2. Bagaimana dengan Berani dan Chemistry?

Sebelumnya, kita sudah meninjau beberapa perasaan yang cenderung negatif. Di bagian ini, kita akan mencoba memahami perasaan yang cenderung positif.

Bagaimana dengan perasaan berani?
Apakah keberanian itu dihasilkan oleh perasaan atau oleh pikiran?

Keberanian tidak pernah datang secara aktif dengan sendirinya. Setidaknya ada dua hal yang membuat kita berani. Hal pertama adalah karena kita sudah memikirkan semua peluang dan kita tahu peluang kita berhasil lebih besar dibanding peluang gagal. Keberanian jenis ini jelas-jelas adalah buah dari pikiran.

Alasan kedua untuk berani, misalnya berani mati atau berani berkorban, juga tidak akan muncul begitu saja. Perasaan berani semacam ini pasti muncul dari proses menimbang-nimbang dalam pikiran kita yang akhirnya mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kita sudah punya harta yang lain yang tidak akan hilang sekalipun kita mati atau berkorban.

Silakan engkau memeriksa dirimu sendiri. Ingatlah momen-momen dalam hidupmu di mana kau benar-benar pernah merasa berani ataupun optimistis. Apakah perasaan itu timbul dengan sendirinya? Ataukah ada suatu pemikiran yang menciptakan dan menguatkan perasaan itu untuk tumbuh?

Sekali lagi. Keberanian adalah respon dari pemikiran-pemikiran yang meyakinkan kita bahwa kita akan beroleh keuntungan pada akhirnya walau kita sudah mengorbankan sesuatu atau segala hal.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
(Filipi 1:21)

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga;
di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya
dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
(Matius 6:20)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana dengan chemistry?
Apakah chemistry itu dihasilkan oleh perasaan atau oleh pikiran?

chemistry-2

Aku memang memasukkan ini ke dalam perasaan yang cenderung positif tetapi aku juga ingin mengajak kita semua berjaga-jaga sebab chemistry sangat besar potensinya menjadi PENIPU dalam hidup kita. Mengapa?

Kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta masih bisa melawan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya. Tetapi ketika dia mulai click, dan berkata “Astaga, gw dapet banget chemistry-nya”, kebanyakan orang akan nurut dengan perasaan chemistry itu. Orang bisa melawan pemikirannya tetapi kebanyakan orang akan menyerah terhadap chemistry. Dan setelah dia ditaklukan oleh chemistry, kemungkinan besar dia akan berkata, “Yup… she/he is the one.” Dia tidak mengira bahwa chemistry-pun lahir dari pemikiran. Dia tidak menyangka bahwa dia ditipu oleh pikirannya sendiri.

Chemistry tidak datang secara aktif dengan sendirinya atau secara supranatural. Chemistry adalah buah dari pikiran kita sendiri. Kitalah yang secara sengaja menciptakan chemistry itu tetapi enggan mengakuinya. Karena kita terlalu hanyut dalam cinta, kita menolak untuk menyadari bahwa pikiran-pikiran kita sedang merajut ide-ide yang di kemudian hari akan matang dan muncul sebagai, ya… chemistry. Dan dalam ketidaksadaran itu, kita akan menganggap chemistry sebagai tanda dari alam semesta atau tanda dari Tuhan.

Tidak, chemistry adalah buah dari pemikiran kita. Kita akan berpikir dia cukup menarik. Kita akan semakin mencari tahu banyak hal mengenai dirinya dan menemukan beberapa hal yang setelah DICOCOK-COCOKKAN dengan diri kita, eh ternyata cocok.

Wah, warna kesukaan kami sama
Wah, sama-sama bataklah (padahal yang satu Karo, satu Toba)
Wah, ulangtahunnya beda seminggu sama ulangtahun mamaku

Wah, cita-cita dia pas bangetlah sama cita-citaku
Wah, hobi kami sama

Wah, dia dari Kalimantan Barat, aku Kalimantan juga sih walau Kalimantan Timur (maksa banget)
Wah, dia bikin status itu padahal kemarin lusa aku baru memikirkan hal yang sama
Wah, tanggal lahirnya kalau ditambah sama angka kesukaan gw, jadi tanggal lahir gw lah

Wah, dia perfect bangetlah
Wah, sering banget mata kami saling memandang tanpa sengaja
Waaaahhhh… ini pasti chemistry, horeeee…. She is the one bangetlah

Chemistry tidaklah nyata
Chemistry adalah hasil reka-reka
Chemistry is a state of mind

Ya, chemistry adalah buah dari sebuah pikiran, yakni pikiran yang diperbudak oleh keinginan kita untuk mendapatkan dia. Bagaimana? Apakah kau setuju denganku? Well, itu kembali pada keputusanmu. Apapun itu, kita harus melanjutkan pembahasan ini. Di bagian berikutnya kita akan membahas tentang iman dan cinta. Apakah iman dan cinta itu bermula dari perasaan atau dari pikiran?

~ Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s