(5) Menyerahkan Raket Terbaik

1303910604_192752084_5-Raket-Tenis-Head-YOUTEK-Six-Star-Jakarta

“Whoever is careless with the truth in small matters cannot be trusted with important matters”
~ Albert Einstein

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk bermain tenis di perguruan tinggi NAIA yang termasuk dalam tim nasional. Selama musim panas, saya mengajar pelajaran tenis pada anak-anak untuk menambah uan saku. Semua anak yang saya ajar adalah pemula, dan pada akhir setiap kelas, kami akan bermain. Untuk mencairkan suasana, saya melemparkan tantangan ini: “Jika ada di antara kalian yang bisa mengalahkan saya, kalian akan mendapatkan raket tenis saya.”

Nah, raket saya ini sangat mahal dan benar-benar bagus, tetapi tentu saja mereka baru bermain tenis, jadi tak seorang pun akan memiliki kesempatan mengalahkan saya. Tetapi sekali lagi, untuk bersenang-senang, saya akan membiarkan pertandingan kami nyaris seimbang sebelum saya menghabisi mereka. Kami akan bermain sampai sepuluh poin. Saya akan membiarkan mereka mengimbangi saya sampai tujuh atau delapan poin, kemudian saya akan menghabisi mereka. Ini semakin seru, dan setiap orang tampaknya menikmati.

Suatu sore ketika kami sedang bermain, saya membiarkan seorang anak sampai ke poin 8-8, seperti biasanya. Saya berniat membuatnya mati kutu dalam dua poin selanjutnya. Tetapi pada ayunan dia yang berikutnya, bolanya terselip melewati bagian atas jala dan jatuh di samping saya. Itu hanya lemparan untung-untungan, hampir tidak pernah terjadi pada tingkat pemula. Dia berjingkrak kegirangan, teriaknya, “9-8! 9-8! Aku menang!”

Saya tertawa dan memberitahu bahwa tembakannya benar-benar bagus. Kemudian saya berkata dalam hati. “Tentu saja, aku akan menyisihkanmu. Kuharap ibumu ada di rumah. Kau akan berlari menghampirinya ketika aku menghabisimu dalam pertandingan ini.”

Pada poin selanjutnya, dia melakukan hal yang sama persis. Sekali lagi! Bolanya mengenai jala, bergulir melewati bagian atasnya, dan jatuh ke samping saya. Dia mengangkat kedua lengan dan berlari keliling, berteriak. “10-8! Aku menang! 10-8! Kau harus memberiku raketmu!”

Semua anak lainnya menghampiri, menyoraki dia yang berputar-putar menari sepertinya baru saja memenangkan Wimbledon. Sementara itu, di benak saya berkecamuk pikiran yang tidak kudus, “Argghhh! Anak nakal itu! Raket terbaikku! Apa yang mesti kulakukan!”

Pikiran saya berpacu mencari solusi. “Oh, ya benar, akan kuberikan raketku. Kau bisa memiliki raket kuno yang murah dan berdebu di garasiku. Atau mungkin aku akan memberikan raketku yang lain, tetapi bukan yang satu ini.” Tetapi suara lain menghantui saya, “Craig, ketika kau memiliki integritas, itu sangat sangat berarti.

Saya menelan pahit kenyataan itu, menghampiri anak tersebut, memberikan raket saya padanya, dan mengatakan setulus mungkin dengan kertakan gigi, “Ini raketnya. Aku …. harap kau menikmatinya.”

Saya pikir kisah ini sudah berakhir, sampai beberapa tahun lalu. Saya baru saja berkhotbah di gereja kami, dan ketika ibadah selesai, saya berdiri dekat bagian depan, menemui orang-orang. Seorang pemuda menghampiri saya untuk berbicara pada saya. Wajahnya kelihatan tidak asing, tetapi saya tidak bisa mengingatnya. Saya menjabat tangannya dan berterima kasih atas kedatangannya.

Kata-katanya mulai meluncur cepat, “Wow, rasanya Anda berbicara langsung pada saya pagi ini. Saya baru saja menaikkan doa yang kau tuntun untuk kami naikkan (red. altar call). Saya memberikan hidup saya kepada Kristus! Saya merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam.”

Sebelum saya bisa meresponi, dia tersenyum dan berkata, “Anda tidak ingat saya, kan?”

Saya berkata, “Yah, kau kelihatan tidak asing, tapi maaf, saya tidak ingat.”

“Bertahun-tahun yang lalu. Anda mengajari saya pelajaran tenis pada suatu musim panas….”

Saya tidak menunggu dia menyelesaikan kalimatnya. “Kau yang mendapatkan raket saya!”

Dia tertawa. Tidak, tidak! Itu bukan saya. Saya tidak memiliki raketmu. Tapi saya ada di sana ketika itu terjadi. Anda tahu, tak seorang pun dari kami berpikir kau akan benar-benar memberikan raket terbaikmu pada orang itu! Rasanya kami tidak percaya ketika Anda melakukannya! Lagi pula, ketika saya datang ke sini hari ini dan mengenali Anda, saya ingat apa yang Anda lakukan bertahun-tahun silam. Kemudian saya tidak bisa tidak berpikir bahwa jika Anda orang yang menepati perkataan waktu itu, maka mungkin Anda orang yang menepati perkataan Anda sekarang. Jadi saya benar-benar memercayai segala sesuatu yang Anda katakan tentang Yesus hari ini. Itulah sebabnya saya memilih untuk memberikan hidup saya kepada Dia.”

Diangkat-dengan-beberapa-editan dari kesaksian Pastor Craig Groeschel dalam buku karangannya sendiri:
Altar Ego

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya tidak punya komentar tambahan mengenai kesaksian ini.
Saya percaya teman-teman pasti bisa menangkap, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari kisah nyata yang sangat indah ini.

Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? 
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
….. yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
…. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
~ Mazmur 15 : 1-5

Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s