Jalan Hidup

Jalan Hidup

Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing
Setiap langkah seharusnya memberi arti

Tuhan adalah “Tuhan yang berbicara setiap saat”. Tuhan bukanlah “Tuhan yang diam”. Ibarat radio frekuensi X, terkadang kita mendengarnya, terkadang tidak. Tetapi ketika kita tidak mendengarnya bukan berarti radio frekuensi X itu berhenti mengudara. Dia tetap ada di sana, hanya saja pendengarnya yang berubah frekuensi, atau ada kondisi yang menyulitkan antena pendengar sehingga tidak mampu menangkap gelombang radio itu dengan baik.

Demikian juga dengan Allah. Dia selalu berbicara kepada anak-anak-Nya. Kadang mereka mendengar Dia, kadang tidak. Tetapi itu tidak berarti bahwa Allah tidak konsisten dalam berbicara. Dia sungguh-sungguh berbicara. Dia sungguh-sungguh ingin mereka mendengar suara-Nya dan mengerti apa yang Dia kehendaki. Tetapi terkadang anak-anak-Nya enggan mendengar. Mereka mengubah frekuensinya, mereka mencemplungkan diri pada banyak hal yang mengganggu tertangkapnya frekuensi itu, mereka lari, dan malah menyalahkan Dia dengan berkata “Di mana Engkau Tuhan? Tak peduli kah Kau padaku?”.

Benar, Allah sungguh-sungguh berbicara padamu. Kau bisa mendengar-Nya dalam setiap langkahmu. Langkah yang kau tapakkan di setiap detik jalan hidupmu. Bahkan dalam setiap inci jalan kakimu dan dalam tiap hembusan nafasmu, Allah berbicara.

Kemudian aku mengenang Bangsa Israel. Mereka melangkah, mereka berjalan, ke Tanah Kanaan, Tanah Perjanjian. Tuhan ada bersama-sama mereka. Dia memperdengarkan suara-Nya yang bagai gemuruh. Dia menampakkan “rupa-Nya” dalam kabut dan halilintar. Dia jelaskan setiap detail kehendak-Nya. Dia berikan pemimpin yang luar biasa untuk mereka, Musa dan Yosua. Dia turunkan manna tiap pagi, roti dari surga. Dia datangkan burung dara, untuk mereka makan. Ketika mereka haus, Dia keluarkan air dari batu. Saat siang, tiang awan menudungi langkah mereka. Saat malam, tiang api menghangatkan mereka. Mereka melihat 10 tulah Allah di Mesir, perkara-perkara yang luar biasa dahsyat. Mereka melihat laut terbelah. Mesir, bangsa yang kuat, dikalahkan tak berdaya di depan mata mereka.

Tapi… mereka tidak percaya
Bagaimana mungkin?
Ada yang salah dengan orang-orang ini


Tuhan murka. Dan kebebalan orang-orang Israel membuat mereka harus menempuh perjalanan hingga 40 tahun. Empat puluh tahun, yang seharusnya bisa ditempuh dalam hitungan hari. Empat puluh tahun, sampai Musa merenung dan berkata “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana“. Perjalanan Bangsa Israel, panjang sekali. Tetapi tak pernah barang satu haripun Allah meninggalkan mereka. Dia selalu menunjukkan mukjizat-Nya pada mereka.

Tapi mereka, tetap saja, tidak percaya

Mengapa? Padahal berkat melimpah selalu menyertai mereka? Mengapa mereka selalu merasa kurang, kurang, dan kurang? Mengapa mereka selalu mau kembali ke Mesir? Dan mengira di sana mereka bisa merasa hidup lebih nyaman?
Seolah-olah berkat Tuhan tidak cukup? Mengapa mereka membuat berhala, patung anak lembu emas? Dan memohon berkat pula dari benda itu? Seolah-olah berkat Tuhan tidak cukup?

Ahh…
Aku paham sekarang
Bukanlah “BERKAT” yang membuat seseorang percaya
Tetapi pada “MENCUKUPKAN DIRI”, di atasnyalah iman orang-orang percaya bertambah teguh

Ya Allah, Engkau cukup bagiku!
Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mazmur 84:10)
dan sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup (Mazmur 63:3)

Kita masing-masing memiliki jalan hidup. Dan di sepanjang jalan itu, Tuhan berbicara. Dan dalam setiap perkataan-Nya, Dia ingin mengatakan “cukuplah Aku untukmu… bersyukurlah“.

Apakah jalanku hanyalah jalan kesia-siaan?
Akankah jalanku sunyi tanpa suara-Nya?
Ataukah, jalanku adalah jalan yang bermakna?
Jalan di mana setiap saat aku bisa melihat-Nya, aku bisa merasakan-Nya, aku mendengar-Nya

I have decided to follow Jesus
No turning back

No turning back

Akan Dia bawa ke mana aku, aku tidak tahu
Aku sudah memutuskan untuk mengikut Yesus, tidak ada jalan kembali
Sekalipun penuh pengorbanan di sepanjang jalan, aku akan tetap ikut Dia

Sebab aku percaya bahwasanya bersama Dia,
Baik PERJALANAN maupun TUJUAN, sama-sama menyenangkan

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
(Amsal 4: 18)

Tuhan Yesus memberkati 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s