Upah Oriented (2), “Kesal”

Kurasa kau akan berkata dalam hati:
“Richard, kuharap kau punya penjelasan yang baik untuk mempertanggungjawabkan statement terakhirmu itu sebab aku rasa kau mulai tersesat dan terhanyut oleh nafsu dunia.”

Tersesat? Terhanyut oleh nafsu dunia? Mungkin semua ini ada hubungannya dengan itu. Aku, manusia biasa, di dunia yang jahat ini, sangatlah manusiawi jika aku tersesat dan terhanyut oleh tipu daya dunia.

Sebagian darimu mungkin sudah merasakannya, sebagian mungkin belum, yang jelas aku sedikit demi sedikit sudah merasakannya. Seiring bertambahnya usiaku, aku melihat semakin banyak hal di dunia yang kusebut “dunia nyata” ini. Secara sekilas mata atau secara cuek bebek, mungkin semuanya terlihat baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Tetapi apabila kau mengambil waktu sendiri untuk merenung sejenak, kemudian kau mencoba untuk menjadi peka dan sadar akan keadaan di sekelilingmu, mungkin kau akan sampai kepada kesimpulan yang sama denganku…

Dunia ini, dan anak-anaknya, begitu kejam, begitu mengecewakan
Apalah yang bisa diharapkan lagi dari dunia ini

Suatu hari, entah mengapa aku berada dalam keadaan hati yang paling sensitif. Aku merasa seperti ada beban dalam hatiku. Aku tidak terlalu menikmati cuaca hati seperti itu tetapi kusadari justru dalam keadaan demikianlah mata batinku berada dalam keadaaanya yang paling sadar. Aku memikirkan banyak hal, sangat banyak hal. Sayangnya, perenungan itu membawaku kepada kesedihan, dan lebih parah, keputusasaan. Saat aku menonton televisi, hatiku menjadi hancur.

Saat aku mendengar kabar-kabar kejahatan, aku berkata dalam hati:
“Orang ini kok tega banget membunuh manusia seperti itu?
Orang ini nampaknya sudah tidak ingin lagi diperlakukan seperti manusia.”

Saat aku mendengar kabar pejabat negara yang korup, aku mengeluh:
“Orang-orang rakus ini sudah menikmati upahnya, mereka tidak perlu lagi diampuni.”

Saat aku melihat gelagat para selebritis, aku lagi-lagi geram:
“Orang-orang bodoh ini tidak sepatutnya menjadi tontonan orang banyak.
Yang semestinya ditonton oleh orang adalah sosok-sosok inspiratif dan membangun.
Mereka berkata kasar, menyelipkan seks supaya terlihat lucu, mengucapkan opini seenak jidat
Mereka merusak moral tetapi menyangka diri menghibur orang banyak?
Orang-orang bodoh ini harus disingkirkan dari televisi.”

Saat tahu ada banyak satwa yang berturut-turut mati di suatu kebun binatang, aku kesal:
“Kumohon, apa yang dikerjakan oleh para officer di sana?
Orang-orang tidak becus seperti itu tidak layak mendapat penghasilan sebagai officer.
Pecat sajalah mereka.”

Keluhan demi keluhan mengalir dari hatiku. Tidak hanya dari apa yang kulihat di televisi, akupun tersiksa melihat apa yang ada di hadapanku sendiri. Bekerja di lapangan tidaklah senikmat kedengarannya, kau akan bertemu dengan banyak sekali warga setempat. Dan jika kau menemukan yang seperti kasusku ini, kaupun akan geleng-geleng kepala. Mereka menutup jalan, mereka mencegat, mereka membawa senjata, mereka mengancam, mereka menuntut ini itu, mereka melakukan banyak sekali hal yang jahat. Aku tidak habis pikir, mengapa orang desa bisa menjadi sedemikian malas, jahat, rakus, sombong, dan serakah seperti orang-orang ini.

“Hatiku sedih sekali, marah sekali, aku muak melihat dunia ini
Sedikit lagi dan aku akan benar-benar putus asa
Aku hampir-hampir tidak bisa mengasihi lagi
Dunia ini berindak seakan-akan mereka tidak layak dikasihi
Dunia ini bertindak seakan-seakan mereka tidak ingin dikasihi

Ya Tuhan, apa lagi yang Engkau harapkan dariku?
Panggil saja aku pulang
Aku sudah selesai dengan dunia ini
Percuma Engkau tahan aku di sini lebih lama lagi, aku tidak bisa melakukan apa-apa
Dunia ini tidak akan berubah

Cukup sudah
Aku tidak mampu lagi mengasihi
Aku tidak mau lagi mengasihi”

Itulah tangisan batinku. Tetapi syukur hanya kepada Allah, Dia selalu punya cara untuk menolongku. Dan kali ini, Dia melakukannya dengan membenahi cara berpikirku. Dia mengubah caraku memaknai satu kata itu, ya UPAH.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s