8. Penutup: Not About Samson, Not About You

Sebagian besar orang yang membaca halaman demi halaman pada seri Simson ini mungkin akan menyangka bahwa selama ini kita sedang berbicara tentang Simson. Yah, memang benar bahwa dari satu sudut pandang kita memang sedang membicarakan Simson. Akan tetapi, heyyy… kita tidak pernah benar-benar berbicara mengenai Simson seolah-olah dia adalah tokoh utama di balik semua ini. Ini bukan tentang Simson. Ini tidak pernah tentang Simson. Ini semua adalah tentang Tuhan Allah, bagi Dia-lah segala hormat, pujian, dan kemuliaan untuk selama-lamanya.

Ini bukan tentang Simson. Ini adalah tentang Allah yang sejak semula menetapkan Simson untuk menjadi nazir-Nya yang akan memulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin (Hakim-Hakim 13:5). Itu bukanlah keputusan Simson, itu merupakan keputusan Allah. Itu bukan keputusan Simson, itu adalah hak dan kedaulatan Allah untuk menetapkannya bahkan sebelum Simson lahir.

Ini bukan tentang Simson. Simson merasa bahwa hidup yang dia miliki adalah miliknya sendiri. Simson tidak ingin setia kepada Allah dan dia memaksakan kehendaknya untuk menikahi gadis Timna itu. Tetapi, apakah rencana Allah atas Simson menjadi rusak hanya karena pemberontakan Simson. Tidak, ini bukanlah tentang Simson melainkan tentang Dia dan Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menggagalkan rencana-Nya. Sampai kapanpun, hanya rencana-Nyalah yang jadi sebab Dialah yang berdaulat atas segala sesuatu.

Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya:
sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin.
(Hakim-Hakim 14:4)

Ini bukan tentang Simson. Ini tidak pernah tentang Simson. Simson tidak mengalahkan singa itu dengan kekuatannya sendiri, apalagi dengan rambutnya. Allah-lah yang memberkati Simson dengan kekuatan yang sedemikian luar biasa sehingga ia mampu mencabik singa itu seperti orang yang mencabik anak kambing (14:6). Kekuatan Simson tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan dari Tuhan. Tuhanlah yang menyertai Simson dan memberikannya kekuatan untuk bertempur tetapi Simson menyalahgunakan kuasa itu untuk memuaskan dendamnya kepada tiga puluh orang Askelon (14:19). Bukan dengan kekuatannya sendiri Simson mampu menumpas seribu orang di Lehi, Tuhan Allah-lah yang berkuasa atasnya (15:14).

Ini bukan tentang Simson. Simson membunuh seribu orang di medan pertempuran bukan karena tulang rahang keledai itu. Allahlah yang memberikan kepada Simson kemenangan tersebut. Allahlah aktor utama di balik semua itu dan Dia menetapkan bahwa Simson akan menang dengan sebuah tulang rahang keledai. Mengapa Allah melakukannya? Mengapa Allah tidak memperlengkapi Simson dengan persenjataan perang? Sebab Allah ingin menunjukkan kepada Bangsa Filistin dan dunia bahwa Dia mampu membawa kemenangan bahkan dari sesuatu yang bagi dunia merupakan suatu kebodohan.

Sama seperti Simson yang menang dengan sebuah tulang rahang keledai yang bodoh, sama seperti Daud yang mengalahkan Goliat hanya dengan sebuah ali-ali yang mengundang tawa, Allah menetapkan bahwa Dia akan memberikan kemenangan kepada Kristus, Anak-Nya yang tunggal, melalui salib yang bagi dunia adalah suatu kebodohan.

“tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan:
untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan
dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan
(1 Korintus 1:23)

Allah memakai tulang rahang keledai untuk membawa kemenangan bagi Simson. Tetapi, bukankah bangkai itu merupakan sesuatu yang Dia tetapkan sendiri sebagai suatu kenajisan? Benar sekali, bangkai itu najis dan that’s the point. Sama seperti Simson yang mengalahkan musuh-musuhnya dengan sesuatu yang najis, Allah juga menetapkan bahwa Dia akan menaklukkan semua musuh-Nya dengan jalan menjadikan Anak-Nya terkutuk di atas kayu salib.

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
(Galatia 3:13)

Simson memperoleh kemenangan dengan sebuah “tengkorak”, Kristus menyelesaikan tugas-Nya di atas bukit “tengkorak”. Simson mendapatkan kemenangannya dengan rahang “keledai”; Kristus dimuliakan di sepanjang jalan Yerusalem dengan menunggangi seekor “keledai”. Apakah itu kebetulan? Hmmm… I don’t think so.

Ini bukan tentang Simson. Ini bukan tentang betapa hebatnya Simson. Simson tidaklah sempurna. Dia juga bisa merasa kehausan bahkan hingga mau mati setelah ia mengalahkan sekian banyaknya orang Filistin. Dan jika Simson yang gagah perkasa saja bisa menjadi sedemikian menderita akibat rasa dahaga itu, oh rasa haus seperti apakah yang Engkau alami di atas kayu salib, ya Tuhanku Yesus Kristus yang kucinta? Betapa besarnya kasih dan setia-Mu oh Penebusku! Patutlah seisi bumi menyembah-Mu!

Sungguh, ini bukanlah tentang Simson. Ini adalah tentang Allah. Ini selalu tentang Allah. Dialah yang membelah liang batu yang di Lehi itu sehingga keluarlah air untuk Simson minum. Lalu, apakah yang terjadi setelah Simson meminumnya? Alkitab berkata, “his spirit came again”. Dan ketika berbicara tentang air, tidakkah kita teringat akan perkataan Kristus, Tuhan kita:

Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.

Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14)

T-Shirt-Thirst-John-3-37

Ini bukan tentang Simson. Simson bukanlah tokoh utama di balik semua ini. Delila mencukur rambutnya, TUHAN meninggalkan dia, dan diapun ditaklukkan oleh Bangsa Filistin. Simson layak menerimanya. Oh, Simson sangat sangat layak menerimanya sama seperti engkau dan aku yang layak, sangat-sangat layak, untuk dicampakkan ke neraka. Tetapi puji Tuhan, ini bukan tentang Simson, melainkan tentang Allah. Dan karena hidup ini adalah tentang Allah, maka Dialah yang berkuasa dan berdaulat untuk memberikan kasih karunia kepada Simson. Dan di dalam kasih dan kesetiaan-Nya yang tiada tara, Allah menumbuhkan rambut Simson kembali (16:22).

Ini bukan tentang Simson. Simson akhirnya bertobat. Dia sadar bahwa apa yang dia miliki selama ini adalah milik Allah, bukan miliknya. Itulah mengapa dia berdoa dan berkata kepada Allah:

“Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku
dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah…”
(16:28)

Dan tidakkah itu mengingatkan kita pada doa orang yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, yakni ketika orang itu berkata kepada-Nya:

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
(Lukas 23:42)

Apakah kau mengerti sekarang?
Ini bukan tentang Simson
Ini adalah tentang Yesus Kristus, ini selalu tentang Yesus Kristus

Dan jika Allah membuka selubung yang menutupi hikmatmu, maka engkau akan tahu bahwa seluruh isi Alkitab, dari awal sampai akhir, sesungguhnya berisikan kesaksian dari Allah Bapa, yang Ia nyatakan melalui Roh Kudus, dan kesaksian itu adalah tentang Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Jika para malaikat menyerukan kebesaran-Nya
Jika para nabi menubuatkan kedatangan-Nya
Jika para rasul menceritakan karya-Nya
Bahkan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus-pun memberikan kesaksian tentang Dia

Siapakah kita sehingga kita enggan memberitakan Dia kepada dunia?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apakah yang bisa kita petik dari semua ini?

Sekalipun Simson jatuh dan jatuh lagi, Allah menumbuhkan rambutnya kembali. Allah menumbuhkan rambut Simson bukan karena rambut itu merupakan sumber kekuatan baginya, tetapi karena rambut merupakan tanda eksternal yang menunjukkan kepada dunia bahwa Simson adalah nazir Allah. Lihatlah! Allah tidak malu mengakui Simson sebagai nazir-Nya. Allah memulihkan tanda kenazirannya dan seakan berkata kepada dunia, “Inilah nazirku, sekalipun dia selalu gagal, aku mengangkat dia kembali.Aku tidak malu mengakuinya sebagai nazir-Ku sebab aku Allah yang setia.”

Oleh sebab itu, marilah hai semua orang yang berdosa!
Mari datang dan memohon pengampunan-Nya
Sebab belas kasih-Nya jauh lebih besar dari semua dosa kita

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku,
dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
(Yohanes 6:37)

Simson sadar bahwa dia telah berdosa. Orang yang disalib di sebelah Yesus juga sadar bahwa dia adalah orang berdosa. Mereka mengerti bahwa keselamatan mereka tidak tergantung pada apapun yang mereka lakukan melainkan pada suatu pertanyaan sederhana, yakni “apakah Allah bersedia mengingat mereka?”Dan begitu pula bagi setiap kita. Pertanyaan yang sama harus kita tanyakan pula kepada diri kita masing-masing, “Apakah Yesus akan mengingatku kelak?

Sekali lagi
Ini bukanlah tentang Simson
Ini juga bukan tentang kau dan aku

Oleh sebab itu, marilah kita mempersembahkan seluruh hidup kita hanya untuk melayani Tuhan kita Yesus Kristus. Marilah kita berhenti berusaha menjadi tokoh utama di dalam hidup ini. Berhentilah menyangka bahwa kita adalah pusat alam semesta sehingga apapun yang terjadi haruslah menyenangkan hati kita. Berhentilah memuaskan diri dengan apa yang dunia tawarkan.

Kita masih terus hidup di dalam dosa dan memandang itu sebagai sesuatu yang biasa. Kita mengaku percaya kepada Kristus tetapi tidak ada perubahan dalam hidup kita. Kita mengabaikan firman yang menyatakan bahwa bukti dari kelahiran baru yang sejati adalah iman dan pertobatan/kekudusan. Kita membela diri dan menilai bahwa mengejar kekudusan hidup merupakan hal yang mustahil di lakukan. Kita berkata, “Aku tidak mampu. Lagipula aku masih hidup di dunia, bukan di sorga.”

Oh,hari ini mungkin kita bisa berkata, “Aku tidak mampu hidup sekudus itu.” Tetapi pada hari penghakiman kelak, mulut kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, hati kitalah yang akan mengungkapkan segalanya. Dan pada saat itu semua yang ditutupi akan kelihatan dan kita akan tahu ketika hati kita sendiri yang memberikan kesaksian kepada Allah, yakni kita tidak melakukan apa yang benar di hadapan Allah bukan karena kita tidak MAMPU tetapi karena kita tidak MAU.

Marilah kita menyelidiki hidup kita masing-masing!

Apakah kita selalu mengundang Dia untuk turut campur tangan dalam setiap detail hidup kita? Atau kita hanya mengundang Dia apabila kita menemukan jalan buntu dan membutuhkan pertolongan? Ketika kita ingin menempuh S2, memilih pekerjaan, teman hidup, atau apapun, apakah pendapat Allah menjadi penting bagi kita?

Sudahkah firman-Nya menjadi sesuatu yang berharga di dalam hati kita? Apakah kita rindu untuk membaca, mendengar, dan merenungkan firman-Nya setiap hari? Atau kita lebih rindu menyaksikan artis-artis kesukaan kita berperan dan atlet-atlet favorit kita bertanding?

Apakah kita rindu menunjukkan kepada dunia, atau setidaknya kepada rekan-rekan di sekitar kita tentang betapa indahnya Allah kita? Ataukah yang menjadi kepedulian kita hanyalah tentang penerimaan dan pengakuan orang lain terhadap kita?

Sudahkah kita membanggakan Dia di hadapan dunia layaknya seorang anak kecil yang dengan bangga mengakui bapaknya? Ataukah kita jauh lebih bangga mengumandangkan bahkan membela calon presiden pilihan kita?

Apakah kita menjadikan pemberitaan Injil sebagai tujuan utama dalam hidup kita? Ataukah yang terpenting bagi kita adalah bagaimana agar kita bisa mencapai cita-cita, karir, dan kesuksesan yang setinggi-tingginya?

Sudahkah kita menganggap penting apa yang Dia anggap penting?
Sudahkah kita membuang apa yang Dia perintahkan untuk kita jauhkan?

Ayolah, Teman-teman!
Pikirkanlah ini baik-baik!
Tanyalah benar-benar pada dirimu!

Sudahkah Allah menjadi Allah dalam hidupmu?

Jangan tanyakan hal itu pada hatimu sebab hatimu bisa menipumu (Yeremia 17:9). Tetapi lihatlah jawabannya berdasarkan tingkah lakumu setiap hari. Bukan tingkah laku yang bisa dilihat oleh orang, tetapi tingkah laku yang kau lakukan apabila tak seorangpun melihatnya. Sudahkah tingkah lakumu itu membuktikan bahwa Dia adalah Allahmu dan kau adalah pelayan-Nya?

Ayolah, Teman-teman!
Renungkanlah itu sungguh-sungguh!

Hidup ini bukanlah tentang aku
Hidup ini bukanlah milikku

Uang ini bukanlah uangku
Waktu ini bukanlah waktuku
Tubuh ini bukanlah milikku

Pelayanan ini bukanlah pelayananku
Cita-citakupun bukanlah hakku

Hidup ini bukan tentang bagaimana Dia bisa menolongku mencapai tujuan-tujuanku
Melainkan tentang bagaimana agar Dia memakaiku untuk tujuan-tujuan-Nya

Hidup ini bukan tentang kesenanganku
Melainkan tentang kemuliaan nama Kristus

Hidup ini bukanlah tentang bagaimana dunia bisa mengenalku
Melainkan tentang bagaimana dunia bisa mengenal Kristus melalui hidupku

Kristus sudah hidup bagiku
Akupun harus hidup bagi Dia

Kristus sudah mati bagiku
Akupun ingin mati bagi Dia

Aku yang dahulu harus mati
Dan Kristuslah yang harus lahir, hidup, dan menjadi Raja di dalam hatiku

10532876_10202545971794679_4540507588217666738_n
Saudara-saudaraku, marilah kita merendahkan diri kita di hadapan-Nya. Kita ingat siapa kita, kita sadar siapa Dia. Kita hanyalah debu, Dia adalah Allah, Raja alam semesta. Dia tidak membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan Dia. Dia tidak akan rugi sama sekali jika kita menolak-Nya, tetapi jika kita menolak Dia, kita akan menjalani kekekalan di dalam siksa neraka. Di sana, setiap orang berdosa akan disiksa, dan sekalipun mereka berharap untuk mati, mereka tidak akan bisa mati, tetapi terus dan terus, lagi dan lagi, disiksa untuk selama-lamanya.

Jadi, Teman-teman
Mana yang kau pilih?

Hidup menderita di dunia karena Kristus kemudian menjalani kekekalan bersama Dia di sorga
Atau menikmati hidup di dunia ini dan menderita selama-lamanya di neraka?

Perhitungkanlah sekarang untung ruginya!
Dan putuskan pilihanmu!

Tetapi kalau aku boleh memberikan nasehat padamu, “Pilihlah Dia!”. Tundukkanlah dirimu di hadapan-Nya. Hargailah Dia. Hormatilah Dia. Akuilah Dia. Sembahlah Dia. Persembahkanlah segala-galanya hanya bagi Dia. Dan ketahuilah:

499290984

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pesan Penutup:

Sekian pelajaran kita mengenai Simson. Semoga eksposisi ini menjadi berkat dan hikmat bagi kita. Semoga semua ini bisa menjadi pemicu bagi kita semua agar setiap kita semakin hari semakin memiliki kerinduan untuk menyelidiki firman Allah. Dan semoga, suatu saat nanti, Tuhan memberikan kesempatan baru bagi kita untuk mempelajari kisah hidup tokoh-tokoh lain di dalam Alkitab.

Sampai bertemu di lain kesempatan
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s