Mengapa Kekristenan itu Benar?

Mengapa Kekristenan itu Benar?

Aku rasa pertanyaan terbesar dan paling membingungkan sepanjang masa adalah
“Siapakah Tuhan?”

Dan kita tahu bahwasanya cara manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan mempelajari agama. Tetapi coba tebak, ada banyak sekali agama. Dan jika demikian, bagaimana umat manusia bisa memegang kesimpulan bersama mengenai siapa itu Tuhan jika manusia yang satu tidak memeluk agama yang sama dengan manusia yang lain?

Sayangnya, mainstream yang ada saat ini lebih mengedepankan bagaimana mengorek dan membeberkan kesalahan-kesalahan agama lain. Aku tidak akan melakukan hal itu di sini sebab aku yakin iman Kristen tidak membutuhkan semua itu untuk menyatakan kebenarannya. Iman Kristen tidak berdiri di atas fakta-fakta yang membeberkan kesalahan agama lain melainkan di atas kebenaran yang sejati. Kebenaran yang sejati tidak harus capek-capek membuktikan kesalahan pesaingnya tetapi kebenaran yang sejati pasti akan menunjukkan kebenaran dirinya. Kebenaran akan membela dirinya dengan kebenaran itu sendiri. Kesalahan akan menghancurkan dirinya dengan kesalahan itu sendiri.

Di sini aku hanya akan membukakan satu hal dari sekian banyak alasan mengapa Kekristenan itu benar. Aku tidak akan membukakan kesalahan-kesalahan agama lain. Tulisan ini sama sekali bukan untuk menyerang siapapun yang berbeda keyakinan denganku. Izinkan aku menarik analogi bahwa apa yang aku lakukan di sini adalah sama dengan kawan-kawanku, umat Muslim, yang lima kali dalam sehari mengumandangkan adzan. Adzan itu tidak hanya didengar oleh umat Islam saja tetapi didengar oleh semua orang, termasuk aku dan tentu saja aku tidak merasa tersinggung atau terserang dengan hal itu. Nah, apa yang kutulis di sini adalah sama dengan itu. Aku mem-post ini ke dunia maya tanpa niat merendahkan keyakinan siapapun dan siapapun berhak membaca maupun mengabaikannya tanpa perlu merasa tersinggung olehnya.

Setuju?
OK, mari kita mulai!
Lalu, menurut Kekristenan, siapa itu Tuhan?

Kami percaya pada satu Tuhan, yakni Allah Tritunggal.
Satu sebagai keberadaan (being) di dalam tiga Pribadi, yakni Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Di mana Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang berbeda dan ketiganya adalah Allah tetapi masing-masing tidak membentuk tiga Allah melainkan Satu Allah di dalam natur-Nya.

Bagi semua orang, bahkan bagi orang-orang Kristen sekalipun ini bukanlah konsep yang mudah dimengerti. Tetapi sejarah dan ilmu pengetahuan telah mengajarkan kepada kita semua bahwa jika suatu konsep sangat sulit dimengerti, bukan berarti konsep itu adalah konsep yang salah. Lagipula, hal yang membuat konsep ini begitu sulit adalah cara kita memahaminya. Kita terlalu terpaku pada satu metode pemahaman. Kita mencoba memahaminya dari sudut pandang matematika dan berkata bahwa tidak mungkin “3=1” dan “1=3”. Kita tidak mengerti lalu kita menolak dan akhirnya menganggap konsep itu salah. Padahal seharusnya tidaklah demikian.

Tidak. Jika satu metode pemahaman tidak bisa membuat kita mengerti, kita harus mencoba metode pemahaman yang lain. Jika satu sudut pandang membutakan kita untuk melihat, kita perlu mencoba melihatnya dari sudut yang lain. Itulah mengapa banyak orang berkata jika kau tidak bisa memecahkannya, cobalah berpikir out of the box. Dan camkan ini, matematika dan ilmu alam tidak akan bisa membuatmu mengerti sepenuhnya akan Dia. Dia bukan angka, Dia bukan materi, Dia adalah Pribadi. Oleh sebab itu, jangan pakai sudut pandang matematika, melainkan cobalah melihat Dia dari sudut pandang pribadi. Dan berikut adalah metode yang kutawarkan untuk menuntun pemahaman kita. Aku mengawali semua ini dengan satu pernyataan, yakni kita percaya bahwa:

(1)
 Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

OK, kita bungkus pernyataan pertama karena aku yakin tak seorangpun menentang ini kecuali ateis. Nah, seandainya kita menolak konsep Allah Tritunggal dan memilih untuk memegang keyakinan bahwa Tuhan itu Esa dalam artian Satu Pribadi, maka kita bisa menarik pernyataan kedua:

(2) Sebelum Tuhan menciptakan segala sesuatu, bahkan waktupun belum ada, Dia sendirian

Pernyataan pertama dan kedua nampaknya mudah untuk dimengerti oleh kita semua. Tetapi untuk mengenal siapa Tuhan yang benar, kita harus mengawinkan kedua pernyataan itu. Masing-masing pernyataan tidak boleh hanya benar apabila berdiri sendiri tetapi juga harus benar setelah keduanya digabungkan. Tetapi apa yang terjadi? Bisakah engkau menggabungkan kedua pernyataan itu? Aku menemukan kesulitan di sini. Tanda tanya besar muncul di dalam benakku:

Kalau benar Dia adalah Maha Pengasih dan Dia sendirian pada mulanya,
lalu siapa yang Dia kasihi sebelum Dia menciptakan segala sesuatu?

Engkau tidak bisa mengatakan bahwa Dia mencintai malaikat sebab pada saat itu malaikat belum ada. Engkau juga tidak bisa mengatakan bahwa Dia mencintai manusia, apalagi iblis, sebab manusia belum diciptakan pada mulanya. Satu-satunya hal yang bisa engkau ucapkan adalah:
(3) Pada mulanya, sebelum segala sesuatu ada, Dia mengasihi Diri-Nya sendiri

Sebagian orang mungkin tidak akan merasa janggal dengan jawaban tersebut. Tetapi izinkan aku untuk memperjelasnya. Pada mulanya, Tuhan belum menciptakan waktu. Pada saat itu, waktu belum ada. Belum ada yang namanya cepat atau lambat. Belum ada yang namanya dulu dan sekarang. Belum ada yang namanya lama atau sebentar. Satu-satunya yang ada hanyalah KEKEKALAN.

Dengan demikian, izinkan aku membahasakan ulang pernyataan sebelumnya menjadi:
(4) Pada mulanya, alias pada KEKEKALAN, Dia hanya mengasihi Diri-Nya sendiri

Aku punya dua hal mengenai ini. Pertama, aku tidak setuju bahwa Dia hanya mengasihi Diri-Nya sendiri pada mulanya. Bagaimana mungkin Dia menyebut diri Maha Pengasih jika Dia hanya mengasihi diri sendiri saat itu. Satu-satunya kesimpulan yang bisa ditarik di sini adalah bahwa sebelum segala sesuatu diciptakan berarti Dia belum menjadi Maha Pengasih dan setelah Dia menciptakan segalanya dan mengasihi ciptaan-Nya, barulah Dia bisa disebut Maha Pengasih. Tapi apakah itu benar?

Dan kedua, kini kita diperhadapkan oleh realitas kehidupan manusia. Umur kita, paling-paling hanya bisa mencapai sekitar 70-an tahun. Apakah 70 tahun itu lama atau sebentar? Itu relatif. Yang jelas, tujuh puluh tahun itu tidak ada apa-apanya dibanding kekekalan.

Katakanlah aku diizinkan Tuhan untuk hidup sampai 70 tahun. Dan aku berkata pada diriku sendiri:
“Aku hanya punya 70 tahun untuk hidup.
Aku akan menggunakan semuanya hanya untuk mengasihi diriku sendiri.
Dan tidak akan kusia-siakan satu detikpun waktuku untuk mengasihi orang lain.”

Apakah perkataanku adalah perkataan yang baik? Engkau pasti akan berkata tidak. Mana boleh manusia berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Mana boleh manusia mengasihi dirinya sendiri saja dan melupakan manusia yang lain? Tidak hanya manusia yang akan mengatakanku bersalah, Tuhanpun pasti akan mengatakan bahwa aku telah salah. Tetapi di manakah letak kesalahanku? Apakah aku salah jika aku berpikir:

“Sedangkan Tuhan di dalam KEKEKALAN saja, hanya mengasihi Diri-Nya sendiri,
kok aku, yang cuma punya 70 TAHUN SAJA, ga boleh mengasihi diriku sendiri?

Bukankah kita harus meneladani Tuhan kita? Jika Tuhan saja mengasihi Diri-Nya sendiri di dalam kekekalan, berarti kitapun seharusnya boleh mengikuti Dia dengan cara hanya mengasihi diri kita sendiri di dalam tahun-tahun kita yang pasti jauh lebih singkat jika dibandingkan kekekalan.

Lalu, bagaimana jika pemikiran seperti itu dimiliki oleh semua umat manusia? Bagaimana jika semua manusia hanya mencintai dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang lain? Bukankah dunia ini akan musnah dan semua manusia akan dinista oleh Tuhan sebab mereka hanya mengasihi dan mementingkan diri sendiri tanpa mengasihi orang lain? Tetapi mengapa Dia menista kita jika pada mulanya, sebelum Dia menciptakan segala sesuatu, Diapun melakukan hal yang sama, yakni hanya mengasihi Diri-Nya sendiri?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana Anda keluar dari pertanyaan-pertanyaan itu?

Atau bagaimana jika kukatakan pada engkau bahwa engkau tidak perlu memusingkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tentu saja pertanyaan itu sama sekali bukanlah masalah jika dari semula kita percaya bahwa Tuhan itu adalah Allah Tritunggal.

Di dalam NATUR-NYA, Tuhan itu ESA,
tetapi di dalam PRIBADI-NYA, Tuhan itu KOMUNITAS.

Dia Maha Pengasih?
Yes.

Dia sendirian?
No.

Siapa yang Dia kasihi?
Kasih terjalin sejak mulanya di antara Tiga Pribadi dalam Satu Allah. Dan di dalam kasih itu, Allah ingin menciptakan manusia dan ingin agar manusia bisa memiliki hubungan yang intim dengan-Nya serta bersatu dalam hubungan kasih antara Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.

Dan kasih yang sejati, yang tidak mementingkan diri sendiri, dan yang tidak cemburu hanya akan ada di dalam suatu komunitas dan bukan di dalam individualitas. Itulah sebabnya, di dalam hati semua manusia tak terkecuali seorangpun, ada rasa haus akan unity in diversity. Itulah sebabnya, mengapa natur alami manusia adalah makhluk sosial yang tidak boleh dan tidak mungkin bisa hidup dengan hidup seorang diri. Itulah mengapa semua orang akan menginginkan adanya relasi.

Mengapa bisa demikian? Sebab hakekat Allah pada dasarnya adalah Maha Pengasih dan Social Being (sosial = komunitas) dan di dalam kesatuan Tritunggal terjalin relasi dan unity in diversity. Dan karena manusia adalah gambaran dari Pencipta-Nya, maka di dalam diri manusia sesungguhnya telah tertanam kode-kode yang mengandung informasi-informasi “genetik” dari Tuhan yang memiliki semua sifat itu.

Dunia dan sejarah membuktikan bahwa ada tiga hal yang terutama dan yang dibutuhkan oleh dunia ini, yakni kasih, komunikasi, dan kesatuan. And guess what? Ketiga hal tersebut sudah ada sejak pada mulanya sebab ketiganya terjalin di dalam Allah Tritunggal yang Esa di dalam Natur tetapi Komunitas di dalam Pribadi.

Kau haus akan kasih, aku haus akan kasih.
Kau rindu akan relasi, aku rindu akan relasi.
Kau butuh komunikasi, aku butuh komunikasi.
Mengapa itu ada di dalam natur kita? Sebab itu adalah natur dari Pencipta kita.

Dan satu-satunya penjelasan yang menjelaskan bagaimana hal itu bisa menjadi natur-Nya
adalah jika Tuhan yang benar adalah Allah Tritunggal

Aku berdoa bagi kita semua
Semoga Tuhan, di dalam kasih-Nya yang besar pada kita, memperkenalkan Diri-Nya pada kita secara pribadi
Sebab jika kita tidak mengenal-Nya, bagaimana kita akan sayang pada-Nya?

Amin

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa Kekristenan itu Benar?

  1. Tulisan yang sangat bagus kak 😀

    Tapi kak saya ingin bertanya, jika kekristenan itu benar, mengapa dalam tulisan kakak tidak disematkan satu pun ayat dari bible yang berhubungan dengan tulisan kakak ? (atau saya yang gak ngeliat ya )

    Karena menurut saya, kalau tidak ada sumber pendukung dari Al-Kitab, saya bisa saja menyatakan agama – agama lain itu benar dengan jalan berfikir kakak.

    • Halo Harsyim, terima kasih atas tanggapannya 🙂

      Tujuan saya tidak menambahkan ayat Alkitab adalah karena saya ingin membuktikan bahwa common sense manusiapun akan membuktikan kebenaran Kekristenan Dek

      Kalau saya mengangkat suatu ayat dari Bible, maka orang2 dari agama lain tentu akan dengan mudah menolak dan berkata “Loh itu kan menurut kitabmu, kitabku tidak berbicara seperti itu kok!”

      Tetapi kalau kita membahas common sense, maka tidak ada beda agama satu dengan agama lain, tapi kita sama-sama sebagai manusia.

      Dan common sense itu adalah:
      “Bagaimana mungkin Tuhan menjadi Maha Pengasih kalau pada mulanya Dia hidup sendirian saja?”

      Hanya Kekristenan yang bisa menjelaskan hal tersebut, please CMIIW

      Dan kalau Harsyim tertarik membaca ayat-ayat Alkitabnya, saya juga sudah pernah membahas hal itu dengan ayat2 Alkitab di artikel lain di blog ini, silakan gunakan kolom “search” dan masukkan kata kunci “Tritunggal”, adek bisa menemukannya di situ

      Well, semoga berguna yah Dek

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s