Kudus dan Harganya

Holy

Sadarlah dan berjaga-jagalah!
Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum
dan mencari orang yang dapat ditelannya.
(1 Petrus 5:8)

Aku sudah mendengar hal ini berkali-kali dan akupun pernah mengucapkannya. Tetapi aku rasa kali ini aku juga harus mengulang apa yang kuucapkan itu. Mengapa aku harus mengulangnya? Karena aku rasa banyak orang di luar sana (bahkan aku salah satunya) yang walaupun telah mendengarnya berkali-kali, tetapi saja jatuh ke dalam dosa yang sama berkali-kali.

Jika iblis saja tidak pernah berhenti menarik manusia jatuh ke dalam dosa yang sama
Mengapa aku harus berhenti mengulang firman yang sama berkali-kali?

Firman Tuhan berkata, iblis/dosa itu seperti singa yang lapar. Jika ada seekor singa lapar yang ada di dekat kita, maka kita tidak bisa diam atau mendekat untuk menikmati pemandangan itu sambil meyakini bahwa kita sedang berada dalam keadaan aman. Tidak, tanpa kita sadari kita pasti sudah ditangkap oleh singa itu (baca: iblis). Hal paling bodoh yang bisa kita lakukan adalah tetap berdiri di situ berharap singa itu jinak (baca: memberi pesan moral) pada kita. Jangan lupa bahwa iblis adalah penipu. Hal paling bijaksana yang bisa kita lakukan adalah melarikan diri secepat-cepatnya, sejauh-jauhnya.

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu
dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus,”
(Imamat 11:44)

Tuhan menghendaki anak-anak-Nya untuk hidup dalam kekudusan. Kudus dalam bahasa aslinya, Ibrani, adalah qadash. Makna paling dasar dari kata ini adalah “keterpisahan”. Allah menyebut diri-Nya kudus untuk menyatakan betapa terpisahnya Dia dari dosa. Salah satu praktek kekudusan yang Allah tuntut dari umat-Nya pada masa Perjanjian Lama adalah umat-Nya harus hidup memisahkan diri dari bangsa-bangsa lain yang hidup jauh dari Allah, hidup dalam penyembahan berhala, hawa nafsu dan kebobrokan lainnya.

Pada zaman Perjanjian Baru, Yesus “sedikit merevolusi” pemahaman dari kata kudus ini. Kita bisa lihat itu dalam hidup-Nya yang tidak memisahkan diri dari pezinah, wanita bersuami banyak, pemungut cukai, orang kusta, dan orang-orang berdosa lainnya. Akan tetapi, walaupun begitu, Yesus sama sekali tidak melunturkan semangat kekudusan sebab pada saat yang sama, walau Dia dekat dengan orang-orang berdosa, Dia juga sangat blak-blak-an kepada orang Farisi, ahli Taurat, dan orang-orang munafik lainnya. Nah, aku takut kalau-kalau kita termasuk dalam orang munafik itu, yang selalu menyebut diri sebagai murid Kristus tetapi pada saat yang sama tidak mau melepaskan keterikatan kita pada dosa-dosa kecil, hiburan-hiburan cacat moral, dan lain sebagainya.

Pisahkanlah diri dari dosa
Tapi jangan pisahkan diri dari orang-orang berdosa

Simon Petrus pernah berkata dalam 1 Petrus 1:16
“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat
dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,
tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus,”

Sekaranglah waktu kebodohan yang Petrus maksud itu. Kebanyakan kita tidak sadar bahwa kita sedang dibodohi. Jika kita menghibur diri dengan semua kenajisan itu, kita sedang bodoh teman-teman. Banyak orang berkata bahwa semua orang bodoh dalam hal cinta. Sekaranglah salah satu contohnya. Kecintaan kita yang tidak wajar dengan dunia membuat kita bodoh dan merasa semua itu adalah sesuatu yang berguna bagi budi. Aku akan mengulangnya, iblis adalah penipu.

Semua hiburan bodoh itu sangat identik dengan masa muda (walau belum tentu orang tua bersih dari padanya). Aku cukup yakin, ketika kita sudah tua nanti, kita akan sadar bahwa kebanyakan hiburan masa muda kita (termasuk hal-hal romantis) adalah hiburan yang bodoh dan bobrok (banyak percintaan/pernikahan gagal karena pasangan mengharapkan kisah cinta ideal seperti di TV). Tapi mengapa harus menunggu sampai tua dulu untuk bisa sadar? Jangan lupa bahwa kita belum tentu hidup sampai usia tua. Dan lagi, kalau kita tahu bahwa semua ini adalah kebodohan, mengapa kita mau terus-menerus hidup dalam kebodohan masa muda?

Tuhan Yesus pernah berkata bahwa jika salah satu anggota tubuh kita membawa kita pada kesesatan, maka jauh lebih baik kita memotong anggota badan itu dari pada seluruh diri kita dibuang ke dalam api penghukuman. Jika mata kita menyesatkan kita, lebih baik kita cungkil saja mata kita. Tapi aku rasa kita tidak perlu melakukan sejauh itu jika letak masalahnya ada di dalam isi laptop atau hardisk kita. Kau tahu apa yang aku maksud. Itulah (salah satunya) movie, serial, lagu, game, dan lain sebagainya yang bobrok secara moral tetapi selalu kita konsumsi karena kita merasa terhibur dan mendapatkan “sesuatu” di dalamnya.

Lepaskanlah semua itu. Jangan cungkil matamu, buang saja file-file yang tanpa kau sadari telah membuat sebagian (kalau tidak semua) dari hatimu menjadi busuk itu. Kita terkadang marah terhadap para perokok dan menuntut mereka berhenti merokok. Aku rasa kita harus bercermin diri. Jauh lebih susah bagi mereka melepas rokoknya daripada kita melepaskan diri dari semua tontonan dan hiburan kita. Tapi, lihatlah kabar baiknya. Jika engkau mencoba mencari tahu, kau akan tahu bahwasanya ada banyak sekali orang yang demi imannya (dan kesehatannya) mau berjuang mati-matian untuk berhenti dari rokok. Mari kita belajar dari mereka. Jika demi kesehatan jasmani mereka bisa melakukannya, mengapa kita tidak bisa melakukannya demi kesehatan rohani kita?

Aku kagum terhadap para tentara, polisi, pilot, astronot, dan atlet olahraga ekstrem
Mereka tahu bahwa mereka selalu berada dalam keadaan “relatif lebih dekat pada kematian”
Mereka siap mati demi pekerjaan (panggilan) mereka
Bahkan ada yang siap mati demi gaji (harta duniawi)

Tapi, bagaimana dengan kita?
Apakah kita rela “mati” demi panggilan sorgawi kita?
Apakah kita rela “menyalibkan diri yang lama” demi keyakinan kita bahwa kita sudah punya harta di sorga?

Yesus, dalam salah satu penjelasan-Nya mengenai akhir zaman, pernah berkata:
“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora
dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi
dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.

Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.

Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa,
supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu,

dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
(Lukas 21:34-36)

Beri penekanan pada, “sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.”
Petrus pernah berkata hal yang senada:
“Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu,
bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”

Beri penekanan juga pada:
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa
supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu.”


O men, O Bros, O sists… Kita sedang berada dalam peperangan. Aku berjuang melawan semua godaan iblis di tempat di mana aku berada. Kamu berjuang melawan dia di tempat di mana kau berpijak. Aku berusaha melepaskan semua keterikatan dengan dunia dan sungguh akan menyenangkan jika aku tahu dan meyakini bahwa saudara-saudariku di luar sana juga melakukan pengorbanan yang sama denganku, bukankah begitu?

Aku tidak berjuang sendirian.
Kamu tidak berjuang sendirian.

Aku berdarah-darah berusaha melepaskan semua hobiku yang penuh dosa.
Kamu mati-matian demi hal yang sama.
Kalau begitu, mengapa kita tidak saling dukung dalam doa?
Yuk, saling mendoakan?

^____^

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s