Aku Takut Mati

philippians_1_22_by_tsumench-d39q2b8

Tidak selalu, tetapi aku sering kali memikirkan bagaimana aku akan mati kelak. Secara daging, tentu saja aku mengharapkan kematian yang, you know, tidak menyakitkan. Aku ingin mati dalam damai, dikelilingi orang-orang yang kukasihi, aku memberikan nasehat-nasehat terakhir kepada mereka, dan mereka mendoakan aku. Akan tetapi, hmm I don’t know, setiap kali aku membayangkan kematian yang demikian, aku merasa bahwa diriku sangatlah egois. Bahkan Tuhan Yesus, Rajaku, dipermalukan, disiksa habis-habisan, dan dibunuh di atas kayu salib, bagaimana mungkin aku bisa seegois itu mengharapkan kematian yang menyenangkan?

Kau mengerti arah dari pembicaraanku ini? Apa yang kumaksud bukanlah kematian biasa, melainkan tentang kematian karena iman di dalam Kristus.

2666
Dalam benakku, aku sering memikirkan perkataan-perkataan ini:

BERBAHAGIALAH kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus,
sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
(1 Petrus 4:15)

Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita,
maka itu adalah KASIH KARUNIA pada Allah.
(1 Petrus 2:20)

Sebab kepada kamu DIKARUNIAKAN bukan saja untuk percaya kepada Kristus,
melainkan juga untuk MENDERITA untuk Dia,
(Filipi 1:29)

Mengertikah engkau, saudaraku? Menderita bagi dan karena Kristus adalah suatu karunia. Akan kuulangi sekali lagi, itu KARUNIA. Itu berkat. Wooowww… Turut menderita untuk Kristus, adalah suatu karunia. Itu merupakan suatu kehormatan. Kehormatan bagi setiap orang yang benar-benar mencintai-Nya, lebih dari apapun, bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Itulah yang terus-menerus terngiang di kepalaku. Oh, alangkah indahnya jika aku diberikan kehormatan oleh Rajaku, Majikanku yang kulayani, untuk mati bagi Dia dan memproklamasikan nama-Nya yang indah di hadapan semua pembenci-pembenci-Nya.

Tetapi aku takut…
Tetapi aku sangat takut…
Tetapi aku terlalu takut…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku adalah orang lapangan. Lapangan di mana aku bekerja ada di pulau yang berbeda sehingga untuk sampai ke sana, aku harus mengambil perjalanan via udara. Dalam setahun, bisa dibilang frekuensi penerbangan yang kuambil cukup tinggi. Dan aku tidak tahu apakah semua orang yang sering naik pesawat memikirkan hal yang sama, tetapi aku selalu membayangkan bahwa hari di mana aku terbang adalah hari terakhir dalam hidupku. Kau mungkin tertawa membaca pengakuanku ini tetapi aku sungguh-sungguh membayangkan hal itu dan tidak bisa kupungkiri, ada sedikit ketakutan di dalam hatiku. Bukannya aku takut kalau-kalau aku belum menerima keselamatan dari Allah, yang aku takutkan adalah penderitaan jasmani seandainya pesawat yang kutumpangi meledak, menabrak, jatuh, atau apapun.

Akan tetapi, perjalanan tempo hari sedikit berbeda. Setelah mengambil boarding pass, aku berjalan menuju ruang tunggu. Seperti biasa, pikiran itu muncul lagi, “OK Richard, bagaimana jika pesawatmu celaka, ditembak, atau whateversakit loch.” Berbeda dengan sebelumnya, kala itu aku tidak terlalu bermasalah dengan pikiran itu. Aku tidak membiarkan diriku tenggelam dalam ketakutan yang demikian. Namun, terbebas dari ketakutan itu tidak menjamin hatiku menjadi semakin tenang, sebab justru setelah itu aku membayangkan hal yang lebih menakutkan:

“Wahai diriku, betapa indahnya jika kau disiksa dan mati bagi Kristus…”

Aku tidak bisa mengatakan bahwa pikiran itu adalah pikiran yang kudus. Aku tidak tahu darimana datangnya pikiran itu. Apakah pikiran itu datangnya dari Allah atau iblis yang sedang menyuarakannya untuk membuat hatiku menjadi gentar dan tidak damai sejahtera. Dan memang, tiap kali memikirkan hal itu, aku menjadi bersusah hati, berbeda seperti apa yang Yesus sampaikan ketika Dia berkata, “Janganlah gelisah hatimu” (Yohanes 14:1).

Aku tidak tahu mengapa aku sering memikirkan hal itu. Aku tidak tahu mengapa aku memikirkan hal itu pada saat itu. Dan aku juga tidak tahu dari siapakah pemikiran itu muncul. Akan tetapi, aku tahu satu hal terjadi pada saat itu, dan itu indah, sebab ketika hatiku gentar, ada “suara” lain datang kepadaku. Dan suara itu berkata:

Richard, jangan takut.
Bahkan keberanianpun adalah anugerah dari-Ku.
Itu bukan hasil usahamu.”

O My God. Itu sungguh indah. Itu sungguh-sungguh istimewa. Aku tidak menyangka hikmat yang demikian bisa datang kepadaku di sebuah bandara. Tetapi aku tidak peduli, entahkah aku ada di bandara, atau di pesawat, atau di kantor, atau di lembah kekelaman sekalipun, Allahku akan selalu berada bersamaku.

Apakah aku akan mati ditembak?
Dipenggal? Diracuni? Disiksa sampai mati?
Digantung? Dirajam batu? Dimasukkan dalam gas chamber?
Aku tidak tahu, tetapi aku tahu bahwa:
Dia akan menganugerahkan KEBERANIAN dan SUKACITA yang CUKUP untuk menjalaninya

Itu sungguh indah. Itu tak terkatakan. Itu menjawab semua pergumulan dan ketakutanku. Aku tidak perlu kuatir dengan apakah aku akan bisa menjalani masa-masa penderitaan demi Kristus. Aku tidak perlu bersusah hati karena berpikir bahwa aku tidak akan pernah menjadi cukup berani. Aku tidak perlu memusingkan diri memikirkan cara apa yang bisa kulakukan supaya aku bisa lebih berani.

sproul-meme

Aku hanya perlu berserah kepada Kristus. Aku hanya perlu menanti pertolongan-Nya. Keberanian itu bukan berasal dari diriku sendiri. Keberanianpun adalah anugerah Allah dan bukan hasil usaha manusia. Aku yakin, anugerah Allah cukup untuk setiap waktu. Aku yakin, ada anugerah Allah yang khusus untuk setiap perkara. Aku juga yakin, pasti ada anugerah “untuk berani menjalani penderitaan bahkan kematian karena mempertahankan iman di dalam Kristus.”

Dipuaskan oleh hikmat dari Allah, akupun melanjutkan langkahku. Pesawatku siap, aku naik pesawat. Aku duduk, aku membaca bukuku. So far so good. Hingga akhirnya sesuatu terjadi. Oh kukatakan padamu, aku tidak pernah mengalami penerbangan yang lebih menakutkan dibanding penerbangan tempo hari. Pesawat yang kunaiki goyang benar-benar goyang. Guncangan itu benar-benar berbeda dari biasanya, setidaknya bagiku. Aku tidak sedang mengada-ngada. Semua orang tampak ketakutan pada saat itu, tidak terkecuali aku. Tetapi satu hal, sekalipun aku takut, aku tidak tenggelam dalam ketakutan itu. Sebaliknya, aku tenggelam dalam pengharapan, dan pengharapan itu indah, sangat indah, dan di dalam hatiku, aku berdoa:

I’m ready to see My Lord.

Singkat cerita, Tuhan belum mengizinkanku untuk kembali ke rumah-Nya saat itu. Pesawat kami sampai ke tujuan dengan selamat. Aku tidak jadi, ya… tidak jadi mati. Tetapi puji Tuhan, penerbangan yang mengerikan itu benar-benar memberikan pelajaran yang berbekas dalam hatiku.

Sayang sekali, ya mungkin aku bisa mengatakan “sayang sekali”, nampaknya Tuhan masih belum menyatakan bahwa tugasku di dunia ini sudah selesai. Tuhan masih ingin melaksanakan rancangan-Nya yang belum tunai sepenuhnya di dalam dan melalui hidupku. Oleh sebab itu, aku harus hidup. Dan sekalipun aku masih harus terpisah untuk sementara waktu dari Rajaku, tidak apa sebab aku masih diberi-Nya kesempatan untuk bekerja bersama-Nya mencari “domba-domba-Nya”, yang dengan kata lain adalah “saudara-saudara-Ku”, yang masih terhilang.

Bekerja Memberi Buah

Dan aku tidak tahu, apakah suatu saat nanti, Yesus, Rajaku, akan mengizinkankanku untuk mati bagi nama-Nya. Aku tidak tahu kapan gilirannya anak-anak Tuhan di Indonesia akan disiksa dan dibunuh, maksudku benar-benar disiksa, diburu, dan dibunuh seperti yang sedang gencar-gencarnya terjadi di belahan bumi yang lain. Aku tidak tahu apakah masa yang penuh penderitaan itu akan datang pada masaku atau tidak. Yang aku tahu, masanya sudah dekat. Sangat dekat. Sebab dunia sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda kedatangan masa itu. Oh dunia, betapa bobroknya engkau. Tetapi tidak apa, sebab kebobrokanmu yang nyata itu menjadi pertanda yang jelas bahwa Yesus, Raja kami, akan datang dengan segera.

Aku tidak tahu kapan aku akan mati. Aku tidak tahu bagaimana aku akan mati. Tetapi aku tahu bahwa orang yang mati bagi nama Kristus akan sangat sangat sangat, maksudku SANGAT BERBAHAGIA. Itu adalah sebuah anugerah. Kasih karunia. Dan pada saat yang sama, itu merupakan suatu kehormatan tak terkatakan yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

 “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,
sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”
(Matius 5:12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penerbangan tempo hari begitu menyeramkan. Tetapi puji Tuhan, Dia menguatkan hatiku. Dan walaupun kengerian di pesawat waktu itu terhitung masih belum seberapa, aku rasa aku mulai mengerti seperti apa rasanya menerima anugerah keberanian dalam menghadapi kematian. Aku yakin, suatu saat kelak, di detik-detik terakhir dalam hidupku, anugerah itu akan datang kepadaku, dan dalam menjelang kematianku, entah bagaimanapun cara aku akan mati kelak, aku akan menghadapinya dengan iman, pengharapan, dan terutama KASIH kepada Rajaku yang kubanggakan, dan aku bisa berkata:

“It’s only by Your blood
It’s only through Your mercy

Lord, I come.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s