5. Lalu Harus Bagaimana?

Lalu apa gunanya aku membahas semua ini?
Sederhana saja tetapi sangat penting.

Tidak perlu kita melindungi perasaan kita dengan menutupnya dari siapapun karena kita lelah dilukai. Tidak perlu kita ingin menjadi orang yang cuek karena kita tidak mau tersakiti. Tidak perlu kita membuat hati kita menjadi dingin untuk melindungi perasaan kita. Sebab masalahnya bukan terletak di sana. Perasaan hanyalah respon dari masalah yang sesungguhnya, yakni pikiran-pikiran yang buruk. Jika engkau tidak ingin disakiti, jika engkau tidak mau menderita, jangan tutup perasaanmu, melainkan benahilah cara berpikirmu.

Jika kita ingin melindungi perasaan,
maka terlebih dahulu jagalah pikiran kita!

Hal-hal yang ada di luar kita tidak akan bisa menyakiti kita selama kita tidak memikirkannya. Pikiran-pikiran buruk kitalah yang menyiksa diri kita sendiri. Pikiran negatif kitalah yang menumbuhkan perasaan-perasaan yang jahat itu. Oleh sebab itu, jagalah pikiran kita, jangan biarkan ada bibit pikiran yang buruk tumbuh dan berkembang.

Aku sangat suka dengan ilustrasi ini. Suatu hari seorang gadis kecil datang kepada ayahnya. Anak ini hendak meminta izin sang Ayah agar diperbolehkan untuk menonton salah satu film yang sedang diputar di bioskop bersama teman-temannya. Mendengar permintaan gadis itu, sang Ayah menanyakan, “Apa rating film itu?”. “Rating-nya R, Ayah,” sang anak menjawab. (Film dengan rating “R” atau restricted artinya film yang memuat scene-scene dewasa seperti adegan seks dan kekerasan, tetapi bukan itu yang menjadi bagian utama dari film tersebut.) Sang Ayah kemudian menjawab, “Kalau rating R berarti tidak boleh!” Sang Anak memohon, “Ayah, tolong izinkan aku, memang sih ada beberapa adegan telanjang dan perkelahian, tetapi itu bukan yang utama kok, Ayah. Film ini sangat bagus dan penuh dengan pesan baiknya. Kumohon, Ayah.”

“Sekali tidak tetap tidak,” sang Ayah menegaskan. Kemudian, karena tidak diizinkan oleh ayahnya, gadis kecil itu masuk ke kamarnya sambil menggerutu. Dia kemudian mengajak teman-temannya untuk bermain di rumahnya sebab dia tidak diperbolehkan untuk pergi ke bioskop. Melihat gadis itu dan anak-anaknya bermain, si Ayah kemudian membuat kue untuk mereka. Setelah bolu itu matang, dia mengajak anaknya dan teman-temannya untuk makan. Bolu itu tampak sangat menggoda. Anak-anak itu sudah tidak sabar untuk memakannya.

Akan tetapi, sebelum mereka semua makan, lelaki itu berkata, “Kue itu tampak enak, bukan? Tadi ayah menambahkan sedikit kotoran anjing ke dalamnya. Aku rasa itu tidak akan mengurangi rasa lezatnya. Silakan jika kalian ingin memakannya.”

Bagaimana, apakah engkau menangkap pesan yang kumaksud? Bagaimana kalau kau adalah gadis kecil itu? Maukah kau memakan bolu yang “tampak” nikmat itu? Aku yakin, kau tidak akan mau memakannya sebab kau jijik terhadap apa yang ada di dalam itu.

Tetapi kemudian ada hal yang lucu. Kita tidak men-tolerir apa-apa yang masuk ke dalam perut kita. Tetapi kita toleransi habis-habisan apa-apa yang masuk dalam pikiran kita. Kita tidak mau memasukkan kotoran anjing ke dalam perut kita. Tetapi kita tidak henti-hentinya memasukkan kotoran-kotoran manusia (dan iblis) ke dalam benak kita. Film dan serial drama yang kita tonton, lagu-lagu yang kita dengar, game-game yang kita mainkan, artikel-artikel yang kita baca, banyak hal, sungguh banyak hal, yang kita tahu memuat sedikit kotoran tetapi tetap saja kita menerimanya ke dalam pikiran kita.

Dengan mulut kita, kita berkata, “I love You, Jesus.”
Tetapi dengan mulut yang sama, kita berkata, “I’m gonna miss you so much, Barney Stinson.”

Tidak, mulai dari sekarang katakanlah tidak untuk semua hal najis itu. Jangan mau tertipu dengan pesan moral yang ditawarkannya. Pesan-pesan yang kau anggap baik itu hanya akan membuatmu menoleransi semua adegan seks, kekerasan, dan adegan-adegan tak bermoral lainnya. Jangan mau tertipu lagi. Iblis adalah penipu, dia sangat ahli dalam hal itu.

Owen

Jangan beri celah, sekecil apapun, bagi pikiran-pikiran kotor itu masuk ke dalam benak kita. Sebab apabila benih itu tertanam dan tumbuh subur, aku rasa hanya tinggal menunggu waktunya pikiran-pikiran itu akan menghasilkan perasaan-perasaan yang berujung pada penderitaan. Perasaan itu akan menyiksamu, melukai orang lain, dan menyakiti hati Tuhan.

JAUHKAN pikiran kita dari semua hal yang najis, sekecil apapun itu
PISAHKAN pikiran kita dari semua hal yang jahat, sekecil apapun itu
KUDUSKAN pikiran kita dari dosa, sekecil apapun itu
Maka amanlah perasaan kita

Mari kita berjuang, dalam tuntunan Allah, untuk menjaga pikiran kita. Mari kita memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, maka perasaan kitapun akan terjaga. Perasaan kita tergantung pada pikiran-pikiran kita. Feeling is a state of mind. Apakah kita akan merasa sedih atau sukacita, kitalah yang memutuskannya di dalam pikiran kita.

1795528_132900786883713_321097672_n

Apakah kita akan merasa takut atau pesimis? Kita bisa mencegah perasaan itu dengan sebelumnya mempersembahkan pikiran kita pada Tuhan dan meyakinkan diri kita bahwa kita sudah punya janji Allah yang penuh dengan damai sejahtera. Apakah kita akan merasa rendah diri? Merasa tidak berharga? Sungguh, ketahuilah bahwa kita disayangi dan dijaga-Nya bak biji mata-Nya. Mengertilah bahwa kita berharga di mata-Nya.

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia,
dan Aku ini mengasihi engkau,
(Yesaya 43:4)

Apakah kita akan merasa tertolak oleh orang-orang? Apakah kita menilai keberhargaan diri kita pada penerimaan orang lain? Sungguh, pahamilah siapa diri kita dalam Tuhan.

If you are humble, nothing can touch you, neither praise nor criticism
because you KNOW what you are.
(Mother Teresa)

Apakah kita akan merasa terjajah oleh ikatan-ikatan yang membelenggu? Dan merasa tidak mampu untuk melepaskan diri darinya? Sungguh, baharui budi kita dan bertumbuhlah dalam pengetahuan akan kebenaran Allah.

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
dan kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.
(Yohanes 8:32)

Kutegaskan bahwa aku bukanlah orang yang mendewa-dewakan pikiran dan merendahkan arti perasaan. Tidak. Allah menciptakan pikiran dan perasaan untuk bagiannya masing-masing. Ada hal baik yang Tuhan kehendaki ketika Dia memampukan manusia berpikir, ada hal baik yang Tuhan kehendaki saat Dia membuat manusia memiliki perasaan. Pikiran tidak lebih dari perasaan. Pikiran ya pikiran; perasaan ya perasaan. Kedua hal itu berbeda dan tidak bisa diperbandingkan.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama,
menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
(Filipi 2:5)

Aku tidak membesar-besarkan pikiran. Aku memandang pikiran sebagaimana pikiran adanya. Aku tidak membesar-besarkan pikiran. Justru aku menegaskan betapa besarnya peluang si jahat untuk menghancurkan manusia melalui pikiran-pikirannya sendiri. Hal pertama yang akan diserang oleh iblis adalah pikiran-pikiran kita. Sekali dia menguasai pikiran kita, tidaklah sulit baginya untuk mengeruhkan perasaan kita atau menciptakan perasaan-perasaan yang menipu. Sekali dia menjajah pikiran kita, tidaklah sulit baginya memunculkan perasaan-perasaan yang seringkali membuat kita berkata dalam hati, “sepertinya ini suara Tuhan“. Hati-hati, iblis adalah penipu ulung dan sasaran utamanya adalah pikiran-pikiran kita. Pikiran adalah medan perang antara iblis dengan Allah.

Ryle (4)

Penuhilah pikiranmu dengan firman Tuhan. Penuhilah pikiranmu dengan kasih Allah dan kasih pada sesama. Jika kau mengisi pikiranmu dengan firman Tuhan, maka kau akan menghidupi firman itu. Jika kau memenuhi pikiranmu dengan kebenaran Allah, maka kebenaran itu akan terpancar dalam keseharianmu. Jika kau mewarnai pikiranmu dengan kasih, niscaya kau akan menjadi pengasih dan orang-orang akan merasakannya sekalipun mereka tidak mengatakannya padamu. Jagalah pikiranmu, sebab apa yang mengisi pikiranmu, seperti itulah engkau.

For as one thinks within his heart, so is he.
(Proverbs 23:7)

Apalah lagi hal yang harus kukatakan?
Jagalah pikiranmu dengan segala kewaspadaan!

proverbs-4-23

Persembahkanlah pikiranmu untuk Tuhan!
Kasihilah Dia dengan akal budimu!
Layanilah Dia dengan pikiranmu!

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,
semua yang suci, semua yang manis,
semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,
pikirkanlah semuanya itu.
(Filipi 4:8)

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

2 thoughts on “5. Lalu Harus Bagaimana?

  1. baru kali ini tau ilustrasi tai kucing dalam bolu
    serius bagian akhir ini paling cepat kuingat karena ilustrasinya.

    izin share ya Bang bukan di FB atau twitt tapi mw share ke grup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s