2. Ketika Seorang Kuat Jatuh Cinta

2. Ketika Seorang Kuat Jatuh Cinta

Pertama-tama aku meminta maaf sebab judul yang tertera di atas, sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan pesan yang sebentar lagi akan kita pelajari bersama. Aku hanya berpikir, “Ya sepertinya judul ini bagus” sehingga aku menjadikannya judul. Mungkin seharusnya aku mengganti judul itu dengan:
Ketika Seorang Kuat Jatuh dalam Cintanya

Oh maaf, itupun belum cukup akurat. Inilah pesan yang sebenarnya aku maksud:

Ketika seorang kuat jatuh pada apa yang dia kira sebagai cinta

Suatu kali Simson pergi ke Timna. Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan Simson di teritori musuh itu. Yang aku tahu adalah dia seharusnya tidak melakukan apa yang sebentar lagi dia perbuat, jatuh cinta kepada seorang wanita Filistin. Iapun menghadap kepada kedua orangtuanya dan berkata:

“Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin.
Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.” (Hakim-hakim 14:2)

Orangtua Simson tentu saja menolak permintaannya. Perkawinan campur antara bangsa Israel dengan penduduk asli tanah Kanaan adalah hal yang sangat ditentang oleh Allah. Allah ingin bangsa-Nya memisahkan diri dari bangsa-bangsa lain sebab interaksi dengan mereka hanya akan membawa Israel lebih dekat kepada dewa-dewa pujaan mereka dan berakhir pada penyembahan berhala. Larangan ini dicatat di Yosua 23:11-13.

Sebab jika kamu berbalik dan berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini yang masih tinggal di antara kamu, kawin-mengawin dengan mereka serta bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu, maka ketahuilah dengan sesungguhnya, bahwa TUHAN, Allahmu, tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu dari depanmu.

Tetapi mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

Sebagai seorang nazir Allah, Simson pasti tahu benar mengenai peraturan tersebut dan firman Tuhan juga mencatat bahwa hal yang sama juga ditekankan oleh orangtuanya. Akan tetapi,  bagaimana Simson menanggapi firman Allah dan perkataan orangtuanya itu? Dia berkata:

Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.” (Hak. 14:3)
Get her for me. She’s the right one for me.” (NIV)

Simson tidak peduli. Simson melupakan perintah Allahnya. Simson menjadi buta oleh cintanya sendiri. Simson baru saja melihat wanita itu loch tetapi dia sudah menyimpulkan bahwa wanita itulah yang benar untuk dia. Simson belum mengenal siapa wanita ini dan bagaimana dia bersikap, tetapi Simson sudah jatuh hati kepadanya. Simson bersedia menukar Allah yang dia kenal sejak kecil dengan wanita Filistin yang bahkan belum dia kenal. Betapa bodohnya lelaki kuat yang satu ini.

Bagi Simson, yang paling penting adalah:
Aku mau dia!
Aku butuh dia!
Aku harus memiliki dia!
Aku cinta dia!
Aku tidak peduli apapun kecuali memiliki dia saat ini juga!

Bagi Simson, wanita itu adalah pujaan hatinya. Simson menyukai wanita itu dan menganggap apa yang dia rasakan sebagai cinta. Tetapi apakah benar itu cinta? Apakah Simson mengalami apa yang orang banyak sebut sebagai cinta pada pandangan pertama? TIDAK. Aku yakin tidak. Apa yang Simson rasakan bukanlah cinta, melainkan hawa nafsu. It’s not LOVE, It’s LUST.

Dan itulah yang dilakukan oleh Simson, seorang nazir Allah. Itulah yang dilakukan oleh seorang pria, yang dianugerahi potensi yang begitu besar untuk menciptakan suatu perubahan di dunia ini. Itulah yang dilakukan oleh lelaki yang telah diberkati luar biasa oleh Allah dengan hukum yang jelas, visi yang jelas, dan kekuatan yang luar biasa besar, tetapi yang ditaklukkan oleh “cinta”-nya sendiri.

Tetapi cerita cinta ini belum berakhir. Suatu hari pergilah Simson bersama kedua orangtuanya ke Timna. Ketika mereka berada di daerah kebun-kebun anggur, nampaknya Simson terpisah dengan ayah dan ibunya. Sendirian, tiba-tiba datanglah seekor singa menyerang Simson. Lalu apa yang terjadi? Mimpi buruk bagi singa tersebut sebab dengan kekuatan Allah Simson mampu mencabik-cabiknya seperti orang yang mencabik anak kambing.

bible, samson, true freethinker, apologetics,,

Ada hal yang menarik di sini. Alkitab menambahkan keterangan bahwa Simson tidak menceritakan kejadian itu kepada kedua orangtuanya. Mengapa dia tidak menceritakannya? Karena Simson baru saja melanggar satu hukum kenaziran. Benar, Simson baru saja memegang bangkai yang tidak lain adalah bangkai dari singa yang dibunuhnya.

Simson tahu bahwa dia telah melanggar hukum. Simson tahu dia sedang berada dalam keadaan najis tetapi dia tidak mau menceritakannya kepada orangtuanya. Aku tidak tahu sepenuhnya alasan mengapa Simson merahasiakannya tetapi apapun alasan Simson, dia jelas-jelas melawan kehedak Allah sebab di ayat-ayat berikutnya tidak disebutkan sama sekali itikad baik Simson untuk melakukan ritual penebusan dosa karena telah memegang bangkai (baca Imamat 5).

Seperti anjing kembali ke muntahnya,
demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.
~ Amsal 26:11

Tanpa niat menghakimi, aku rasa ayat itu benar-benar cocok untuk menggambarkan Simson. Lelaki ini tidak belajar dari kesalahannya sebelumnya, malahan kembali melakukan kesalahan yang sama. Setelah beberapa waktu, Simson kembali ke Timna untuk bertemu dengan wanita Filistin itu. Di perjalanan, dia ingin melihat seperti apa bentuk dari bangkai singa itu setelah ditinggalkannya. Dan entah ada angin apa, kini bangkai itu menjadi sarang lebah dan sarang madu. Kau tahu apa yang melintas di benak Simson saat melihatnya? Simson lagi-lagi dilanda oleh HAWA NAFSU.

Aku mau madu itu!
Aku butuh madu itu!
Aku harus memiliki madu itu!
Aku tidak peduli apapun kecuali memiliki madu itu saat ini juga!

Bersama hawa nafsunya yang meledak-ledak dan tak terkendali, Simson seperti kehilangan akal sehatnya. Dia kemudian mendatangi bangkai itu, mengusir lalat yang beterbangan, menggeser beberapa daging busuk dan belatung sehingga dia bisa meraih madu tersebut, persis seperti orang yang ingin mengambil buah durian. Dikeruknya madu itu ke dalam tangannya dan sambil memakannya, ia berjalan terus. Sesampainya kepada ayah dan ibunya, Simson memberikan madu itu kepada mereka. Simson sekali lagi menyembunyikan fakta bahwa dia baru saja, dalam keadaan sadar, jelas-jelas menyentuh bangkai yang najis itu dan bukan cuma itu, dia juga turut menajiskan kedua orangtuanya yang memakan madu itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sekarang mungkin dua pertanyaan besar timbul di benak kita semua. Izinkan aku mengangkat keduanya di sini.

Orang bodoh macam apa yang sekalipun diberkati sedemikian melimpahnya tetapi rela menyangkal Allahnya hanya demi seorang wanita penyembah berhala yang bahkan baru saja dilihatnya?

Orang bodoh mana yang walaupun telah dianugerahi potensi yang luar biasa tetapi berani menentang Allah dan melanggar sumpah nazirnya hanya demi madu bodoh yang menjijikkan?

Pertanyaan itu sangat relevan untuk dipertanyakan dalam hal Simson ini, bukan? Tetapi camkan ini dengan baik, izinkan aku menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan satu jawaban untuk mewakili kita semua. Kita bertanya, “orang bodoh macam apa, orang bodoh mana?”, dan jawabannya adalah:

…KITA SEMUA…

Benar, kita semua menggambarkan Simson itu. Kita semua adalah Simson-Simson masa kini. Kita telah diberkati luar biasa oleh Allah, tetapi ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang, kita melupakan Dia. Kita menendang Dia dari tahta tertinggi dalam hati kita kemudian mempersembahkan bangku kosong itu untuk sebuah benda atau untuk seorang manusia yang berdosa.

Aku mau dia menjadi pacarku!
Aku mau gadget itu!
Aku harus mendapatkan nilai A!
Aku harus menjadi presiden!
Aku harus terkenal!
Aku harus menang!

Aku menginginkannya!
Aku haus akannya!
Aku membutuhkannya!
Aku mencintainya!
Tuhan jangan halangi aku, berikan itu padaku, serahkan itu padaku sekarang!!!

 

Hati-hati menyebut sesuatu sebagai cinta. Sangat besar, bahkan terlalu besar, kemungkinan apa yang kita kira sebagai cinta bukanlah cinta melainkan HAWA NAFSU. Hawa nafsu tidak selalu melibatkan hal-hal seksual. Kita bisa berhawa nafsu akan uang, jabatan, prestasi, pengakuan, ketenaran, bahkan pelayanan. Hawa nafsu melibatkan segala hal, yang untuk mendapatkannya, kita menjadi kehilangan akal sehat dan pengendalian diri.

Hawa nafsu melibatkan segala hal,
yang apabila kita tidak bisa memilikinya, maka kita kehilangan sukacita.

Adalah suatu hal yang lucu dan amazing ketika kita melihat seseorang yang begitu terobsesinya akan sesuatu atau seseorang, sampai-sampai orang itu melakukan hal-hal yang bodoh. Apabila kau menceritakan padaku kisah-kisahmu saat kau dilanda hawa nafsu, aku pasti akan berkata padamu, “Bro, bagaimana mungkin kau bisa sebodoh itu?” Dan apabila aku menceritakan kisahku padamu, kaupun pasti akan berkata, “Richard, aku tidak percaya kau bisa sebodoh itu!”

  • Sara melakukan kebodohan karena di dalam hawa nafsunya untuk memiliki anak, ia kehilangan akal sehat dan merelakan suaminya untuk bersetubuh dengan Hagar, budaknya.
  • Esau melakukan kebodohan karena di dalam hawa nafsunya untuk mendapatkan masakan kacang merah buatan Yakub, ia kehilangan akal sehat dan merelakan hak kesulungannya.
  • Rahel melakukan kebodohohan karena di dalam hawa nafsunya untuk memiliki anak, ia iri pada Lea, kakaknya, dan merelakan suaminya untuk bersetubuh dengan Bilha, budaknya.
  • Simson melakukan kebodohan, Daud melakukan kebodohan, Salomo melakukan kebodohan, dan banyak kisah bodoh lain sedang berlangsung hingga hari ini

Banyak orang berkata bahwa “Semua orang bodoh dalam hal cinta.” Akupun pernah setuju akan hal itu dan menjadikannya pembenaran untuk melakukan hal-hal bodoh yang kusangka adalah cinta. Kini dengan berani dan yakin aku menentang hal itu. Itu bukan cinta, itu hawa nafsu. Cinta sejati tidak membuatmu bodoh dan kehilangan kendali. Allah sangat mengasihi manusia tetapi Dia menahan diri untuk tidak buru-buru mengambil umat-Nya dari dunia ini.

Cinta tidak membuat bodoh. Apa yang membuatmu bodoh sebenarnya adalah hawa nafsumu. Hawa nafsu yang membuatmu mengikuti keinginanmu sendiri dan mengabaikan Allah. Hawa nafsu yang menimbulkan pembenaran diri dalam hatimu sehingga kau pikir menonton film-film komedi romantis berbumbu seks adalah hal yang menyenangkan hati Allah. Hawa nafsu yang membuatmu mengabaikan kesehatan demi mendapatkan nilai yang baik atau karir yang tinggi yang pada akhirnya tidak akan kau kenang dalam masa tuamu. Hawa nafsumu yang membuatmu membeli semua gadget yang kau inginkan, atau berlibur kemana saja kau mau, tetapi ketika melihat orang miskin engkau enggan memberi seribu rupiahpun. Uangmu bukan milikmu, Teman!

Aku percaya bahwasanya untuk menjadi seorang pemimpin sejati, kita harus memiliki kedisiplinan dalam dua hal, yakni DISIPLIN WAKTU dan DISIPLIN HATI. Dan karena mata adalah jendela hati, maka untuk mendisiplinkan hati, kita harus terlebih dahulu MENDISIPLINKAN MATA kita. Yesus berkata jangan sampai mata itu menyesatkan kita dan Dia memberikan kiasan bahwa adalah lebih baik mata itu dicungkil saja daripada mata itu menyesatkan seseorang.

Aku tidak tahu seberapa disiplin Simson dalam hal waktu tetapi aku punya dugaan yang kuat Simson tidak mendisplinkan matanya. Dan coba tebak! Semua hal di atas barulah awal dari kejatuhan Simson Sang Nazir Allah.

Lalu bagaimana dengan kita masing-masing? Sudahkah kita menjaga hati kita? Sudahkah kita mendisiplinkan mata kita? Sudahkah kita menjadikan Dia sebagai Allah dan Raja di dalam tahta hati kita? Ataukah kita terus menerus melakukan kesalahan yang sama?

Apakah kita sedang menginginkan seseorang atau sesuatu dengan begitu bernafsunya sampai-sampai kita tidak bisa merasakan sukacita sebelum bisa mendapatkannya? Dan bagaimana jika kita mengingat-ingat segala hal yang terjadi di masa lalu. Bisakah kita mengingat momen-momen di mana kita penuh hawa nafsu dan merasionalkan segala sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan kini kita bisa berkata bahwa itu semua bodoh? Mari, kita bercermin dari kisah ini!


~Bersambung ke: Ketika Seorang Kuat Sombong dan Emosional

Advertisements

3 thoughts on “2. Ketika Seorang Kuat Jatuh Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s