepengurusan yang mana aku masih mengenali beberapa personilnya, terutama sang Ketua. Akan berbeda dengan tahun depan, aku rasa aku tidak akan mengenal Pengurus PMK di tahun-tahun mendatang. Tapi biarlah itu terjadi, yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan momen ini sebagai legenda dalam hidupku. Dan seperti yang sudah kusinggung sebelumnya, I did it.

Dan momen bersejarah itu adalah:
Untuk pertama kalinya aku secara serius dan nyata membuat langkah besar untuk mencapai visiku

Aku bukannya tidak menghargai upaya-upaya lain yang sudah kulakukan sebelumnya mengenai visiku. Hanya saja kali ini untuk pertama kalinya aku benar-benar menempatkan diri di daerah yang benar-benar sensitif bagiku. Itu adalah pada saat aku masuk ke kantor tata usaha Program Studi Teknik Perminyakan ITB dan bertanya kepada si Ibu:

“Bu, bagaimana yah caranya kalau saya mau menjadi dosen di sini.
Saya alumni ITB, tapi Teknik Kimia, Bu. Tapi saya sekarang bekerja sebagai Petroleum Engineer.
Bagaimana yah Bu?”

Ah, seandainya saja aku bisa merekam percakapan itu, itu pasti akan legendary-banget, tetapi…

Ah, biasanya aku senang dengan kata “tetapi”, kali ini tidak demikian, karena aku harus berkata
“Memang momennya legendary-banget , tetapi jawaban yang kuterima sangat menohok hatiku”

Aku sebenarnya sudah menduga beberapa hal yang mungkin menjadi jawaban dari si Ibu. Hanya saja, aku tidak mau memikirkan “jawaban yang satu itu” secara mendalam karena jawaban itu tidak terlalu menarik bagimu. Sayangnya, itulah yang menjadi jawaban si Ibu atas pertanyaanku.

“Oh di sini ga ada daftar-daftaran, Mas.
Biasanya dosennya yang langsung rekomendasiin yang mau jadi dosen.
Dulu pernah ada juga, dia anak TK ITB, tapi S2 dan S3 di luar negeri dan jurusan minyak,
pas wawancara di sini, ga diterima juga tuh Mas buat jadi dosen.”

Yap, ini adalah wake-up-call bagiku. Sepertinya selama ini aku terlalu terbuai dengan mimpi-mimpi indah yang kuciptakan sendiri, menjalani jenjang master di daratan Britania dan menaklukan Negeri Paman Sam saat jenjang doktoral. Baiklah, change of plan, Bro, change of plan besar-besaran.

Aku tidak suka dengan jawaban itu. Tetapi aku bersyukur sudah lebih dini mendengar jawaban tersebut sehingga aku bisa mengubah rencanaku dan mempersiapkan diriku lebih lagi. Setiap waktu yang kujalani tanpa jawaban itu, hanya akan menjadi waktu yang dibumbui mimpi-mimpi yang tak akan terjadi. Itu adalah kesia-siaan. Dan tentu saja, pada akhirnya, Hari Valentine tahun 2014 benar-benar menjadi hari bersejarah nan legendaris dalam buku kehidupanku karena di hari itu bukan saja aku sudah MEMULAI, tetapi juga untuk pertama kalinya MEREVISI grand design perjalanan hidupku.

Aku sadar, semua ini mirip dengan membuat tugas akhir semasa di kampus, akan penuh dengan revisi. Kini setelah aku menyadari hal tersebut, aku tidak boleh sama lagi. Aku tidak boleh membiarkan diriku terhanyut dalam mimpi. Ketika aku menemukan suatu tanda tanya dalam perjalanan meraih visiku, aku harus bersegera menemukan jawabannya. Aku tidak boleh menghindar dari pertanyaan tersebut hanya karena aku takut akan jawabannya.

Aku juga harus siap sedia merevisi rencana-rencana dalam hidupku dan tidak boleh menggerutu akan hal itu. Berdasarkan rencanaku sebelumnya, seharusnya aku bisa mendapatkan dua tahun pengalaman studi di Scotland/England sebelum akhirnya menempuh pertempuran sebenarnya di Amerika untuk meraih gelar doktor. Dengan blue print seperti itu, aku pastinya sudah fasih dalam berbahasa Inggris, telah beradaptasi dengan budaya luar dan hawa dingin, serta memiliki kapabilitas a.l.a orang luar negeri. Jika dipikir-pikir, itu adalah hal yang sangat luar biasa dan sangat disayangkan, aku harus merelakan kesempatan 2 tahun studi master di sana.

Dan sebagai gantinya, aku harus melanjutkan studi magister di ITB supaya aku bisa melakukan pendekatan dengan Pak Dosen yang rekomendasinya aku butuhkan untuk bisa menjadi seorang dosen di Prodi TM ITB sebagaimana yang menjadi visiku. Dengan blue print ini, aku kehilangan kesempatan untuk fasih berbahasa Inggris dan keterampilan untuk survive di luar negeri. Aku juga mungkin akan mendapatkan pendidikan dengan standar yang lebih rendah dibanding pendidikan yang bisa kudapatkan di Eropa.

Tetapi seperti yang sudah kusadari, aku tidak boleh bersungut-sungut. Aku harus bersyukur. Dan tentu saja, ke-dewa-an-ku (demikian aku menyebutnya) tidak boleh kusandarkan pada lembaga mana yang mendidikku. Entahkah aku akan kuliah di luar negeri atau tetap di ITB, aku akan tetap menjadi master, aku akan menjadi dewa.

Dan mungkin bukan itu saja. Dua tahun tambahan untuk studi di Indonesia, apa saja bisa terjadi. Bukan tidak mungkin aku akan bertemu dengan orang-orang yang penting, bahkan mungkin seorang yang paling penting, dalam hidupku ketika aku melanjutkan studi master di negeriku sendiri. Kau tahu, orang penting yang akan kau temui jika kau kuliah di luar negeri hanyalah dosen pembimbingmu seorang, selebihnya orang-orang lain tentu tidak akan terlalu berpengaruh dalam hidupmu. Jadi, alangkah indahnya jika aku bersyukur dengan revisi itu dan tidak membuang-buang waktuku dengan menyesali nasib. Ah, aku menjadi bersemangat. Beberapa bagian dari kabut masa depanku kini sudah menjadi lebih jelas terlihat.

Di atas semua itu, kita hidup bukan untuk menjadi hamba dari visi atau cita-cita kita. Menjalani visi hanyalah sarana untuk menyelesaikan sesuatu yang jauh lebih mulia, yakni melayani Allah. Visi hidup, bagaimanapun komitmen dan keyakinan kita, tidak boleh bersifat mutlak. Ketika kita membuatnya menjadi mutlak, bisa jadi itu membuat kita tidak lagi merasa tergantung dengan suara Allah. Alhasil, kita tidak lagi rindu berdoa karena kita merasa jalannya sudah jelas terlihat, tinggal dijalani saja dan tidak lagi perlu membuang-buang waktu untuk menanyakan petunjuk dari Bapa kita. Aku bisa pastikan, perjalanan seperti itu akan berujung pada penyesalan.

Jadi, walaupun sejauh ini, aku merasa semuanya jelas, bekerja di perusahaanku hingga meraih exp. 5 years (biasanya dunia akan menganggap seseorang berpengalaman jika dia telah menjalani bidang itu setidaknya 5 tahun tanpa berhenti), dilanjutkan dengan 2 tahun tambahan studi di ITB, dan menjalani 3 – 5 tahun studi doktoral di Amerika (Amiiiiiiiiinnnnnn to the Max), aku tidak boleh menjadikan semua itu mutlak. Yang mutlak hanyalah ini, hidup untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan apa yang Dia inginkan kita kerjakan.

C. S. Lewis berkata, to love is to be vulnerable. Aku mengasihi Allahku dan kasih itu diwujudnyatakan dalam kerentananku di hadapan-Nya. Aku rentan, aku menyerah pada-Nya. Aku mengizinkan Dia campur tangan dalam hidupku, merevisi sebagian jalan hidupku, atau bahkan mengubahnya total. Walaupun mungkin aku akan merasa sakit, aku harus bertahan dalam iman dan pengharapan bahwa Dia tidak pernah merancangkan apapun yang jahat bagiku. Aku ada dalam kasih-Nya. Aku tenang. Aku pasti berhasil. Aku akan mengakhiri hidupku dalam kepuasan sejati dan sukacita ketika Dia menuntun langkahku.

Nah, bagaimana denganmu? Aku sangat mengapresiasi kesediaanmu untuk membaca hingga sejauh ini. Jika kau masih kuat membaca deretan huruf-huruf di paragraf ini, aku asumsikan kau juga sedang bergumul dalam visi hidupmu. Well, aku harap kisah singkatku ini (aku tidak yakin ini singkat) bisa menjadi inspirasi buatmu. Dan biarlah kusimpulkan poin-poin paling utama di sini:

  1. Jika kau mau melakukan sesuatu yang penting dan bukan sekadar rutinitas, lakukanlah dengan grand style.
  2. Jika kau bisa membuat sejarah dan legenda dalam hidupmu, mengapa harus membiarkan hari-harimu berlalu begitu saja menjadi just-another-day?
  3. Jangan terbuai dalam mimpi, segera buat satu langkah besar dalam perjalananmu meraih visi!
  4. Jika langkah besar itu adalah sebuah tanda tanya, maka jangan berlama-lama, segeralah tanyakan kepada orang yang paling mampu menjawabnya. Tanyakan kepada tata usaha jika kau ingin menjadi dosen. Tanyakan kepada pendeta jika kau ingin menjadi pendeta di gereja yang beliau gembalai. Tanyakan kepada pacarmu jika kau harus menunda pernikahan karena ingin studi di luar negeri. Jangan buang-buang waktu, segeralah temukan jawabannya!
  5. Jika setelah kau bertanya, mendapat jawaban, dan mau tidak mau harus membuat revisi, maka buatlah revisi. Jangan bersungut-sungut. Ambil waktu sejenak dan renungkan. Lihatlah sisi baiknya. Dan temukanlah alasan untuk bersyukur karena revisi tersebut. Percayalah, kau pasti bisa menemukan sisi baik dan alasan untuk bersyukur.
  6. Visi hidup tidak boleh mutlak. Yang mutlak adalah mengenal-Nya, mengenal suara-Nya, dan melayani Dia.
  7. Terakhir, akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3 : 6).

Aku tidak peduli apakah aku bisa sampai ke sana atau tidak
karena perjalanan ke sana saja sudah sangat menyenangkan dan bermakna.

Tuhan Yesus memberkati

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s