Ikutlah Aku, Sebuah Panggilan untuk Mati dan Hidup

10525649_883439381683365_7402474272390863440_n
Ayan adalah salah satu orang dari kelompok suku yang membanggakan diri mereka sebagai 100 persen penganut “agama tertentu”. Menjadi bagian dari kelompok suku tersebut berarti menjadi seorang penganut agama itu. Identitas pribadi, kehormatan keluarga, posisi relasional, dan status sosial Ayan tak pelak lagi sangat terjalin erat dengan agama itu. Sederhananya, jika Ayan meninggalkan imannya, ia akan segera kehilangan nyawanya. Jika keluarga Ayan mendapati bahwa ia bukan lagi penganut agama itu, mereka akan menggorok lehernya tanpa pertanyaan atau keraguan.

Kini, bayangkan Anda memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Ayan tentang Yesus. Anda memulai dengan berbicara kepadanya tentang betapa besar Allah mengasihinya, sehingga Ia rela mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati di atas kayu salib sebagai Juruselamat atas segala dosanya. Ketika Anda sedang berbicara, Anda dapat merasakan bahwa hati Ayan semakin melembut dan ia menerima setiap perkataan Anda. Namun, pada saat yang sama, Anda dapat merasakan jiwanya gemetar ketika merenungkan apa yang akan dialaminya saat ia memutuskan untuk mengikut Kristus. Dengan rasa takut terpancar di mata dan iman di dalam hati, ia bertanya kepada Anda, “Bagaimana aku bisa menjadi seorang Kristen”?

Anda punya dua pilihan dalam menanggapi pertanyaan Ayan. Dan bisa memberitahunya betapa mudah menjadi seorang Kristen. Jika Ayan sepakat pada beberapa kebenaran pokok dan mengulangi sebuah doa tertentu, maka Ayan akan diselamatkan. Sesederhana itu.

Pilihan kedua Anda adalah memberitahu Ayan kebenarannya. Ada dapat memberitahu Ayan bahwa di dalam Injil, Allah sesungguhnya sedang memanggilnya untuk mati.

Mati secara literal.
Mati dari kehidupannya sendiri.
Mati dari keluarganya.
Mati dari kawan-kawannya.
Mati dari masa depannya.

Dalam kematian itu, ia akan hidup. Hidup di dalam Yesus. Hidup sebagai bagian dari keluarga global yang mencakup semua suku bangsa. Hidup dengan beragam kawan yang merentang dari berbagai usia. Hidup dalam sebuah masa depan di mana sukacita tidak akan pernah berkesudahan.

Ayan bukanlah kisah rekaan. Ia adalah perempuan nyata yang saya temui. Ia membuat pilihan nyata untuk menjadi seorang Kristen. Ia mati bagi dirinya sendiri dan hidup di dalam Kristus tak peduli berapapun harganya. Karena keputusannya untuk mengikuti Yesus, ia terpaksa meninggalkan keluarganya dan berpisah dari kawan-kawannya. Namun, saat ini ia bekerja secara strategis dan penuh pengorbanan demi penyebaran Injil di antara kelompok sukunya. Risikonya sangat tinggi ketika setiap harinya ia harus mati bagi dirinya sendiri demi hidup di dalam Kristus.

Kisah Ayan adalah pengingat yang jelas bahwa panggilan hidup bagi Kristus adalah sebuah panggilan tak terhindarkan untuk mati. Panggilan semacam ini sudah jelas sejak permulaan kekristenan. Empat orang nelayan berdiri di dekat pantai pada abad pertama ketika Yesus mendekati mereka. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Dengan panggilan itu, Yesus mengisyaratkan keempat orang ini untuk meninggalkan pekerjaan, harta, impian, ambisi, keluarga, kawan, kenyamanan, dan keamanan diri mereka. Ia meminta mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya SETIAP HARI dan mengikut Aku.”
(Lukas 9:23)

Itulah kata Yesus berulang-ulang. Di dunia di mana segala sesuatu berputar di sekeliling diri sendiri – lindungi dirimu sendiri, hiburlah dirimu sendiri, buatlah dirimu sendiri merasa nyaman, uruslah dirimu sendiri – Yesus pun berkata, “Salibkan dirimu sendiri”. Dan, tepat itulah yang terjadi. Menurut Kitab Suci dan sejarah, keempat orang nelayan ini membayar harga yang sangat mahal demi mengikut Kristus. Petrus disalib terbalik, Andreas disalib di Yunani, Yakobus dipenggal kepalanya, dan Yohanes dibuang ke pulau Patmos.

Namun mereka percaya itu adalah harga yang pantas mereka bayar. Dalam Yesus, keempat orang ini menemukan Seseorang yang bagi-Nya mereka layak meninggalkan segala sesuatu. Dalam Kristus, mereka menjumpai kasih yang tak dapat dibandingkan melebihi apa pun, kepuasan yang mengatasi segala keadaan, dan tujuan yang melampaui segala pengejaran apa pun di dunia ini. Mereka dengan rindu, rela, dan penuh sukacita kehilangan nyawa demi mengenal, mengikuti, serta memproklamasikan Yesus. Dalam jejak langkah Yesus, para murid pertama ini telah menemukan sebuah jalan yang mereka bayarkan dengan segenap hidup untuk mengikuti-Nya.

Dikutip-dengan-sedikit-diedit-dari-buku: Follow Me, tulisan David Platt
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga pesan dari buku ini menjadi berkat bagi setiap kita yang membacanya. Dan semoga Allah memberikan kita hikmat dan pengertian untuk memahami makna sesungguhnya dari menjadi seorang Kristen serta menganugerahkan hati yang taat kepada-Nya.

10330346_695506950515752_4602832867323400051_n
Bagaimana?
Setujukah kita dengan pernyataan di atas?

Alangkah indahnya jika setiap kita benar-benar mengerti bahwa menjadi seorang Kristen berarti menjadi seorang Pengikut Kristus. Menjadi seorang pengikut Kristus berarti menjadi orang yang mengikuti Kristus ke manapun Dia pergi. Dia merendahkan diri dan lahir di kandang domba, kita ikut merendahkan diri bersama-Nya. Dia hidup dalam kekudusan, kita ikuti Dia dan berjuang untuk hidup kudus dengan kekuatan dari-Nya. Dia pergi memberikan berkat jasmani kepada setiap orang, kita juga rela berkorban demi memenuhi kebutuhan jasmani orang-orang yang bisa dan perlu kita tolong dengan menggunakan berkat yang sejatinya Dia berikan kepada kita. Dia pergi memberitakan Injil, kita juga pergi di belakang-Nya untuk memberitakan Injil. Dia menjalani via dolorosa, kita juga ikut menderita bersama-Nya memikul salib setiap hari. Dia di salib di Golgota, kita disalib bersama-Nya. Dia turun ke dalam maut, diri kita beserta dosa-dosa yang lama juga mati bersama Dia. Dia bangkit, kitapun bangkit. Dia naik ke sorga, kita juga akan pergi ke sorga bersama Dia.

1378792_10151687285932374_354835660_n

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s