3. Bagaimana dengan Iman?

Oke, aku juga bingung apakah iman itu bisa disebut sebagai perasaan atau tidak. Tetapi sebagian orang meyakini bahwa iman lebih dekat kaitannya dengan perasaan dan bukan pikiran. Well, aku tidak setuju akan hal itu.

Iman tidak boleh terlepas dari pikiran
Iman tidak boleh digantungkan semata-mata hanya pada perasaan

Hati-hati. Ketika aku mengatakan pikiran, aku tidak berkata bahwa pikiran itu harus rasional. Kita juga bisa memikirkan hal-hal yang berada di luar rasio kita. Memang kebangkitan Yesus Kristus dan semua mujizat yang tercatat di kitab suci adalah hal-hal yang tidak bisa dicapai oleh nalar kita. Memang ide tentang Allah adalah ide yang belum bisa dimengerti secara logis selama kita masih ada di dunia ini. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa menerimanya di dalam pikiran-pikiran kita. Sekali lagi, yang namanya berpikir tidak selalu berarti memikirkan hal-hal rasional saja.

Aku tahu kebangkitan Yesus adalah hal yang ekstra rasional tetapi aku merendahkan hatiku, aku tidak menolak ide itu, melainkan menaklukkan pikiranku yang terbatas ini hingga akhinya aku menerima kebenaran itu. Semula itu hanyalah sebuah ide yang datang padaku tetapi kini menjadi kebenaran yang kupercaya. Kini pikiranku mampu memuat kebenaran yang melebihi kemampuanku untuk memahami. Aku memikirkannya dan di dalam penundukkan diriku, aku mengganggapnya sebagai sesuatu yang mampu aku pahami (walau aku tidak mampu menjelaskannya secara ilmiah). Bagaimana? Apakah kau setuju denganku?

Pikiran dan akal budi kita memegang andil yang sangat besar dalam iman kita
Jangan gantungkan iman pada perasaan yang pasif
Iman yang tergantung pada perasaan sangat besar kemungkinannya menjadi iman yang buta

Firman Tuhan berkata:
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
(Roma 10:7)

Pendengaran akan firman Kristus akan mendarat pertama-tama dalam pikiran kita. Kemudian pikiran kita yang sudah ditaklukan di bawah otoritas Ilahi, akan menerima hal itu sekalipun sulit diterima nalar. Dan pikiran yang telah dibaharui itu kini melahirkan perasaan yang mulia, itulah yang kita sebut iman.

…Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
(2 Korintus 10:5)

Kita diberi kemampuan untuk berpikir oleh Allah, jangan sia-siakan itu. Jika kita belum bisa memahami Dia, maka yang harus kita lakukan adalah merendahkan diri dan menaklukkan pikiran kita yang terbatas di bawah kebesaran-Nya, dan bukan malah asal percaya. Iman yang asal percaya tetapi tanpa rasa dahaga untuk mampu mengertinya di dalam pemikiran, adalah iman yang buta.

Ayat inilah yang mengubah diriku dari orang yang sangat bejat menjadi orang yang jatuh hati kepada Kristus:
just-believe

Jangan takut
Jangan bergantung pada rasa takutmu
Hentikan pikiran-pikiran yang melahirkan respon berupa rasa takut itu

Melainkan mulailah untuk percaya
Walau kau sulit menerimanya dalam akalmu, cobalah untuk merendahkan hatimu
Taklukkan semua pikiranmu yang terbatas
Maka kau akan mengerti
Dan ketika kau mengerti, kau juga akan percaya
Kau juga akan merasakan kepercayaan itu ada di dalam dirimu

Aku yakin seperti itulah prosesnya

Hati-hati dengan perasaanmu, Kawan. Jangan gantungkan imanmu pada PERASAAN melainkan pada PENGENALAN. Dan ketika kau mendengar kata pengenalan, pasti kau mengerti bahwa aku sedang berbicara tentang pikiran.

Aku harus sangat berhati-hati dalam hal ini. Sekali lagi kuulangi, aku tidak berkata bahwa pikiran itu harus rasional. Pikiran biasa memang sangat terbatas untuk mengerti hal-hal rasional saja. Tetapi itu tidak berarti bahwa hanya hal rasional sajalah yang bisa ada di pikiran kita. Jangan lupa, Roh Kudus mampu mengubahkan pikiran kita. Pikiran yang telah dibaharui oleh Roh Kudus, mampu memikirkan dan percaya pada hal-hal yang ekstra rasional.

Apa iman itu?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan
dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
(Ibrani 11:1)

Apa dasar kita untuk berharap?
Dasar dari pengharapan kita adalah JANJI
Kau tidak bisa mengharapkan sesuatu yang tidak pernah dijanjikan Allah, bukan?

Lalu di mana kau akan menemukan janji Allah?
Di dalam FIRMAN Tuhan
Dengan demikian, FIRMAN -> IMAN

Lalu, apa bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat?
Kita tidak melihatnya tetapi kita sudah punya bukti
Artinya, bukti itu sudah ada dan bukti itu tidak terbantahkan, bukti itu absolut
Lalu apa yang obsolut selain Allah dan FIRMAN-Nya?

See?
Firman Allah yang tertulis, itulah buktinya
Sehingga sekali lagi, FIRMAN -> IMAN

Dan berbicara tentang firman, firman itu didengar atau dibaca kemudian dipikirkan. Firman bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan. Perasaan barulah akan muncul dari pemikiran yang disegarkan oleh firman Tuhan itu.

Pikiran itu aktif
Perasaan itu pasif
Mengapa harus menggantungkan iman pada sesuatu yang pasif?
Gantungkanlah itu pada sesuatu yang mampu bekerja secara aktif

Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya,
dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan,
sehingga mereka tidak dapat berdalih.
(Roma 1:20)

Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
(Lukas 24:45)

Aku rasa mengenai iman cukup sekian. Di bagian berikutnya kita akan membahas mengenai perasaan yang sering disebut-sebut sebagai perasaan tertinggi, CINTA. Sampai ketemu lagi, Teman-teman.

~Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s