Kasih itu Menghancurkan

Memang akan selalu ada kisah di tempat ini. Tempat ini selalu mengajarkan sesuatu padaku. Sebelumnya, pelajaran itu datang padaku sebagai pelajaran pahit yang berwujud ikan goreng dan seekor kucing hitam kurus menyebalkan. Kali ini, aku kembali memetik hikmat di balik kejadianku, yang sayangnya, sama tidak menyenangkannya. Tetapi aku bersyukur dan tidak akan menyesalinya.

Kau akan mengerti hal ini jika kau bekerja di lapangan, terutama jika kau bekerja di lapangan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk. Biasanya, sebagai bentuk community service, sejumlah anak daerah akan dipekerjakan oleh perusahaanmu. Dalam kasusku, pegawai outsource yang berasal dari penduduk lokal biasanya bekerja sebagai sekuriti, mess boy, driver, dan operator. Kau akan bekerja di bawah atap yang sama dengan mereka.

Dan kau akan memahami apa yang aku rasakan jika kau bekerja di tempat yang sama denganku. Kau akan mendapati lehermu kelelahan. Ya, lehermu suatu saat akan letih. Letih bukan karena lelah akibat pekerjaan. Melainkan lelah karena pasti kau akan sering meng-geleng-geleng-kan kepalamu ketika melihat tingkah laku mereka yang juga membuat letih secara mental. Bagi kebanyakan rekan-rekanku, para sekuriti-lah yang paling menyebalkan. Bahkan suatu kali ada sekuriti yang berteriak kepada supervisor. Bayangkan! Sekuriti meneriaki supervisor, “Heh, dasar binatang!”

“Astaga, mengapa ada manusia yang kelakuannya seperti ini?” Itu adalah kalimat yang sangat sering aku ucapkan dalam hati ketika melihat sikap mereka. Aku adalah orang kota (sok keren, trus kenapa?). Aku lahir dan besar di kota tetapi sungguh belum pernah aku bertemu dengan orang-orang yang lebih serakah dan angkuh dibanding orang-orang desa ini. Mereka orang-orang desa lochWell, aku tidak bisa menceritakan semua yang mereka lakukan tetapi aku harap semoga kalian tidak berurusan dengan orang-orang seperti ini.

Inilah yang terjadi. Pagi-pagi, aku sampai ke lokasi. Dari jauh, aku melihat wajah Pak Sekuriti yang belum pernah kutemui sebelumnya. “Gawat, sekuriti baru,” kataku dalam hati. Maksudku adalah jika aku belum mengenal beliau, berarti beliau juga belum mengenal aku, dan biasanya mereka akan sangat angkuh kepada siapapun karyawan yang belum pernah menghadap mereka. Dan kali ini, hal itu terjadi padaku.

Sesuai peraturan, jika kau akan masuk ke area pekerjaan, maka kau harus menukar badge-mu dengan badge khusus area pekerjaan tersebut. Akupun melepaskan badge­-ku dan berniat menyerahkannya kepada beliau. Pada saat yang sama, beliau sedang meraih badge yang akan ditukarkan untukku. So far so good. But in the end, not good. Beliau bukannya dengan ramah mendekatkan badge yang dia pegang ke tanganku, malahan melemparkannya ke atas meja seolah-olah aku sama sekali tidak ada di sana. Memang lemparannya tidak jauh, tapi aku tahu persis bahwa dia bermaksud mengatakan bahwasanya dia tidak mau dan tidak merasa perlu untuk menyerahkan badge itu secara sopan kepadaku.

Aku sangat tidak suka dengan perlakuan seperti itu. Bos-ku saja tidak pernah melakukan hal yang serupa kepadaku. Mengapa justru harus seorang sekuriti yang melakukannya padaku? Jantungku berhenti dan aku tidak bernafas seketika. Pemantik api dinyalakan di dalam hatiku. Orang ini mencari gara-gara.

Aku mendekatkan badge-ku ke tangannya dan diapun mengambilnya dari tanganku. Kemudian aku mengambil badge pengganti yang baru saja ia lempar ke atas meja, mengucapkan terima kasih, dan masuk ke kantor. Aku memang mengucapkan terima kasih. Tetapi di dalam hati, aku berkata:

“Aku akan menghancurkan keangkuhan orang ini berkeping-keping.”

Selama beberapa saat aku memutar otakku. Orang ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Orang ini harus diberi pelajaran. Orang ini tidak tahu bahwasanya dia menjadi sekuriti karena dan hanya karena perusahaan kami dengan rendah hati mempekerjakan dia sebagai warga lokal. Secara kualitas, sebenarnya orang ini tidak memenuhi kualifikasi minimum seorang sekuriti. Orang ini bukan hanya sombong, dia tidak tahu cara berterima kasih. Dia lupa siapa dirinya. Orang ini tidak punya rasa hormat. Aku memberi diriku mission impossible untuk mengajarkan itu semua kepadanya.

Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku harus menemukan cara untuk menghancurkan kesombongannya. Sepertinya niatku terdengar baik, aku ingin menghancurkan kesombongan, aku ingin menghancurkan kejahatan. Tetapi seperti kata Martin Luther, ketika Allah membangun gereja, iblis membangun sebuah kapel kecil di dalamnya. Dan di dalam kasusku, dosa menyelinap masuk. Dia sampai ke gerbang alam pikirku, dan dia mengatakan:

“Hanya ada satu cara menghancurkan kesombongan.
Kau tegaskan dia siapa dirimu!
Kau ingatkan dia siapa dirinya!
Buar dia sadar betapa jauhnya jarak antara kau dan dia!
Dan dia akan mengerti.”

Wow, terdengar menggiurkan, bukan? Rencana yang jitu untuk menghancurleburkan keangkuhan seseorang. Aku pasti akan melakukannya.

Aku belum cukup rendah hati, Teman-teman. Aku belum sempurna. Sekali aku bertobat dan mengusir seekor iblis dari hatiku, dia pergi dan kembali sambil membawa serta ratusan ekor iblis lain untuk kembali menaklukkan hatiku. Aku lemah, Teman-teman. Tetapi satu hal kupercaya, aku dikasihi Tuhan. Dia menjadi kota benteng dan perisai hatiku. Allahku melindungi diriku yang lemah ini. Allahku bekerja bak prajurit yang setia. Dia berjaga di muka gerbang hatiku. Aku aman. Dan ketika iblis ingin menghancurkanku, membuat aku tunduk, Tuhan sudah ada di sana. Dan Dia berkata padaku:

“Richard, kasihi orang itu. Ampuni dia. Sebab kaupun telah dikasihi dan diampuni.
Keangkuhan orang itu memang perlu dihancurkan, tetapi jangan andalkan kekuatanmu.
Ini… Kuberi padamu kuasa untuk menghancurkannya.”

1959325_694295683939284_3950357204302996019_n

Hatiku yang mendidih langsung diguyur-Nya dengan es. Hatiku yang panas dihembus-Nya dengan angin sepoi. Hatiku diteduhkannya. Aku tenang bersama-Nya. Dia mampu mengendalikan diriku. Kunci hatiku ada di tangan-Nya. Dan dengan damai di hati, aku meraih “kunci” yang Dia berikan. Aku menerima kunci itu, “kuasa” untuk menghancurkan itu.

Akupun menyelesaikan urusanku di kantor dan bergegas untuk berangkat ke area sumur. Aku menghampiri pos sekuriti dengan hati tenang dan senyuman. Aku melepas badge yang kupakai, menyerahkannya. Beliau menerimanya dan mengembalikan badge-ku yang asli.

Richard : Pak, sepertinya kita belum saling kenal. Namanya siapa, Pak?  (hendak berjabat tangan)
Sekuriti : Lutfi, Mas. (membalas jabat tanganku)
Richard : Saya Richard yah Pak. Sehat, Pak? (sambil tersenyum)
Sekuriti : Sehat… sehat.. (membalas senyumanku)
Richard : Saya ke lokasi dulu ya, Pak. Terima kasih… Mari, Pak.
Sekuriti : Mari-mari, Mas.
Sekuriti2 : Mari-mari, Mas (daritadi sekuriti 2 juga memandangku sinis, tetapi diapun berubah)

Akupun masuk ke mobil sambil sambil tersenyum,
Membawa sukacita di hatiku,
Dan kemenangan di tangan kananku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-teman, Kebencian itu menghancurkan

Tetapi kuberitahu kau satu hal:

Kasih itu jauh lebih menghancurkan dibanding kebencian

Kebencian mampu menghancurkan banyak hal. Tetapi ada satu “kuasa” yang lebih besar dibanding kebencian sekalipun. Dan itu adalah kasih. Kebencian mampu menghancurkan, tetapi kasih mampu menghancurkan kebencian itu menjadi berkeping-keping. Itulah “kunci” yang Allah berikan kepadaku. Kasih, itulah kuasa yang Dia percayakan atasku.

Aku pernah sangat membenci bapakku. Kebencian menjadi tembok dengan tebal tak terkira dan tinggi setinggi langit. Tembok itu mustahil untuk dihancurkan. Tetapi suatu ketika aku sadar bahwa Tuhan mengasihi orang paling hina sepertiku. Semua orang memusuhi dan menolak aku tetapi Dia tidak pernah melakukannya. Allah tahu betapa menjijikkannya diriku tetapi aku tetap diingat-Nya. Aku melawan Dia, meludahi-Nya, tetapi aku tetap ada di hati-Nya. Aku diampuni-Nya. Aku disayangi Tuhanku. Kebencianku tak berdaya di hadapan kasih-Nya. Kasih-Nya terlalu besar, aku tak sanggup melarikan diri dari-Nya.

Terima kasih ya Allah karena Kau telah menangkapku. Kini aku mengenal kasih itu. Aku menerima kuasa itu. Dengan kasih aku bisa menghancurkan tembok itu. Kata orang, akan selalu tersisa bekas. TIDAK. Kasih sudah melumat habis tembok kebencianku, tak berbekas sedikitpun. Kaupun bisa mengalami hal yang sama.

Kasih itu yang menghancurkan kejahatan. Kasih itu yang menghancurkan kebencian. Kasih yang merobohkan keangkuhan seseorang dan membuatnya rendah hati. Kasih yang menaklukkan ego. Kasih yang meluluhlantakkan kebenaran karena usaha pribadi. Kasih yang melembutkan prasangka sehingga kau tak akan memikirkan yang buruk mengenai saudaramu. Kasih yang akan meruntuhkan tembok yang membuatmu malas untuk memuridkan atau enggan menanyai kabar.

Kasih itu menghancurkan kedagingan
Kasih itu menghancurkan dosa
Kasih itu menghancurkan iblis
Kasih itu menghancurkan banget

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kasih, Teman-teman, Kasih
Dengan usahamu, kau mencoba memodifikasi dirimu menjadi lebih baik
Tetapi hanya kasihlah yang bisa men-transformasi-mu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Masalah dunia ini bukanlah kurangnya orang ber-“iman”
Malahan dunia ini penuh dengan mereka
Masalah dunia ini adalah kekurangan pengasih

Kasih, Teman-teman, Kasih
Bukanlah iman yang menyelamatkanmu
Kasih karunia-lah yang melakukannya untukmu

Jika iman adalah jendela, maka kasih ibarat cahaya mentari
Jika jendela tidak ada, bukan berarti cahaya matahari tidak memancar
Kasih itu sudah ada dan kasih itu melimpah
Dengan iman, kasih itu masuk ke dalam hatimu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Bukanlah pertobatan yang menyelamatkanmu
Kasih karunia-lah yang melakukannya untukmu

Kasihlah yang menumbuhkan iman di dalam hatimu
Kasihlah yang memberimu kuasa untuk tidak melakukan dosa dan bertobat

Kasih, Teman-teman, Kasih
Pencarian teman hidup bukanlah tentang menemukan siapa yang tepat
Melainkan tentang MENGASIHI

Tuhan menjadikanmu teman hidup bahkan mempelai-Nya
Itu bukan karena kau adalah orang yang tepat
Tetapi karena Dia mengasihimu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Semua ini sebenarnya adalah tentang KASIH dan MENGASIHI

Terimalah kasih-Nya, Teman-teman
Kasih yang “Sudah Selesai”
Kasih yang sekali dan yang tidak berkesudahan

Kasih yang memerdekakanmu
Kasih yang mengubahmu
Kasih yang “menghancurkan”-mu

Dan kau tak akan sama lagi…

Kasih itu Menghancurkan

Advertisements

One thought on “Kasih itu Menghancurkan

  1. sengaja tau blog ini, tulisannya menyentuh sekali

    pengalaman mengasihi orang yg menyebalkan itu di kota, apalagi orang yg merasa statusnya lebih, pada hal sejawat.
    tapi menurutku, orang yg tidak mengenal kasih tidak memandang kalangan, orang desa atau kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s