Love – To Love

Love - To Love

Benar, ayat di ataslah yang telah kukatakan sangat mengguncang hatiku dan entah mengapa, aku seakan baru pertama kali ini mendengarnya. Yang begitu menggelisahkan dan membuat hatiku bertanya-tanya adalah ayat ini disampaikan oleh Petrus. Ya, Petrus yang kita kenal. Petrus, sang mantan nelayan. Petrus yang pernah sangat keras, sombong, bahkan menyangkal Yesus. Petrus yang memotong telinga seorang prajurit yang akan menangkap Yesus (aku rasa niat Petrus yang sebenarnya adalah menebas kepalanya, mungkin dia terpeleset).

Aku berani bertaruh. Coba saat ini juga engkau membayangkan sosok Petrus. Aku yakin yang tersirat dalam benakmu adalah sosok pria pemberani, radikal, lantang, dan kuat. Sosok Petrus, somehow, sedikit jauh dari sosok seorang yang penuh kasih dan sayang, bukankah begitu? Gambaran dan ingatan tentangnya seakan-akan membuatku tidak percaya bahwa Petruslah yang sedang mengajarkan tentang kasih sebagai hal yang terutama. Astaga, apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup orang ini?

Nah, coba kita memikirkannya lebih serius lagi. Seseorang hanya akan berani mengatakan sesuatu seperti yang Petrus katakan ini jika dan hanya jika dia benar-benar melakukannya dalam hidupnya. Oleh karena dia sudah mempraktekkannya, maka dia beroleh keberanian untuk mengucapkan itu. Ini berarti Petrus benar-benar hidup di dalam kasih sehingga dia dengan yakin menasehatkan murid-muridnya untuk saling mengasihi. Sebab apabila Petrus tidak mengasihi, justru dia akan dicacimaki oleh karena dia sendiri tidak mengerjakan apa yang dia lakukan.

Mungkin hal ini terdengar biasa bagimu. Tapi coba renungkan baik-baik kasusku ini:
Bayangkan saat ini kau sedang berdiri di depan podium
Kau sebentar lagi akan mengucapkan satu saja pesan ke depan semua orang di muka bumi
Di sana ada orang-orang ini:
Orang yang pernah memusuhimu, teman-teman sekelasmu
Peminta-minta yang kau lewati setiap hari, kasir Indomar*et yang kau temui setiap pagi
Pramusaji di tempatmu makan setiap hari, semua orang yang satu kost denganmu
Semua orang, sekali lagi, semua orang siapapun dia

Nah, apakah kau merasa berani dan cukup pantas untuk mengatakan:
“Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain.” 

Kalau kau bertanya padaku, jujur saja aku belum merasa pantas. Seandainya aku mengucapkannya di depan semua mata, aku takut kalau-kalau ada yang membalas, “Halah, kamu saja tidak pernah memberikan sedekah padaku.” Mungkin akan ada yang memotong, “Kasih? Jangan bercanda Richard, kamu menegur aku saja tidak pernah!” Atau “Kamu munafik Richard, apa kamu lupa kamu pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan belum meminta maaf?”

Seandainya di masa depan nanti, akan ada poster yang menuliskan “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, by: Richard Arnold”, mungkin akan banyak orang yang mengira bahwa sang pembuat poster sedang salah mengetik nama. Mungkin akan banyak yang mengernyitkan dahi dan berkata, “Hah? Richard? Berani ngomong seperti ini? Pleaseeee…” Atau akan ada yang bertanya, “Richard? Siapa dia? Memangnya apa yang sudah orang ini lakukan?

Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku bukanlah seorang pengasih. Tentu saja aku mengasihi, aku bukan orang jahat loch. Tentu saja aku mendoakan teman-temanku, tentu saja aku mengasihi teman-temanku. Tetapi tetap saja, aku rasa jangkauan kasihku masih terlalu sempit. Aku masih belum bisa sepenuhnya mengutamakan orang-orang yang menggangguku, membenciku, atau orang-orang yang sama sekali tidak berkenaan denganku walaupun setiap hari aku berpapasan dengannya. Intinya, aku merasa tidak layak untuk menyuarakan:
“Hai dunia, akan kuberitahu pada kalian apa yang terutama?
Yang terutama adalah kasihilah dengan sungguh-sungguh seorang akan yang lain.”

Steve Jobs terus menerus mengajakan, “Love what you do and do what you love.
Walt Disney berkata, “If you can dream, you can do it.
Benjamin Franklin menyampaikan, “Time is money.
Winston Churchill mengucapkan, “Never, never, never give up.
Oprah Winfrey berkata, “When your life is course with purpose, you are most powerful.
Dan Einstein, “You have to learn the rules of the game. And then you have to play better than anyone else.

Seandainya aku berada di podium, di depan semua orang, dan akan mengatakan hal-hal yang mereka sampaikan, maka aku akan dengan sangat yakin dan tanpa ragu-ragu mengatakannya. Tanpa mereka ajarkanpun aku sudah tahu semua hal itu dan memang sudah kujalani dalam hidup. Aku rasa cukup banyak orang yang berpendapat sama denganku mengenai ini. Aku juga tidak akan ragu mengatakan hal-hal seperti, percayalah kepada Kristus. Bersaat teduhlah pagi dan malam. Utamakanlah Kristus. Bacalah firman setiap hari. Beribadahlah setiap Minggu. Kejarlah pengenalan akan Allah. Dan lain sebagainya.

Mencintai pekerjaan, menggunakan waktu dengan bijak, bermimpi setinggi langit, berdoa tiap hari, membaca Alkitab tiap hari, pergi ke gereja tiap minggu, itu semua tidaklah sulit untuk dilakukan. Mengapa tidak sulit? Karena semua itu hanya terkait erat dengan diri kita sendiri, kecil sekali hubungannya dengan orang lain.

Akan tetapi lain halnya dengan mengasihi. Ketika kamu mengasihi, kamu tidak berbicara tentang dirimu saja tetapi juga orang lain. Dan tidak hanya sampai di sana, ketika kamu mengasihi, kamu sedang mengutamakan orang lain. Apabila kamu berbuat baik kepada orang lain tetapi kamu mengharapkan imbalan, atau kau berbuat baik karena dirimu juga akan diuntungkan, ketahuilah itu sangat-sangat jauh dari kasih yang sebenarnya.

Kasih selalu terikat erat dengan keberadaan orang lain.
Kasih selalu menjadikan orang lain lebih utama.
Kasih adalah tentang orang lain, bukan tentangmu.
Kasih dipertanggungjawabkan di depan orang lain.
Itulah hal yang membuat diriku pribadi sangat-sangat pesimis apakah aku pantas untuk berbicara kepada dunia:
“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain,”

Akhh, apa yang harus aku lakukan?
Aku masih sangat jauh dari kesempurnaan yang diinginkan Allah
Bagaimana orang seperti Petrus bisa sedemikian berubah?
Bagaimana sesungguhnya mengasihi itu?
Apa kasih itu?

Bagaimana denganmu?
Apakah kau seorang pengasih?
Jika iya, maka ketahuilah, dunia sangat butuh orang sepertimu.
Maka mulailah untuk mengajarkannya pada orang-orang!
Sebab jika kau belum juga mengajarkannya, apa kau benar-benar seorang pengasih?

~Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s