And I Mean It

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,
karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
~ Galatia 6 : 9

Dan untuk menutup kesakianku ini, aku ingin menggaris bawahi beberapa hal yang utama.

Yang pertama, janganlah jemu berbuat baik. Dunia mengartikan kasih sebagai suatu pemberian. Sesungguhnya makna kasih tidaklah sesederhana memberikan sesuatu kepada orang lain. Tetapi karena kita ingin menjangkau dunia ini, marilah kita merendahkan standar kita sejenak.

Karena dunia mengharapkan kasih yang diwujudnyatakan dengan pemberian, maka hendaklah kita memberi. Janganlah orang Kristen menjadi orang yang pelit. Berilah dengan murah hati. Keluarkan uangmu, bantulah mereka yang sedang membutuhkan. Tersenyumlah kepada orang-orang yang kita temui. Bisa jadi satu senyuman seseorang menjadi alasan orang lain tidak membunuh dirinya sendiri.

Janganlah jemu berbuat baik. Ketahuilah, pemberian yang tulus dan tidak membangkit-bangkit sangat besar pengaruhnya. Itu menyentuh hati, membuatnya tidak tenang, menular. Suatu kali, satu penumpang yang ada di mobil kami meminta izin sebentar untuk membeli sesuatu di mini market. Sekembalinya dari toko, ia datang dengan membawa teh kotak dingin untuk seluruh orang yang ada di mobil, termasuk aku. Kau tahu, aku benar-benar tersentuh dengan perbuatannya, aku menjadi tidak tenang. Bagaimana mungkin dia bisa sebaik ini sementara aku, anak Tuhan, barang sekalipun, tidak pernah berinisiatif untuk membelikan rekan-rekanku teh kotak, barang yang kalau dipikir-pikir, sangat murah. Ternyata aku belum murah hati. Sejak hari itu, ingatan itu terus menggelisahkanku. Aku seharusnya bisa lebih baik. Aku seharusnya bisa lebih murah hati. Sampai akhirnya resolusi itupun lahir bagiku.

Terutama kepada orang-orang yang bekerja untukmu, sekali lagi, untukmu, bukan denganmu, berbuat baiklah kepada mereka. Supir angkotmu, tukang ojekmu, pengemudi taksimu, pembantumu, siapa saja yang bekerja untukmu, berbuat baiklah pada mereka, jadilah murah hati. Supir taksi tidak hanya bekerja untuk mengantarkanmu dari satu tempat ke tempat lain. Dia bekerja untuk mengantarmu dengan selamat. Walau keselamatanmu ada di tangan Allah, practically, keselamatanmu ada di tangan supir itu. Jadi, belumkah itu cukup untuk mendapatkan ucapan terima kasih yang lebih darimu?

Siapa lagi? Dosenmu, gurumu, siapa saja, bahkan pemerintahmu, mereka bekerja untuk kebaikanmu. Maka berlaku baik dan hormatlah pada mereka. Tuhan kitapun mengajarkan demikian:

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
~ Yeremia 29:7

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya…
…. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu.
~ Roma 13 (harap baca ini sesuai dengan konteksnya)

Yang kedua, dari peristiwa ini aku menyadari satu hal.
Sebagaimana banyak orang tidak menyadari keindahan yang ada di sekelilingnya.
Mereka juga tidak menyadari bencana yang juga ada di sana.”

Aku terlalu fokus dengan makananku sehingga aku tidak menyadari bahwa makhluk kecil itu ada di sana. Bisa dibilang, bisa saja sebenarnya semua lauk pauk yang kumakan selama ini, juga memuat makhluk kecil itu, atau bahkan mungkin lebih parah, akunya saja yang tidak menyadarinya. Bukankah begitu?

Nah, terimalah kebenaran itu dengan besar hati dan jadilah waspada. Bencana ada di sekeliling, maut sedemikian dekatnya dari batang hidung kita. Tetapi, sedekat-dekatnya kehancuran pada kita, ingatlah, Tuhan ada lebih dekat kepada kita, lebih dari itu, Ia ada di dalam kita. Ia berjalan di depan kita. Ia melindungi jalan kita. Ia merancangkan apa yang baik bagi kita. Mungkin kejadian yang buruk bisa saja datang menimpa kita. Bagaimanapun, bencana memang sedekat itu, bukan? Tetapi jika hal itu menimpamu, aku punya dua hal untuk kau pegang.

Pertama, jika pertanyaan besar bagimu adalah “Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?” Kau bisa bertanya balik pada dirimu sendiri, “Memangnya kenapa ini tidak boleh terjadi padaku?” Aku harap kita semua belum lupa bahwa kita sesungguhnya layak masuk neraka. Kita pantas menerima hukuman yang jauh lebih buruk dari semua ini. Kita seharusnya mati di neraka, selamanya, tidak ada jalan keluar. Tetapi oleh kasih setia Kristus yang rela mati, menerima siksa neraka itu di kayu salib, kita beroleh kehormatan bahkan kepastian keselamatan dalam iman kepada dia. Jadi tanyalah pada dirimu balik, “Memangnya kenapa ini tidak boleh terjadi, wajar kok ini terjadi, aku kan memang pantas menerimanya.” Oleh sebab itu, janganlah bersungut-sungut dan hadapilah hidup bersama Allah. Bersikaplah layaknya seorang anak Allah dalam menghadapi kerasnya hidup di dunia yang Dia ciptakan ini.

Yang kedua, ketika kau terus bertanya-tanya mengapa ini terjadi, yakinkanlah dirimu bahwa sesungguhnya yang lebih parah bisa saja terjadi, tetapi tidak terjadi. Dompetmu dijambret orang? Bisa saja dia melukaimu, tetapi tidak. Kau sakit? Bisa saja terjadi lebih buruk, kau tahu itu. Aku mungkin memakan belatung itu bersama ikanku? Bisa saja terjadi lebih parah, aku bisa saja menghabiskan semuanya kalau saja Allah tidak bersegera membelah langit dan turun untuk melindungiku, menghindarkanku dari bencana yang bisa menghancurkan hariku itu. Hal yang lebih buruk selalu bisa terjadi, Kawan. Tetapi apabila hal yang lebih buruk itu tidak terjadi, jelaslah bahwa sesungguhnya Allah yang menjaga kita dari kejadian yang lebih buruk itu. Bukankah itu sangat pantas dijadikan alasan untuk bersyukur?

“Sebesar apapun kegundahanmu atas hal buruk yang menimpamu,
hendaklah lebih besar lagi rasa syukurmu atas semua hal yang-lebih-buruk yang tidak Tuhan izinkan terjadi dalam hidupmu.”

Percayalah pada Dia
Dia tidak pernah, sekalipun, merancangkan yang jahat pada kita

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
~ Yeremia 29 : 11


Dan yang terakhir, yang bagiku menjadi pesan inti dari semua ini.

Kuasailah hatimu!!!

Bukannya tanpa sebab mengapa penguasaan diri Dia jadikan buah Roh yang terakhir. Penguasaan dirilah yang pada akhirnya menjadikan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dan kelemahlembutan itu menjadi punya nilai.

Kendalikan dirimu. Kau mencintai seseorang? Kuasai hatimu, disiplinkan cintamu. Kau sukacita? Jaga sikapmu, jangan permalukan Allah dengan sikapmu yang terlewat bahagia. Kau merasa damai? Waspada dan berjaga-jagalah juga. Kau sabar? Kau harus tahu kapan untuk mengonfrontasi, karena banyak kejahatan perlu diperangi akhir-akhir ini. Kau murah hati? Pastikan uangmu kau salurkan ke orang yang benar-benar membutuhkan dan bukan pemalas. Jangan lupa, kau dan keluargamu juga butuh uangmu. Kau baik? Ya itu bagus, pastikan juga kau punya citra dan wibawa yang baik. Kau suami lemah lembut? Ingat, sosok ketegasan juga perlu kau tambahkan di dalamnya.

Aku pernah dengar seseorang yang bermaksud mengucapkan “Aku ketagihan berbuat baik
Jika kaulah orang itu, yang sedang membaca tulisanku ini, tolong, ubahlah cara berpikir seperti itu. Kalau memang maksud hatimu benar, maka setidaknya jangan gunakan kata “kecanduan atau ketagihan” di sana. Tidak ada yang baik dari berlebihan, tidak ada yang benar dari kecanduan atau ketagihan. Ketagihan berbuat kasih tidaklah lebih mulia dari berbuat kasih itu sendiri. Kalaupun ada yang lebih mulia dibanding berbuat kasih, hanya ada satu hal, yakni memberikan hidup dan mati bagi orang yang dikasihi (Yohanes 15:13)

Terlalu senang berbuat baik, terlalu haus melakukan kebaikan. Berhati-hati dan berjaga-jagalah. Akupun pernah merasakannya ketika aku ketagihan menulis blog karena aku pikir aku sedang menulis sesuatu yang membangun banyak orang. Aku terlalu haus, aku tergesa-gesa, aku tidak bisa mengendalikan keinginanku sampai-sampai aku menarik diri dari kerjasama yang penuh kasih bersama Allah. Aku mengambil jalanku sendiri. Aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Aku tidak lagi melibatkan Dia. Aku kira aku hanya sedang berinisiatif, tetapi aku sedang mengatakan bahwa aku tidak membutuhkan pertolongan Tuhan lagi. Kau tahu, itu adalah pikiran terbodoh yang bisa seseorang pikirkan. Alhasil, aku menulis dengan asal-asalan, tidak damai, dan tidak menyentuh hati.

Sama seperti kisahku ini. Itu terulang lagi, aku tidak mengandalkan Tuhan lagi. Aku buru-buru mengakhiri doaku yang sejak dari pertengahan saja aku sudah tidak konsentrasi. Alhasil, lihatlah, aku hampir saja memakan ikan kotor yang kupilih dengan kehendakku sendiri itu. Ikan itu adalah pilihanku sendiri, aku layak menerima konsekuensinya. Tetapi lihatlah, Ia setia, Ia tidak membenciku karena mengabaikan Dia bahkan sejak dari doa, Ia melindungiku dari bahaya.

Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,
yang mengandalkan kekuatannya sendiri,
dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”
~ Yeremia 17:5


Demikianlah kisah kesaksianku. Dan karena kau sudah membawanya sejauh ini, aku merasa layak meminta satu hal padamu. Tolong jangan bully aku atas makhluk yang belum tentu aku makan itu. Akh, itu menjijikkan sekali lagi. Oke yah? Please, lupakan semua itu dan jangan mengungkit-ungkit itu lagi jika kau sedang berbicara denganku, hahahaha. Bagaimanapun, hal yang sama mungkin saja terjadi padamu, bukan? Hahahhaha

Okelah yah
Good night
yah teman-teman

Tuhan Yesus mengasihi kita semua
Itu pasti

~Selesai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s