5. Ketika Seorang Kuat Membutuhkan Pertolongan

Kisah sebelumnya:
Setelah mengetahui bahwa bangsa Filistin telah membakar isteri dan mertuanya, Simson marah besar dan pergi menghabisi mereka. Lalu pergilah Simson untuk tinggal dalam sebuah gua di bukit batu Etam. Ironis, kemenangan ini seharusnya menjadi kemenangan bagi bangsa Israel sebab Simson memang diutus oleh Allah untuk mengalahkan bangsa Filistin. Tetapi lihatlah apa yang Simson lakukan setelah kemenangannya, ia menjalaninya di dalam kemarahan, kesendirian, dan kesedihan, semua karena hawa nafsu dan kesombongannya sendiri.

Seolah-olah ini belum cukup parah, bangsa Israel kemudian mendatangi Simson di guanya dan berkata bahwa mereka terpaksa harus menyerahkan Simson kepada bangsa Filistin. Mungkin ini merupakan salah satu peristiwa paling konyol di dalam Alkitab. Seharusnya orang sehebat Simson sanggup memimpin bangsanya untuk berperang melawan Filistin, tetapi yang terjadi adalah betul-betul sebaliknya, Simson justru diserahkan oleh saudara sebangsanya sendiri. Simson bodoh, bangsa Israel pengecut, kombinasi sempurna.

Akan tetapi, ada satu hal positif yang bisa kita petik mengenai Simson dalam bagian ini, yakni dia dengan rendah hati menyerahkan dirinya kepada bangsanya (Hakim-hakim 15:12). Aku tidak tahu mengapa Simson bisa setenang itu. Dia tidak memberontak, dia tidak mengeraskan hati. Hanya satu yang dia minta, yakni agar bangsanya sendiri tidak berdiri untuk membenci dan memerangi dia. Apa yang sebenarnya terjadi selama masa kesendirian Simson di dalam gua itu? Aku rasa, Tuhan menghampiri Simson dan meyakinkan dia bahwa sebentar lagi Allah akan memberikannya kemenangan.

Akhirnya, Simson pun sampai ke Lehi untuk menyerahkan diri kepada bangsa Filistin. Ketika melihat Simson menyerahkan diri dalam keadaan terikat, bersoraklah bangsa Filistin penuh kegirangan. Mereka berpikir bahwa kemenangan sudah menjadi milik mereka. Tetapi apa yang kemudian terjadi?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah ia sampai ke Lehi
dan orang-orang Filistin mendatangi dia dengan bersorak-sorak,
maka berkuasalah Roh TUHAN atas dia…
(Hakim-Hakim 15:4)

Bagiku, ayat ini merupakan salah satu ayat paling indah yang ada di Alkitab. Simson adalah orang yang paling menyia-nyiakan hidup yang telah Allah anugerahkan. Simson adalah orang yang paling sombong, bodoh, keras kepala, penuh dengan hawa nafsu dan amarah, serta tidak segan-segan membunuh orang yang tidak bersalah. Tetapi apa yang dilakukan oleh Allah? Allah bersabar terhadap Simson. Allah tidak meninggalkan dia. Allah bersiap sedia untuk berperang di depan Simson. Allah menjadi sumber pertolongan bagi Simson di masa kesesakan. Sungguh, Tuhan itu panjang sabar.

Mereka menolak untuk patuh….
Tetapi Engkaulah Allah yang sudi mengampuni,
yang pengasih dan penyayang,
yang PANJANG SABAR dan berlimpah kasih setia-Nya.
Engkau tidak meninggalkan mereka.
(Nahemia 9:17)

Merasakan kekuatan Allah mengalir di dalam tubuhnya, Simson melepaskan tali-tali yang mengikatnya semudah meremukkan rami yang terbakar, segala pengikatnya hancur dan tanggal dari tangannya. Kemudian Simson melihat sebuah tulang rahang keledai (apa makna tulang ini? akan kita bahas di bagian yang akan datang) yang masih baru. Ia mengambil tulang rahang keledai itu dan menjadikannya senjata untuk menghabisi seribu orang Filistin. Kemenangan besar bagi Simson.

Satu orang mengalahkan seribu orang. Aku yakin sebagian besar dari orang-orang yang membaca akan menganggapnya biasa saja. Tetapi tidaklah demikian, cobalah pikirkan sekali lagi, satu orang loch, mengalahkan seribu orang. Seribu orang, iya seribu orang, dikalahkan oleh satu orang, bayangkan! Ini kisah nyata. Ini benar-benar terjadi dan Tuhanlah yang melaksanakannya. Ini sangat luar biasa, ini luar biasa banget.

samson-field

Kita perlu lebih cermat di bagian ini. Jika kita menelitinya lebih dekat, nampaknya tidak ada tanda-tanda kehadiran bangsa Israel dalam pertempuran itu. Simson tidak saja bertarung sendirian, tetapi sepertinya bangsa Israel memang sudah tidak ada lagi di sekitar situ. Dugaanku, Simson pergi ke Lehi seorang diri atau bangsa Israel mengantarnya sampai di sana dan kemudian pergi meninggalkan dia sendirian. Seperti telah kusinggung sebelumnya, bangsa Israel terlalu takut untuk melawan bangsa Filistin sehingga mereka rela sekaligus tega menyerahkan Simson ke tangan musuh. Sungguh sebuah hal memalukan yang diperlihatkan oleh sebuah bangsa yang katanya Pilihan Allah.

Dan demikianlah Simson dalam kemenangan besarnya, ia merayakannya sendirian. Dan dalam kesendirian itu, ia mendeklarasikan kemenangan dengan berkata:

“Dengan rahang keledai bangsa keledai itu kuhajar,
dengan rahang keledai seribu orang kupukul.”
(Hakim-Hakim 15:16)

Kita perlu berhenti sejenak di sini. Jika kau tidak tercengang saat mengetahui bahwa Simson seorang diri mampu mengalahkan seribu orang, aku rasa itu masih bisa dimaklumi sebab Alkitab memang penuh dengan kejadian-kejadian yang luar biasa. Akan tetapi jika kau membaca Hakim-Hakim 15:16 dan tidak mendeteksi adanya ketidakberesan, aku rasa itu sudah cukup untuk menjadi pertanda bahwa kau terlalu cepat membaca ayat-ayat Alkitab dan kau perlu lebih PEKA lagi saat membacanya. Coba perhatikan baik-baik! Simson berkata, “Dengan rahang keledai…

Apa yang telah Simson perbuat? Dia mengabaikan penyertaan Allah yang baru saja memberinya kemenangan dan malah membanggakan sebuah rahang keledai. Bayangkan itu! Dia mengabaikan Penolongnya dan menganggung-agungkan sebuah benda bodoh. Dia tidak bersyukur. Dia jadikan Tuhan seperti pelayan yang selalu siap memberikan berkat dan kekuatan setiap kali dia membutuhkannya. Tetapi ketika Tuhan menolong dan memberkatinya, seketika itu juga dia melupakan-Nya. Dan juga jangan lupa, Alkitab mencatat bahwa tulang rahang itu “masih baru”, yang artinya kita bisa meng-kategorikan benda itu sebagai BANGKAIYup, Simson memegang bangkai, dia seharusnya tidak melakukan itu, dan yang lebih buruk lagi, dia mengagung-agungkannya.

Dalam kesombongannya, Simson lupa akan dirinya sendiri.
Dia mengira dia adalah tokoh utama dalam hidup ini.
Dia kira segala sesuatu adalah tentang dia.
*Dan kita melakukan hal yang sama setiap hari

Itu berbeda sekali dengan Yosua saat dia memimpin Israel menaklukkan Yerikho:
“Bersoraklah, sebab TUHAN telah menyerahkan kota ini kepadamu!”
(Yosua 6:16)

Itu berbeda sekali dengan Debora saat dia akan melawan Pasukan Sisera:
“Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu.”
(Hakim-hakim 4:14)

Itu berbeda sekali dengan Gideon ketika hanya dengan 300 orang, dia hendak menyerang Midian:
“Bangunlah, sebab TUHAN telah menyerahkan perkemahan orang Midian ke dalam tanganmu.”
(Hakim-hakim 7:15)

Itu berbeda sekali dengan Daud yang menantang Goliat:
“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing,
tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam…”
(1 Samuel 17:45)

Itu berbeda sekali dengan Elia ketika dia berhadapan dengan 450 nabi Baal dan berdoa:
“Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku,
supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN,
dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”
(1 Raja-raja 18:36)

Dan yang jelas, itu sangat berbeda dengan kerendahan hati Tuhan Yesus.
Sekalipun Dia adalah Allah, Dia tidak haus akan pujian seketika:
“Mengapa kaukatakan Aku baik?
Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.”
(Markus 10:18)

Jangan merasa dirimu adalah pusat dari dunia ini!
Jangan merasa dirimu adalah tokoh utama yang harus selalu menjadi pusat perhatian dan pertanyaan!

Jangan menganggap dirimu sebegitu pentingnya!
Lagipula, siapakah dirimu?

keep-calm-it-s-not-about-you-4

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah mendeklarasikan kemenangannya, Simson melempar tulang rahang keledai itu dari tangannya. Untunglah, dia tidak menyimpan rahang itu untuk dipamerkan atau dijadikan trademark-nya. Aku rasa kesombongannya masih ada batasnya dan kita perlu mencontoh hal itu darinya. Dia kemudian menamai tempat itu Ramat Lehi, yang kira-kira berarti “di Lehi-tulang rahang ditinggikan”, untuk menegaskan kemenangannya sekaligus kekalahan bangsa Filistin.

Masalah belum berakhir. Kini, setelah mendeklarasikan kemenangannya, Simson menghadapi masalah yang lebih mengancam hidupnya, ia menjadi sangat kehausan. Nampaknya dia belum menghabisi semua orang Filistin yang ada di medan tempur itu, mungkin masih ada sedikit dari mereka yang masih sanggup bertempur. Pada kondisi yang demikian, jika Simson tidak menemukan sesuatu untuk diminum, ia pasti akan tertangkap dan dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Ironis sekali, Simson baru saja mengalahkan seribu orang sendirian tetapi kini dia tidak menemukan air sedikitpun untuk bisa diminum.

Kini Simson diperhadapkan pada suatu kenyataan yang pasti akan membuka kedua matanya, yakni tak selamanya Simson bisa bergantung pada kekuatannya sendiri. Rambut kesayangan Simson, kekuatan yang selalu dibanggakannya, dan tulang rahang keledai yang baru saja “menolongnya”, semua itu tak mampu membawanya kepada keselamatan. Dalam kondisi yang demikian, akhirnya Simson sadar kepada Siapa seharusnya dia memohon pertolongan. Simsonpun berseru kepada Allah:

“Oleh tangan hamba-Mu ini telah Kauberikan kemenangan yang besar itu,
masakan sekarang aku akan mati kehausan….”
(Hakim-hakim 15:18)

Simson sadar bahwa hanya Tuhanlah yang sanggup menyelamatan nyawanya. Simson sadar bahwa sejak semula, Tuhanlah yang memberikannya kekuatan dan membawanya dari kemenangan menuju kemenangan. Itu semua adalah karya Allah, bukan karena kuat dan gagahnya, dan yang pasti itu bukan karena sebuah tulang rahang keledai. Allah yang memberikan Simson kekuatan. Allah yang memampukan Simson menaklukkan singa malang di dekat kebun anggur itu. Allah yang memenangkan Simson atas seribu orang Filistin. Dan kini Simson sadar, hanya Allah yang sanggup MEMUASKAN dahaganya. Hal ini mengingatkanku pada salah satu ayat terindah yang ada di Alkitab.

Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku,
maka Aku akan mendengarkan kamu;
apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
Aku akan memberi kamu menemukan Aku,
(Yeremia 29 : 12-14)

Dan lihatlah betapa besar kasih dan setia Allah kepada Simson! Dia tidak lagi mengingat kesalahan-kesalahan Simson yang terdahulu, Dia tidak lagi mempermasalahkan Simson yang lupa bersyukur dan malah membanggakan sebuah tulang rahang. Kasih-Nya kepada Simson jauh lebih besar tak terkira dibanding semua pelanggaran Simson. Ketika Simson bertobat, merendahkan hati, dan memohon pertolongan, Allah telah bersiap sedia menopangnya. Dan apa yang Dia lakukan?

Allah tidak sekadar menunjukkan sebuah sumber air kepada Simson, Allah MEMBELAH liang batu sehingga dari dalamnya keluarlah air untuk Simson minum. Allah mengerti betapa mudahnya Simson melupakan-Nya. Allah tidak akan membiarkan Simson menemukan sumber airnya sendiri. Allah tidak akan membiarkan Simson menemukan air secara tidak sengaja. Allah ingin Simson melihat perbuatan tangan-Nya dengan mata kepalanya sendiri dan menjadi sadar. Allah ingin Simson tahu betapa Allah itu perkasa dan penuh kasih dan setia.

Allah ingin memenangkan hati Simson
Allah ingin mendapat perhatian dari Simson
Allah ingin menjadi Allah-nya Simson
Sehingga Dia MEMBELAH liang batu itu

Simson kemudian minum dari sumber air itu. Dan apa yang terjadi? Alkitab terjemahan Indonesia menyebutkan bahwa Simson menjadi kuat dan segar kembali, tetapi yang aku imani, kuasa dari air itu jauh lebih besar dibanding sekadar memberi kekuatan dan kesegaran jasmani. Adapun KJV mencatatnya, his spirit came again. Hal ini benar-benar membangkitkan jiwa Simson. Dia belum pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Dengan ucapan syukur, Simson menamai tempat itu, Enhakkore (the well of him that cried). Dia tidak menamai tempat itu untuk menunjukkan kehebatannya, seperti ketika dia menamai Ramath-Lehi. Dengan sikap yang lebih rendah hati, dia menampai tempat itu untuk menegaskan bahwa diapun adalah seorang yang membutuhkan pertolongan dan menemukannya.

Dan sejak dari saat itu…
Simson memerintah sebagai hakim atas orang Israel selama 20 PULUH TAHUN lamanya…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang bisa kita petik dari hal ini?

Hanya Tuhanlah yang mampu membawa kita dari kemenangan menuju kemenangan
Hanya Tuhanlah yang mampu menyelamatkan kita dari maut

Hanya Tuhanlah yang mampu mencukupi kebutuhan jasmani kita
Hanya Tuhanlah yang mampu memuaskan dahaga rohani kita

Hanya Tuhanlah sumber kekuatan kita
Hanya Tuhanlah sumber Air Hidup kita

Hanya di dalam Tuhanlah kita mampu menjalani hidup ini dan tetap bertahan
Tidak hanya 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun
Tetapi  sampai selama-lamanya


Oh
, alangkah indahnya kabar itu
Tetapi kabar yang jauh lebih indah lagi adalah bahwa

Dia bukanlah Allah yang mengingat-ingat kesalahanmu
Tetapi yang melempar pelanggaranmu sejauh timur dari barat

Dia bukanlah Allah yang akan menolakmu ketika kau menolak-Nya
Tetapi yang ingin memenangkan hatimu

Dia bukanlah Allah yang menyerah karena pemberontakanmu
Tetapi yang ingin mendapatkan perhatian darimu

Sebab Dia jatuh cinta padamu
Sebab Dia ingin menjadi Allah-mu

2012-week-02


Bersambung: Ketika Seorang Kuat Bertemu Delila-nya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s