(7) Kenapa Sekarang?

Saya belum lama benar-benar menyadari ini, ketika Amy (isteri sang penulis) dan saya berada di Hawaii. Saya sedang mengajar di suatu acara kepemimpinan di sana dan telah mengisi empat hari tanpa benar-benar ada waktu untuk kami berdua bersantai dan menikmati keindahan tersebut.

Akhirnya, semua tanggung jawab saya selesai, lalu Amy dan saya berjalan-jalan menyusuri pantai untuk beristirahat. Kami sudah di sana sekitar tiga puluh detika ketika tiba-tiba Allah memberi saya beban bagi seorang teman yang saya tahu sedang mengalami masa kesulitan. Beberapa menit kemudian, saya berkata, “Amy, maafkan aku; aku tahu bahwa sepanjang minggu ini telah diisi penuh dengan pelayanan, tapi aku merasa harus menelepon orang ini.”

Dia berkata, “Apa kau merasa Allah ingin kau melakukannya?

Saya menjawab, “Ya

Dia berkata, “Tunggu apa lagi? Telepon dia!

Jadi saya memencet nomornya dan langsung menyadari bahwa saya lupa perbedaan zona waktu kami; saat itu hampir tengah malam di tempat dia berada. Setelah beberapa deringan, teman saya mengangkat dan berkata, “Mengapa kau menelponku sekarang?”

Saya meminta maaf. “Maaf, aku lupa perbedaan waktu. Hanya ingin tahu keberadaanmu.

Dia berhenti sebentar dan berkata, “Kenapa sekarang?” dan suaranya terdengar gemetar dan gugup.

Aku sudah mengatakan bahwa aku hanya ingin tahu. Maaf kalau aku menelepon selarut ini, tapi aku merasa sepertinya…

Dan dia berkata, “Tidak! Kenapa sekarang?”

Yah, jujur saja, Allah benar-benar menaruh di hatiku.” Lalu saya mulai sadar. Saya berkata dengan tenang, “Kau sedang berpikir untuk mengakhiri hidupmu sekarang, bukan?”

Hening. Kemudian dia berkata pelan, “Ya.

Saya berkata, “Apa kau sedang memegang pistol?”

Ya.

Letakkan pistol itu, karena jelas Allah cukup peduli padamu sehingga Dia menyuruhku untuk meneleponmu pada waktu yang tepat. Keluarlah dari pintumu, pergi ke rumah tetanggamu, aku tidak peduli jam berapa sekarang, tekan belnya, dan kau tinggal di sana malam ini. Setuju?”

Dia ragu, dan saya berkata, “Tidakkah kau setuju bahwa Allah sangat peduli padamu sehingga Dia menyuruhku meneleponmu pada waktu yang tepat?”

Dia berkata, “Ya tentu.

Itu terjadi bebebrapa tahun yang lalu, dan teman saya telah membereskan semua masalahnya dan tidak dapat disangkal, sekarang dia berapi-api bagi Tuhan.

Diambil-dengan-sedikit-editan-dari buku : Altar Ego, karangan Craig Groeschel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Salam, O dear friends, sebagai seorang teman, aku rasa aku tidak punya saran yang lebih praktis selain “belilah buku ini”. Aku tidak sedang berusaha mem-promosikan buku ini seakan-akan aku adalah seorang agen penjual buku. Aku hanya memberikan kesaksian bahwa aku mendapatkan banyak pelajaran dan kesaksian yang luar biasa dari buku ini. Aku membeli buku ini bulan lalu di Gramedia, tepatnya di deretan New Published sehingga aku cukup yakin kau bisa mendapatkan buku ini jika kau mulai mencarinya. Belilah, bacalah, dan jangan lupa siapkan bolpoin karena kau akan menggarisbawahi sangat banyak pelajaran dari buku ini.

Dan untuk menutup halaman kali ini, aku tidak habisnya berpikir betapa diberkatinya Craig Groeschel bisa beroleh kehormatan dari Allah untuk melakukan hal yang sedemikian luar biasa. Tidak semua orang dalam hidupnya pernah mengalami apa yang Craig alami. Dia menyelamatkan hidup seseorang pada waktu yang sedemikian tepatnya. Tidak sekadar menyelamatkan, dia membawa orang ini pada Kristus. Padahal, usaha apa yang Craig keluarkan? Dia hanya perlu mengeluarkan sedikit pulsa untuk menelpon dan mengorbankan sejenak waktu santainya bersama sang isteri, itu saja. Hanya itu pengorbanan yang dia lakukan tetapi lihatlah betapa besarnya dampak yang Tuhan jadikan dari pengorbanan yang kecil itu?

Hanya sedikit pulsa dan sejenak waktu senggang, tetapi melalui itu Tuhan menyelamatkan satu hanya, dan belum lagi jika kita menghitung jiwa-jiwa yang Tuhan jangkau melalui teman Craig yang sudah bertobat itu.

Oh, alangkah indah dan bahagianya jika Tuhan memberikan kehormatan sedemikian rupa kepada aku dan kamu. Di saat seperti itu kita akan paham mengapa Tuhan menciptakan kita dan menempatkan kita di tempat kita berada saat ini.

Hidup yang berguna bagi orang lain 
Hidup yang berdampak bagi orang lain
Hidup yang menyentuh hati orang-orang
Hidup yang mengubahkan orang-orang
Hidup yang diinvestasikan di dalam kehidupan orang lain
Tidakkah engkau merindukan hidup yang demikian?
Hidup yang tidak sia-sia itu?

Jika iya, mari kita renungkan kembali ayat ini:

JIKA seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat,
ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia,
ia dikuduskan, DIPANDANG LAYAK
untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
~ 2 Timotius 2:21

Mari kita hidup mengejar kekudusan dengan dilandasi oleh kasih dan setia kepada Allah.
Kemudian waspadalah, bisa jadi kau akan menyelematkan orang yang akan membunuh dirinya.

Untitled

Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s