Upah Oriented (3), “Memandang”

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,
karena apabila sudah datang waktunya,
kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
~Galatia 6 : 9

Tuhan berbicara padaku dan meredakan kegundahan dalam hatiku. Ia mengingatkan kepadaku bahwa ada upah yang menantiku di surga. Dia membuatku kembali menyadari bahwa aku tidaklah berasal dari dunia ini. Aku berasal dari surga dan suatu saat aku akan kembali ke sana. Upah itu sudah menungguku di sana. Tetapi sebelum pergi ke sana, aku punya tugas yang harus kuselesaikan di dunia ini. Oleh sebab itulah aku harus bertahan dan tidak jemu-jemunya berbuat baik. Tuhan menguatkan hatiku dan berkata, “Semua ini hanya sementara.”

Semenjak hari itu, ada bagian dari hatiku yang berubah selamanya. Aku memandang upah ilahi dengan berbeda. Aku akhirnya sadar, tidak ada yang salah dengan mengharapkan upah. Perlu digarisbawahi bahwa mengharapkan upah tidaklah sama dengan menyogok. Banyak orang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan Allah akan menghapus dosanya atau supaya dia bisa masuk surga. Banyak orang memberikan perpuluhan supaya Allah memberikan berkat materi yang berkelimpahan. Banyak orang ingin menyogok Allah. Mereka meng-klaim berkat-berkat tertentu yang tidak pernah Tuhan janjikan sebelumnya, seperti kekayaan materi, kesehatan jasmani, dan kenikmatan-kenikmatan lain yang berfokus pada aspek jasmaniah.

Tetapi tidaklah demikian dengan mengharapkan upah. Berbeda dengan menyogok Allah, mengharapkan upah didasarkan pada iman. Dan iman yang benar pasti bersumber dari apa yang benar-benar Tuhan janjikan.

Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada,
dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
~ Ibrani 11:6

Tuhan Yesus-pun melakukan hal yang sama ketika Ia berada di dunia ini. Firman Tuhan dalam Ibrani 12:2 berkata, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia.”

Kristus harus menderita selama Ia melayani di bumi. Ia merendahkan hati, mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba bahkan taat hingga mati di atas kayu salib. Semua itu Dia lakukan dengan kesadaran penuh bahwa suatu saat nanti Dia akan ditinggikan, bahkan oleh Allah Bapa sendiri (Yohanes 17:5). Kristus tidak sedang menyogok Bapa-Nya. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Bapa-Nya dan menjadikan semua itu sebagai kekuatan untuk-Nya bertahan sebagai manusia. Dia akan setia kepada Bapa dan menantikan upah-Nya, dimuliakan oleh Allah Bapa. Itu juga yang Musa rasakan seperti dicatat dalam Ibrani 11:26.

Itulah sikap hati yang sepatutnya dalam mengharapkan upah
Mengharapkan upah ilahi di dalam iman yang benar akan benar-benar memberikan kekuatan baru
Itu akan meneguhkan hati, menyegarkan jiwa, membangkitkan semangat
Serta memampukan seseorang melewati rupa-rupa pencobaan dan penderitaan di dunia ini

Di dalam setiap firman Tuhan, ada janji. Janji itu indah, janji itu mulia. Janji itu kudus, janji itu kekal. Bukan tanpa alasan mengapa Tuhan memberikan dan mengucapkan suatu janji kepada manusia. Janji itu ada supaya manusia tahu, benar-benar tahu, bahwa semua yang dijanjikan itu benar-benar sudah Tuhan sediakan. Janjji itu Tuhan kumandangkan supaya manusia mendapatkan kekuatan dan kepastian dalam janji itu. Dia sendiri menghormati keagungan janji-Nya, hendaklah kita tidak mengabaikan janji itu. Berimanlah kepada-Nya. Berimanlah bahwa janji-Nya akan ditepati. Dan karena Dia menjanjikan upah, maka percayalah dan kejarlah upah itu, biarlah janji dan upah itu turut menjadi kekuatan baru bagimu.

 

phil313

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s