7. Ketika Seorang LEMAH Ditolong TUHAN

Kisah sebelumnya:
Simson menghadapi titik terendah di dalam hidupnya

Masalah Simson adalah hawa nafsu yang ia anggap sebagai cinta
Dan kini, cinta pertamanya telah dibakar hidup-hidup oleh musuh-musuhnya
Dan kini, cinta terakhirnya telah mengkhianatinya dan menyerahkannya ke tangan musuh

Masalah Simson adalah matanya yang tak sanggup didisiplinkannya
Dan kini, matanya telah dicungkil

Masalah Simson adalah kesombongannya
Dan kini, dia telah dipermalukan dan dijadikan budak oleh bangsa Filistin

Masalah Simson adalah dia menjadikan Tuhan hanya sebagai pelayannya
Dan kini, Tuhan telah meninggalkan dia

Simson telah tertangkap
Simson telah lemah
Simson telah kalah

Tetapi kasih karunia Allah, yang sungguh TAK BERKESUDAHAN, masih menaunginya
Dan di dalam kasih sayang yang besar:

Allah menumbuhkan rambut Simson sesudah dicukur

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sesudah itu, berkumpullah raja-raja kota orang Filistin untuk mengadakan upacara penyembahan besar-besaran kepada dewa mereka, Dagon (lihat gambar), dan untuk merayakan kemenangan besar mereka atas Simson. Sebagai pelengkap acara, mereka menyuruh penjaga untuk membawa Simson ke hadapan mereka supaya mereka bisa menjadikannya pelawak. Simson yang tak berdaya karena matanya yang buta sungguh menjadi tontonan yang menyukakan hati mereka.

dagon-1

Mereka tidak sadar, oh mereka sungguh-sungguh tidak sadar. Simson justru menunggu datangnya hari ini, lebih dari itu, Tuhan sudah menanti tibanya hari ini. Inilah hari di mana orang-orang Filistin berkumpul dalam jumlah yang sangat besar. Inilah hari di mana mereka mengadakan acara penyembahan kepada dewa mereka. Apakah kau mengerti maksudku? Tepat sekali. Jika ada suatu waktu yang tepat untuk membunuh begitu banyak orang Filistin sekaligus untuk mempermalukan dewa mereka pada saat yang bersamaan, SEKARANGLAH saatnya. Oh, betapa sempurnanya rancangan Tuhan kita.

Simson kemudian meminta anak yang menuntun dia untuk melepaskan dia sehingga dia bisa meraba-raba tiang-tiang penyangga rumah itu dan bersandar di sana. Sesudah ditemukannya posisi yang terbaik, berserulah Simson kepada TUHAN, katanya:

Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku
dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah,
supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.
(Hakim-hakim 16:28)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku

Bagi aku pribadi, frase “ingatlah kiranya kepadaku” merupakan ungkapan yang sangat indah dan tulus. Ini bukanlah permohonan yang self centered. Ini bukan basa-basi seperti yang sering kita dengar ketika seseorang berkata, “Eh Bro, kalau lu udah sukses ingat-ingat teman dong!” Permohonan ini juga tidak dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan untuk berterima kasih pada Simson atas semua jasa yang pernah dilakukannya untuk Tuhan.

Simson tahu di mana posisinya terhadap Allah. Simson menyadari betapa berdosanya dirinya selama ini. Simson sadar bahwa dia tidak memiliki apapun yang membuat Allah perlu mengingat-ingat kebaikannya. Kalaupun dia pernah berjasa, itulah pengabdiannya selama dua puluh tahun menjadi hakim Israel, akan tetapi pada akhirnya kesetiaan itupun rusak akibat hawa nafsu dan kebodohannya sendiri. Simson mengerti bahwa dia tidak memiliki apapun yang cukup berharga untuk dipersembahkan kepada Allah supaya Allah mengampuni dan menolongnya. Dia sudah lemah, kalah, miskin, berdosa, bahkan matapun dia sudah tidak memilikinya lagi.

Akan tetapi, sekalipun Simson tidak memiliki semua itu, pada akhirnya Simson sadar bahwa dia memiliki ‘harta’ yang jauh lebih berharga dibandingkan apapun. Kejayaan telah membuat Simson melupakan harta itu. Hawa nafsu dan kenikmatan dunia telah membuat Simson mengabaikannya. Namun kini Simson telah terlepas dari semua harapan palsu dan fana itu. Dan di tengah kebutaannya, Simson kini bisa melihat harta itu lebih jelas. Di dalam kelemahannya, Simson kini bisa merasakan harta itu lebih nyata. Dan harta itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah ALLAH sendiri.

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9)

Simson mengerti bahwa dia adalah milik Allah dan Allah adalah miliknya
Dan melalui pengertian tersebut, Simson akhirnya mengerti siapa dirinya yang sebenarnya
Dia akhirnya sadar bahwa: Dia adalah anak Allah dan Allah mengasihinya

Mengapa “ingatlah kiranya kepadaku” merupakan doa yang sangat indah?
Karena di dalam ungkapan ini terkandung dua hal yang utama:

Pertama:
Sang pendoa tidak memamerkan apa yang sudah diperbuatnya di hadapan Allah. Sang pendoa mengerti benar bahwa semua hal baik yang pernah dilakukannya sesungguhnya adalah hasil pertolongan Tuhan semata.

Kedua:
Sang pendoa mengerti bahwa dia dikasihi oleh Allah.

Ini merupakan hal yang sangat penting. Inilah inti dari pesan Injil yang sesungguhnya. Iblis sangat takut kebenaran ini diketahui oleh umat manusia. Dia berusaha mati-matian untuk mengintimidasi setiap manusia sehingga pikiran mereka dipenuhi oleh ide-ide tentang betapa Allah membenci diri mereka yang berdosa. Semakin mereka berdosa, semakin mereka merasa Allah membenci mereka. Semakin besar dosa mereka, semakin terpuruk mereka sebab mereka merasa Allah tidak akan lagi mengampuni mereka.

Kalau kau adalah salah satu orang yang mengalami intimidasi demikian, aku rindu membagikan kabar baik ini padamu:
Itu semua tipuan iblis. Allah tidak membencimu.
Dia mengasihimu. Oleh sebab itu, percayalah kepada-Nya!

Allah memang sangat membenci dosa
Tetapi Dia tidak membenci orang yang berdosa
Justru sebaliknya, Dia mengutus Anak-Nya untuk mati bagi orang-orang berdosa

Allah mengasihi umat-Nya. Seluruh isi Alkitab berbicara tentang itu. Dia tidak menghendaki kebinasaan umat-Nya, melainkan pertobatan mereka. Allah ingin anak-anak-Nya memahami betapa besar kasih-Nya dan betapa Ia ingin agar mereka menikmati kasih dan pengampunan itu. Allah tidak ingin umat-Nya TAKUT atau MALU kepada-Nya seolah-olah Dia adalah orang lain. Tidak, Dia bukan orang lain, Dia adalah Bapa kita sendiri.

Percayalah, Dia mengasihimu! Sebelum kau percaya bahwa Dia mengasihimu, kau tak akan bisa mengasihi-Nya dengan benar. Allah akan sangat dimuliakan ketika umat-Nya mengerti betapa Dia mengasihi mereka. Itulah sebabnya mengapa Bapa mengutus Yesus Kristus. Supaya melalui kesaksian Kristus, dunia mengerti kasih-Nya.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami,
betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.
(Efesus 3:18-19)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2. Buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah

Simson akhirnya sadar bahwa kekuatannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah. Simson tahu bahwa rambutnya mulai memanjang, tetapi dia tidak lagi mengandalkan hal itu atau menaruh harapan padanya.

Simson menyadari bahwa kekuatannya berasal dari Allah. Kuasa itu bukan miliknya melainkan milik Allah dan Dia berhak memberi atau mengambilnya kembali, itulah sebabnya mengapa Simson mengatakan “sekali ini saja”.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku,
dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.
TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!
(Ayub 1:21)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3. supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin

Sepintas lalu, terlihat seolah-olah motivasi terbesar Simson adalah untuk membalaskan dendam pribadinya sendiri dan bukan murni untuk menggenapi visi yang Allah berikan. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tetapi satu hal yang perlu kita ingat, yakni bahwa Simson hidup pada masa di mana Allah jelas-jelas menghendaki umat-Nya untuk menyingkirkan, membenci, bahkan jika perlu membunuh bangsa-bangsa penyembah berhala yang ada di tanah Kanaan.

Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.
(Bilangan 33:55)

Kita selalu berpandangan bahwa kemarahan atau kebencian merupakan hal yang murni jahat. Jika kau juga berpikiran demikian, aku rasa kau perlu membenahi sedikit cara berpikir itu. Pada mulanya, amarah dan kebencian merupakan hal yang baik. Mengapa bisa begitu? Sebab hanya dengan keduanyalah manusia bisa menentang dan menjauhkan diri dari iblis.

Kita harus membenci iblis. Kita harus menaruh amarah pada iblis. Kita tidak boleh mengasihinya atau bersahabat dengannya sebab persahabatan dengan iblis (dan dunia) sama dengan permusuhan terhadap Allah. Yesus Kritus, Tuhan kita, bahkan pernah mengucapkan hal yang begitu pedis untuk menegaskan betapa Allah MEMBENCI para penyesat (termasuk iblis yang adalah raja penyesat):

“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”
(Matius 18:6)

Lihatkan? Allahpun memiliki murka dan kebencian terhadap iblis. Kemarahan dan kebencian tidaklah murni jahat dari dirinya sendiri.  Yang menjadikan keduanya jahat adalah kita sendiri. Kita membenci sesama kita yang tidak harusnya kita benci. Dan kita malah bersahabat dengan iblis dan dengan dunia yang seharusnya kita jauhi.

Dan demikianlah yang terjadi, hingga akhir hidupnya, Simson masih dipenuhi oleh amarah dan kebencian. Aku tidak akan membantah hal tersebut tetapi aku tidak bisa mengatakan itu sebagai hal yang mutlak salah. Justru, melalui amarah dan kebencianlah, Tuhan meneguhkan hati Simson dan memakai dia untuk menuntaskan tujuan-Nya. Apabila Simson tidak marah dan dendam kepada mereka, mungkin Simson tidak akan melakukan apa-apa dan bisa jadi justru dia yang dibunuh oleh mereka. Lihatkan? Allah sanggup mendatangkan apa yang baik bahkan dari apa yang terlihat buruk sekalipun. Itulah kedahsyatan Allah kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah doa Simson, doa terakhir Simson

Setelah menyerukan doa itu, Simson merangkul kedua tiang yang paling tengah, penyangga rumah itu, lalu bertopang kepada tiang yang satu dengan tangan kanannya dan kepada tiang yang lain dengan tangan kirinya. Maka berkatalah Simson: “Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini.”

Lalu membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya, termasuk Simson, sehingga mereka semua mati pada saat itu juga.

1361995219_75058479

Dan demikianlah akhir hayat Simson bin Manoah, sang nazir Allah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang kita bisa petik dari pelajaran ini?

Simson adalah orang yang sangat menyia-nyiakan berkat yang Tuhan berikan. Simson adalah orang yang sangat durhaka terhadap Allahnya. Simson jatuh, jatuh, dan jatuh, dan jatuh lagi. Simson tahu bahwa dia sangat tidak layak untuk berdiri memohon pertolongan dari Allah untuk yang terakhir kali. Simson tahu betapa berdosanya dirinya.

Akan tetapi,
Walaupun Simson tahu betapa besar dosa yang diperbuatnya
Dia tahu bahwa kasih Allah jauh lebih besar dibanding semua dosanya dikumpul menjadi satu

Simson tahu bahwa Allah pernah meninggalkan dia ketika rambutnya dicukur. Tetapi Simson PERCAYA bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan dia. Simson percaya, bahwa Allah MENGASIHINYA. Dan di dalam iman itulah, Simson mampu melakukan hal yang jauh lebih besar dibanding apapun yang pernah diperbuatnya.

Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu
lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya.
(Hakim-hakim 16:30)

Ada satu ayat yang sangat aneh yang bisa menggambarkan kisah Simson ini:

7. Ketika Seorang LEMAH Ditolong TUHAN
Kau tahu mengapa ayat ini sangat aneh? Lihatlah, dia orang benar, tetapi dia jatuh hingga tujuh kali! Setahuku orang benar itu tidak akan jatuh atau paling tidak jatuh hanya dua kali. Jika dia jatuh dan jatuh terus hingga tujuh kali, satu saja kesimpulanku, dia orang bodoh dan bebal, bukan orang benar.

Apakah pandanganku ini benar?
Aku rasa dunia akan setuju denganku
Sebab dunia menilai kebenaran seseorang berdasarkan apa yang orang itu LAKUKAN

Tetapi tidak demikian dengan cara Allah memandang
Allah tidak menilai kebenaran seseorang berdasarkan apa yang orang itu lakukan
Melainkan berdasarkan SIAPA orang itu di mata-Nya

Kita benar bukan karena kelakuan kita yang baik dan sempurna
Kita benar karena kita adalah anak-anak Allah

Kita adalah anak-anak Allah sejak semula
Kita tidak berasal dari dunia ini, sama seperti Kristus (Yohanes 17:14)

Tetapi kemudian kita berdosa, kita mati secara rohani
Kita terhilang, status kita sebagai anak Allahpun lenyaplah

Dan untuk itulah Kristus datang ke dunia
Dia tidak datang ke dunia untuk membuat orang berdosa menjadi tidak berdosa
Melainkan untuk membuat anakNya yang terhilang, yang ‘mati’, menjadi ‘hidup’ kembali

Dan setiap orang yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup
Dan gelar anak Allah kembali disematkan padanya
Dan dia akan diperhitungkan sebagai orang benar

Orang benar tidak berarti bahwa dia tidak berdosa
Melainkan dosanya sudah tidak diperhitungkan lagi
Dan dia dianggap sebagai orang benar sebab kebenaran Kristus dikenakan pada dia
(Galatia 2:20)

Orang percaya tidak dibenarkan karena perbuatan baiknya
Orang percaya dibenarkan karena dia adalah anak Allah
Dan setiap anak Allah PASTI percaya kepada-Nya di dalam Kristus Yesus

LifeChurch-HabakkukSermon
Dan itulah yang terjadi pada Simson
Dia adalah orang benar, bukan karena kelakukannya
Melainkan karena Allah yang memandangnya benar
Dan di dalam Kitab Ibrani, Allah menyebut Simson sebagai seorang Saksi Iman
(Ibrani 11:32)

Simson mati dengan terhormat. Simson mati dalam perjuangannya menggenapi visi yang Tuhan taruh di dalam hatinya. Dan melalui iman yang meyakini bahwa Allah mengasihi dirinya, Simson memberanikan diri untuk memohon, “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku.” Hingga pada akhirnya, Simson mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dibanding apapun yang pernah diperbuatnya dalam masa kebebalannya.

Aku percaya, kitapun bisa melakukan hal itu, bahkan lebih baik lagi
Asalkan satu hal, kita mengimani ayat ini dengan sepenuh hati:

Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup,
tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging,
adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah
yang telah MENGASIHI AKU
dan MENYERAHKAN DIRI-NYA UNTUK AKU.
(Galatia 2:20)

Tuhan Yesus memberkati

Bersambung: Penutup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s