1. Pikiran atau Perasaan?

Book_053

Aku menyukai tiga hal, yaitu:

  1. Hal yang mampu menyadarkanku bahwa aku masih jauh dari sempurna
  2. Hal yang mampu menyadarkanku bahwa aku masih tidak banyak tahu
  3. Hal yang membuatku berkata, “Hmm, aku tahu itu, tapiii, iya juga yah?

Dan setelah membaca sesuatu, hal ketigalah yang mewarnai hariku.

Aku sudah tahu akan hal itu tapi aku tidak menyangka bahwa pengetahuan itu harus digunakan seperti itu. Aku sudah tahu itu tapi aku tidak bisa berhenti berkata, “Ahhh, iya juga yah!” Sepertinya, aku belum benar-benar paham apa yang aku tahu.

Ini adalah hal yang sangat sederhana. Saking sederhananya, kebanyakan di antara kita lebih memilih pemahaman yang sedikit atau jauh lebih rumit. Saking sederhananya, mungkin juga beberapa di antara kita mengabaikannya. Dan saat ini aku ingin membagikan hal apa itu. Mengenai apakah kau akan setuju dan berkata “Iya juga sich” atau tidak, kita lihat nanti.

Ini adalah tentang pikiran dan perasaan.

Banyak orang beranggapan bahwa kaum lelaki lebih dominan dalam hal pemikiran sementara kaum wanita lebih banyak menggunakan perasaannya dibanding para pria. Tetapi kali ini aku ingin mendobrak pemikiran itu. Aku tidak mengatakan hal ini dalam kapasitasku sebagai kaum Adam, melainkan sebagai manusia yang baru-baru ini “dipaksa” mengatakan,  “Astaga, iya juga yah?

Banyak konsep yang membuat perbedaan antara pikiran dan perasaan menjadi semakin rumit. Ada alam bawah sadar lah, ada alam sadar lah, ada hati nurani, ada jiwa, ada roh, ada pikiran, ada perasaan, dan lain sebagainya. Ada banyak klasifikasi yang mencoba membagi-bagi aspek non- jasmani dari manusia.

Melalui sharing ini, aku tidak ingin mengatakan bahwa semua hal itu tidak benar. Aku hanya ingin mengingatkan kita semua bahwa kerap kali hal yang lebih rumit tidak berarti lebih baik. Dan seringkali hal yang sederhana justru lebih baik dan lebih menjawab dibanding hal-hal kompleks yang membingungkan. Dan kali ini aku ingin menyajikan kesederhanaan itu.

Pikiran ya pikiran; perasaan ya perasaan. Dan jika engkau setuju dengan pernyataanku itu, maka kita sudah siap menuju hal utama yang ingin kubagikan, yakni:

  • Pikiran itu aktif, perasaan itu pasif
  • Pikiran adalah bahan baku munculnya perasaan
  • Perasaan adalah respon dari hal-hal yang kita pikirkan
  • Pikiran beraksi dalam diri dan perasaan muncul sebagai reaksinya

Perasaan tidak muncul begitu saja. Perasaan muncul sebagai respon terhadap pemikiran yang kita buat. Kebanyakan darimu mungkin akan tidak setuju tapi tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya. Hal yang paling mudah untuk mengawali ini adalah dengan meninjau perasaan-perasaan yang cenderung negatif terlebih dahulu. Kita akan membahas perasaan-perasaan yang cenderung positif di bagian selanjutnya.


Bagaimana dengan perasaan marah?

Itu tidak datang dengan sendirinya. Tidak mungkin kita menjadi tiba-tiba marah. Rasa marah dan bentuk emosi lainnya pada dasarnya adalah buah dari apa yang kita pikirkan. Ketika kita merasa dirugikan atau terganggu, kita akan mulai memikirkan hal-hal yang sayangnya memberi peluang untuk rasa marah dan/atau benci itu tumbuh subur. Cobalah untuk mempertimbangkan hal itu!

Jika seseorang yang sedang dirugikan atau disakiti tidak mengendalikan dirinya
Maka orang itu akan cenderung memikirkan hal-hal yang membuatnya marah/benci

Dan ketika dia dipenuhi oleh amarah dan kebencian
Maka akan lebih buas lagi pikirannya memikirkan hal-hal yang membuatnya semakin marah/benci


Bagaimana dengan perasaan takut?

Apa yang membuat rasa takut muncul? Kondisi gelapkah? Mengapa tidak semua orang yang melewati jalan gelap akan merasa takut? Tidak, rasa takut tidaklah aktif. Rasa takut itu pasif dan merupakan respon dari pemikiran-pemikiran negatif yang membuat rasa takut itu muncul.

Kita bisa menyebut hal-hal lain yang identik dengan ketakutan. Takut digigit anjing? Takut tidak lulus? Takut ditolak si doi? Takut ketinggian? Takut gagal? Takut apapun, ya apapun, itu adalah produk dari pemikiran kita.

Rasa takut adalah hasil dari proses berpikir di mana kita memikirkan opini-opini yang terus berteriak dalam diri kita:

  • Ini terlalu riskan, ini berbahaya, kau tidak akan berhasil, kau terancam
  • Kau miskin-dia kaya, kau jelek-dia cantik, kau pasti ditolak
  • Kau belum belajar cukup banyak, kau tidak akan lulus
  • Modalmu tidak banyak, lebih baik lupakan peluang bisnis itu
  • Kau tidak ahli bermain gitar, pelayananmu sebagai gitaris hanya akan ditertawakan
  • Kau tidak biasa menulis, tidak akan ada yang nge-like postingan-mu
  • Terlalu banyak orang yang tidak menyukaimu, lebih baik tolak tawaran menjadi pembicara

Lihatkan?

Betapa perasaan takut kita sangat sangat dipengaruhi oleh pemikiran kita sendiri
Kita sangka hal-hal eksternallah yang mengancam, merugikan, dan menyakiti kita
Padahal pikiran kita sendirilah yang menjadi racun

Cobalah sebutkan perasaan negatif yang lain!
Apapun itu, aku yakin itu adalah hasil dari sebuah pemikiran

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat,
pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.
(Matius 15:19)

Kita sering berkata, “Aku tidak ingin dia menyakiti perasaanku.” Itu tidak pernah benar, Kawan. Siapapun atau apapun dia yang ada di luar kita, tidak akan pernah bisa langsung menyakiti perasaan kita. Pikiran kita sendirilah yang menyakiti diri kita dengan menghasilkan perasaan-perasaan negatif.

Sangatlah mudah dipahami bahwa semua perasaan negatif pada hakekatnya tidak datang dengan sendirinya, melainkan secara pasif dipicu oleh pikiran-pikiran kita sendiri. Lalu bagaimana dengan perasaan-perasaan yang cenderung positif? Apakah iman itu tumbuh dalam pikiran, atau perasaan? Apakah perasaan cinta juga berasal dari pikiran? Well, kita akan bahas itu di bagian berikutnya.

~Bersambung

Advertisements

One thought on “1. Pikiran atau Perasaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s