Haruslah Kamu Sempurna!

The Sermon on the Mount Carl Bloch, 1890

Suatu kali, orang banyak datang berbondong-bondong kepada Yesus. Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar orang banyak itu. Hari itu, Yesus menyampaikan khotbah yang luar biasa, khotbah yang dikenal sebagai “Khotbah Terbesar Sepanjang Masa”. Dan inilah yang terjadi:

Yesus memulai khotbahnya dengan menyampaikan sepuluh ucapan bahagia. Serangkaian ucapan yang benar-benar membangkitkan harapan dan semangat dari orang-orang kecil itu. Mereka adalah orang-orang miskin, berpenyakit, dan berdosa. Yesus menyampaikan tepat seperti apa yang ingin mereka dengar. Tidak hanya itu, Yesus juga menyebut mereka sebagai “garam dan terang dunia” serta “kota yang ada di atas bukit” yang memiliki tugas untuk memperlihatkan kemuliaan Bapa di sorga kepada setiap umat manusia.

Ketika mendengar-Nya berbicara, mereka tersenyum. Mereka kembali bersemangat. Harapan mereka bangkit kembali. Mereka mengangguk dan mengangguk pertanda mereka menemukan kebenaran dalam setiap perkataan Yesus. Mereka begitu senang mendengarkan-Nya hingga akhirnya Yesus menyampaikan apa yang tidak ingin mereka dengar. Yesus berkata:

Janganlah kamu menyangka,
bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.
Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya.

Maka Aku berkata kepadamu:
Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Saat Yesus mengatakan hal itu, seketika suasana menjadi hening. Banyak senyuman melayu. Anggukan kepala menjadi sedikit. Orang yang menelan ludah semakin banyak. Mereka tidak siap mendengar hal itu. Mereka tidak menyangka Yesus akan mengajarkan hal seekstrim itu. Mereka mulai ketakutan. Tetapi di antara mereka, masih ada beberapa orang yang menganggukkan kepala.

Yesus melanjutkan khotbah-Nya. Dia berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.” Seketika mereka sedikit lega dan mereka mulai berkata-kata kecil, “Ya aku tidak pernah membunuh, aku tidak pernah membunuh.” Mereka mengatakan itu seorang kepada yang lain. Mereka saling memandang seakan berbicara “Yes, kita masih bisa masuk surga.” Tetapi Yesus belum selesai. Dia melanjutkan,

Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;
siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama
dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Mereka terdiam. Mereka kaget. Mereka menelan ludah semakin banyak. Mereka kira selama ini tidak membunuh saja sudah cukup. Tetapi Yesus menghancurkan pemahaman mereka dan berkata bahwa orang yang marahpun patut dihukum di neraka. Mereka sadar mereka pernah, bahkan sering sekali marah. Mereka ketakutan. Orang-orang yang sempat mengangguk tadi semakin sedikit jumlahnya. Tetapi masih ada yang tersenyum karena merasa dirinya tidak pernah marah. Orang-orang ini berkata dalam hatinya, “Hahahaha, makanya, bertobatlah kalian, hahaha.”

Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dan berkata:
“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Ketika mendengar itu, beberapa dari orang yang mengangguk itu langsung membelalakkan matanya. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Pesan Yesus terlalu kontroversial. Yesus tidak saja berpesan agar mereka meminta maaf kepada orang yang pernah mereka sakiti, tetapi juga agar mereka meminta maaf kepada orang yang membenci mereka terlepas dari apakah mereka benar atau salah. Itu mustahil bisa diterima. “Jika aku tidak salah mengapa aku harus meminta maaf?” kata mereka.

Mereka mulai menolak pesan Yesus. Tetapi kharisma Yesus begitu kuat, itu menarik mereka untuk terus mendengar. Mereka juga mulai menyelidiki hati mereka. Mereka mulai sadar akan ketidaksempurnaan mereka dan itu mulai membuat mereka takut. Mereka tidak lagi tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala. Kini, hanya tinggal sepertiga dari semua orang itu yang masih tersenyum dalam hati, mengangguk-anggukan kepala, dan menuduh-nuduh orang yang ada di sebelahnya yang saat ini sedang tertunduk menatap tanah.

Kamu telah mendengar firman:
Jangan berzinah

Seketika itu juga semua kepala bangkit. Mereka merasa harapan mereka bangkit kembali. Mereka mulai bergumam dan saling mengatakan seorang akan yang lain, “Aku tidak pernah berzinah, aku tidak pernah berzinah. Wah, aku masih ada harapan, Teman. Aku masih ada harapan, horeeee. Lanjutkan Yesus, lanjutkan! Buat penzinah-penzinah ini paham betapa besar dosa mereka!”

Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya,
sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Sembilan puluh persen dari semua pria yang ada di situ seketika itu juga terkena ‘serangan jantung’ sekejap. Dengan definisi itu, mereka semua penzinah. Itu terlalu ekstrim. Mereka ingin membantah Yesus tetapi jika mereka membantah, orang-orang akan mencurigai bahwa mereka yang membantah itu adalah orang yang suka berpikiran cabul. Alhasil, mereka hanya bisa diam dan merenung. Mereka semakin takut. Mereka mengutuki diri mereka akan keberdosaan mereka. Mereka mulai memikirkan panasnya api neraka.

Yesus melanjutkan:

Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau,
cungkillah dan buanglah itu,
karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa,
dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.

Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau,
penggallah dan buanglah itu,
karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa
dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Yesus seakan-akan memberikan solusi alternatif. Daripada seluruh tubuh dibuang ke neraka, lebih baik hanya beberapa anggota tubuh saja yang dibinasakan. Solusi dari Yesus sama sekali tidak membantu mereka. Mereka semakin tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan. Mereka ingin mendengar Yesus menyampaikan ucapan bahagia lebih banyak lagi. Tetapi sepuluh persen dari mereka tetap berdiri teguh karena mereka pikir mereka tidak berdosa. Sayang sekali bagi mereka, Yesus masih jauh dari selesai.

Aku berkata kepadamu:
Janganlah sekali-kali bersumpah…
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

9% orang masih menganggung-angguk dan memandang orang-orang di sekelilingnya dengan rendah.

Aku berkata kepadamu:
Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,
melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

8% orang masih berdiri teguh.

Aku berkata kepadamu:
Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu,
serahkanlah juga jubahmu.
Siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,
berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
Berilah kepada orang yang meminta kepadamu
dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

7% orang masih bisa tersenyum.

Aku berkata kepadamu:
Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

97% dari mereka seperti mau pingsan sementara 3% lagi masih bisa berdiri tegap sekalipun sekujur tubuh mereka penuh dengan keringat dingin dan ludah mereka sudah kering.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?
Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,
apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?
Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Sembilan puluh sembilan persen hanya bisa termenung, mengelus-elus tanah, dan mencoba menghibur diri. Mereka ternyata telah salah menilai hukum Taurat selama ini. Ternyata hukum Allah bahkan jauh lebih sulit untuk dipenuhi dibandingkan apa yang mereka kerjakan selama ini. Kini, hanya tinggal 1% orang yang bisa bertahan dengan sederetan gugatan yang Yesus sampaikan itu. Mereka sangka mereka sudah lolos seleksi alam.

Tetapi Yesuspun melanjutkan:

Haruslah Kamu Sempurna!
Tak satupun dari orang-orang yang ada di sana bisa tersenyum sekarang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang bisa kita petik dari Khotbah Tuhan Yesus ini?

Yesus berusaha untuk menghancurkan pemahaman orang banyak itu tentang bagaimana hidup untuk melayani Tuhan. Pemahaman yang dimiliki oleh orang banyak itu, dan yang juga dimiliki oleh orang-orang zaman ini, adalah melayani Tuhan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Mereka kira, dengan ibadah dan perbuatan baik mereka, mereka bisa memuaskan Tuhan dan sebagai hasilnya, mereka dijauhkan dari neraka.

Akan tetapi, itu adalah pemahaman yang salah. Mengapa? Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Di mata Tuhan, manusia mati secara rohani dan tak satupun yang dilakukan oleh ‘mayat-mayat hidup’ itu yang akan menyenangkan hati Tuhan. Bukan saja kondisinya yang mati secara rohani, pada dasarnya, perbuatan baik dan ibadah manusia tidaklah sempurna. Semuanya cacat dan pamrih. Tak satupun usaha yang dilakukan oleh orang-orang berdosa yang mampu memenuhi kehendak hati Tuhan. Bapa itu sempurna, siapapun yang hendak datang menghadap-Nya, haruslah datang dalam kesempurnaan, yang mana itu mustahil dimiliki oleh manusia yang berdosa.

Adalah suatu bencana bagi umat manusia apabila Tuhan memperhitungkan kebenaran dan keselamatan seseorang berdasarkan perbuatan yang orang itu lakukan. Jika Tuhan melakukannya dengan standar itu, pastilah Ia akan melempar semua manusia ke dalam maut. Tuhan hanya punya dua pilihan, yakni apakah Dia akan memperhitungkan kebenaran dan keselamatan seseorang berdasarkan perbuatannya atau berdasarkan perbuatan-Nya.

Dan karena itulah Yesus Kristus turun ke dunia. Hukum Taurat tidak dibatalkan. Tuntutan Bapa tentang hidup yang sempurna juga tidak dihapuskan. Keduanya tetap berlaku. Dan kabar baik untuk seluruh umat manusia adalah, Yesus Kristus telah memenuhi dua tuntutan itu.

Kristus hidup tanpa dosa (1 Petrus 2:22, Ibrani 4:15, 2 Korintus 5:21). Kristus hidup sempurna sesuai dengan yang Bapa kehendaki. Sesuai dengan apa yang Dia katakan, Kristus tidak datang untuk meniadakan Hukum Taurat, melainkan menggenapinya. Dan coba tebak! Hukum itu SUDAH DIGENAPI oleh-Nya dan Dia sendiri memberi kesaksian mengenai hal itu sebelum Dia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa, yakni ketika Dia berkata: Sudah Selesai!

Hukum Taurat telah tergenapi oleh kehidupan dan kematian Tuhan kita, Yesus Kristus. Semuanya sudah selesai. Manusia tidak lagi berada di bawah tuntutan Hukum Taurat sebab semuanya telah terlaksana dalam karya Kristus Yesus.

Sebagaimana seorang imam bertugas mempersembahkan korban penebusan dosa dalam zaman Perjanjian Lama, seperti itu jugalah Kristus berkarya. Dia menjadi imam yang sempurna dan pada saat yang sama Dia menjadi korban yang sempurna untuk dipersembahkan sebagai penebus dosa manusia. Dia adalah Tuhan dan hanya Tuhanlah yang layak menjadi seorang Juru Selamat. Dia sungguh indah. Dia terlalu rendah hati untuk bisa dibayangkan. Oh, betapa kucintai Engkau Tuhan, marilah kita bernyanyi demikian!

Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat,
sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.
(Roma 10:4)

Bagi barangsiapa yang percaya kepada-Nya, maka dosa orang itu TELAH ditimpakan kepada Dia dan hukuman atas dosa-dosa itu telah Dia terima dan Dia bayar di atas bukit Kalvari. Bagi barangsiapa yang percaya kepada-Nya, maka kesempurnaan-Nya akan diperhitungkan oleh Bapa sebagai kesempurnaan orang yang berdosa itu. Orang-orang percaya adalah orang-orang yang hatinya telah diregenerasi oleh Roh Kudus dalam iman kepada Yesus Kristus. Mereka tidak lagi mati secara rohani. Mereka bukan lagi ‘mayat-mayat hidup’. Mereka telah ‘terlahir kembali’. Dan hanya orang-orang yang demikianlah yang berkenan kepada-Nya. Bapa memandang orang percaya seperti Bapa memandang Anak-Nya.

Kamu tahu, bahwa
tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat,
tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.
(Galatia 2:16)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Allah menuntut kita untuk sempurna.
Itu benar dan Kristus telah memenuhi tuntutan itu bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Bapa memperhitungkan setiap orang percaya sebagai orang benar.
Bapa memperhitungkan setiap orang percaya sebagai orang yang hidup sempurna.

Tetapi, untuk apakah semua itu?

 1-corinthians-6-19-20-bible-lock-screen

Saudara-saudaraku yang terkasih, ingatlah bahwa pada awalnya kita adalah penghuni neraka. Kita pantas untuk mati akibat kesalahan-kesalahan kita. Kita adalah milik sang maut. Tetapi Bapa kita telah membeli kita dari tangan sang maut. Dia membeli kita bukan dengan barang yang fana, tetapi dengan darah Anak-Nya sendiri.

Dia telah mengorbankan segala yang Dia miliki, untuk apakah semua itu? Apakah untuk kita gunakan bagi kenikmatan diri kita sendiri? Supaya kita bisa lagi dan lagi melakukan dosa? Tentulah tidak. Allah membeli kita supaya DIA MEMILIKI KITA. Supaya kita bisa hidup bagi Dia. Supaya kita hidup untuk mempermuliakan Dia melalui tubuh kita, perkataan kita, dan perbuatan kita hari demi hari. Supaya kita hidup untuk menunjukkan kepada dunia betapa mulia-Nya Dia dan betapa seluruh umat manusia harus berlutut dan menyembah Dia, satu-satunya Allah yang benar.

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus,
umat kepunyaan Allah sendiri,
supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia,
yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
(1 Petrus 2:9)

Kasih karunia Dia berikan bagi kita untuk menyediakan pengampunan atas dosa-dosa kita dan memberikan kuasa untuk menaklukkan dosa-dosa itu sehingga kita tidak lagi hidup di dalamnya.

Alangkah diberkatinya kita dan betapa kita tidak bersyukur akan hal itu. Pada jam ini juga, entah ada berapa banyak orang di luar sana yang memejamkan matanya dan tertidur di kasurnya yang nyaman dan ketika dia membuka matanya, dia sudah ada di neraka dan tak akan pernah bisa lagi keluar dari dalamnya. Dia berteriak-teriak kepada Tuhan, memohon diberikan kesempatan kedua untuk bertobat, tetapi bagi dia pintu pertobatan telah tertutup selamanya. Oh, sungguh sudah seharusnya kita bersyukur hari demi hari sebab Tuhan tidak mengambil nyawa kita di masa kita masih memberontak terhadap-Nya, melainkan Dia masih memberikan kita kesempatan untuk bertobat dan mengasihi-Nya.

Oleh sebab itu, marilah kita renungkan kembali

Sebesar-besarnya pengorbanan kita untuk Dia
Itu tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan Dia untuk kita

Dia hidup bagi kita, Dia mati bagi kita
Supaya kita hidup untuk Dia dan mati untuk Dia

Kita dibeli oleh-Nya, supaya Dia memiliki kita, seutuhnya

Kita hidup bukan untuk diri kita lagi, melainkan untuk Dia
Kita hidup bukan untuk memuliakan diri kita sendiri, melainkan untuk memuliakan-Nya

Kita hidup bukan untuk menceritakan kepada dunia siapa diri kita
Melainkan untuk menceritakan kepada dunia siapa Dia dan apa yang sudah Dia lakukan

Dan marilah kita bertekun dalam kekudusan hidup
Seperti Allah juga bertekun dalam mengasihi kita

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s