Memaknai Pentakosta dengan Kacamata Tritunggal

Memaknai Pentakosta dengan Kacamata Tritunggal

Ada banyak cara manusia mencoba menjelaskan Allah Tritunggal. Dan dari analogi-analogi yang manusia buat, hampir semuanya sangat tidak menggambarkan ketritunggalan Allah. Perlu kita ketahui bahwa bagaimanapun cara berpikir yang manusia miliki, mustahil manusia bisa menjelaskan Tritunggal secara sempurna.

Aku yakin bahwa sampai kapanpun manusia tak akan sanggup menjelaskan sistem luar angkasa dengan sempurna. Mustahil manusia bisa menemukan semua bintang yang ada di luar sana, menghitung jumlah satelit dan asteroid, mengetahui struktur atom dan komposisi kimia yang menyusunnya, dan lain sebagainya. Mustahil! Dan jika itu saja tidak sanggup manusia jelaskan, tentu saja mustahil manusia bisa menjelaskan dengan sempurna siapa Allah yang merupakan Pencipta dari semua itu.

Manusia bisa menerima kenyataan bahwa mereka tidak mengerti alam semesta
Tetapi tidak bisa terima dengan kenyataan bahwa Allah yang benar adalah Allah Tritunggal
Manusia merasa tak harus mengerti sepenuhnya kebesaran alam semesta
Tetapi manusia merasa harus mengerti sepenuhnya siapa Allah

Jika Dia tidak bisa masuk di akal dan nalarku, berarti Dia bukan Allah!
Karena Allah Tritunggal tidak masuk akal, berarti Dia bukan Allah!
Itulah manusia yang menyedihkan

Ada banyak cara manusia mencoba menjelaskan Allah Tritunggal. Dan dari sekian banyak analogi yang tidak sempurna tersebut, aku mendapati ada satu analogi yang menurutku paling mendekati realitas Tritunggal.

Firman Tuhan berkata bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Manusia merupakan cerminan dari Allah. Dengan demikian, apabila kita ingin mengetahui seperti apakah Allah Tritunggal itu, maka kita harus menyelidikinya pertama-tama melalui realitas manusia.

Esensi utama dari manusia adalah pikiran (HEAD) dan perasaaan (HEART). Sebenarnya, manusia jauh lebih detail dan rumit dibanding sekadar pikiran dan perasaan. Akan tetapi, anggaplah semua hal yang kompleks tersebut sudah digabung sedemikian rupa, kemudian dikemas, dan dipresentasikan ke dalam dua hal tersebut. Nah, jika esensi dari manusia adalah manusia itu sendiri, lengkap dengan head dan heart, dan jika realitas manusia menggambarkan realitas Allah, maka dapat kita simpulkan bahwa esensi dari Allah Tritunggal adalah Allah itu sendiri, lengkap dengan head dan heart yang ada pada-Nya.

Kini pertanyaan besarnya:
Seperti apakah head dan heart dari Allah?
Atau yang lebih tepatnya, SIAPAKAH ‘head’ dan ‘heart’ dari Allah?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Christ, The Head of Triune God

Pada mulanya adalah Firman;
Firman itu bersama-sama dengan Allah
dan Firman itu adalah Allah.
(Yohanes 1:1)

Kristus merupakan Firman Allah. Kristus merupakan Pikiran-Pikiran Allah. Allah Bapa tidak menciptakan Firman-Nya. Firman itu sudah ada bersama-sama dengan Bapa dari sejak semula dan Firman itulah Sang Kristus.

Kolose 1 : 15-16, berkata:
Ia (Kristus) adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung,
lebih utama dari segala yang diciptakan,
karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,

Ayat ini merupakan ayat yang digunakan oleh Saksi Yehuwa untuk menentang keilahian Kristus. Mereka dengan salah menyoroti bagian “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,” dan memaknai ayat itu sebagai pernyataan bahwa Yesus merupakan ciptaan. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang ayat ini sampaikan. Kolose 1 ayat 15-23 justru merupakan salah satu bagian dalam Alkitab yang paling kuat menegaskan bahwa Yesus Kristus merupakan salah satu Pribadi dalam Allah Tritunggal.

Ayat ini mengatakan bahwa di dalam Kristus, Allah menciptakan segala sesuatu. Lalu, mengapa kita tidak menemukan nama Yesus Kristus disebut dalam proses penciptaan alam semesta yang tercatat dalam Kitab Kejadian? Jawabannya sederhana, yakni karena pada zaman Perjanjian Lama, nama Yesus adalah Firman Allah.

Ber-FIRMAN-lah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. (Kejadian 1:3)
Nah, apakah kau bisa menemukan Kristus dalam ayat ini?

Firman Allah, itulah Kristus Sang Anak Allah. Bagaimana orang-orang yang hidup di era Perjanjian Lama yang tidak mengenal siapa Kristus bisa menerima keselamatan? Aku percaya, jawabannya sama dengan keselamatan yang diperoleh oleh orang-orang pada masa Perjanjian Baru. Bedanya hanyalah orang-orang Perjanjian Baru mengenal Allah Anak dalam Yesus Kristus sementara orang-orang Perjanjian Lama mengenal-Nya sebagai Firman Allah. Barangsiapa percaya dan taat pada Firman Allah (Kristus), mereka akan menerima keselamatan.

Tentu saja baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, proses penganugerahan keselamatan tidak akan berlangsung tanpa Roh Kudus. Lalu siapakah Roh Kudus?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Holy Spirit, The Heart of Triune God

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa,
terbukalah langit dan TURUNLAH ROH KUDUS dalam rupa burung merpati ke atas-Nya.
Dan terdengarlah suara dari langit:
“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
(Lukas 3:21)

Peristiwa Yesus dibaptis mungkin merupakan bagian dalam Alkitab yang paling mempertontonkan realitas Allah sebagai Allah Tritunggal. Ketika Yesus keluar dari air dan berdoa, Allah Bapa ber-FIRMAN dan Firman itu adalah tentang YESUS. Apakah kau menangkap apa yang kumaksud di sini? Tepat sekali. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting yang menggambarkan “Yesus sebagai Firman Allah”.

Lalu bagaimana dengan Roh Kudus? Pada saat itu, Allah berfirman bahwa Allah Bapa MENGASIHI Kristus dan berkenan kepada-Nya. Bersamaan dengan pengucapan firman tersebut, datanglah Roh Kudus dari langit dan turun ke atas-Nya. Akan aku ulangi pernyataan di atas dengan kalimat yang lain: Kasih Allah kepada Kristus dinyatakan-Nya melalui Firman dan melalui turunnya burung merpati.

Apa yang Allah hendak tunjukkan melalui peristiwa ini? Kehadiran Roh Kudus menunjukkan kasih dan perkenanan Allah terhadap Kristus. Tidak hanya itu, Roh Kudus juga menunjukkan penyertaan Allah. Hal ini dengan sangat jelas ditegaskan pada peristiwa pencobaan Kristus di padang gurun.

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan,
lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. (Lukas 4:1)
Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. (Lukas 4:14)

Roh Kudus merupakan Kasih Allah. Roh Kudus menunjukkan perkenanan dan penyertaan Allah yang mana keduanya berbicara tentang kasih yang Allah miliki untuk siapapun yang dikasihi-Nya. Roh Kudus adalah isi hati Allah. Roh Kudus merupakan Kasih yang menjalin relasi dalam persekutuan Allah Tritunggal. Roh Kudus merupakan Kasih yang Bapa miliki kepada Anak dan Roh Kudus merupakan Kasih yang Anak miliki kepada Bapa.

Allah adalah Kasih (1 Yohanes 4:8, 16).
Allah tidak menciptakan Kasih.
Kasih sudah ada sejak semula dan Roh Kudus-lah Kasih itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagi beberapa orang, pemahaman ini mungkin tidak bisa diterima.
Mungkin akan banyak yang berpikir seperti ini:

Jika: Kristus merupakan Firman Allah dan Roh Kudus merupakan Kasih Allah
Jika: Firman dan Kasih merupakan kata benda
Maka: Kristus dan Roh Kudus merupakan benda, energi, atau apapun selain Pribadi

Itu salah besar. Firman Allah dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa Kristus dan Roh Kudus merupakan Pribadi dan bukan sekadar energi yang keluar dari Allah seperti yang diyakini oleh aliran-aliran sesat, termasuk Saksi Yehuwa.

Pikiran manusia begitu sempit dan sangat sulit untuk out of the box. Jika Kristus merupakan Firman Allah dan firman merupakan kata benda, itu bukan berarti bahwa Kristus adalah benda, melainkan Firman itu TERNYATA merupakan Pribadi dan bukan benda. Sama halnya dengan itu, jika Allah adalah kasih dan kasih itu merupakan kata benda, bukan berarti bahwa Allah adalah benda, itu hanya berarti bahwa TERNYATA Kasih itu merupakan Pribadi dan bukan benda atau whatever. Lihatkan? Itulah mengapa aku tegaskan kata ‘ternyata’, sebab memang ternyata kita masih belum tahu apa-apa karena kita terlalu terperangkap dalam box berpikir kita yang sempit, kaku, tetapi sok tahu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lalu apakah maksud dari semua ini?

Implikasi dari ini semua adalah kita bisa mengerti sekarang bahwa di dalam realitas Keilahian kita bisa menemukan esensi dari kemanusiaan. Allah Tritunggal merupakan Pribadi Bapa dan Pribadi Anak (Firman Allah) dan Pribadi Roh Kudus (Kasih Allah). Allah Tritunggal ini kemudian menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sehingga terciptalah seorang manusia, lengkap dengan pikiran dan perasaannya.

Jika kita ingin MENGENAL Allah, maka kita bisa menemukannya di dalam Yesus Kristus sebab Kristus merupakan Firman Allah. Kristus merupakan perwujudan dari seluruh firman dan nubuatan yang ditemukan dalam Perjanjian Lama. Kristus juga merupakan esensi dari seluruh testimoni yang ditemukan dalam Perjanjian Baru.

*Jika kau ingin mengenal Allah, maka kenallah Kristus.
Jika kau ingin mengetahui isi pikiran Allah, maka lihatlah Kristus.

Kata Yesus kepadanya:
“Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?
Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
(Yohanes 14:8-9)

Jika kita ingin MENGASIHI Allah, maka kita hanya bisa menemukannya melalui penyertaan Roh Kudus sebab Roh Kudus merupakan Kasih Allah.

Para murid telah mengenal siapa Kristus tetapi somehow mereka tidak mampu mengasihi Kristus sebagaimana mereka harus mengasihi-Nya. Sebelum Kristus naik ke sorga, Dia bertemu dengan Petrus. Dua kali Yesus bertanya apakah Petrus memiliki kasih agape (kasih yang terbesar) kepada-Nya dan dua kali Petrus menjawab bahwa Petrus mengasihi-Nya dengan kasih fileo (kasih dalam pertemanan). Pada pertanyaan ketiga, Yesus menurunkan standar-Nya dan menggantinya dengan bertanya apakah Petrus memiliki kasih fileo kepada Kristus. Mendengar Yesus mengganti pertanyaannya, dari kasih agape menjadi kasih fileo, Petrus akhirnya sadar. Dia menelusuri hatinya dan menemukan bahwa dia belum memiliki kasih agape untuk Kristus. Itulah yang membuat Petrus sangat sedih dan dalam kerendahan hati dia mengaku untuk ketiga kalinya bahwa dia hanya mengasihi Yesus dengan kasih fileo. Itu semua terjadi sebelum hari pencurahan Roh Kudus.

Apakah kalian menangkap maksudku? Kita tidak bisa mengasihi-Nya tanpa Roh Kudus. Kita hanya bisa mengasihi Allah apabila Allah telah meregenerasi hati kita. Regenerasi inilah yang kita kenal sebagai peristiwa lahir baru yang merupakan peristiwa di mana Roh Kudus MENGUBAH HATI kita melalui pengenalan kita terhadap Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat sehingga kita mampu mengasihi-Nya.

1 Korintus pasal 12 merupakan pasal yang sangat jelas menjabarkan tentang rupa-rupa karunia Roh Kudus. Ada karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, ada karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan, ada karunia untuk melakukan mukjizat, karunia untuk berbahasa roh, dan ada karunia untuk mengartikan bahasa roh. Suatu kali ada sedikit ketidakenakkan di dalam tubuh jemaat di mana karunia yang satu dianggap lebih istimewa dibanding karunia yang lain. Hal seperti itu masih terjadi hingga saat ini di mana somehow karunia berbahasa roh masih dianggap lebih istimewa dibanding karunia yang lain.

Karunia berbahasa roh memang istimewa. Akan tetapi keistimewaan karunia ini bukanlah karena karunia berbahasa roh lebih hebat atau lebih berguna dibanding karunia lain. Semua karunia roh sama hebatnya dan sama bergunanya, tidak ada yang lebih besar maupun lebih kecil. Karunia berbahasa roh lebih istimewa HANYA KARENA karunia ini lebih LANGKA, itu saja!

Seseorang yang tidak memiliki karunia berbahasa roh bukan berarti tidak memiliki Roh Kudus di dalam hatinya. Itu hanya berarti bahwa dia memiliki karunia yang lain. Justru orang yang harus berhati-hati adalah orang yang mengaku memiliki karunia berbahasa roh tersebut. Jika mereka mengada-ada dengan karunia itu, atau hanya berpura-pura memilikinya sehingga mengintimidasi saudara yang tidak memilikinya, maka dia harus mempertanggungjawabkan itu di hadapan Sang Pemilik karunia itu, yaitu Roh Kudus, di hari penghakiman kelak.

Lalu apa yang Paulus lakukan untuk menertibkan jemaat yang mulai memanas ini?
Dia berkata:
Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama.
Dan aku menunjukkan kepadamu JALAN YANG LEBIH UTAMA LAGI.
(1 Korintus 12:31)

Dan apakah ‘jalan yang lebih utama lagi’ itu?
Apakah karunia Roh Kudus yang lebih utama lagi itu?
Jawabannya ada pada perikop tepat di bawah 1 Korintus 12:31, yakni 1 Korintus 13:1-13
Dan karunia Roh Kudus itu adalah KASIH

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih,
dan yang paling besar di antaranya ialah KASIH.
(1 Korintus 13:13)

Tetapi buah Roh ialah: kasih, ….
(Galatia 5:22)

 

Dan kembali ke judul artikel ini:
Bagaimanakah kita memaknai Hari Pentakosta melalui kacamata Tritunggal?

Pentakosta berarti Hari Kelimapuluh dan ‘lima’ merupakan angka kasih karunia. Ada lima kitab taurat yang dikenal sebagai Pentateuch. Ada 4 kitab Injil plus kitab Kisah Para Rasul yang dikenal sebagai “the New Testament Pentateuch.” Rasul Yohanes, sang Rasul Kasih, menulis 5 kitab, yaitu Injil Yohanes, 1-3 Yohanes, dan Wahyu. Yesus mengadakan mujizat dengan 5 buah roti untuk memberi makan sekitar 5000 orang laki-laki. Daud menyiapkan 5 buah batu untuk melawan Goliat dan peristiwa Daud mengalahkan Goliat menggambarkan Kristus yang mengalahkan dosa dan menganugerahkan kasih karunia kepada umat-Nya (kita akan membahas ini lain kali).

Pentakosta merupakah hari kasih karunia. Aku percaya akan hal itu sebab hari pentakosta merupakan hari pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus itulah kasih karunia itu. Melalui pencurahan Roh Kudus, manusia mengalami lahir baru dan segala sesuatunya berubah.

Kasih karunia Allah diwujudkan dalam dua hal utama. Hal pertama adalah Pengampunan Dosa. Melalui kasih karunia, manusia dibenarkan dan dosanya diampuni. Tetapi kasih karunia tidak akan menjadi kasih karunia jika dia hanya mengampuni dosa tanpa memperlengkapi orang itu untuk melawan dosa. Dan inilah hal kedua mengenai kasih karunia, yakni kasih karunia adalah pemberian kuasa untuk mengalahkan dosa. Melalui kasih karunia, manusia dimampukan untuk terlepas dari kutuk dosa. Melalui kasih karunia, kehendak bebas manusia dipulihkan sehingga dia bisa melawan dosa, memilih yang baik, dan MENGASIHI-NYA dengan kehendak bebasnya.

 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita
segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia,
(2 Petrus 1:3)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebagai penutup:

You have true knowledge of God in God The Son
You have true love for God in God the Spirit
~ John Piper

Melalui Kristus, kita bisa MENGENAL-Nya
Melalui Roh Kudus, kita bisa MENGASIHI-Nya
Tidak ada yang lebih baik bagi manusia selain kedua hal itu

997e9bfe97c0747db8ec417930e74d71

Selamat Hari Pentakosta!
Selamat menikmati Kasih Allah!
Selamat membagikan Kasih Allah!

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

2 thoughts on “Memaknai Pentakosta dengan Kacamata Tritunggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s