It is What It is

 

…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………

Baiklah akan kujelaskan mengapa aku membuka tulisan ini dengan deretan titik. Itu karena sesungguhnya aku tidak mau tulisan ini ter-publish ke facebook. Aku malu dengan kejadian yang sebentar lagi akan kalian baca. Tetapi walaupun begitu, aku rasa kerinduanku untuk membagikan pengalaman ini lebih besar dibanding keinginanku untuk mempertahankan image atau harga diri. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk tetap mempublikasikannya. Akan tetapi, aku tidak tahu harus memulai dengan kalimat apa sebab beberapa kalimat awal akan ikut terlihat saat aku publish ini di facebook. Akhirnya, untuk menjaga agar tidak terlalu mencolok, aku menetapkan untuk memulainya dengan titik-titik. Beberapa orang mungkin akan melihat posting-an ini di home mereka tetapi karena hanya melihat titik-titik, mereka menjadi tidak tertarik untuk membuka, dan finally hanya “the right man at the right time” saja yang membukanya. Setidaknya aku tidak mempermalukan diriku ke terlalu banyak orang.

Nah, aku akan memulainya. Baru-baru ini, tepatnya hari Rabu kemarin aku mengalami hari yang buruk. Aku sedang on schedule di lapangan yang jauh dari camp pusat. Fasilitas di area ini jauh lebih sederhana, kantin-pun tidak ada, itulah mengapa aku dan driver-ku harus mencari makan siang di luar.

Sudah menjadi budaya di perusahaan kami, terutama ketika schedule kerja di lapangan, di mana orang yang lebih atas akan mentraktir orang yang lebih bawah. Siapa yang merasa memiliki jabatan atau gaji paling tinggi, akan mentraktir semua rekan yang makan satu meja dengan dia. Budaya yang sama juga aku lakukan. Men-traktir rekan, apalagi yang lebih kurang beruntung dibanding kita, adalah hal yang baik, bukan? Tetapi belum lama ini aku merenungkan hal itu dan perenungan itu melahirkan apa yang orang sebut sebagai resolusi.

Ketika kurenungkan, aku menyadari bahwa selama in aku belum melakukan semua itu dengan sepenuh hati. Tampaknya aku kurang peka selama ini. Aku memang membayar mereka makan, tetapi sementara aku melengkapi menu makanku dengan jus buah, aku jarang sekali menawari mereka jus. Aku memesan makananku, di saat yang sama mereka memesan makanan mereka, kemudian setelah selesai, aku membayar biaya makan kami, itu saja. Sangat jarang aku menawari mereka jus padahal aku seharusnya tahu bahwa mereka tentu tidak akan mengatakan pada saya, “Mas, saya boleh nambah jus juga yah?” Mereka tidak mungkin mengatakan hal seperti itu, mereka pasti segan untuk memintanya. Jika mereka minum jus, haruslah itu karena aku yang berinisiatif membelikannya.

Lanjut. Akhirnya sampailah kami (aku dan driver-ku) ke sebuah warteg yang direkomendasikan oleh rekanku yang lain. Seperti biasa, kami duduk, aku memesan makananku plus jus, beliau memesan makanannya, kami menerima makanan kami masing-masing, siap menyantapnya. Tentu saja, aku memulainya dalam doa. Dan sementara aku berdoa, ada suara dari hatiku berkata:

“Bro… Jangan lupa, kamu sudah beresolusi membelikan drivermu jus.”

Seperti biasanya, jika ada ide positif yang tiba-tiba datang padaku, aku menjadi terdiam dan kaget. Bagaimana mungkin ide brilian ini datang tiba-tiba. Aku sangat bersyukur dengan ide yang mengingatkanku itu. Ini kabar yang baik, bukan? Aku senang sekali. Akan tetapi, terkadang aku mendapati diriku over excited dengan ide-ide yang bermunculan itu. Kabar buruknya, over excitement itu terjadi hari ini. Pikiran dan suara lain datang menubruk…

“Waaahhh, inisiatif yang bagus sekaliiiiiii. Bagus-bagus, ini saatnya kita berbuat baik lagi.
Ayo pesan jusnya sekarang. Kita tunaikan resolusi kita pada Tuhan.
Ayo cepat pesan jusnya, segera akhiri doa ini, dan mari kita beli jusnya sekarang.
Ini luar biasaaaa.”

Kau mulai bisa menebak ke mana arah cerita ini, bukan? Benar sekali, aku menjadi tidak konsentrasi dalam doa makanku. Keinginanku untuk berbuat baik menjadi sedemikian besar. Aku tidak lagi bisa mengendalikan diriku. Aku ingin segera melakukan kebaikan itu. Aku menjadi terlalu excited hingga akhirnya aku lupa bahwa aku sedang berbicara dengan Allah, Raja Semesta Alam. Doaku buyar. Di tengah sukacita yang menipu itu, aku segera mengakhiri doaku. Aku masih ingat, ketika mataku pertama kali terbuka aku benar-benar bertanya pada diriku apakah aku sudah mengucapkan amin atau belum. Tetapi aku mengabaikan pertanyaan hatiku itu dan cepat-cepat berkata pada pelayan, “Mba, es jeruknya tadi satu, bikin dua saja yah!”

Lega karena telah memulai resolusi seumur hidup ini, aku mulai menyantap makananku. Selagi aku menikmati makananku, seekor kucing kemudian datang mendekat. Seperti selama ini, aku tidak pernah suka ada kucing yang menginginkan makananku. Itulah hal yang tidak kusukai dari kucing, mereka merasa diri mereka adalah tuan, mereka pikir mereka bisa menipu orang yang sedang makan dengan ke-imut-an mereka, mereka pikir mereka layak diberi makan. Ah, aku tidak suka tatapan tajam kucing hitam kurus yang sedang kelaparan itu. Tentu saja, aku berusaha mengusir kucing itu sambil memastikan aku tidak menyakitinya.

Dia menghindar dan menjauh, walau hanya beberapa sentimeter saja. Kemudian, seperti kucing normal lainkucing itu memelototiku seolah-olah ada rencana besar di benaknya untuk merampas makanan lezat ini dariku. Aku merasa dia sangat offensive, aku terusik olehnya, aku menatap dia, dan mencoba membayangkan rencana besar apa yang tersembunyi di balik sorotan tajam mata dan kepolosan wajah itu. Aku menganggapnya sebagi musuhku sampai akhirnya “suara” itu datang lagi….

~Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s