Bertemu Saksi Yehuwa di Car Free Day

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa hari ini akan datang…

Puji Tuhan hari ini aku bangun lebih awal dari sebelumnya. Aku sebenarnya ingin kembali tidur tetapi aku memutuskan untuk tetap bangun. Aku yakin, jika kau bangun lebih awal, maka kau akan punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan harimu. Entah mengapa, satu jam di pagi buta terasa lebih panjang dibanding 1 jam di siang atau malam hari. Dan seakan teoriku benar, entah bagaimana aku rasa aku melakukan cukup banyak hal hanya dalam waktu satu jam di pagi hari tadi. Dan demikianlah aku mengawali segalanya.

Aku berangkat untuk olahraga di car free day lebih awal dibanding minggu-mingguku sebelumnya. Pada awalnya aku sempat pesimis CFD kali ini akan menjadi CFD yang biasa-biasa saja dan tidak berkesan. Ternyata, aku salah. Hal istimewa pertama yang kutemui adalah Jupe. Tepat sekali, Julia Perez. Di sana, dia bersama rekan-rekannya sedang melakukan kampanye anti narkoba. Akupun mengambil beberapa gambar dan video dari momen itu. Setelah merasa sudah cukup memotret, aku melanjutkan berlari menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Sesampai di area Bundaran HI, aku melihat ke sekeliling dan menyimpulkan bahwa tidak ada yang istimewa. Akupun memutuskan berbalik untuk pulang. Dan karena aku berangkat lebih awal, aku punya waktu lebih banyak untuk berjalan lambat sambil merenung. Ahh, aku suka sekali momen-momen di mana aku bisa merenung di car free day seperti ini.

Aku merenung dan menghayal, terhanyut dalam benakku, sangat lezat, sampai akhirnya aku melihat suatu pemandangan yang membuatku berkata dalam hati, “Wah, indah sekali!

Pemandangan apakah itu? Itu adalah dua sosok pria yang sudah cukup tua yang memegang beberapa tabloid tipis untuk dibagikan. Mereka berdiri di tepi jalan sambil memegang papan bertuliskan:
“Bacaan Umum Berdasarkan Alkitab, GRATIS.”

Aku terpukau. Mereka adalah pembawa kabar baik yang berani. Aku penasaran dari gereja manakah mereka. Sungguh gereja yang benar-benar bermisi, pikirku. Orang-orang percaya di seluruh dunia, di Indonesia terutama, harus belajar dari dua pria ini. Akupun mendekati mereka sambil berharap bisa mendapatkan buku gratis itu. Aku juga ingin mengobrol lebih banyak hal dengan mereka. “Siapa tahu aku bisa semakin dikuatkan untuk melakukan misi seperti mereka”, kataku dalam hati. Dan baru melangkahkan kaki beberapa meter dari tempat semula aku berdiri, alarm hatiku berbunyi. Aku rasa Tuhan hendak memperingatkanku.

“Hati-hati Richard. Cobalah dekati dan ajak ngobrol mereka.
Persiapkan hatimu. Bisa jadi orang-orang ini adalah Saksi-Saksi Yehuwa.”

Sebelum benar-benar berada tepat di hadapan mereka, aku masih punya beberapa meter untuk ditapaki. Dalam jarak yang pendek itu aku menguatkan hatiku dan berdoa. Oh, sungguh, detik-detik awal memang akan sangat mempengaruhi segalanya.

Setelah sampai tepat di muka mereka, akupun bertanya kepada mereka, “Wah, dari mana, Pak?”

Kami dari Saksi Yehuwa, Mas. Gereja kami di bla bla bla.” Dugaanku benar.

“Oh ya? Saksi Yehuwa? Di mana gerejanya, Pak?” saking kagetnya aku lupa kalau mereka baru saja menyebutkan asal gereja mereka. Merekapun mengulang sekali lagi di mana gereja mereka berada tapi saat menulis ini, aku sudah lupa gereja apa yang mereka sebutkan. Aku lupa mungkin karena aku tidak peduli di mana gereja itu.

Akupun meminta tabloid yang mereka bagikan secara gratis itu. Aku merasakan ada dorongan yang kuat dari dalam hatiku untuk segera membahas firman Tuhan dengan mereka. Ini adalah kali pertama, setelah aku benar-benar mengenal Allah, di mana aku berhadapan dengan Saksi-Saksi Yehuwa.

Perasaanku bercampur aduk, antara berdoa memohon tuntunan Allah, dan bersegera menghimpun semua pengetahuan dan ingatan yang kupunya mengenai doktrin yang benar. Apapun yang terjadi di hatiku kala itu, saat ini aku bisa berkata bahwa aku memang berdoa memohon tuntunan Allah tetapi nampaknya aku lebih banyak mengandalkan kekuatanku sendiri dalam perbincangan yang sebentar lagi terjalin di antara kami.

Akupun membuka lembar demi lembar dari tabloid itu, berharap bisa menemukan satu topik untuk diperbincangkan. Halaman pertama adalah tentang penciptaan dunia ini, aku pikir aku tidak akan memakai momen super langka seperti ini untuk membahas tentang penciptaan. Lagipula itu bukan core value dari iman Kristen. Halaman berikutnya adalah tentang uang, tentu saja aku skip halaman itu. Aku membuka halaman demi halaman hingga akhirnya pandanganku berhenti ke halaman yang bertajuk, “Enam Mitos Mengenai Kekristenan.”

Mulai dari sini aku mulai berhati-hati. Aku buka halaman lebih perlahan hingga akhirnya aku sampai ke suatu topik yang cukup membuat hatiku sontak. Topik itu berjudul, “Mitos 4 : Allah Itu Tritunggal.” Ketika membaca judul tersebut, aku tahu apa yang harus segera kubahas dengan kedua pria ini. Aku boleh men-skip pembahasan tentang penciptaan tapi tak akan kulewati topik mengenai Tritunggal ini sebab justru Tritunggal-lah letak perbedaan inti antara Kekristenan dengan Saksi Yehuwa.

Lagipula, aku pernah mendengar kabar bahwa pengikut Saksi Yehuwa merupakan orang-orang yang menguasai Alkitab dengan sangat baik. Sebentar lagi aku akan menguji kebenaran kabar tersebut. Dan bagiku, entah apapun kabar yang beredar tentang kehebatan Saksi Yehuwa dalam menghafal isi Alkitab, selama mereka masih memegang kepercayaan mereka itu, mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang isi Alkitab.

Akupun menguatkan hatiku. Aku tidak akan gentar sekalipun mereka adalah orang paling berhikmat atau sarjana Alkitab sekalipun. Sejak kecil, Allahku sendiri yang membesarkanku dengan Alkitab ini. Allahku sendiri yang mengajariku isi Alkitab ini dengan penuh kasih. Aku tidak akan kalah di Alkitabku sendiri.

“Pak, apa maksudnya ini yah? Bisa tolong dijelaskan Pak, mengapa Saksi Yehuwa tidak percaya pada Tritunggal?”

“Silakan dibaca sendiri, Mas. Tabloidnya boleh dibawa pulang.”

Oh, tolong dijelaskan sedikit saja dong, Pak. Soalnya saya tidak mengerti nih apa maksudnya.”

“Coba silakan dibaca dulu sambil membaca Alkitabnya, Mas.” Aku cukup tercengang. Aku kira mereka akan dengan penuh semangat menjelaskannya padaku. Akan tetapi, mungkin hari ini misi utama mereka hanya untuk menyebar tabloid itu. Mereka belum siap melayani banyak pertanyaan.

Akupun menanggapi, “Oh, tapi seharusnya Bapak bisa dong membahas sedikit saja. Begini, Pak. Bapak meng-klaim di papan Bapak bahwa tabloid ini berdasarkan Alkitab. Bagaimana mungkin Bapak menyebut nama Alkitab di sini padahal yang Bapak ajarkan sama sekali bertentangan dengan Alkitab?”

Merasa tertantang olehku, salah seorang dari mereka akhirnya angkat bicara, “Tritunggal itu tidak ada di Alkitab, Mas. Makanya kami tidak percaya.” Aku kembali meragukan mitos tentang keahlian Saksi Yehuwa dalam hal Alkitab. Aku kira mereka akan memberikan argumen yang lebih biblikal dari itu sebab jawaban mereka barusan adalah tanggapan yang sangat mainstream diberikan oleh semua penolak Tritunggal. Itu adalah jawaban yang terlalu biasa dan tak kusangka Saksi Yehuwa juga menggunakannya. Tanggapan seperti itu mudah sekali ditemukan di internet dan tidak sulit untuk disanggah. Dan itulah yang kulakukan selanjutnya.

Akupun menjawab mereka, “Pak, Tritunggal tidak disebut di Alkitab tapi itu tidak berarti bahwa Tritunggal itu hanyalah konsep buatan manusia. Yesus sendiri berkata Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Ada tiga Pribadi Allah, Pak di sini. Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Mendengar aku menyebut Roh Kudus, aku yakin alarm hati mereka menyala. Mereka kemudian mengatakan, “Mas, firman Tuhan menyebutkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan kita harus percaya pada 2 Pribadi. Bapa dan Yesus, itu saja.” Aku kembali menanggapi, “Lalu di mana Roh Kudus, Pak?”

Roh Kudus itu hanya kuasa, Mas. Roh Kudus itu bukan pribadi.

Aku tentu saja tidak setuju. Aku mengingatkan kepada mereka mengenai firman Tuhan yang tercatat di Yohanes 14:16. Aku hanya menyampaikan isi ayatnya saja kepada mereka dan tidak bisa menyebut alamatnya di mana sebab aku tidak ingat. Aku rasa inilah salah satu faktor yang menyulitkanku untuk membuat mereka percaya.

Aku akan minta kepada Bapa,
dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,
supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Aku menekankan kepada mereka, “Penolong” dan “yang lain”. Penolong jelas-jelas bukanlah sekadar kuasa atau tenaga. Penolong itu menunjukkan personal yang bekerja untuk menolong. Penolong itu pribadi dan bukan kuasa. Tetapi mendengar perkataanku, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka. Mereka menolaknya.

Mereka kemudian berkata, “Mas, baca di Kisah Para Rasul 2 : 1-3, di situ tercatat bahwa Roh Kudus itu adalah kuasa yang memampukan mereka sehingga mereka bisa berbahasa dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.” Aku kaget dengan cara mereka memaknai firman tersebut karena sesungguhnya firman itu sama sekali tidak memberi penjelasan bahwa Roh Kudus adalah tenaga. Justru menurutku ayat itu malah menguatkan pemahaman bahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang berkarya di balik semua kejadian itu.

Akupun menanggapi, kali ini dengan lebih santai, “Pak. Nama-Nya Roh Kudus. Namanya saja sudah Roh. Roh itu pribadi Pak, bukan kuasa. Ketika Bapak menyebut Roh, otomatis yang Bapak maksud sudah pastilah seorang pribadi, bukan kuasa. Kalau kuasa, namanya bukan roh.” Aku yakin mereka menangkap dan mengerti apa yang aku maksud. Sebab Allah adalah Roh dan Allah itu Pribadi. Iblis-pun adalah roh dan iblis adalah sesosok pribadi. Sama halnya dengan roh manusia. Mungkin itulah yang mereka pikir di benak mereka sebab nampaknya mereka mulai goyah. Tapi sekali lagi mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil melengkungkan bibir mereka seperti sabit yang menandakan mereka tidak percaya pada argumenku.

Dari sikap tersebutlah, aku yakin bahwa mitos yang menyebutkan Saksi Yehuwa sebagai orang-orang yang ahli dalam Alkitab, sesungguhnya hanyalah omong kosong. Mereka tidak ahli dalam Alkitab, mereka hanya ahli dalam 2 hal:
Mereka ahli dalam menghafal ayat-ayat tertentu yang sudah menjadi template, dan
mereka juga ahli dalam menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka melanjutkan, “Mas itu harus belajar sejarah Tritunggal dulu baru bisa berbicara tentang Tritunggal.” Mereka kemudian berniat menguji aku, mereka meminta aku menjelaskan apa definisi Tritunggal. Mereka berkata, “Coba Mas. Coba Mas jelaskan dulu apa Tritunggal yang Mas tahu. Apa definisi Tritunggal Mas? Ayo coba!”

“Aslilah, gua dites!” kataku dalam hati. Mereka jelas-jelas memandangku sebagai orang yang tidak tahu menahu mengenai Tritunggal. Mungkin inilah yang ditanamkan kepada semua umat Saksi Yehuwa, yakni bahwasanya rata-rata orang Kristen sesungguhnya tidak banyak tahu mengenai doktrin Tritunggal sebab di gerejapun topik ini jarang sekali dibahas. Jelas sekali dari raut wajahnya mereka menyangka aku tidak tahu dan berharap aku segera melakukan kesalahan ketika aku mencoba mendefinisikan Tritunggal. Akupun menjawab:

Tritunggal adalah Allah yang hadir dalam 3 Pribadi, yakni Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah tetapi ketiga-Nya tidak membentuk tiga Allah melainkan satu Allah. Tiga Pribadi tetapi dalam satu Substansi.”

“Naaaahhh, Mas!!!” mereka memotong. Aku benar-benar kaget saat itu. Jangan-jangan aku sedang ngelantur selagi menjelaskan definisi Tritunggal. Aku balik bertanya, “Saya salah, Pak? Lalu apa yang benar?”

“Tritunggal itu adalah paham yang menganggap Bapa = Anak = Roh Kudus, Mas.”

Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan apa yang sebentar lagi menjadi reaksiku. Aku menjawab mereka, “Astaaagaaaaaa, Paaakkk. Tritunggal itu bukan itu, Paakkk.” Aku sama sekali tidak bermaksud merendahkan mereka. Reaksiku memang berlebihan, aku tahu itu. Tapi saat itu aku benar-benar kaget. Aku tidak menyangka bahwa mereka sebegitu-tidaktahunya tentang Tritunggal. Aku sangka pengetahuan mereka lebih baik dari itu tapi jawaban mereka menunjukkan betapa mereka sama sekali tidak tahu menahu mengenai konsep yang selama ini mereka perangi. Bagaimana mungkin memerangi konsep Tritunggal sementara apa itu Tritunggal saja mereka masih asal-asalan?

Rasa ibapun muncul di hatiku sebab aku rasa orang-orang ini benar-benar membutuhkan pertolongan. Mereka tidak berniat untuk menyesatkan atau menipu orang-orang. Motivasi mereka sebenarnya adalah tulus untuk mengenal Allah dan memperkenalkan Allah yang mereka percaya. Hanya saja iblis telah menipu dan menyesatkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka malah tidak mau mengenal Allah yang benar. Mereka anti akan pemberitaan kebenaran yang sejati yang disampaikan pada mereka. Oh, kita harus berdoa bagi keselamatan mereka, Teman-teman. Allah mengasihi mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka sedang perbuat.

Aku melanjutkan, “Pak, yang baru saja Bapak sebut itu namanya paham Unitarian. Bukan paham Tritunggal. Tuh kan Bapak saja sebenarnya tidak tahu mengenai Tritunggal ini tapi kok sudah berani mengajarkan kalau Tritunggal itu salah.” Dari raut wajah mereka, jelas sekali mereka mulai merasa terdesak.

Masih dalam perbincangan itu, aku tiba-tiba merasakan intervensi Allah. Sesuatu terjadi di dalam hatiku. Aku mulai merasakan mekarnya kasih, yang nampaknya belum ada sejak awal perbincangan kami. Wow, sensasi dari kasih itu benar-benar luar biasa. Aku tidak bisa menggambarkannya. Yang bisa kukatakan adalah kini aku memandang mereka dengan penuh kasih. Di hatiku, tumbuh kerinduan agar mereka percaya dan diselamatkan. Ini adalah tentang keselamatan mereka, ini adalah tentang mengenal Allah, dan bukan sekadar perdebatan mengenai doktrin Tritunggal.

Aku kemudian memandang salah seorang dari mereka. Aku memegang lengannya, dan berkata, “Pak, percayalah.” Wajah sang Bapak berubah menjadi lebih lembut. Aku seakan menangkap pancaran matanya yang seperti mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin untuk percaya pada apa yang kusampaikan. “Pak, firman Tuhan berkata, jika engkau mendengar suara-Nya, jangan keraskan hatimu. Pak, jangan keraskan hatimu. Aku mengatakan apa yang benar, Pak. Percayalah kepada Yesus Kristus. Keselamatan itu sudah tersedia, Pak asalkan kita percaya.”

Kemudian rekannya memotong apa yang kusampaikan, “Benar. Tapi kita harus percaya kepada Allah yang benar. Yesus itu bukan Allah. Yesus itu ciptaan.” Sekejap, Bapak yang baru saja kupegang, menjadi kuat kembali dalam keyakinannya. Ia menjauh dariku. Aku rasa inilah kekuatan dari berdua-dua. Mereka saling mendukung. Kita tidak bisa melakukannya sendirian, Kawan.

“Mas harus baca Kolose 1:15!” kata beliau. “Oke, Pak. Silakan yuk kita baca sama-sama.”
Akupun memegang pundak beliau, layaknya seorang teman.

Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,
yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

Si Bapak lagi-lagi asal mengartikan ayat Alkitab. Baginya, ayat ini menegaskan bahwa Yesus adalah ciptaan. Tetapi bagiku justru sebaliknya. Ayat ini menjelaskan bahwa Yesus adalah “yang sulung” dan Yesus lebih utama dari segala yang diciptakan dan itu sama sekali tidak menjelaskan bahwa Yesus diciptakan. Lagipula terusan dari ayat itu malah lebih jelas lagi menjelaskan ke-ilahi-an Kristus. Entah mengapa, hikmat itu seperti tertutup dari benak mereka.

Oleh sebab itu, alih-alih membahas panjang lebar di ayat yang mereka tawarkan, kali ini aku mengajukan ayat tawaranku sendiri. Aku meminta mereka untuk membuka Yohanes 17. Benar, aku mengatakan hanya Yohanes 17 sebab sesungguhnya aku lupa ayat yang mana. Tetapi walaupun begitu, ketika aku mengatakan ayat Alkitab seperti itu, mereka nampaknya cukup kaget. Mungkin mereka kaget karena tidak biasanya ada orang Kristen yang menghafal ayat Alkitab apalagi di car free day seperti ini. Teman-teman, nampaknya citra orang Kristen benar-benar sudah runtuh di benak Saksi Yehuwa. Mereka pasti mengira semua orang Kristen malas membaca Alkitab. Hendaklah ini menjadi teguran bagi kita semua.

Kamipun membaca bersama-sama Yohanes 17. Aku men-scan cepat perikop itu dan menemukan ayat yang kumaksud:

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
(Yohanes 17:5)

“Ini dia, Pak. Bapak tahu maksud ayat ini apa?” aku bertanya pada mereka. Bapak yang tadi aku pegang dengan kasih itu mulai menunjukkan wajah penasaran. Akan tetapi, Bapak yang satu lagi kemudian menanggapi, “Yesus itu mulia. Yesus memang mulia, Mas. Tapi dia bukan Allah.”

“Biarkan saya jelaskan dulu, Pak. Kalau kita membaca bahasa sebenarnya dari ayat ini, maka kita akan mengerti, sebab apa yang ayat ini sebenarnya maksudkan adalah seperti ini:

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang SAMA-SAMA Aku dan Engkau miliki sebelum dunia ada.”

Aku menegaskan kepada mereka bahwasanya kemuliaan yang Yesus maksud dalam ayat ini adalah kemuliaan yang sama-sama dimiliki oleh Bapa dan Anak. Bapa tidak memiliki kemuliaan itu sendirian. Anakpun memilikinya bersama-sama dengan Bapa. Kemuliaan yang dimiliki Anak dan Bapa sebelum dunia ada adalah kemuliaan yang sama, yang satu, yang dimiliki secara bersama-sama. Dengan demikian, ayat ini menjelaskan keilahian dari Kristus. Dan ini berarti Yesuspun adalah Allah bersama-sama dengan Bapa. Mendengarkan penjelasanku, mereka terlihat kehabisan sanggahan. Dan sekali lagi, entah mengapa, keduanya kembali melakukan hal itu. Mereka kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil melengkungkan bibir.

Dan kau tahu apa?
Setelah kira-kira 30 menit panjang lebar membahas Tritunggal, mereka kembali berkata:
Mas, Tritunggal tidak ada tertulis di Alkitab!!!

Aku serasa dilempar dari langit ketujuh dan dibanting hingga ke tubir laut. Lalu apa yang daritadi kami perbincangkan? Apa gunanya semua pembahasan itu kalau-kalau mereka pada akhirnya kembali berkeras hati dan mengatakan bahwa Tritunggal itu tidak ada tertulis di Alkitab.

Tanpa menyerah, akupun kembali ke argumen awalku, “Pak, sekalipun tidak secara terang-terangan tercantum di Alkitab, itu bukan berarti Tritunggal itu tidak benar. Lagipula, ada banyak hal di dunia ini yang sekalipun tidak ada di Alkitab tapi benar-benar ada. Jadi kita tidak bisa memakai argumen seperti itu untuk menyanggah Tritunggal, Pak.”

Akan tetapi akhirnya beliau berkata, “Yasudahlah, Mas. Kita ga bisa melanjutkan perbincangan ini”. Beliau akhirnya pergi meninggalkanku dan berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain yang daritadi menonton perdebatan di antara kami bertiga. Aku hanya bisa terdiam bersama hatiku yang campur aduk. Aku tidak bisa memikirkan hal lain. Yang tersisa hanya serpihan kecil kasih yang Allah boleh tanamkan di dalam hatiku dan kasih itu yang akhirnya menggerakkanku untuk berkata:

“Pak, saya berdoa semoga Bapak pada akhirnya akan mengenal Allah yang sebenarnya.”

Aku tulus mengatakan hal itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan perjalananku pulang dengan perasaan yang tidak bisa kugambarkan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang hendak aku maksudkan di balik semua ini, Teman-teman?

Maksudku adalah ini:
MILIKILAH KASIH!

Allah mengasihi semua umat manusia. Allah tidak menghendaki kebinasaan manusia ciptaan-Nya. Allah ingin manusia mengenal Dia. Tetapi apa yang terjadi? Iblis tidak henti-hentinya melakukan segala cara untuk menyesatkan umat manusia. Iblis bekerja mati-matian, hari demi hari, agar sebisa mungkin tidak ada orang yang diselamatkan. Allah sangat mengasihi seluruh manusia tetapi iblis sebegitu besarnya ingin membunuh, membinasakan, dan memusnahkan iman kita hingga hancur lebur.

Dan untuk itulah kita diutus. Milikilah kasih sebab kita sudah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Kasih itulah yang memampukan kita berperang melawan iblis. Kasih itu yang mendorong kita untuk memberitakan kebenaran kepada setiap orang.

Saksi-saksi Yehuwa ini, oh, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sungguh, niatan mereka adalah mengenal Allah tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka mengabaikan Penebus mereka dan menjadikan-Nya tidak lebih dari manusia biasa. Mereka menutup mata kepada Roh Kudus, Sang Penolong yang sangat rindu menolong mereka, dan mereka hanya menganggap-Nya sebagai tenaga aktif Allah.

Janganlah kita membenci mereka. Bencilah iblis, bencilah dosa tetapi kasihilah Saksi-saksi Yehuwa. Kasihilah orang-orang berdosa dan berdoalah untuk keselamatan mereka. Lebih dari itu, berdoalah agar keselamatan itu Allah kerjakan juga melalui perantaraan setiap kita sebab memang untuk itulah kita diutus.

Dan jangan pernah lupakan, hendaknya firman Tuhan ada di dalam hati setiap kita. Bacalah firman Tuhan sebab firman itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Allah sendiri. Firman itulah makanan dan yang menjadi penuntun kita. Tidak hanya itu, mengenal dan memahami firman Tuhan akan memberikan modal lebih untuk menolong rekan-rekan yang belum percaya. Bagaimana Saksi-saksi Yehuwa mau percaya kepada kita jika pengetahuan Alkitab kita tidak lebih baik dari mereka? Bagaimana mereka bisa dibebaskan dari pemahaman yang salah yang selama ini mereka pegang jika kita tidak memahami firman itu? Bukankah kita dipersiapkan untuk itu? Bukankah kita diutus untuk membebaskan orang-orang tawanan?

Terakhir, mari sekali lagi kita merenungkan ayat ini:

Saksi Yehuwa di Car Free Day
Setialah di dalam Tuhan, Teman-Teman
Aku berdoa untukmu, berdoalah juga untukku
Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

11 thoughts on “Bertemu Saksi Yehuwa di Car Free Day

  1. soal tritunggal. saya mau menanggapi akan pernyataan kamu yg menyatakan tritunggal itu adalah 3 pribadi Allah tapi satu substansi. saya tidak menolak dengan kebenaran 3 pribadi itu, tapi utk 1 substansi. hmmm, saya agak ragu. Allah itu Roh, dan Roh Allah bukanlah substansi, karena kalo bahas substansi ini erat kaitannya dengan ‘materi ciptaan’ spt manusia & alam semesta, dan saya yakin kamu setuju bahwa Allah itu bukan ciptaan spt kita manusia. saya lebih setuju kalau yg kamu maksudkan adalah ‘1 hakikat’ ataupun peran yaitu ketiganya adalah Allah. thx

    • Mas djblack

      Baik Mas, saya setuju
      Ini hanya masalah term saja menurut saya

      Istilah yang lebih banyak dipakai untuk menyebut kata yg Mas maksud dengan “hakikat” adalah SUBSTANSI.
      Mas bisa melihatnya dari banyak sumber di mana kata substansi memang dipakai

      Dalam hal ini, tentu saja substansi tidak diartikan semata-mata hanya materi atau ciptaan, Mas.
      Tapi kalau dalam definisi Mas substansi = materi, ya saya anjurkan Mas tetap pakai istilah Mas tadi saja, hakikat

      Hanya masalah bahasa saja Mas
      Anyway, terima kasih atas masukannya

      Tuhan Yesus Memberkati

  2. Richard,makasih ya utk tulisannya.
    Inspiratif,khususnya utk smakin mnggali firman Tuhan & ngafalin ayat2 alkitab.
    Tuhan berkati.

  3. thanks kak Richard, sngt memberkati dan mengingatkan aku utk punya dorongan lebih lg bwt kenal Tuhan lebih dn lebih lg 🙂
    btw ka, itu yg kka baca ayat” dr mereka,, ayat” dr kitab mereka sm alkitab kt bnyk yg diubah loh ka, jd jgn sampai kt terkecoh ya.. 🙂 GBU

    • Joy, mengingat betapa pentingnya pengertian akan Allah Trinitas, saran saya sblm memutuskan setuju atau tidak setuju, kita perlu memberikan usaha yg sesuai.

      Kita bs baca Alkitab, kita bs baca banyak buku, dan artikel2 teologi utk bs mengenal pemahaman yg benar.

      Tp pada akhirnya, pengetahuan sprti ini akan dimengerti sbagaimana seharusnya menurut kehendak Allah hanya jika Roh Kudus menerangi pikiran kita (1 Korintus 2:14).

      • Saya tidak memaksakan apa yang saya percayai kepada Anda. Jadi jangan paksakan juga apa yang Anda percayai kepada saya.

  4. Terima kasih atas tulisan yang amat indah

    Saya amat setuju dengan pandangan saudara tentang saksi yehuwa bahwa mereka juga harus dikasihi sama seperti diri kita sendiri.

    Dengan cara yang paling lembut dengan keteladanan hidup rohani kita sebagai orang kristen semoga mereka dapat menemukan kebenaran

  5. Kak saya juga pernah. Pas lagi di pasar baru, saya melihat tulisan “silahkan ambil gratis” dibawahnya banyak buku. Saya jadi tertarik (maklum anak asrama nggak banyak duit) saya ambil buku alkitab untuk anak. Lalu salah satu nyamperin. Mereka kaya ngejelasin isi buku itu sekalian ngasih brosur wesite mereka. Sampe di asrama saya dibilang sama pengurus asrama kalo website itu sesat. Saya baca buku itu saya ketemu yehuwa jadi saya bingung. Langsung saya cari di internet tentang website itu. Ternyata sesat beneran. Untuk saya belum sempat buka buka websitenya jehova witness.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s