4. Ketika Seorang Kuat Sakit Hati dan Mendendam

4. Ketika Seorang Kuat Sakit Hati dan Mendendam
Kisah sebelumnya:
Belum reda dalam murkanya, Simson kembali ke kampung halamannya, meninggalkan semua orang termasuk mempelainya. Dan di tengah kebingungan melihat sikap dan kepergian Simson di tengah-tengah pesta, ayah wanita itu akhirnya menikahkan sang wanita dengan pria lain.

Kisah selanjutnya:
Empat kata, disasterrrr to the max. Maaf, itu tiga kata, sebab “disasterrrr” bukanlah kata. Mohon diabaikan saja.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah sekian waktu hidup bersama orangtuanya di kampung halamannya, Simson mungkin merasa kesepian dan rindu kepada isterinya. Dia mungkin juga berpikir bahwa dia terlalu berlebihan telah meninggalkan isterinya hanya karena teka-teki bodoh yang dia sendiri bocorkan. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi ke Timna dan mengunjungi isterinya. Alkitab mencatat bahwa pada saat itu di Timna sedang musim menuai gandum dan Simson pergi sambil membawa anak kambing. Hmm… kelihatannya Simson berniat meminta maaf dengan seekor anak kambing. O man, so sweet… but please, grow up, Dude!

Sesampainya di kediaman wanita itu, Simson hendak masuk ke kamar isterinya. Akan tetapi, ayah mertua Simson melarangnya dan mengatakan salah satu kalimat paling menyakitkan yang pernah Simson dengar.

“Ketika aku melihat kau pergi meninggalkan pesta, aku kira kau begitu benci kepadanya. Oleh sebab itu, aku telah memberikannya kepada salah satu dari tiga puluh orang Filistin yang bersamamu itu. Tetapi, heeyy, siapa bilang itu masalah besar, sebab anakku yang satu lagi, adik isterimu, justru lebih cantik, kau boleh mengambilnya untukmu.”

Kalimat itu seperti hujan meteor di benak Simson. Mungkin seperti ini yang Simson pikirkan. Dia isteriku loch. Dan lebih parahnya lagi, isteriku diberikan kepada pria yang tidak lain adalah salah satu dari tiga puluh orang Filistin yang aku ajak untuk mendampingiku di pesta pernikahan. Tiga puluh orang itu yang memaksa dan mengancam akan membakar isteriku dan keluarganya apabila ia tidak mampu mengorek jawaban dariku tetapi justru salah satu dari mereka yang mengambil isteriku. Parahnya lagi, ya ampun, seharusnya saat itu aku tidak perlu mengotori tanganku dengan membunuh 30 orang tak berdosa di Askelon, seharusnya mereka semua kuhabisi seketika itu juga sehingga tak satupun dari mereka yang mendapatkan isteriku.

Aku tahu Simson adalah orang yang mungkin tidak terlalu pintar dan memang dia gegabah, sombong, dan emosional. Akan tetapi, sebagai seorang manusia, dan terkhusus sebagai seorang pria, aku rasa aku sedikit banyak mengerti betapa hancurnya hati Simson saat itu. Namun, sekalipun aku mengerti kesakitan hatinya, aku tetap saja tidak bisa mengerti betapa tidak sehatnya akal orang kuat yang satu ini. Simson berkata:

Sekali ini aku tidak bersalah terhadap orang Filistin,
apabila aku mendatangkan celaka kepada mereka.

Ada beberapa hal kunci di sini yang memojokkan Simson. Pertama, Simson berkata “sekali ini aku tidak bersalah”. Perkataan ini menandakan bahwa sebenarnya Simson merasakan adanya rasa bersalah ketika dia membunuh orang-orang Filistin. Aku yakin, pada suatu masa dalam hidupnya, Simson pasti merasa guilty karena telah membunuh orang-orang Askelon yang tidak tahu apa-apa. Simson sadar bahwa dia sebenarnya tidak berhak membunuh dengan motivasi dan alasan yang tidak jelas seperti itu. Akan tetapi, dilanda murkanya yang tak terkendali, Simson dengan mudahnya MERASIONALKAN dan MEMBENARKAN motivasinya untuk membalas dendam sehingga dia berkata, “aku tahu bahwa sekarang aku BERHAK mencelakai mereka.”

Kedua, perlu dicatat bahwa Allah memang mengutus Simson untuk memimpin bangsa Israel untuk melawan bahkan membinasakan bangsa Filistin sang penjajah. Dengan demikian, tindakan Simson membunuh orang-orang Filistin tidak serta merta membuat dirinya bersalah di mata Allah. Yang membuatnya salah adalah Simson membunuh mereka bukan demi kepentingan Allah dan bangsa Israel, melainkan demi memuaskan agenda pribadinya sendiri, yakni balas dendam. Camkan baik-baik, rasa dendam, kepahitan, dan amarah manusia tidak akan pernah membuat Allah berkenan. Apapun aksi radikal yang kau lakukan, entah itu ketika kau hendak melawan kejahatan, ketidakadilan, bahkan iblis, pastikan amarahmu bukanlah amarahmu sendiri. Mengapa? Sebab iblis senang dimarahi oleh orang yang mengandalkan kekuatan dan amarahnya sendiri. Itu justru akan semakin memudahkan pekerjaannya.

Hai saudara-saudara yang kukasihi,
ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,
tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
(Yakobus 1:19-20)

Ketiga, pengalaman Simson di Askelon seharusnya membuatnya belajar bahwa melampiaskan kemarahan kepada orang-orang yang tidak bersalah tidak akan pernah membuatnya sampai kepada tujuannya yang sebenarnya. Simson tahu bahwa saat itu adalah musim menuai gandum dan ini memberikan ide padanya. Simson hendak membuat orang-orang Filistin kelaparan dengan membakar ladang gandum mereka.

stock-photo-25952235-samson-burns-foxes-tails

Dia kemudian, entah bagaimana caranya, menangkap tiga ratus anjing hutan, mengikat ekor anjing-anjing itu menjadi beberapa kelompok, dan menaruh obor yang membara di ikatan ekor mereka. Simson kemudian melepaskan gerombolan anjing yang panik itu (aku tetap belum bisa membayangkan bagaimana Simson mengikut ekor-ekor mereka) ke ladang gandum dan kebun pohon zaitun milik bangsa Filistin. Coba tebak! Simson adalah orang pertama yang menemukan sate anjing hutan plus nasi gandum goreng saus minyak zaitun. Anjing malang.

samson_15_05

Sungguh-sungguh kukatakan padamu, ini seperti sinetron, hanya saja lebih buruk. Tidak terlalu lama, orang-orang Filistin segera mengetahui bahwa Simsonlah dalang di balik semua ini. Tidak hanya itu, mereka juga tahu apa latar belakang Simson sebenarnya. Oleh sebab itu, apakah kau bisa menduganya? Benar sekali, orang-orang Filistin itu membalas dendam dengan cara MEMBAKAR ISTERI SIMSON dan ayahnya. Sudah kubilang, balas dendam, apalagi melampiaskannya kepada yang tak bersalah, tidak akan pernah bisa menjadi jawaban malah hanya akan membawamu dari penderitaan yang satu ke penderitaan yang lain. Sangat menyakitkan.

Simson murka dan berkata, “Jika kamu berbuat demikian, sesungguhnya aku takkan berhenti sebelum aku membalaskannya kepada kamu.” Dan dengan pukulan yang hebat, Simson menghajar dan meremukkan tulang-tulang mereka. Selesai membereskan musuh-musuhnya, Simson pergi tinggal dalam gua di bukit batu Etam.

Kau tahu apa yang akan kau dapatkan ketika dendammu terpuaskan?
Kau hanya akan menikmati kemenangan itu di “gua di bukit”
Kau berjuang dalam KESENDIRIAN dan menikmatinya dalam KESEPIAN
Hingga akhirnya kau sadar bahwa kau tidak menang sama sekali
Hancurkan kepahitanmu atau kepahitanmu yang menghancurkanmu!

Ini benar-benar seperti sinetron atau mungkin lebih seperti serial drama Korea Stairway to Heaven (abaikan juga yang ini!). Dari penderitaan yang satu ke penderitaan yang lain, tiada hentinya. Bangsa Filistin kemudian mendatangi bangsa Yehuda, kaum sebangsa Simson. Meskipun tidak ditulis secara eksplisit di Alkitab tetapi kita dapat mengerti situasi yang sebenarnya terjadi saat itu, yakni bahwa bangsa Filistin mengancam dan memaksa bangsa Yehuda untuk menemukan Simson. Jika tidak, mungkin bangsa Filistin akan menindas Yehuda lebih lagi sampai mereka bisa menemukan Simson dan memohon kepadanya untuk menyerahkan diri.

Dan memang itulah yang kemudian terjadi. Orang-orang Yehuda menemukan Simson di gua di Etam. Mereka memohon kepada Simson untuk menyerahkan dirinya agar orang-orang Filistin tidak semakin menganiaya bangsa mereka. Simson meminta mereka berjanji agar mereka sendiri tidak menyerang dan memusuhinya. Bangsa Yehudia menyanggupi janji itu dan berkata bahwa hal paling jauh yang mereka lakukan hanyalah menyerahkan Simson kepada bangsa Filistin.

Ini benar-benar menyedihkan. Mengapa? Karena pria ini adalah Simson. Jika kita membuka halaman-halaman Alkitab sebelumnya, kita akan menemukan Hakim yang lain, yakni Gideon. Sangat berbeda dengan Simson, Gideon adalah orang yang lemah bahkan cenderung rendah diri dan penakut. Tetapi apa yang terjadi pada Gideon? Tuhan berkarya dan mengubah Gideon menjadi PEMIMPIN besar. Hanya dengan 300 pasukan, Gideon mampu memukul mundur ribuan pasukan musuh. Lalu bagaimana dengan Simson? Bukannya menjadi pemimpin, Simson yang super kuat dan percaya diri malah DISERAHKAN oleh kaum sebangsanya sendiri. Bayangkan jika Simson mau tunduk kepada Allah dan menerima karunia memimpin seperti Gideon, entah bakal jadi apalah bangsa Filistin itu?

james-tissot-samson-in-the-caves-of-etam_i-G-14-1453-YNSR000Z

Akhirnya, bangsa Yehuda mengikat Simson dan menyerahkannya kepada bangsa Filistin di Lehi. Dan lihatlah, orang-orang Filistin bersorak-sorak melihat Simson yang menyerahkan dirinya di tangan bangsanya sendiri. Orang-orang Filistin merasa kemenangan sudah ada di tangan mereka, setidaknya mereka sudah mempermalukan Simson habis-habisan. Sayang sekali, mereka tidak tahu Siapa yang sebentar lagi akan mereka hadapi. Bukan siapa, tetapi SIAPA. Mereka tidak menyangka Siapa yang ada di balik Simson dan Siapa yang sebentar lagi akan memerangi mereka. Benar sekali, Allah sudah siap beraksi dan menolong Simson. Sekalipun, Simson jatuh jatuh dan jatuh lagi, Allah tidak meninggalkan dia. Allah tidak lekas membenci Simson.

The LORD is gracious, and full of compassion; SLOW to ANGER, and of great mercy.
(Mazmur 145:8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mari sejenak kita merangkum apa yang terjadi pada Simson. Jadi apa yang sudah kita punya sejauh ini. Kita punya seorang Hakim bangsa Israel yang dianugerahi hukum yang jelas, visi yang spesifik, dan kekuatan luar biasa untuk menggenapi visinya. Kita punya seorang pria yang dikarunia potensi dan kesempatan yang begitu besar untuk menjadi seorang pemimpin besar yang seharusnya bisa membawa bangsanya terlepas dari penjajahan bangsa Filistin.

Akan tetapi, sayang sekali, pria dengan kekuatan luar biasa ini jatuh oleh HAWA NAFSU, KESOMBONGAN, dan AMARAH-nya sendiri. Tidak hanya itu, ketiga hal itu kini bersatu padu membentuk musuh yang lebih besar lagi, mereka kini menjelma menjadi SAKIT HATI dan DENDAM. Dan apakah yang bisa dilakukan oleh semua dosa itu terhadap seorang Simson?

  • Membuat Simson membunuh 30 orang tak bersalah di Askelon dan membiarkan 30 orang yang seharusnya dia habisi saat itu juga
  • Merenggut isteri Simson dan memberikannya kepada salah satu dari 30 pria yang seharusnya Simson bisa dia habisi
  • Membuat Simson kembali melampiaskan amarah kepada orang-orang tak bersalah dengan merusak kebun dan ladang mereka
  • Membuat isteri Simson dan ayah mertuanya dibakar oleh orang Filistin
  • Membuat Simson bersembunyi dan menyendiri di sebuah gua, ALONE
  • Membuat Simson diserahkan oleh bangsanya sendiri, FOREVER ALONE

Kesimpulanku:

Hancurkan KESOMBONGAN-mu
Atau kesombonganmu akan membuatmu FOREVER ALONE!

dan

Hancurkan rasa SAKIT HATI dan DENDAM di hatimu
Atau keduanya akan MENGHANCURKAN engkau

Aku percaya bahwa hawa nafsu, kesombongan, sakit hati, dan amarah akan membawamu kepada kehancuran. Tetapi satu hal, aku lebih percaya lagi bahwa kasih Allah kepada umat-Nya tidak pernah berkesudahan. Aku tahu dosa bisa membawa penderitaan tetapi aku lebih percaya lagi bahwa kasih Allah itu lebih besar dari seluruh dosa dari segala zaman dikumpul menjadi satu. Aku percaya dan aku sadar bahwa aku adalah orang berdosa tetapi aku lebih percaya lagi bahwa aku dikasihi Tuhan dan berharga di mata-Nya. Dan aku tahu, bahwa pada saat-Nya yang indah, Allah akan menolongku. Sekalipun dosa sudah siap menyerahkanku kepada penderitaan, aku yakin bahwa di detik-detik terakhirpun, Allahku sanggup membebaskanku.

Aku tahu bahwa setan senang membuat orang kuat menjadi lemah. Tetapi aku percaya bahwa Allahku senang membuat orang lembah menjadi kuat.


Bersambung: Ketika Seorang Kuat Butuh Pertolongan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s