(4) Saya Masih Tidak Percaya…

5352_dicari_integritas

Integritas tidak datang dalam tingkatan: rendah, sedang, atau tinggi.
Anda memiliki integritas, atau tidak memilikinya. (Tony Dungy)

Belum lama ini, saya pergi ke toserba untuk membeli beberapa keperluan, dan saya menyerahkan beberapa dolar kepada kasir untuk membayar barang-barang saya. Dia menyerahkan kembalian dan slip pembayaran kepada saya, dan karena saya terburu-buru, saya segera memasukkannya ke saku dan berjalan ke pintu. Ketika saya duduk dalam mobil saya, saya membuka lipatan uang yang diserahkan pada saya dan akan menaruhnya ke dompet ketika saya memerhatikan bahwa kasir telah memberikan uang kembalian terlalu banyak.

Saya tidak akan berbohong pada Anda. Pikiran pertama saya adalah, “Wow! Tuhan memang baik!”. Untungnya, pikiran saya selanjutnya adalah, “Tidak! Saya harus mengembalikannya.”

Saya menghitung berapa seharusnya uang kembalian yang benar, lalu kembali ke toserba itu. Menunggu sampai sang kasir murah hati itu selesai melayani pembeli, saya menghampiri, menyerahkan kelebihan uang kepadanya, dan berkata, “Maaf, Bu, Anda sudah kelebihan memberi uang kembalian pada saya.”

Dia sedag beres-beres, ketika tiba-tiba seluruh raut wajahnya berubah. Air mata menggenang di matanya, dan dia tergagap, “Oh, oh, oh, ya ampun! Saya tidak percaya kau mengembalikan uang itu! Rasanya saya benar-benar tidak percaya!”

Dibutuhkan beberapa detik untuk dia mengusai diri. “Terima kasih banyak! Ini sangat berarti bagi saya. Terima kasih karena melakukan hal yang benar! Saya hanya tidak bisa…”

Saya benar-benar terkejut oleh reaksinya yang terlihat berlebihan. Saya hanya berkata, “Sungguh, ini bukan hal besar….”

Dia menyela saya, “Tidak. Tidak. Kau hanya tidak tahu.” Dia mulai berjalan keluar dari balik konter dan berkata, “Apa kau tidak keberatan kalau saya memelukmu?”

Sekarang saya bahkan lebih terkejut lagi. Dia kembali lagi ke belakang konter, memandang uang di tangannya, masih diliputi oleh emosi, mengatakan berulangkali, “Rasanya tidak percaya kau mau mengembalikan uangnya!”

Meluap dengan ucapan syukur lagi, dia menjelaskan, “Bukan pertama kalinya saya melakukan hal ini. Saya terus membuat kesalahan yang sama, memberi uang kembalian terlalu banyak. Setiap kali ini terjadi, saya harus mengganti kerugian. saya tidak tahu mengapa itu sulit bagi saya, tapi itu terus terulang.” Dia menarik napas panjang dan merendahkan suaranya. “Karena saya terus berlebihan memberi uang kembalian, bos saya berkata, jika hal ini terjadi sekali lagi, mereka akan memecat saya. Saya ibu tunggu. Saya tidak bisa kehilangan pekerjaan ini.”

Saya tersenyum, berbalik menuju pintu, dan berkata, “Yah, saya senang bisa membantumu.”

Sebelum pintunya tertutup di belakang saya, saya mendengar seruannya yang terakhir kali, “Saya masih tidak percaya kau mengembalikan uang itu! Terima kasih!

Saya tidak tahu siapa yang berakhir dengan mengalami hari yang lebih baik, dia atau saya.

Kesaksian Pastor Craig dalam bukunya “Altar Ego”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pesan pertamaku bagimu yang membaca ini:
Jika kau melihat buku yang dikarang oleh Craig Groeschel, belilah dan bacalah
Buku berjudul “Aneh” dan “Altar Ego” merupakan dua buku yang luar biasa

Pesan berikutnya, bisa kita lihat dari ekspresi si ibu yang berulang-ulang kali mengatakan, “Aku tidak percaya kau mau mengembalikannya.” Inilah bagaimana iblis membawa dunia dan anak-anaknya, kini orang jauh lebih kaget saat melihat orang yang melakukan hal yang benar dibanding hal yang salah. Orang yang berintegritas akan jauh lebih mencengangkan dibandingkan orang yang korup. Orang yang rajin belajar akan sangat terlihat berbeda di antara teman-temannya dibandingkan orang-orang yang malas. Sayangnya, definisi “berbeda” di sini seringkali berarti ambisius, freak, anti sosial, dan maksud apapun yang bermakna negatif.

Apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini?

Well, apapun yang terjadi, aku meyakini satu hal, yakni: sampai kapanpun, apa yang benar pasti akan selalu menyentuh hati nurani. Apa yang benar, memang sangat mungkin akan mengundang kebencian dan iri dengki dari otak-otak jahat yang ada di sekeliling. Orang benar pasti akan kenyang dengan sebutan “sok suci” yang ditujukan pada dirinya. Tetapi, sekalipun “lidah dan otak” bisa membenci seorang yang benar, “hati nurani” manusia tidak akan mengabaikan kebenaran. Hati nurani, sekalipun itu ada di hati orang yang jahat, akan selalu tersentuh oleh kebenaran yang ditegakkan oleh orang-orang benar.

Lidah bisa menghujat kebenaran
Otak bisa membenci kebenaran
Tetapi bagi hati nurani, apa yang benar akan selalu menyentuh
Apa yang benar, akan selalu ISTIMEWA, terserah apakah itu diakui atau tidak

Oleh sebab itu,
Lakukanlah apa yang benar, sebab itu akan menyentuh hati orang yang tidak percaya sekalipun
Kita adalah wakil-wakil Allah, biarlah dunia melihat Allah melalui kita
Kita adalah duta-duta Allah, biarlah Allah bersinar menerangi dunia melalui kita

Itu adalah pilihanmu
Berintegritas, dibenci dunia, tetapi dipuji Allah
atau
Tidak berintegritas, disayang dunia, tetapi tidak dikenal Allah

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
~ Matius 5 : 37

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

3 thoughts on “(4) Saya Masih Tidak Percaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s