(6) Menemukannya

Beberapa pengalaman mengingatkan kita tentang perspektif kita dalam cara-cara yang sangat dramatis. Suatu kali, keluarga kami melakukan perjalanan dari Oklahoma ke Florida untuk bersenang-senang menikmati cahaya matahari. Sayangnya, kami ada di sana pada minggu ketika matahari tidak muncul dan cuacanya mengerikan. Hujan, hujan, dan hujan makin deras. Setelah beberapa hari beraktivitas dalam ruangan, saya benar-benar kecewa karena kami menghabiskan begitu banyak uang dan melakukan perjalanan melintasi banyak negara bagian untuk berlibur dalam cuaca yang lebih buruk dari area asal kami. Akhirnya, cuaca mulai sedikit membaik. Tidak banyak, tetapi cukup untuk bermain di pantai dan semacamnya.

Karena badai masih membandel, kami tidak membiarkan anak kami pergi ke bagian yang lebih dalam dari setinggi lutut di pantai. Gelombang, air pasang, dan arus bawahnya tampak terlalu besar bagi anak-anak kami yang masih kecil dan belia. Dengan keterampilan seperti penjaga pantai Baywatch, sambil diam-diam mengomel tentang cuaca buruk, saya menyaksikan setiap gerakan yang dilakukan anak-anak di laut.

Sesaat, pikiran saya mengembara, membayangkan hari yang paling indah di pantai, hari yang saya yakin akan muncul pada hari kami meninggalkan rumah. Ketika saya terjaga dari lamunan singkat saya, saya menghitung anak-anak. Satu, dua, tiga, empat, lima… lima? Mana yang nomor enam? Jantung saya berdegup kencang. Saya buru-buru mendata. Ada Catie, Mandy, Anna, Sam, dan Joy. Di mana Stephen?

Waktu membeku.

Saya lari dengan kecepatan penuh ke laut yang berombak, berteriak memanggil Stephen. Amy dan semua anak lainnya ikut panik bersama saya dan beralih ke posisi mencari dan menyelamatkan. Kami berteriak dan berdoa meminta belas kasihan Allah. Dengan doa-doa yang dinaikkan tanpa henti, kami terus memanggil dia, mengamati tanda apa pun dari anak bungsu kami di dalam air.

Tida ada sesuatu pun.

Detik berganti menit. Saat setiap detik berlalu, ketakutan kami membubung tinggi. Orang-orang datang berlari untuk ikut mencari. Kami takut kalau hidup kami akan berubah selamanya menjadi yang terburuk.

Saat itulah Catie, anak sulung saya, menunjuk pada gundukan pasir dan berteriak, “Stephen!” dengan kelegaan dalam suaranya. Si kecil Stephen berjalan pelan dari gundukan itu, menarik celana pendeknya ke atas, berusaha mengikat tali celana renangnya. Rupanya Stephen harus “ke belakang”, jadi dia mencari sebuah pohon dan menuntaskan panggilan alamnya.

Setelah melihat Stephen, saya bersyukur kepada Tuhan, memuji dan menyembah-Nya. Biasanya, saya akan memberitahu Stephen bahwa dia perlu memberitahu kami saat dia harus ke kamar mandi, tetapi pada waktu itu saya terlalu bersyukur sehingga tidak sempat menegurnya, dan hanya berterima kasih kepada Allah karena anak kami masih hidup.

Saya sadar bahwa sepuluh menit yang lalu, saya merana karena tidak menyukai cuacanya
Ketika perspektif saya berubah, saya tidak akan peduli apakah hujan setiap hari untuk seumur hidup saya
Satu-satunya hal yang penting adalah anak saya selamat

Perspektif yang benar adalah segalanya. Ketika satu-satunya yang bisa Anda pikirkan adalah apa yang ingin Anda keluhkan, Anda bisa sangat merana dan tidak bersyukur. Tetapi ketika Anda mengubah fokus Anda, hati Anda berubah. Alih-alih diracuni sikap hidup tidak bersyukur, Anda diubahkan oleh rasa syukur dan kecukupan diri.

Diambil-dengan-sedikit-editan-dari buku : Altar Ego, karangan Craig Groeschel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dari kesaksian ini, aku pribadi mendapatkan satu pelajaran yang berharga.

Bahwasanya ada hal-hal paling utama dalam hidup ini, yang seandainya saja kita sadari,
akan membuat banyak hal lain menjadi tidak lagi sedemikian penting.
Rahasia hidup ini adalah menemukan “hal-hal paling utama” itu.

Ini adalah tentang sebuah visi dan satu pribadi.
Misteri hidup ini terletak pada menemukan keduanya.

Ketika kita tahu apa yang menjadi visi hidup ini, maka apapun yang kita kerjakan, cara kita memaknai hidup, dan bagaimana kita menggunakan waktu, akan benar-benar berbeda. Pada saat itulah mata kita akan benar-benar terbuka dan kita bisa mengatakan: “astaga, ternyata selama ini aku terlalu banyak menghabiskan waktuku untuk sesuatu yang tidak penting dan sia-sia.” Kita akan sadar bahwa kita terlalu melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung visi hidup kita atau terhanyut dalam perbincangan yang terlalu dibesar-besarkan. Kita akan terbangun dan menyadari bahwa selama ini kita mengeluh untuk sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan.

Seorang bijak berkata, semakin banyak yang kau tahu, semakin sedikit yang kau lakukan. Aku yakin hal yang dia maksud adalah tentang mengetahui apa yang benar-benar penting dalam hidup ini. Ketika kita tahu apa yang terutama, hal-hal lain akan menjadi tidak (sedemikian) penting, dan sebagai hasilnya, tidak perlu lagi menyita waktu dan nafas hidup kita. Kita akan hidup fokus. Kita akan hidup produktif. Kita akan hidup efektif.

Ini juga tentang menemukan seorang pribadi. Pribadi yang kepadanya hidup dan cinta akan kita persembahkan. Jika kita menemukannya, kita akan memandang hidup kita dengan berbeda. Hidup kita menjadi tidak sedemikian penting lagi karena dia akan menjadi lebih penting dari diri kita sendiri, bahkan, lebih penting dari apapun yang ada di bumi ini. Dia menjadi pusat hidup kita. Kita ingin selalu menyenangkan hatinya. Kita memandang kebahagiaan secara berbeda. Ketika dia bahagia, kita juga.

Ketika kita menemukannya, kita akan menjaga hati kita. Ketika kita mengetahui siapa dia, kita akan menjaga mata kita. Saat itulah pikiran kita menjadi benar-benar terbuka. Kita akhirnya tersadar dan tahu hal-hal apa saja yang bisa melukai hatinya. Kita berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Walau dia tidak sedang bersama kita, dan kita bisa saja melakukan hal yang bisa menyakitinya itu di belakangnya, tetapi karena dia selalu ada di dalam hati kita, kita tahu kita tidak boleh melakukannya lagi. Ketika kita menemukan dia yang kita cintai, banyak hal menjadi tidak (terlalu) penting lagi, banyak hal yang tidak akan lagi kita lakukan. Ketika kita berjanji untuk terikat bersamanya, kita melepaskan sangat banyak hal, dan kita rela melakukannya.

Visi dan Pribadi
Ketika kita menemukannya
Kita tahu kita akan selalu bisa bersyukur

Selamat berakhir pekan
Tuhan mengasihimu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s