Pemimpi Terbesar

Capture

Kau punya cita-cita?
Seberapa besarkah keinginanmu untuk cita-cita itu terwujud?

Apakah itu sebesar keinginan seorang pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan? Atau sebesar keinginan seseorang untuk menemukan cinta sejatinya? Sebesar keinginan pasangan suami isteri yang bertahun-tahun belum juga dikaruniai seorang anak? Sebesar harapan Alpha Edison untuk menemukan bola lampu setelah ratusan kali percobaan yang gagal? Atau seperti harapan orang-orang terjajah untuk merdeka?

Aku bertanya-tanya dalam hatiku
Seandainya saja ada alat ukur dan besaran yang menyatakan besarnya keinginan seseorang Siapakah manusia yang memiliki keinginan terbesar di dunia ini?
Apakah hal yang dia inginkan?
Jika diurutkan, akankah aku berada di deretan 10 besar orang-orang bertekad terbesar sejagad?

Tetapi kemudian Tuhan memperhadapkanku pada suatu kisah
Dan kisah itu membuatku berpikir
Bisa jadi, pemimpi terbesar di dunia ini adalah seorang kusta

Untuk membuatmu mengerti dengan pertanyaanku itu, mari kita coba untuk memikirkan hal berikut. Mungkin kita tidak akan pernah mengerti penderitaan yang mereka alami. Dan semoga saja kita tidak perlu mengalaminya untuk bisa memahami. Tetapi jika aku mencoba membayangkan bahwa diriku adalah salah satu dari mereka, membayangkan bagaimana aku sendiri akan jijik tiap kali melihat sekujur tubuhku yang penuh dengan borok bernanah dan berdarah. Tiap kali aku hendak meraih dan memegang makanan untuk mengisi perutku yang kosong, aku akan selalu teringat bahwa aku sudah tidak memiliki jari lagi. Setiap kali melihat tanganku yang bengkak tetapi tanpa jari, aku menjadi begitu sedih, nafsu makanku sirna dalam sekejap, aku melupakan jeritan perutku yang semakin keras terdengar, aku membunuh diriku perlahan.

Hari demi hari, tubuhku semakin lemah, tetapi satu pertanyaan besar itu belum juga kutemui jawabannya, “kapankah aku mati, mengapa tidak hari ini saja?” Akupun tertidur, aku tidak pernah merasakan nyenyaknya tidur di tempat yang kotor, basah, bau, dingin, dan keras seperti itu. Belum juga aku benar-benar terpulas, aku merasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurku.

Aku membuka mataku yang tidak pernah benar-benar tertutup karena perih tiap kali kelopaknya bersentuhan. Aku buka mataku, aku memaksa diriku untuk bangun, hanya untuk mengetahui bahwa gangguan itu berasal dari tikus-tikus yang hendak memakan jari kakiku yang terakhir. Dia hampir berhasil melahapnya, kakiku berlumur darah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku menyerah dengan kuatnya tekad tikus-tikus itu menggerogoti tubuhku. “Mengapa mereka tidak kenyang-kenyang juga, padahal setiap hari aku berbagi piring dengan mereka?”, kataku dalam hati sambil menangis.

Aku selalu dalam kesedihan, aku tidak pernah melihat keindahan selain orang-orang yang sama buruk rupanya denganku. Aku jijik melihat rupa mereka, tetapi apa daya, fisikku bahkan lebih menjijikkan dari mereka. Tetapi itu bukanlah kesakitan yang terdalam. Kesakitan yang terdalam adalah ketika aku tidak lagi bisa bersama orang-orang yang kukasihi dan yang seharusnya mengasihiku. Aku kesepian. Aku menanti, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tahun, hingga bertahun-tahun aku kira aku bisa sembuh atau setidaknya ada orang yang mengunjungiku di tempat pengasingan ini, tetapi tak ada satupun dari mereka yang rela.

Aku kesepian
Aku sudah lupa caranya tertawa
Aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya disentuh

Mungkin itulah yang mengisi, bahkan menghantui, detik-detik di dalam kehidupanku jika aku harus mengalami penyakit itu. Itulah hal yang mereka rasakan, para penderita kusta di zaman Alkitab. Orang-orang Yahudi mengasingkan mereka dari peradaban. Tidak hanya itu, mereka akan berteriak, “Najis, najis” setiap kali mereka melihat orang kusta sebagai tanda peringatan bagi yang lain. Seakan semuanya belum cukup parah, semua orang di zaman itu, termasuk para penderita kusta sendiri hidup dengan keyakinan bahwa Allah membenci mereka, Allah mengutuk orang-orang kusta itu. Para kusta hidup menderita di bumi dengan keyakinan bahwa jika mereka mati, mereka pasti masuk neraka. Mungkin itu juga yang menahan mereka untuk bunuh diri. Apa yang lebih buruk dari itu?

Tetapi, cobalah sekarang kita membayangkannya lagi. Di suatu hari. Hari yang mereka kira tidak akan ada bedanya dengan hari-hari pedih sebelumnya, tiba-tiba salah seorang dari mereka berlari dan berteriak pada mereka semua:
“Hei, kalian tahu? Di sana ada orang baik hati yang bernama Yesus.
Dia baru-baru ini menyembuhkan banyak orang, bahkan membangkitkan orang mati.
Masih ada harapan, masih ada harapan, masih ada harapaaan!!!”

Kira-kira, apakah yang mereka rasakan saat itu?
Aku rasa…
Detik di mana mereka mendengar kabar tentang Kristus
Adalah detik yang melahirkan kembali harapan mereka untuk bisa sembuh
Detik itu adalah detik yang menjadikan mereka pemimpi terbesar di seluruh dunia

Lukas 17 : 11-19 mencatat kisah itu. Kala itu, ada sepuluh dari sekian banyak orang tidak beruntung itu yang berhasil bertemu dengan Kristus. Mereka berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami.” Cobalah kita renungkan, seberapa dalamnya maksud hati mereka saat mereka berkata, kasihanilah kami. Yesuspun dengan iba dan tanpa merasakan jijik sama sekali berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dalam perjalanan mereka untuk bertemu dengan para imam, mereka akhirnya sadar bahwa mereka telah sembuh. Yesus menyembuhkan mereka. Alangkah terkejut mereka. Betapa secara tiba-tiba hati mereka dipenuhi dengan sukacita yang tiada tara. Mimpi mereka terwujud. Akhirnya, mereka menjadi “manusia” kembali.

Tetapi kita tahu bersama apa yang kemudian terjadi
Aku menduga kusta pasti tidak hanya menggerogoti tubuh luar mereka saja
Kusta pasti sudah memakan habis “hati” mereka
Bagaimana mungkin hanya satu dari mereka yang kembali pada Yesus dan berterima kasih?
Sembilan orang itu pasti sudah tidak memiliki hati lagi

Yesus telah mengabulkan harapan terbesar dalam hidup mereka
Harapan terbesar dalam hidup mereka
Tetapi sebegitu cepatnya mereka lupa kepada-Nya
Ternyata para pemimpi terbesar-pun tidak tahu caranya bersyukur

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejarah menjadi saksi mimpi-mimpi yang terwujud. Bukan hanya sang sejarah, kita pun pernah melihat atau bahkan pernah merasakan cita-cita besar yang terkabul. Ada begitu banyak mimpi yang Ia wujudkan di dunia ini. Tetapi mengapa terlalu sedikit ucapan syukur yang kembali pada-Nya?

Para penderita itu pasti memenuhi hidup mereka dengan pertanyaan:
“Mengapa kesakitan ini menimpaku?”

Tetapi setelah sembuh, apakah mereka pernah bertanya:
“Mengapa kesembuhan ini boleh kuterima?”

Itulah manusia. Itulah setiap kita. Penuh dengan keluhan tetapi sangat jarang mensyukuri segala hal yang diterimanya. Aku rasa ada yang salah dengan kita. Ketika hal yang buruk menimpa hidup kita, kita selalu bertanya-tanya dan mengeluh mengapa semua itu harus terjadi pada kita. Mengapa tidak terjadi pada orang lain saja. Tetapi, jika hal yang sebaliknya terjadi, jika hal baik dan membawa sukacita menghampiri hidup kita, tak pernah sekalipun terlintas pertanyaan di benak kita mengapa semua itu boleh terjadi dalam hidup kita. Mengapa tidak orang lain saja yang menerima hal yang baik ini.

Setiap kita merasa tidak layak untuk mendapatkan yang buruk
Tetapi merasa berhak atas hal-hal yang baik saja
Kita sepenuhnya lupa bahwa kita semua pantas masuk neraka

Sembilan orang yang lain pasti merasa dirinya berhak untuk disembuhkan oleh Kristus. Karena mereka merasa layak untuk pemulihan itu, mereka merasa tidaklah harus untuk berterima kasih pada-Nya. Mereka merasa dirinya layak untuk sembuh. Kau pasti setuju denganku jika aku berkata bahwa pasti ada yang salah dengan orang-orang ini. Tetapi itulah yang sebenarnya terjadi pada kita setiap kali kita lupa bersyukur, mengasihani diri sendiri, enggan berbagi, dan tak henti-hentinya mengeluh.

Merasa layak dan pantas untuk menerima sesuatu
Itulah awal dari kematian rasa syukur

Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan sama seperti kebanyakan orang di dunia ini?
Apakah kita akan sama seperti sembilan orang kusta yang tidak tahu bersyukur itu?
Apakah kita adalah orang yang merasa diri berhak atas SEGALA SESUATU yang kita terima?

Ataukah kita akan hidup berbeda?
Hidup dalam kesadaran penuh, hari demi hari, bahwa sesungguhnya kita tidak layak menerima semua itu, yang terkecil sekalipun
Kita hanya terlalu dikasihi oleh Allah sehingga Ia memberikan segala hal yang baik walau kita cepat sekali lupa untuk bersyukur

Apakah kita akan seperti yang seorang dari sepuluh itu?
Hidup dengan perspektif bahwa SEGALA SESUATU adalah ANUGERAH dari Bapa kita
Dan datang kepada Sang Pemberi, bersyukur, melayani Dia seumur hidup kita?

Tuhan Yesus memberkati
Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s