6. Ketika Seorang Kuat Bertemu Delila-nya

Kisah sebelumnya:
Sangat menyedihkan, Simson diserahkan oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri ke tangan bangsa Filistin. Orang-orang Filistin yang melihat Simson yang menyerahkan dirinya kemudian bersorak kegirangan karena mereka pikir kemenangan sudah ada di depan mata. Kurang beruntung bagi mereka, Tuhan menyertai Simson dan memberikannya kekuatan untuk melakukan perlawanan. Dengan tulang rahang keledai, Simson menghabisi seribu orang dari bangsa Filistin. Ini merupakan prestasi yang luar biasa dan seharusnya Simson bersyukur kepada Allah. Akan tetapi, bukannya memuji kebesaran-Nya, Simson malah membesarkan diri, dia berkata, “dengan rahang keledai loch, bukan dengan pedang, bukan dengan tombak, cuman dengan rahang keledai loch aku bisa memukul seribu orang, bayangkan betapa hebatnya aku.”

Kemenangan sudah jelas mengarah kepada Simson, akan tetapi pada masa-masa injury time, Simson merasa sangat kehausan. Masih ada beberapa musuh yang harus dibereskan tetapi dengan rasa dahaga seperti itu, mustahil Simson bisa melanjutkan pertempuran. Untuk pertama kalinya, mungkin, Simson benar-benar merasa membutuhkan pertolongan. Untuk pertama kalinya, kekuatan fisik Simson tidak dapat bisa memberinya jalan keluar. Di titik terendah dalam hidupnya ini, Simson mengingat kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya.

Allah itu penuh dengan kasih dan setia. Sekalipun Simson terus menerus melakukan hal yang tidak sesuai dengan perintah-Nya, Allah masih mengasihi Simson dan bersedia memberinya pertolongan. Allah mengeluarkan air dari batu untuk memuaskan rasa haus Simson sekaligus untuk mendapatkan hati Simson. Kedua tujuan itu tercapai. Rasa haus jasmani Simson terpuaskan, demikian pula rasa dahaga rohaninya.

Simson seakan baru saja bangkit dari kematian. Allah menyelematkan jiwanya. Mulai dari saat itu, untuk pertama kalinya Simson hidup sesuai dengan panggilannya, yakni untuk menjadi seorang hakim bagi bangsa Israel. Ia memerintah bangsa Israel sebagai hakim selama dua puluh tahun lamanya.

Tetapi drama belum berakhir…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Pada suatu kali…
ketika Simson pergi ke Gaza,
dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia.”

Pada suatu kali…
Pada… suatu… kali…
Bagi banyak orang, “pada suatu kali” hanyalah just another day. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang istimewa. Semuanya berjalan seperti biasa, terkendali, rutinitas. TIDAK BERBAHAYA.

Jika kau adalah salah satu orang yang berpikir demikian, kau perlu membaca kisah Simson di pasal 16 ini berulang-ulang kali. Jika kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh hal sesederhana “pada suatu kali” terhadap kehidupanmu, bacalah kisah ini. Lihatlah bagaimana “pada suatu kali” bisa menghancurkan dan mempermalukan kesetiaan penuh yang telah dibangun selama DUA PULUH TAHUN.

Hanya karena nila setitik, susu sebelanga bisa rusak
Hanya karena “pada suatu kali”, pengabdian “dua puluh tahun” bisa sirna

Kita perlu ingat ini baik-baik:
Jika kita hidup di luar Kristus, bahkan satu detikpun bisa menghancurkan seumur hidup kita

Ulah apa lagi yang Simson lakukan? Gaza merupakan salah satu kawasan Filistin yang paling utama, apa tujuan Simson pergi ke sana? Apakah Simson hendak menawarkan perjanjian damai kepada Filistin? Aku rasa tidak sebab kalaupun iya, maka Simson akan mengutus seorang juru bicara. Apakah Simson hendak menyerang Filistin? Aku rasa juga tidak sebab dia telah menjadi hakim, kalau dia ingin menyerang, pastilah dia akan menyerang bersama-sama rakyatnya.

Apakah Simson hanya iseng? Mungkin saja, tetapi buat apa? Atau jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan dugaan bahwa Simson memang menyukai wanita-wanita Filistin? Aku rasa itu bisa jadi. Perjalanan Simson ke Gaza ini mengingatkanku pada bagian terdahulu yakni ketika Simson pergi ke Timna. Timna juga merupakan kawasan musuh. Saat itu, Simson juga pergi seorang diri dan juga tanpa alasan yang jelas.

Lalu apa alasan Simson pergi ke Gaza? Aku tidak tahu. Tetapi aku tahu satu hal, yakni jarak antara Israel dengan Gaza adalah kurang lebih 50 mil atau 80 kilometer. Pada zaman Simson, itu bukanlah jarak yang dekat. Perjalanan dari Israel ke Gaza merupakan perjalanan yang jauh.

*Perjalanan dari Israel ke Gaza
membutuhkan ribuan langkah kaki ; memakan ribuah detik ; dan
menawarkan RIBUAN KESEMPATAN bagi Simson untuk berpikir ulang dan berbalik

Bayangkan itu! Simson punya ribuan kesempatan untuk berhenti, berpikir ulang, dan berbalik dari jalannya. Dalam perjalanan yang tidak sebentar itu, Simson seharusnya punya waktu yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perjalanannya bukanlah ide yang baik. Perjalanan itu tidak memiliki tujuan yang jelas. Perjalanan itu berisiko. Dan jika memang niat Simson adalah pergi ke lokalisasi wanita Filistin, Simson tetap saja memiliki banyak kesempatan untuk bertobat dan kembali ke Israel. Tuhan telah memperhadapkan kepada Simson kesempatan yang begitu besar untuk bertobat. Simson punya sekian ribu detik untuk mengatakan kepada dirinya sendiri, “Simson, what are you doing? This is stupid! Go back!”.

Simson menantang bahaya, tidak hanya bagi tubuhnya tetapi juga bagi hatinya. Simson seharusnya belajar dari pengalamannya yang terdahulu. Hidup Simson hancur setelah bertemu dengan wanita Filistin yang ada di Timna itu. Tetapi apa yang terjadi kali ini? Dia bertemu dengan seorang wanita, yang bukan sekadar wanita Filistin, tetapi juga seorang WANITA SUNDAL. Bayangkan itu! Melihat wanita itu, “singa buas” yang selama dua puluh tahun tertidur di dalam hati Simson kini terbangun. Hawa nafsu Simson yang menggebu-gebu kini kembali bertahta dalam dirinya. Akal sehat Simson tunduk tak berdaya di hadapan hawa nafsunya yang menggila. Simson tak mampu mengendalikan diri dan akhirnya diapun menghampiri wanita sundal itu.

Terbuktilah sudah bahwa:
Karena hal sesepele “pada suatu kali”, kesetiaan selama “dua puluh tahun” hancur
Karena hal sesepele “satu langkah kecil”, perjalanan “seumur hidup” porak-poranda

Pertanyaannya:
Orang bodoh mana yang sebegitu bodoh mau menyerahkan hal yang BEGITU BERHARGA
Hanya demi hal yang BEGITU MURAHAN?

Dan aku rasa kau sudah tahu jawabannya:
Orang bodoh itu adalah SETIAP KITA
Dan kita melakukannya SETIAP HARI

Kita tak henti-hentinya mengabaikan perintah Tuhan hanya untuk kenikmatan sesaat
Dan tak henti-hentinya pula kita berusaha mencari alasan untuk membenarkan diri

Kesalahan itu hanyalah awal dari kejatuhan Simson. Karena satu dosa tersebut, penyakit lama Simson kambuh. Kini dia kembali dipimpin oleh hawa nafusnya. Pada keadaan demikian, Simson bertemu dengan wanita Filistin lain yang sangat cantik, Delila, dan Simson jatuh cinta padanya.

Tidak seperti hubungannya dengan wanita Timna itu, Alkitab tidak mencatat bahwa Simson hendak menikahi Delila. Jabatan Simson sebagai seorang hakim tidak mungkin mengizinkannya untuk mengambil isteri dari bangsa Filistin. Hampir bisa dipastikan, hubungan Simson dengan Delila adalah hubungan diam-diam. Itu merupakan hubungan gelap, kumpul kebo, atau apapun tergantung bagaimana kau menamainya.

Orang-orang Filistin tahu bahwa Delila memiliki hubungan spesial dengan Simson. Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin kepada Delila. Mereka berjanji akan memberikan uang dengan jumlah yang sangat besar kepada Delila apabila dia mampu mengorek rahasia dari kekuatan Simson yang luar biasa itu.

Delila kemudian membujuk Simson untuk menceritakan rahasia kekuatannya. Tiga kali wanita itu membujuk Simson tetapi tiga kali Simson berbohong. Simson mengatakan bahwa apabila dia diikat dengan tujuh tali busur yang baru, atau apabila dia diikat erat-erat dengan tali batu, atau apabila ketujuh rambut jalinnya ditenun bersama-sama dengan lungsin lalu dikokohkan dengan patok, maka Simson pasti akan menjadi selemah orang biasa. Tiga kali dia memberikan jawaban yang tidak benar, tiga kali Simson mengalami percobaan pembunuhan, tetapi tiga kali pula Simson mampu membebaskan diri dari penyergapan orang-orang Filistin itu.

Simson seharusnya menyadari adanya kejanggalan. Tiap kali Delila menanyakan letak kelemahan Simson, orang-orang Filistin pasti datang menyergap dia dengan cara seperti apa yang dia sampaikan kepada Delila. Ada yang aneh di sini. Mengapa Simson tidak curiga kepada Delila? Mengapa Simson terus-menerus memberikan jawaban? Ataukah jangan-jangan Simson sudah curiga tetapi dia terlalu menganggap remeh ancaman musuh?

Apapun alasan di balik semua itu, yang jelas Delila terus mengerahkan usaha terbaiknya untuk membuat Simson menceritakan yang sesungguhnya. Delila tidak kenal kata menyerah, berhari-hari dia menangis, merayu, merengek, merajuk, memohon, memaksa, me-whatever, supaya hati Simson bisa runtuh. Dan coba tebak! Hati Simsonpun runtuhlah.

Lalu setelah perempuan itu berhari-hari merengek-rengek kepadanya
dan terus mendesak-desak dia,
ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya.
(16:16)

Apakah Simson tidak tega melihat tangisan Delila ataukah dia hanya muak dan lelah dengan semua rengekan Delila, aku tidak tahu. Tetapi apapun isi hati Simson, yang jelas dia tidak memutuskan untuk meninggalkan Delila. Ini memberikan indikasi bahwa rasa cinta Simson kepada Delila mungkin adalah rasa cinta yang tulus. Dan kalau benar itu merupakan cinta yang tulus, maka Simson merupakan lelaki paling malang di seluruh dunia sebab cinta itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Delila tidak mencintai Simson. Delila membenci Simson dan menganggapnya sebagai musuh. Delila menjual Simson. Dan yang lebih menyakitkan, Delila memperdaya Simson dengan kesadaran penuh bahwa apa yang dia lakukan dapat menyebabkan Simson ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh. Betapa menyedihkannya kisah cinta Simson dan dia tidak mengetahuinya.

Akhirnya, Simsonpun dengan jujur menceritakan letak kelemahannya. Dia memberitahu pada Delila bahwa selama ini kekuatannya tersimpan pada rambutnya yang tidak pernah dicukur. Apabila rambutnya dicukur, Simson akan kehilangan kekuatan supranaturalnya dan dia akan menjadi selemah manusia biasa. Melihat Simson yang mengatakannya dengan setulus hati, Delila percaya kepada Simson dan membeberkan rahasia tersebut kepada orang-orang Filistin. Dan seperti yang sudah bisa diduga, mereka datang menyergap Simson. Simson terbangun dan berkata:

“Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.
Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.

Simson mengira dia berdiri teguh. Simson mengira dia akan lolos seperti biasanya. Simson mengira Tuhan masih bersama-sama dengan dia. Tetapi dia salah besar. Simson tidak hanya bertepuk sebelah tangan dalam hal cintanya yang tak terbalas oleh Delila. Simson juga bertepuk sebelah tangan karena dia menduga Tuhan masih menyertai dia, padahal tidaklah demikian.

Orang Filistin itu kemudian menangkap Simson yang tidak berdaya. Simson masih belum percaya dengan kondisinya yang begitu lemah. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Simson kemudian sadar bahwa kini kepalanya terasa lebih ringan, kini rambutnya menjadi lebih rapi alias lebih pendek. Simson kaget tetapi belum saja dia berhenti dari kekagetannya, seorang tentara Filistin datang memegang kepalanya dan MENCUNGKIL MATANYA. Mereka kemudian membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang bisa kita petik di sini?

Wooowww, unbelievable. Too bad to be true. Seorang hakim Israel, seorang nazir Allah, seorang yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, one of a kind, telah tertangkap dan dikalahkan. Tidak hanya itu, matanya juga dicungkil dan kini dia dijadikan budak dan tontonan oleh bangsa musuh. Itu sangat sangat sangat memalukan. Bagi seorang pria dan pejuang seperti Simson, pastilah lebih baik jika dia mati dibanding jika dia harus dipermalukan sedemikian rupa oleh musuh. Tetapi itulah yang terjadi dalam akhir hidup Simson.

Kesalahan Simson mendatangkan konsekuensi kepadanya. Masalah mula-mula Simson adalah MATA-nya. Simson tidak mampu mengendalikan dan mendisiplinkan matanya. Dia membebaskan dan memuaskan matanya untuk melihat apapun yang dia mau. Dengan matanya, dia tertarik. Dan apa yang dilihat mata, kemudian turun ke hati. Hati Simson adalah hati yang dipenuhi hawa nafsu, suatu wadah penggorengan yang sangat cocok untuk mematangkan godaan itu menjadi dosa.

Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri,
karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa;
dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
(Yakobus 1 : 14-15)

Lihat ini baik-baik:
Masalah Simson adalah matanya
Dan kini mata itu telah dicungkil

Masalah Simson adalah kesombongannya
Dan kini dia dipermalukan dan menjadi pelawak bagi musuh-musuhnya

Masalah Simson adalah hawa nafsu yang ia anggap sebagai cinta
Dan kini cinta pertamanya dibakar musuh
Dan kini cinta terakhirnya yang menyerahkannya kepada musuh

Masalah Simson adalah dia menjadikan Tuhan hanya sebagai pelayannya
Dan kini Tuhan telah meninggalkan dia

Apapun yang kita lakukan, jika kita tahu bahwa semua itu tidak berkenan di hadapan Allah, hentikanlah semua itu. Sebab sepasti matahari akan terbit dan terbenam, sepasti itu pula kenikmatan semu itu akan berujung pada penderitaan.

Siapapun kita, jika saat ini kita sedang memuaskan diri dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang kita tahu benar bahwa itu tidak menyenangkan hati Allah, berhentilah, dan bertobatlah. Tidak perlu lagi ada pembenaran atau pembelaan diri di hadapan Allah. Allah tidak bisa dibodohi, Dia lebih tahu dibandingkan kita. Dia tahu isi hati kita dan betapa bobroknya itu.

Salomo berkata kepada anak-anak muda untuk bersukaria dan mengikuti keinginan mata mereka kemanapun mereka mau. Tetapi Salomo juga dengan tegas memperingatkan bahwa semua itu akan membawa mereka kepada pengadilan (Pengkhotbah 11:9). Yesus menawarkan hal yang sedikit berbeda. Yesus berkata bahwa jika matamu menyesatkan engkau, maka cungkillah matamu. Biarlah matamu yang dibawa ke pengadilan dan dibinasakan daripada seutuhnya dirimu diadili dan dihukum (Matius 6 : 29).

Mari kita menguasai dan mendisiplinkan mata kita. Kata orang, mata adalah jendela hati. Apa yang kita lihat akan turun ke hati kita. Jika kita memuaskan mata kita dengan hal-hal yang najis, tidak berguna, dan tidak membangun, maka demikianlah hati kita jadinya. Tetapi jika kita menjaga mata kita dan menggunakannya untuk membaca dan hidup dalam firman Tuhan, maka firman itupun akan terukir di dalam hati kita. Dan seperti kata Amsal, seperti apa yang ada di dalam hati seseorang, seperti itulah dia. Jika firman itu ada di dalam hati kita, maka firman itu akan terpancar melalui hidup dan keberadaan kita. Dan ingatlah salah satu ucapan bahagia Kristus, berbahagialah yang suci HATI-nya, sebab orang-orang yang demikianlah yang akan MELIHAT (dengan mata) Allah.

matthew-58

Kemanapun kita melangkah, jika langkah kaki itu mengarahkan kita kepada dosa, berhentilah, dan berbaliklah. Sadarilah betapa Allah masih bersabar dan memperhadapkan kepada kita kesempatan yang sedemikian lebar untuk berhenti, berpikir ulang, dan berbalik. Mungkin akan luar biasa susah bagi kita untuk meninggalkan dosa-dosa kesukaan kita. Mungkin akan susah bagi kita untuk mengambil putaran 180 derajat dan berbalik. Tetapi sadarilah, jika kita berbalik, siapakah yang sudah ada di sana untuk menolong kita? TUHAN…

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut,
merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku,
lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat,
maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka,
serta memulihkan negeri mereka.
(2 Tawarikh 7 : 14)

Benar sekali, Tuhan sudah ada di sana dan Dia siap menolong kita untuk berbalik. Dia bersedia MENGAMPUNI SEGALA DOSA dan kecacatan kita tetapi Dia tidak berhenti sampai di sana, Dia juga akan memberikan kepada kita kasih karunia yang MEMAMPUKAN KITA MELAWAN DOSA.

Sekali lagi!
Jagalah matamu!

6. Ketika Seorang Kuat Bertemu Delila-nya

 

Tetapi drama masih belum berakhir. Sebab firman Tuhan mengatakan satu hal yang begitu indah di tengah-tengah prahara dan durhaka yang tak kunjung berhenti ini. Oh, betapa baiknya Engkau, Tuhan! Dan inilah firman itu:

Tetapi rambutnya mulai tumbuh pula sesudah dicukur.
(Hakim-hakim 16:22)

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s