Upah Oriented (4), “Menanti”

Aku hanyalah manusia biasa seperti semua orang yang ada di dunia ini. Kecenderunganku sebagai daging adalah berbuat dosa dan memikirkan hal-hal yang jahat. Apabila ada sesuatu atau seseorang yang mengusikku, aku pasti akan marah atau merasa sedih, terlepas dari apakah aku akan mengekspresikannya atau tidak.

Secara jasmaniah, pastilah aku manusia biasa. Tetapi di dalam, aku berbeda. Tuhan sendirilah yang memberikan kesaksian tentang itu saat Dia berkata bahwa orang-orang yang dikasihi-Nya adalah lebih dari pemenang dan mereka memiliki Roh yang lebih besar dari semua roh yang ada di dunia ini. Roh Kudus, Allah sendiri, tinggal di dalamku dan menghasilkan buah pengendalian diri yang tumbuh di hatiku. Walaupun timbul keinginan jahat di benakku, Dia memampukanku untuk melawannya.

Di saat aku tidak ingin mengasihi orang-orang yang mengecewakanku, di saat aku ingin marah, di saat aku akan berbuat dosa, di saat aku ingin turut tertawa bersama rekan-rekanku yang sering sekali membawa guyonan seksual, Tuhan menghentikan diriku.

Dia mengingatkan diriku akan kemuliaan yang kelak akan dianugerahkan padaku.
Dia mengingatkan diriku akan surga yang adalah rumahku.
Aku tidak boleh sama dengan dunia ini.
Aku harus punya standar dan nilai yang berbeda.
Aku membangunkan diriku dan mengatakan bahwa aku punya upah di surga.
Puji Tuhan, aku tidak jadi melakukannya

Aku senang menonton film. Biasanya aku men-download beberapa film dengan internet yang relatif cepat di kosanku. Mungkin kaupun sering mengalaminya, kau melihat ada banyak sekali deretan film, ada yang kau tahu, ada yang tidak. Dan ketika kau mengarahkan pointer ke salah satu film, akan muncul sinopsis singkat. Dalam kasusku, aku sering sekali menemukan sinopsis yang di dalamnya ada satu kata yang sangat mudah terdeteksi, sex.

Sebagai seorang pria yang belum menikah apalagi yang punya internet kecepatan tinggi, aku berdusta kalau aku mengatakan bahwa aku tidak tergoda. Ini jelas bukan film porno, karena ini bukan situs porno. Aku bisa menonton film itu layaknya film Hollywood lain, sambil tetap bisa memuaskan rasa penasaranku, tanpa harus merasa bersalah secara berlebihan karena toh ini bukan film porno. Itu adalah alternatif yang menarik bagi kebanyakan pria yang mengikut Tuhan setengah-setengah. Kesetiaanku diuji di sini.

Butuh beberapa detik untukku bergumul dan berusaha menarik diri dari pencobaan seperti itu. Di satu sisi ada suara yang menegaskan kalau itu bukan film porno, lanjutkan saja sama seperti menonton film Spiderman, adegan lain anggap saja sebagai bonus. Di satu sisi suara lain terus menerus mengingatkan bahwa ketika aku meng-klik film itu sekali saja, aku akan semakin terjerumus, dan lama kelamaan aku tidak akan mampu lagi melepaskan diri darinya. Aku mungkin akan merasa puas sejenak tapi kesenangan itu akan segera disusul oleh penyesalan yang luar biasa dan malu yang teramat sangat tiap kali akan menghadap Allah dalam doa.

Dosa itu seperti singa lapar. Jika di dekatmu ada singa lapar, hal terbaik yang harus kau lakukan adalah menjauh sejauh dan secepat mungkin. Kau tidak boleh coba-coba melihat singa itu dari dekat karena dia pasti akan menangkapmu. Itu juga yang harus kita lakukan dalam menghadapi dosa seksual di media seperti ini. Ketika dia ada di sana, jangan berani-berani mendekatinya atau berharap ter-ciprat sedikit kenikmatan darinya. Melainkan kendalikanlah diri, kuasai emosimu, larilah sejauh dan secepat mungkin!

Kira-kira seperti itulah pertempuranku di masa silam. Tetapi ketika aku memiliki paradigma yang benar tentang upah, aku rasa pertahanan hatiku semakin kokoh. Ketika sekali lagi aku menemukan film semacam itu baru-baru ini, ketika aku membaca sinopsisnya dan menemukan kata “sex” tertulis di sana, ketika keteguhan hatiku sekali lagi dicobai oleh hawa nafsuku sendiri, suara dari hatiku kembali mengingatkanku akan mahkota kehidupan yang menjadi bagianku di sorga kelak. Aku tahu aku punya upah di surga dan aku tidak akan pernah rela menukarkan upah yang indah itu dengan sesuatu yang najis seperti film murahan itu.

Dan tidak hanya itu, masih ada upah lain yang memberiku kekuatan. Firman Tuhan berkata bahwa tidaklah baik bagi seorang manusia untuk seorang diri. Tuhan menyediakan seorang penolong, seorang teman hidup bagi masing-masing orang (kecuali beberapa orang). Dan dia-lah upah yang kunantikan itu. Ketika dosa seksual ini datang merayuku, aku menguatkan hatiku, aku mengingatkan diriku bahwa aku memiliki upah, seorang isteri yang cantik dan saleh yang akan mencintai dan mendampingiku. Dia akan menerimaku lengkap dengan kelemahanku, menasehatiku, menegurku, mendoakanku, tidak akan melepaskan tangannya dariku. Dan aku akan menguduskannya layaknya seorang iman. Aku akan menjaganya, mencintai dia dengan kasih yang berbeda dari kasih yang kumiliki untuk siapapun di muka bumi ini. Oh, itu adalah pemandangan yang sangat indah. Upah yang sangat berharga. Aku akan menjauhkan diriku dari dosa seksual ini dan kujadikan itu sebagai penghormatan bagi isteriku yang akan datang kelak.

Aku yakin kaupun, O dear friends, harus memiliki prinsip dan nilai yang demikian. Jika kau adalah lelaki, sama sepertiku, aku rasa sedikit banyak aku tahu pencobaan macam apa yang ditimbulkan oleh hawa nafsumu. Lawanlah itu, perangilah itu, jangan mau diperbudak oleh dosa seks. Pandanglah kepada Allah dan (mungkin) kau bisa meyakinkan dirimu bahwa ada seorang gadis yang saleh di luar sana yang sudah Tuhan persiapkan untukmu. Harapkanlah dia. Berdoalah agar Allah menjaga hatinya sehingga dia juga mampu menjaga kekudusannya. Berharaplah bahwa suatu saat kau akan dipertemukan dengannya. Kemudian berhentilah bersentuhan dengan dosa seksual. Hormatilah calon pengantinmu dengan cara menguduskan diri dari semua tontonan dan pemandangan yang jahat dan cabul.

Lagipula, tontonan seperti itu menodai citra lelaki dan perempuan yang sejak semula diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Mempertontonkan seks sama saja dengan menodai kehormatan semua wanita di muka bumi ini. Dan tidak lupa, tindakan yang tidak malu memperlihatkan seks di depan pihak lain adalah sifat alamiah dari binatang, bukan manusia. Puji Tuhan, aku tidak menontonnya, aku tidak jadi melakukannya

tumblr_m5dyuwvaBQ1r1o6z3o1_500

Sungguh, tidak ada yang salah dalam menanti upah yang memang sudah Tuhan janjikan. Yang salah justru adalah mengabaikan janji itu dan bersandar pada kekuatan diri sendiri dalam menghadapi setiap cobaan yang datang melanda.

Ada kekuatan di dalam janji-Nya
Ada pengharapan dalam upah yang Dia janjikan

Temukanlah kekuatan dalam janji-Nya akan upah itu
Sampai akhinya kau benar-benar menemukan upah itu sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s