Good Part – Pendahuluan

Good Part - Pendahuluan

Adalah seorang pendeta yang menggembalakan suatu gereja. Pendeta ini biasa melakukan kunjungan ke rumah para jemaatnya. Suatu hari, pendeta ini hendak berkunjung dan melayani salah seorang jemaatnya yang tinggal di sebuah rumah kumuh di tepi sungai di daerah itu.

Sambil melihat kondisi sungai yang cukup kotor itu, sang pendeta berjalan kaki menuju rumah jemaatnya itu. Sesampainya di sana, sang jemaat dengan sangat senang dan penuh semangat menyambut pak pendeta dan mempersilakannya masuk. Setelah pak pendeta duduk, tanpa berlama-lama si jemaat langsung menyiapkan segelas air untuk dihidangkan kepada pak pendeta.

Oleh karena rumah yang kecil dan tidak ada batas pemisah antara dapur dan ruang tamu, sang pendeta dapat dengan jelas melihat si ibu mencuci gelas yang akan digunakannya dengan air yang pendeta itu tahu berasal dari kali yang barusan dilaluinya. Air itu adalah air yang kotor dan tidak higienis tapi itulah air yang digunakan untuk mencuci gelas. Si ibu itu tidak salah sebab bagi dia yang sudah terbiasa, air itu adalah air yang “bersih” akan tetapi belum tentu si pendeta memiliki pandangan yang sama.

Secara manusiawi, pendeta itu mengalami pergumulan yang berat untuk menerimanya. Ada pergolakan di dalam hatinya. Di satu sisi dia merasa bahwa tidak meminum air itu akan menyinggung perasaan si jemaat tetapi di sisi lain, pendeta itu juga tidak ingin sakit.

Pendeta itupun berdoa kepada Tuhan untuk meminta hikmat. Akhirnya, timbul ide pada pendeta itu. Dia berkata pada si jemaat, “Bu, apa ada air hangatnya?” Si ibu pun dengan senang hati menyiapkan air hangat untuk dihidangkan. Selagi ibu pergi ke belakang untuk mengambil air panas, si pendeta itupun membersihkan sekali lagi gelas itu dengan air minum bersih yang ada di dalamnya. Si ibupun kembali ke ruang tamu sambil membawa air hangat yang pasti sudah dimasak.
Selanjutnya semunya berjalan seperti biasa. Pendeta itu melayani, menguatkan, dan mendoakan si ibu sebelum akhirnya pulang kembali ke rumahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dari cerita nyata yang diceritakan langsung oleh sang pendeta ini, aku mengambil satu pelajaran yang jujur membuatku tertohok. Aku menarik satu kesimpulan. Walaupun kesimpulan berikut tidak secara langsung bisa mewakili pesan yang terkandung dalam “kisah” yang sebentar lagi akan kita pelajari bersama, tapi aku rasa kesimpulan berikut benar-benar memberikan pijakan awal yang baik sebelum kita mulai memahami “kisah” itu. Dan kesimpulan ini adalah:

Pendeta itu datang untuk melayani si ibu
Pendeta itu datang tanpa berharap akan dilayani oleh si ibu
Ketika si ibu “menginterupsi” dan berusaha melayani si pendeta,
yang terjadi adalah si pendeta itu mengalami pergumulan dalam hati karena gelas yang kotor itu

Nah, mirip dengan hal dengan itu
Ada kalanya, yang Tuhan inginkan hanyalah melayanimu dan tidak berharap untuk kau layani
Ada kalanya, Tuhan ingin kau “berhenti” sejenak dan duduk diam mendengar-Nya
Ada kalanya, Tuhan ingin kau membiarkan Dia melayanimu

Memang bukan berarti Tuhan menganggap pelayanan kita kotor sebagaimana si pendeta menilai gelas itu. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa sebaik apapun diri dan pelayanan kita, itu tetap saja tidak sempurna di hadapan Dia yang adalah sempurna.

Itu tetap saja “kotor” di tahta-Nya yang suci dan mulia
Dan karena kita sadar pelayanan kita “kotor”,
maka kita juga harus sadar bahwa Tuhan tidak sebegituperlunya kok dengan “pelayanan” kita

Jadi ketika Dia ingin melayani kita, ketika Dia ingin berbicara hati ke hati kepada kita,
maka “berhentilah” sejenak, dengarkan, dan izinkanlah Dia untuk melakukannya
Jangan sampai apa yang kita SANGKA pelayanan, malah menjadi keegosian diri yang akhirnya menghalangi kerinduan-Nya untuk melayani kita

Bisa jadi Tuhan ingin berkata, “Nak, kau sudah lama tak berbicara dengan-Ku.”
Atau, “Nak, motivasimu melayaniku telah melenceng selama ini.”
Atau, “Nak, kau sudah terlalu lelah, beristirahatlah sejenak.”
Atau, “Nak, sudah saat-Nya aku memberikan tugas baru padamu.”
Atau, “Nak, aku sangat rindu pada-Mu.”

Lihatkan?!
Ketika Tuhan ingin melayani kita, maka izinkanlah Dia melakukannya
Sebab itu adalah bagian yang terbaik yang tak akan pernah diambil daripada kita

Maaf, kesimpulan yang cukup panjang sepertinya tetapi aku harap kita semua mengerti poin yang kusampaikan. Sekali lagi, kesimpulan di atas tidak secara langsung menjadi intisari dari “kisah” yang akan kita renungkan sebentar lagi. Akan tetapi, aku pribadi merasa pemahaman ini mempersiapkan hati dan pikiranku untuk menerobos lebih dalam tentang apa yang ingin Tuhan sampaikan.

Dan di sinilah kita, di awal pelajaran yang aku yakin sudah sering kita dengar
Ini adalah kisah dua orang wanita
Inilah kisah Marta dan Maria Magdalena

~Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s