Good Part – Marta, Marta, engkau kuatir…

Good Part - Marta, Marta, engkau kuatir...

Tetapi Tuhan menjawabnya:
“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
tetapi hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Jika Yesus menilai Maria dan Marta berdasarkan mata jasmani, sudah barang tentu Yesus akan setuju dengan kita semua bahwa Marta melakukan apa yang lebih baik. Dengan mata jasmani, Maria akan terlihat sangat tidak peka, mau enaknya saja, pemalas, dan berbagai hal lain yang cenderung negatif. Tetapi Yesus adalah Tuhan dan Tuhan tidak melihat apa yang dilihat manusia, Yesus melihat sampai kedalaman hati Marta.

Aku tidak yakin benar apakah aku menarik kesimpulan berikut dengan benar, tetapi aku melihat ada hubungan yang jelas antara gugatan Marta dan jawaban yang Yesus berikan.

Gugatan Marta yang pertama adalah, “Tuhan tidakkah Engkau peduli….?”
Dan jawaban pertama Yesus adalah, “Marta, Marta, engkau kuatir…”

Inilah hasil investigasi Yesus yang pertama. Akhirnya kita tahu apa yang membuat emosi Marta mendidih, dia kuatir. Nah, aku yakin hal ini bisa digali lebih dalam. Kita tidak boleh berhenti hanya sampai titik di mana kita tahu bahwa Marta kuatir. Ada banyak penyebab dan bentuk kekuatiran yang bisa terjadi. Dan untuk bisa menerobos kisah ini lebih dalam, kita perlu mengetahui kuatir macam apa yang melanda Marta, siapa tahu, kuatir semacam itu juga menjadi musuh tak bernama bagi kita.

Sekarang mari sejenak kita masuk ke dunia Marta. Kita berpikir sebagaimana Marta berpikir. Selagi kita bekerja di rumah bersama Maria, tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam rumah. Pria itu adalah Yesus, sang Guru, sang Mesias. Apa yang akan timbul di dalam benak kita? Kekuatiran macam apa yang mungkin melanda kita?

Kalau aku mencoba menempatkan diriku sebagai Marta, aku rasa bentuk yang paling mungkin dari kekuatiran dalam hatiku adalah:

  1. Aku kuatir, jika aku tidak melayani Yesus, Yesus akan kecewa padaku, menilaiku buruk, tidak mengasihiku, dan mungkin tidak akan lagi mau memberkatiku.
  2. Aku kuatir, jika aku tidak melayani Yesus, maka Yesus akan lebih perhatian kepada Maria.
  3. Aku kuatir, jika aku tidak melayani Yesus, maka Yesus akan kelaparan dan aku tidak mau itu terjadi.

Yup, itu adalah tiga kemungkinan teratas yang aku dapatkan. Dan dari ketiganya, mana yang menurutmu baik? Tidak ada. Kekuatiran yang ketiga mungkin sekilas akan terlihat baik dan penuh perhatian tetapi sebenarnya itu hanyalah tanda dari pengenalan yang dangkal kepada Allah.

Marta kurang mengenal siapa Yesus. Marta tidak tahu apa yang sebenarnya Yesus rindu ketika Dia datang ke rumahnya. Lebih dari itu, Marta mungkin mengira Yesus sangat tergantung dengan pelayanannya. Marta menduga Yesus akan kelaparan dan oleh sebab itu, Yesus sangat memerlukan pelayanan yang Marta lakukan. Marta mengira pelayanannya akan memuaskan hati Tuhan. Marta mungkin kuatir karena mengira tanpa pelayanannya, Yesus tidak akan bisa melanjutkan perjalanan-Nya.

Berbeda dengannya, Maria mengenal Yesus dengan cukup baik. Maria tahu bahwa Yesus jauh lebih ingin didengarkan daripada dilayani. Itulah sebabnya Maria memilih untuk mendengarkan Kristus walau dia harus mengorbankan citranya di hadapan adiknya sendiri. Maria siap dinilai buruk oleh Marta karena dia lebih ingin menyenangkan hati Tuhannya.

Mungkin kekuatiran macam itulah yang Yesus maksud ketika Dia berkata, “Marta, Marta, engkau kuatir.” Dan aku rasa, kekuatiran semacam itu juga menjadi permasalahan bagi banyak orang di antara kita.

Kita merasa Tuhan butuh pelayanan kita.
Kita mengira bahwa Tuhan tidak bisa melakukan banyak hal tanp bantuan kita.
Kita mengira orang-orang seperti Maria sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk melakukan pelayanan.

Kita merasa pelayanan kita sebegitu pentingnya,
sampai-sampai kita mengabaikan Yesus yang ingin berbicara kepada kita.

Dan mari kita mengingat kisah yang kuceritakan di bagian pendahuluan. Di suatu titik, kita dan Marta mungkin mirip dengan ibu miskin itu. Kita merasa memberikan pelayanan terbaik kita, tetapi sebenarnya pelayanan kita ibarat gelas yang dicuci dengan air kali yang kotor itu. Ketika Tuhan dengan lembut datang kepada kita, kita langsung menginterupsi, menyuruh-Nya untuk duduk dan menonton bagaimana aksi kita melayani Dia. Kemudian Tuhan menyadari bahwa pelayanan kita itu sangat kotor sehingga hati-Nya berduka. Dia ingin segera mengoreksi sikap hati kita tetapi kita tak mau berhenti dan terus melakukannya karena kita merasa itu benar. Kita mau Dia duduk diam sampai kita selesai melakukan pelayanan kita kemudian kita berkata, “Oke, jadi Engkau mau bicara apa?”

“Richard, Richard, engkau terlalu kuatir sampai-sampai kau tak sadar bahwa air yang kau gunakan untuk mencuci gelas-Ku itu adalah air dari kali yang sangat menjijikkan itu, lain kali tolong hidangkan gelas yang dicuci dengan air yang bersih!!!”
Oh, alangkah hancurnya hatiku jika setelah semua ini, itu yang Dia katakan padaku.

Sadarlah, Tuhan tidak butuh kita, kitalah yang membutuhkan Tuhan.
Tuhan memakai kita bukan karena kita hebat,
tetapi semata-mata karena Dia sayang pada kita.

Itu adalah salah satu kemungkinan kekuatiran yang dirasakan Marta dan mungkin bagi kita. Tetapi aku pribadi menduga bahwa kekuatiran yang lebih mungkin dialami oleh Marta adalah kekuatiran pertama atau kedua. Itu bisa terlihat dari pernyataan Marta sendiri, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

Benar, aku menduga bahwa Marta kuatir Yesus tidak peduli padanya sehingga dia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan perhatian dari Kristus. Kemungkinan lain adalah Marta kuatir Yesus akan lebih mengasihi Maria dibanding dirinya. Bagiku, kedua kekuatiran itu sama saja, sama salahnya, sama egoisnya, dan sama seriusnya. Sayangnya, aku rasa ini juga sedang atau setidaknya pernah menjadi pergumulan dalam hati kita.

Kita mungkin ragu bahwa Tuhan Yesus mengasihi kita. Kita selalu memandang Dia sebagai Allah yang akan memandang jijik segala dosa kita seperti kita sendiri jijik melihat diri kita sendiri. Kita masih terpaku pada hukum Taurat sehingga semakin hari kita semakin down karena kita menyadari bahwa kita selalu gagal memenuhinya. Itulah sebabnya kita mulai berusaha, dengan kekuatan kita sendiri, untuk melakukan hal yang baik dan beribadah. Kita melakukan semua itu dengan berharap akan mendapat pahala atau pengampunan dari Tuhan. Kita mengira kita bisa menyelamatkan diri dengan semua perbuatan baik itu. Kita berusaha menyogok Tuhan sementara kita sendiri ragu akan kasih-Nya yang mutlak kepada kita.

Jika itu menjadi masalah dan pergumulan bagimu, jika kau sedang berusaha hidup saleh karena kau merasa Tuhan akan memandangmu lebih baik, jika kau merasa bahwa kasih Tuhan kepadamu bergantung pada apa yang kau lakukan, Tuhan Yesus sendiri punya jawaban padamu, “Anakku, anakku, engkau terlalu kuatir…”

Ketahuilah hal ini:
“Kasih Yesus untukmu jauh lebih besar dari semua dosamu dikumpul menjadi satu.
Jadi berhentilah kuatir dan mulailah mendengar-Nya.”
“Yesus memang memandang jijik dosa, tetapi Dia tidak pernah membenci kita.”

Atau jangan-jangan, kita berbuat baik dan berusaha hidup saleh bukan karena ingin mendapatkan perhatian dari Tuhan, melainkan dari orang-orang? Kita kuatir orang-orang akan menilai diri kita lebih rendah dari apa yang kita harapkan mereka nilai. Kita membuat notes, berkhotbah, membuat status rohani, dan lain sebagainya sambil menyelipkan agenda-agenda pribadi kita, misalnya saja foto kita yang paling cantik/tampan menurut kita.

Aku akui aku pernah melakukannya dan ketika mengingatnya, aku merasa sangat jijik. Siapa aku rupanya? Apanya yang hebat dari diriku sampai-sampai aku merasa diriku sebegitu layaknya untuk dilihat orang? Akh, aku malu sekali di hadapan-Nya karena pernah melakukan itu. Dan kini aku belajar, bahkan aku seperti “memaksa” Tuhan agar jangan sampai Dia membiarkan diriku melakukannya lagi. Sepertinya lebih baik aku mati saja jika aku masih berusaha mencuri kemuliaan-Nya. Lebih baik aku tidak terlihat lagi daripada aku terus menerus menyelipkan agendaku di atas agenda-Nya.

Dan kalau itu juga menjadi masalahmu, sekali lagi, mungkin kisah pendahuluan akan berguna. Ingatlah, ketika kita melayani Dia, apalagi dengan motivasi yang salah, itu sama saja kita sedang menghidangkan gelas yang dicuci dengan air kotor. Itu sangat menjijikkan di hadapan-Nya dan sangat mendukakan hati-Nya (Yesaya 1: 13-14). Berhentilah bersandiwara dan mulailah merendahkan hati, meminta pengampunan-Nya yang melimpah bahkan lebih besar dibanding segala dosa dan kejijikan kita.

Manusia tidak akan pernah bisa menilaimu seakurat penilaian yang Allah berikan padamu. Tuhan mengasihimu bahkan merelakan nyawa-Nya demi untuk mendapatkanmu kembali. Engkau berharga di mata-Nya dan nilai dirimu tidak akan pernah berkurang hanya karena orang-orang memandangmu rendah. Kasih dan penilaian Allah kepada kita, itulah yang sepatutnya kita harapkan.

Tuhan mengasihimu, Jangan kuatir!!!

~ Bersambung

Advertisements

2 thoughts on “Good Part – Marta, Marta, engkau kuatir…

  1. Halo, Bang Richard. Saya Jovita, anak LPMI Bandung juga angkatan 2012… Makasih buat sharing di post kali ini Bang. Menyadarkan saya akan banyak hal. Semoga Tuhan terus memakai abang lewat tulisan2 Bang Richard. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s