It’s Just It

……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

“Richard… dia hanyalah seekor kucing.
Kamu lebih kuat darinya. Kau bisa menyakiti dia.
Tetapi lihatlah, kau juga bisa melakukan apa yang baik buat dia.
Mengapa tidak memberikannnya makan?
Ayolah, itu tidak akan menyakitimu!”

Sekali lagi, aku terkejut dengan suara hatiku itu. Kali ini aku tidak terlalu excited tetapi aku benar-benar menjadi tenang dan aku rasa aku tersenyum karena datangnya ide mulia itu. Akupun mendamaikan hatiku, berusaha menguasai hatiku yang sempat terusik, dan akhirnya kembali ke arah piringku untuk melihat apa yang bisa aku berikan kepada kucing itu. Ini adalah hal yang baik, bukan? Walau kucing itu meresahkanku, bukan berarti aku kehilangan alasan untuk berbuat baik padanya. Aku berbuat baik bukan karena orang lain melakukan hal yang sama padaku, aku berbuat baik karena hal itu adalah hal yang benar.

Okeeee, kucing hitam, aku menyerah.
Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kuberikan padamu.
Hmm… aku punya ayam tetapi aku tidak mau membagikannya padamu.
Bagaimana jika ikanku saja. Sip, adakah potongan ikan di piringku?
Okeee, itu dia, potongan ikan itu tampaknya lezat, akan kuambil.
Here I cooomeeee…. heiiii, weeeeiiiittt a seccccc….
What is thaaaaaaaaat?

……..Inilah bagian yang membuatku malu untuk membagikannya di facebook……..
……..Bagian ini mungkin akan sangat menganggu, kau boleh berhenti jika kau mau……..

Akupun mendekatkan wajahku ke piring, aku menyelidiki, aku memelototi, aku menyoroti, aku fokus pada benda kecil yang sedang bergerak dalam potongan ikan yang baru saja kumakan.

“Tid… Tid… Tiiiidaaaakkkkk…..
Jangan bilang itu belatung yang masih sangat kecillll!!!
Satu ekor… dua… astaga… tiga… empat, kumohon, aku tidak mau melihatnya lagiiiiiiii.”

Aku segera menarik diriku. Aku sangat shock. Aku baru saja menemukan empat makhluk kecil menjijikkan itu ada di ikanku. Astaga, aku sudah sempat mencicip sebagian ikan itu. Jangan-jangan aku sudah menelan beberapa ekor. Tidak mungkin, mengapa ini terjadi padaku? Aku terdiam sejenak. Memegang dahiku. Ah, ini hari yang sangat buruk. Aku memutuskan untuk berhenti makan.

Aku melihat wajah sang pelayan, nampaknya dia menyadari gelagatku yang tidak biasa ditampilkan pengunjung yang sedang menikmati hidangannya. Aku menduga dia tahu kalau aku baru saja menemukan benda aneh dalam piringku. Mungkin mereka merasa bersalah. Aku tidak ingin menyinggung perasaan mereka sehingga aku berpura-pura menghentikan makanku karena sudah kekenyangan. Aku memegang perutku ibarat orang yang perutnya kepenuhan, mengambil dompetku, membayar, kemudian pergi.

Aku tahu aku belum bertindak dengan bijaksana. Hal yang seharusnya kulakukan adalah memberitahu pada pelayan bahwa makanan mereka sudah tidak bersih lagi sehingga mereka bisa melakukan perbaikan. Tetapi dengan pembenaran bahwa aku terlalu shock dan tidak ingin membuat mereka tersinggung atau kecil hati, aku tetap saja pergi meninggalkan piring yang jelas-jelas masih ¾ penuh itu. Driver-ku yang sudah menyelesaikan makanannya kemudian menyusul.

Driver    : Kenapa makanannya Mas?
Aku        : Ada ulatnya, Mas. Sudahlah, jangan pernah ke sini lagi! Kita ke padang aja yah.

Aku berkata dalam hati, “Ya Tuhan, aku benar-benar butuh penjelasan dari-Mu mengapa semua ini bisa terjadi.”  Tentu saja, aku kesal. Dan sebagian kekesalan itu, salahnya, kuarahkan kepada Dia. Dan kamipun berangkat ke rumah makan padang, tempat di mana semua ini akan menjadi benar-benar jelas bagiku.

Kemudian sampailah kami di rumah makan yang tidak jauh jaraknya itu. Mas driver memilih untuk tetap di dalam mobil karena beliau sudah kenyang. Akupun memesan makanan dan setelah makanan itu terhidang, aku berdoa. Aku menaikkan doa dengan isi yang biasa kupanjatkan untuk doa makanku tetapi kali ini aku menutupnya dengan:

“Bapa, mengapa Engkau izinkan yang itu terjadi?
Apakah Engkau lupa kalau tadi aku sudah berdoa sebelum makan?
Itu menjijikkan sekali. Mengapa Engkau tega ya Tuhan?”

Dan kau tahu apa jawaban Tuhan yang Dia bersitkan dalam benakku? Sesungguhnya Dia tidak memberikan jawaban apapun, Dia hanya bertanya balik padaku. Dan pertanyaan-Nya itu membuat semua ini menjadi jelas.

“Kau berdoa? Memangnya apa yang tadi kau doakan?”

Aku terdiam. Jantungku sepertinya berhenti seketika. Satu pertanyaan dari-Nya cukup membungkamku. Satu tanggapan dari-Nya membuatku tidak memiliki daya sama sekali untuk mengajukan keberatanku atas semua yang baru saja terjadi ini.

“Apa yang aku doakan?
Astaga, aku tidak benar-benar berdoa.
Ketidakmampuanku mengendalikan diri untuk segera membelikan jus telah membuyarkan doaku.
Sesungguhnya aku tidak berdoa.

Segera setelah perenungan itu, hatiku menjadi tenang. Kini aku mengerti, Tuhan baik, akulah yang salah. Aku terlalu tergesa-gesa berbuat baik. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku ketagihan dengan ide-ide yang sesungguhnya mulia. Aku ingin segera berbuat baik. Aku ingin cepat sampai-sampai kecepatan itu memisahkanku dari kerja sama dengan Allah. Aku akhirnya melenceng, keluar jalan. Aku mengandalkan kekuatanku. Aku mengabaikan Allah yang kepada-Nya aku sedang berdoa. Aku tidak berbuat baik sama sekali karena aku memisahkan diri dari-Nya. Lagipula, aku sendirilah yang memilih ikan itu.

Dan lebih jauh, kini aku menjadi benar-benar sadar. Tuhan bukannya dengan jahat membiarkan aku, mungkin, memakan makhluk menjijikkan itu. Sesungguhnya, Dia justru mencegahku melakukannya. Dia buat aku terlalu tertarik dengan ayam sehingga aku berusaha menghabiskan ayamku dulu baru kemudian memakan ikanku. Kukatakan padamu, itu tidak pernah terjadi sebelumnya, aku selalu save the best for the last. Sewajarnya aku akan memakan ikan dulu baru ayam tetapi kali ini memang berbeda dari biasanya, kali ini luar biasa. [Aku sudah memeriksa ayamku dan ternyata clear]. Dan tidak lupa, Dia kirimkan kucing jelek itu untuk mengganggu makanku sehingga aku tidak terburu-buru menyentuh ikanku dan malah fokus memerangi tatapan kucing itu. Dia dorong hatiku untuk berbuat baik dengan memberi kucing itu makan. Kalau bukan karena kucing itu, aku tidak akan melihat ikanku dengan teliti, dan mungkin saja, aku akan melahap seluruh isi piringku, lengkap dengan makhluk putih kecil menjijikkan itu.

Tuhan baik
Bahkan ketika kita tidak menyadarinya
Bahkan ketika kita tidak mau menyadarinya
Tuhan baik

~Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s