Maaf, Tapi Ini Bukan Hari Ulangtahunku

Masih teringat jelas di benakku, kejadian di tahun yang lalu. Pagi itu, aku sendirian di sebuah kamar yang menurutku berada in the middle of nowhere. Aku sendirian, tanpa internet. Ponsel? Iya, aku membawanya bersamaku, hanya saja kartu yang ada di dalamnya adalah kartu baru yang tak seorangpun tahu kecuali keluargaku. Tak satupun kawanku yang akan menyapa atau memberikan ucapan selamat padaku.

Aku sendirian, literally but not spiritually, sebab aku bersama Allah dan Alkitabku (tepatnya, buku sateku). Dan aku bersyukur, sekalipun aku sendirian dan hampir-hampir kesepian, aku akan selalu tahu bahwa Dia akan selalu ada bersamaku. Dan justru terkadang di hari-hari kesendirian seperti itulah aku bisa semakin mengerti bahwa aku adalah milik-Nya dan Dia ada di pihakku. Dan pagi itu, Tuhan sekali lagi membuktikannya padaku. Aku mengawali hari jadiku di pagi itu dengan doa:

Ya Tuhan… Jadikanlah aku…
Orang yang selalu bersyukur
Orang yang murah hati dan senang memberi

Jadikanlah aku berkat, tapi jangan sampai aku mencuri kemuliaan-Mu
Jadikanlah aku seorang pendoa

Ya Tuhan, ingin rasanya aku bisa memberitakan Injil lagi
Aku ingin hidup menggenapi visi yang sudah Kau taruh di hadapanku

Aku berdoa dengan sepenuh hatiku, hingga akhirnya sesuatu menghentikanku di dalam doaku. “Mengapa aku berhenti? Mengapa aku kehabisan kata-kata?” tanya hatiku kaget. Perasaan itu sungguh aneh. Tidak biasanya aku berdoa seperti ini. Lebih tepatnya, tidak biasanya aku tidak bisa berdoa seperti ini. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang bukan dari diriku sendiri yang membuatku tidak lagi sanggup menyambung kalimat demi kalimat di dalam doaku.

“Tuhan, apa yang terjadi di dalam diriku? Ini hari ulangtahunku, tapi mengapa pagi-pagi seperti ini aku sudah tidak bisa berdoa? Apa yang salah denganku? Tuhan, tolonglah aku menjadi berkat, menjadi pendoa, menjadi pengasih, hmmm… lalu apa lagi yah Tuhan, aku tidak tahu lagi mau meminta apa, huummm… oh ya, jadikan aku pemberi… hhmm, lalu apa lagi Tuhan, katakanlah padaku Engkau ingin aku menjadi apa lagi sebab sekarang aku sudah kehabisan ide untuk meminta.”

Aku memanggil Dia di dalam doaku. Tapi aku belum menerima jawaban. Aku mencari dan terus mencari Dia. Tapi Dia masih juga diam. Aku terus mempertanyakan apa yang salah denganku pagi itu. Sayangnya, aku terlalu terpaku pada ketidakmampuanku untuk melanjutkan doa sampai akhirnya aku merasa sendirian di dalam doaku sendiri. Dan di dalam rasa sendiri itu, aku memanjatkan doa terakhirku minta tolong, “My Lord, jangan tinggalkan aku, dengar dan tolonglah anak-Mu ini!” Dan sebelum aku benar-benar merasa terintimidasi, Dia bersegera menjawabku…

“Cukuplah semua permintaanmu itu, Richard!
Kau tak perlu meminta hal sebanyak itu.
Yang Ku-inginkan dari engkau hanya satu, jadikanlah ini permintaanmu!
Jika engkau mau meminta, mintalah agar kau menjadi SERUPA DENGAN KRISTUS!”

Aku kaget. Dari mana datangnya hikmat itu? Mustahil itu datang dari diriku sendiri, apalagi dari iblis. Aku yakin Roh Kuduslah yang berkata-kata dalam hatiku. Aku sangat ingin tahu bagaimana ekspresi wajahku ketika menerima jawaban itu di hatiku. Apakah dahiku mengerut? Apakah aku tersenyum? Jangan-jangan wajahku tak berekspresi? Aku tidak tahu. Apa daya, aku tak mungkin bisa melihat ekspresiku sendiri sebab aku tidak sedang berada di depan cermin. Lagipula, saat itu aku sedang memejamkan mataku, kan aku sedang berdoa. Tetapi walaupun aku tidak bisa melihat ekspresi wajahku, aku tahu benar yang terjadi di hatiku.

Dan di dalam dunia hatiku,

Tanah yang kupijak bergetar

Gunung-gunungpun goyang

Langit berguncang

Gelombang laut menerjang

Badai dan halilintar menyambang

Lihatlah… Dia datang!

When I call on Jesus
Mountains are gonna fall
‘Cause He’ll move heaven and earth to come rescue me when I call

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan saat ini, sudah genap satu tahun setelah kejadian itu terjadi. Satu tahun yang begitu luar biasa telah kujalani. Satu tahun yang membuatku berbeda hari demi hari. Satu tahun yang tidak saja membuatku lebih baik, sekalipun aku pernah terjatuh, tetapi juga membuatku BARU. Dan demikianlah hari demi hari kulewati, hingga akhirnya, sampailah juga aku di malam hari kemarin, beberapa saat menjelang hari jadiku. Di dalam hati aku percaya, bahwa kali inipun Dia akan menuntun hatiku, sama seperti yang Dia lakukan di tahun yang lalu, sama seperti yang Dia lakukan senantiasa.

Dan malam itu,
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya
Bahwa aku akan kehilangan seseorang yang begitu dekat denganku…

ME : Richard, kau tahu hari ini hari apa?

MS : Memangnya kenapa?

ME : Come on, kamu itu Richard. Kamu suka melakukan segala hal dengan grand style.

MS : Grand style? Grand style apa maksudmu?

ME : Jangan katakan kalau kau lupa bahwa besok adalah hari ulang tahunmu!

MS : Iya, aku tahu, besok adalah hari ulang tahunku. Lalu kenapa?

ME : Ayolah, kita jelang hari esok dengan grand style. Kita buat legenda untuk dikenang.

MS : Tidak, aku rasa kita harus mengakhiri semua ini.

ME : Wait, what do you mean?

MS : Hidup ini bukan tentang kita. Ini tidak pernah dan tidak akan pernah tentang kita.

*ME: me , MS: my self

Aku hanya bisa terdiam menyaksikan perbincangan antara aku dan diriku di dalam alam pikiranku. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu saat aku bisa berpikir seperti itu. Aku percaya, hikmat itu bukanlah dari diriku. Aku percaya, Allah-lah yang menuntun hatiku untuk memutuskannya. Dan di dalam hikmat itu, aku tahu aku harus mengucapkan selamat tinggal pada seseorang. Aku tidak menduga bahwa malam itu adalah malam terakhirku bersama salah satu serpihan dari diriku. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa hari ulang tahunku akan menjadi hari kematian bagi sebagian dari diriku.

Aku yang dahulu ada orang yang selalu memikirkan cara bagaimana agar aku bisa melakukan semuanya dengan grand style. Aku mau apa yang kukerjakan tetap ada di ingatanku sehingga kelak ketika aku memandang ke belakang aku bisa tersenyum dan berkata, “Wahai diriku satu tahun yang lalu, terima kasih Bro, jasamu besar, you are our legend!”

Aku yang dahulu selalu memikirkan apa yang harus kulakukan menjelang ulang tahun, hari Natal, Tahun Baru, bahkan Hari Valentine. Aku pernah melalui hari-hari yang luar biasa di antara semua itu dan tak akan pernah kusesali grand style yang pernah kubuat. Tetapi aku rasa, sudah saatnya aku menutup buku atas semua itu. Sudah saatnya aku berubah. Mengapa?

Karena siapa bilang hidup ini adalah tentang aku?

Hari ini adalah hari ulangtahunku, itu benar, terus kenapa? Apakah karena ini adalah hari ulang tahunku maka aku harus menjadikannya lebih istimewa dibanding hari-hari lain yang juga diberikan Allah kepadaku? Apakah karena ini adalah ulang tahunku maka aku harus mencari ide yang muluk-muluk untuk membuat grand style yang melegenda?

TIDAK!

Ini bukan tentang aku

Ini tidak lagi tentang aku

Ini tidak pernah tentang aku

Apakah akan ada orang yang memberi ucapan selamat untuk ulang tahunku? Apakah aku akan disukai dan diterima banyak orang? Apakah orang-orang akan membicarakan atau menanyakan tentang aku? Apakah statusku akan di-like? Apakah tulisan di blog-ku akan diapresiasi?

Hidup ini BUKAN TENTANG ITU loch!

Hidup ini bukan tentang aku

Aku bukan tokoh utama di dalam hidup ini

Apakah akan ada orang yang menyakiti perasaanku? Apakah aku akan tertolak? Apakah aku akan dibanding-bandingkan dan aku kalah? Apakah ada orang yang lebih bertalenta, pintar, dan saleh dibanding aku? Apakah ada orang yang terlalu populer hingga perlahan aku terlupakan dan tak lagi ada? Apakah suatu saat ketidakadilan akan menimpaku? Apakah sakit penyakit atau bahkan bencana alam akan menghantamku?

AKU TIDAK PEDULI!

Sebab hidup ini bukanlah tentang aku

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku akan berpikir seperti ini. Aku yakin hikmat ini bukan berasal dari diriku sendiri, melainkan dari Allah. Hikmat ini, menjadi salah satu dari dua pernyataan yang paling MEMERDEKAKAN di dalam hidupku. Dan kalau aku boleh menyimpulkan seluruh isi Alkitab, dua pernyataan ini bisa menyimpulkannya, yakni bahwa:

Tuhan Yesus mengasihiku dan di dalam Dia aku beroleh pengampunan dosa

 dan

Hidup ini bukanlah tentang aku

Lalu tentang siapakah semua ini? Ini semua adalah tentang Dia. Ini tidak pernah selain tentang Dia. Dialah Allah yang penuh kasih, yang mengoyakkan langit dan memindahkan gunung untuk menolong aku ketika aku berteriak minta tolong. Dialah Allah, Sang Manna Hidup, yang turun dari langit, hidup di bumi, menderita bahkan mati di kayu salib untuk menghapus segala dosaku.

Aku dikasihi-Nya dan kasih itu melahirkan kasih di dalam hatiku. Aku mengasihi-Nya dan kasih itu yang memampukanku untuk sedikit demi sedikit melupakan keinginan-keinginanku. Aku hidup hanya untuk memuliakan Dia, bukan untuk mencari kemuliaan bagiku sendiri. Ini adalah tentang Dia dan bukan tentang aku. Dia harus makin besar, aku harus makin kecil bahkan terlupakanpun tak apa.

John 3-30Aku hidup namun aku terlena. Kemudian aku bertanya-tanya, apa makna hidup ini. Aku mencari dan mencari tapi tak satupun dalam hidup ini bisa menjelaskan apa makna hidup kepadaku. Kemudian di tengah keputusasaanku, Dia datang dan berkata, “Jika kau ingin tahu apa makna kehidupan, janganlah mencarinya di dalam kehidupan, melainkan carilah di dalam Aku!” Aku percaya hal itu dengan segenap hatiku, sebab sungguh kasih karunia-Nya lebih baik bahkan dibanding kehidupan itu sendiri.

ps63_3

Tepat sekali, ini memang bukan tentang aku. Haleluya, sungguh luar biasalah Dia. Dialah yang mengundangku untuk hidup, benar-benar hidup, bukan sekadar exist di dunia ini. Dia yang dengan penuh kasih setia menunjukkan padaku bahwa untuk sampai kepada hidup, aku harus melalui “kematian”. Untuk hidup seutuhnya bersama Dia, aku harus melepaskan hidup yang kupertahankan selama ini. Untuk hidup, aku harus “mati”.

Matthew 10 39 NKJV

“It’s not about me”, itu adalah suatu rahasia. Rahasia yang tidak bisa dimengerti oleh semua orang. Orang-orang mencari apa arti hidup tetapi mereka tidak menemukannya. Mereka rela memberikan segala yang mereka punya untuk bisa mengetahui alasan mengapa mereka tercipta di dunia ini tetapi mereka tak kunjung memahaminya. Mengapa? Karena itu adalah sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang hanya bisa dipecahkan dalam hidup bersama Yesus.

Bagi dunia, it’s all about me, it has to be about me. Kau harus menyukaiku. Kau harus menerimaku. Kau harus setuju denganku. Ayo-ayo, tanya sesuatu tentang aku sebab aku suka ditanyai. Dan apa yang terjadi? Mereka hanya mendapati diri mereka berakhir di padang gurun. Mereka bahkan tak ingat mengapa mereka bisa sampai ke sana dan bagaimana cara untuk pulang.

Bagi dunia, it’s not about me adalah tanda kekalahan dan ucapan selamat tinggal pada kesenangan hidup. Tetapi coba tebak! Yesus menaruh rahasia dan harta karun hidup yang melimpah di dalam suatu peti yang tertutup rapat. Peti itu tidak memiliki kunci. Satu-satunya cara untuk membuka peti itu adalah dengan mengucapkan kalimat sandinya. Dan kau tahu apa? Kalimat sandi itu adalah:

Maaf, Tapi Ini Bukan Hari Ulangtahunku

Hanya dalam Kristuslah, “It’s not about me” justru menjadi jalan menuju hidup yang seutuhnya!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tulisan ini kupersembahkan untuk

King of kings, Lord of lords,
My Wonderful,
My Counselor,
My God Almighty
My Everlasting Father,
My Prince of Peace,
My Immanuel,
My Holy Trinity,

Whom I serve in the name of Jesus Christ, My Lord
It’s about You, My Lord
It’s not about me, it will never be


dan kepada semua temanku
Sungguh suatu kehormatan bisa mengenal kalian semua

Terima kasih atas semua ucapan selamat yang diberikan kepadaku. Aku benar-benar berterima kasih atas doa dan sanjungan kalian. Aku tidak tahu bagaimana bisa membalasnya tetapi sejauh ini, dan mungkin sampai kapanpun, aku rasa tidak ada hal yang lebih berarti untuk kuberikan kepada kalian pribadi lepas pribadi selain dua hal tadi, yakni bahwa Yesus mengasihimu sepenuh hati-Nya dan bahwasanya hidup ini bukanlah tentang engkau.

Dan mengenai judul dari artikel ini,

Hmmm… Bagaimana yah?

Sungguh ini bukanlah hari ulang tahunku. Ini memang adalah birthday-ku tetapi ini jelas bukan hari ulang tahunku. Mengapa? Sebab aku yakin aku tidak pernah merasakan hidup seperti ini sebelumnya. Hari ini tidak pernah ada sebelumnya dan hari ini bukanlah ulangan dari hari-hari di tahun sebelumnya. Dengan demikian, ini bukan hari “ULANG”-tahunku.

Ini adalah hari yang baru bagiku. Dan terhitung dari hari ini, setiap hari akan menjadi hari yang baru dan luar biasa di dalam Dia. Jadi kalau kalian ingin mengucapkan selamat padaku, lebih baik ucapkan saja SELAMAT TAHUN BARU, sebab hari ini benar-benar adalah hari yang baru bagiku, ha hi hu he ho…

Tapi kalau kalian tetap mau mengucapkan “Selamat Ulang Tahun”, ya gapapa juga sih.

Mengapa? Karena ya itu tadi…

Karena toh ini bukan tentang aku

Advertisements

2 thoughts on “Maaf, Tapi Ini Bukan Hari Ulangtahunku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s