(8) Ayah, Aku Tidak Pernah Melanggarnya

Capture

Ini adalah percakapan biasa dengan putri saya yang berumur delapan tahun, Morgan, sebelum beranjak tidur. Tetapi, percakapan itu mengubah hidup dan gereja saya.

Saya sedang duduk di ranjangnya untuk doa bersama sebelum tidur. Tetapi, ia punya kejutan buat saya sebelum kami berdoa. Ia sudah meluangkan waktu untuk menghafal ayat dan ia ingin membacakannya bagi saya.

“Ayah,” katanya, “apakah Ayah mau mendengarku menghafalkan Sepuluh Perintah Allah?”
“Kau menghafalkan semuanya?”

Seulas senyum bangga mengembang di wajahnya.
Wow,” kata saya sambil tersenyum. “Biar Ayah dengar.”

Saya berbaring mendekatinya dan mendengarkan, sementara Morgan berjuang mengucapkan kesepuluh perintah sampai selesai.

Ia melakukan hal itu dengan cara menyanyikannya dalam sebuah lagu: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…”

Dan seterusnya, sampai habis. Setelah ia selesai, insting mengajar saya muncul. Saya berkata, “Morgan, itu luar biasa! Sekarang, biar ayah bertanya, apakah kamu pernah melanggar salah satu dari perintah itu?”

Ia tersenyum lagi. Kali ini bukanlah senyum malu-malu karena ia mulai merasa bersalah. Saya bisa lihat betapa Morgan memikirkan sebuah jawaban yang jujur tanpa mengundang tuduhan terhadap dirinya. Saya memutuskan untuk membantu.

“Hm, begini,” kata saya, sambil menggosok-gosok dagu. “Apakah kamu pernah berbohong?”

Ia mengangguk perlahan.

“Apakah kamu pernah sangat mengingini kepunyaan orang lain sampai-sampai kamu berharap orang itu seharusnya tidak usah memilikinya?” Ia mengangguk, terlihat memahami bahwa ia sudah berdosa karena iri hati.

Saya terus mendesak. “Ayah tahu kamu tidak pernah membunuh siapa pun, Morgan. Tetapi apakah kamu pernah merasa sangat, sangat marah pada seseorang di dalam hatimu? Sebegitu marahnya sampai-sampai pada saat itu kamu membenci orang itu?”

“Morgan, apakah kamu pernah, mungkin… ah, seperti… tidak menghormati ayah atau ibumu?”

Kami berdua tahu jawabannya.

Semua ini tidak berjalan sebagaimana yang ia kehendaki pada mulanya. Tetapi, yah, itulah yang terjadi kalau Anda terjebak dengan seorang pendeta yang kebetulan adalah ayah Anda. Ia menghela napas, yang segera saya sadari. Itu adalah respons yang sama yang saya terima dari seseorang ketika ia tidak lagi berminat pada khotbah saya. Bagi saya, itu tandanya saya harus berhenti berkhotbah dan mulai menawarkan ajakan.

Sebelum saya punya kesempatan, mata Morgan menyala terang dan ia berkata, “Ayah, aku tahu satu perintah yang tidak pernah kulanggar! Aku tidak pernah membuat patung berhala.”

Betapa saya benar-benar, maksud saya benar-benar, ingin menanggapi hal itu. Saya ingin memberitahu putri saya, bahwa yang terjadi justru kebalikannya. Itu adalah satu perintah yang paling sering kita semua langgar.

Saya ingin memberitahu putri saya apa yang pernah dikatakan Marthin Luther – bahwa Anda tidak akan pernah bisa melanggar Sembilan perintah lainnya tanpa terlebih dahulu melanggar perintah yang pertama. Tetapi, ketika saya mendekati putri kecil saya, saya putuskan bahwa yang terbaik adalah menyimpan pelajaran teologi itu untuk keesokan harinya.

Kami berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengutus Yesus untuk memikul semua dosa dan rasa bersalah kami. Saat saya pergi, saya memberinya senyuman dan sebuah ciuman di dahi, lalu berkata saya bangga padanya karena berhasil menghafal Sepuluh Perintah Allah.

Dikutip-dengan-sedikit-diedit-dari-buku: gods at war, tulisan Kyle Idleman

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hukum pertama dalam Hukum Taurat adalah “Jangan ada padamu allah lain di hadapanku.” Hukum kedua adalah “Jangan membuat berhala dan jangan sujud menyembahnya.” Benar, tidak bisa dipungkiri bahwa hampir seluruh bagian Alkitab, terutama Perjanjian Lama, berisi tentang larangan Allah terhadap praktek berhala.

Paulus pernah berkata dalam Kolose 3:5
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,
yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan,
yang sama dengan penyembahan berhala,

Yohanes berkata hal yang senada dalam 1 Yohanes 5:21
Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Aku kagum melihat orang-orang zaman dahulu. Di sini aku mati-matian bekerja dan mempelajari banyak teknologi untuk mencari minyak, tetapi zaman dahulu mereka sudah menemukan minyak tanpa perlu membaca textbook tebal seperti yang kulakukan. Ketika aku masih kuliah di teknik kimia, aku habis-habisan mempelajari proses pembuatan garam atau parfum yang sudah mereka temukan. Aku belajar mikroba dengan sangat berdarah-darah tetapi anggur dan ragi sudah dikenal pada zaman mereka. Ada juga kawanku di jurusan lain yang mungkin babak belur belajar proses pemurnian logam, pembuatan emas perak, dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang mencengangkan adalah, semua itu sudah ada pada zaman Alkitab sementara universitas, textbook, dan alat-alat canggih belum ada.

Woow, mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas. Tetapi yang tidak kalah mencengangkan adalah pada saat yang sama, orang-orang cerdas itu, justru menyembah patung-patung, pohon, langit, dan lain sebagainya. Apakah mereka bercanda? I mean, mereka cerdas atau bodoh sich sebenarnya?


Sepertinya tidak salah jika menyebut mereka orang primitif
Bodoh sekali mereka menyembah dewa-dewa tak bernyawa yang mereka buat sendiri
Kebodohan semacam itu tidak mungkin terjadi lagi dalam dunia masa kini
Kami, orang-orang modern, terlalu pintar untuk menyembah patung, please dech
Buat apa Alkitab panjang-panjang membahas berhala yang toh sudah ga da lagi, mending bahas yang lain

Mungkin hal-hal di atas menjadi hal yang pernah melintas dalam benak kita
Tetapi pertanyaan bagi kita saat ini

Apakah kita yakin bahwa kita bukan seorang penyembah berhala?
Bagaimana jika dewa-dewa itu sudah menjelma menjadi hal lain?

Bagaimana jika para dewa zaman dulu telah berubah menjadi uang, pacar,
tontonan, game, keluarga, jabatan, hobi, cita-cita, seks, makanan,
dan lain sebagainya?

Mari mengintrospeksi diri
Mari berjuang melepas semua keterikatan dan berhala dalam hidup kita
Mari saling mendoakan

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s