What is Your Life?

Suatu ketika ada seorang turis yang berkunjung ke suatu daerah. Di dalam perjalanannya, turis ini melihat ada sebuah rumah kayu yang sederhana. Dia mendekati rumah tersebut, mengetuk pintu, dan mendengar suara dari dalam yang mempersilakan ia masuk sehingga turis itupun masuk. Setelah masuk, turis itu  melihat sekeliling dan ia tercengang melihat betapa sederhananya rumah tersebut. Tidak ada pajangan, tidak ada pernak-pernik, tidak ada lemari, tidak ada barang-barang antik, hanya ada sepasang meja dan kursi di dalam rumah itu. Sang Kakek tua, pemilik rumah itu kemudian datang dari arah dapur dan merekapun saling berbicara.

Kakek    : Ada yang bisa kakek bantu, Nak?

Turis      : Wah, rumah Kakek kosong sekali. Mengapa Kakek tidak mengisi rumah Kakek?

Kakek    : Begitu pula denganmu, Nak. Penampilanmu sederhana sekali. Mengapa kamu tidak membawa pakaian yang lengkap?

Turis      : Kakek, saya ini turis. Saya hanya sementara di sini. Buat apa saya membawa banyak barang?

Kakek    : Begitu pula dengan kakek, Nak. Kakekpun hanya turis di bumi ini. Mengapa harus mengisi rumah yang sementara ini dengan banyak barang?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

86d11c723f1ffbad1ba53e6c3f633cb9

Hidup ini hanyalah sementara. Kalimat itu merupakan pernyataan yang begitu biasa kita dengar. Saking seringnya kita dengar, kalimat itu tidak lagi menjadi bermakna. Namun, bagaimanapun respon manusia terhadapnya, pernyataan itu tetap tidak akan pernah berubah. Entahkah umat manusia mau percaya atau tidak, entahkah mereka menanggapinya dengan serius atau malah mengabaikannya, itu tidak merubah apapun, hidup ini tetaplah sementara. Cepat atau lambat, akhir dari dunia ini akan mendatangi seluruh umat manusia, tidak terkecuali seorangpun.

Firman Tuhan dalam Yakobus 4:14 berkata:

James4.14

Namun bagaimana tanggapan dunia? Oh betapa bodohnya dunia ini. Dunia ini berpikir bahwa mereka masih punya banyak waktu, sangat banyak waktu. Dunia ini terus menerus mengikuti hawa nafsunya yang sia-sia sambil berpikir bahwa esok ia masih punya banyak kesempatan untuk bertobat. Akan tetapi, heeyy… wake up, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tahu persis bahwa ia masih punya esok hari untuk bertobat.

Oh betapa bodohnya dunia ini. Bahkan iblispun sangat serius dalam mempergunakan waktunya di bumi ini. Iblis tahu bahwa “waktunya” sudah hampir tiba. Iblis tahu bahwa Yesus Kristus akan segera datang dan Ia akan melemparkan mereka semua ke dalam api neraka. Itulah sebabnya iblis kian hari kian gencar menyesatkan banyak orang dan memaksa orang-orang Kristen untuk menyangkal imannya, baik dengan kesenangan maupun dengan ancaman kematian. Iblis tahu bahwa kesempatannya semakin tipis dan dia bekerja kian hari kian giat. Tetapi apakah yang dunia lakukan? Oh, dunia berpikir bahwa hidup ini adalah selamanya.

Musa bermazmur:

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Mazmur 90:12)

 Daud bermazmur:

“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku,
supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(Mazmur 39:4)

Saudara-saudariku yang terkasih, hidup ini bagaikan uap, oleh sebab itu, hiduplah seperti uap. Ketahuilah bahwa hidup ini sangatlah singkat dan dengan pengertian itu, marilah kita mempersembahkan hidup kita yang fana ini sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia ini tenggelam dalam hawa nafsunya. Dunia ini terhanyut dalam cita-citanya. Jika kita berlaku demikian, apakah bedanya kita dengan dunia ini?

10568868_10152663978938385_6511057788983353760_n

Banyak orang mengaku diri orang Kristen, tetapi mereka mengejar apa yang dunia kejar, mereka tonton apa yang dunia tonton, mereka cinta apa yang dunia cinta, mereka takuti apa yang dunia takuti. Mereka tidak suka baca Alkitab. Mereka tidak senang berdoa. Mereka tahan berjam-jam di tempat hiburan, tetapi selalu melihat jam ketika mendengar khotbah hari Minggu. Mereka hidup seperti dunia ini hidup. Tidak ada bedanya sama sekali.

Mereka berlambat-lambat dalam bertobat. Mereka pikir mereka punya banyak waktu. Mereka sangka Tuhan Yesus tidak akan datang. Lebih dari itu, mereka bahkan tidak ingin Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Dan itu bisa dilihat dari sikap hidup mereka yang enggan memberitakan Injil, padahal Tuhan Yesus baru akan datang setelah Injil diberitakan di seluruh dunia dan menjadi kesaksian bagi semua bangsa (Matius 24:14).

1-john-2-17

Saudara-saudariku, janganlah kita sama dengan mereka sebab mereka bukan orang Kristen yang sebenarnya. Mengapa? Sebab orang Kristen yang sejati, kata firman Tuhan, mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4). Dunia ini tidak menguasai orang Kristen yang sejati sebab Roh yang ada di dalam diri mereka lebih besar dari roh apapun yang ada di dunia ini (1 Yohanes 4:4). Oleh karena itu, hendaklah kita seperti seorang mempelai wanita yang menanti-nantikan kedatangan mempelai prianya, yakni Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita “mempercepat” kedatangan-Nya dengan semakin giat memberitakan Injil, pertama-tama kepada diri kita masing-masing, kepada anggota keluarga kita, teman-teman kita, dan kepada orang-orang lain yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Kawan-kawanku dalam Kristus, marilah bangun. Dunia ini berdosa dan firman Tuhan terus menerus mengingatkan kita bahwa orang yang hidup di dalam dosa adalah orang-orang yang “mati”. Dunia ini penuh dengan “mayat hidup”. Mereka bersukacita, mereka bermegah, mereka berpesta pora, mereka bahkan mengajarkan cara menikmati hidup ini atau bagaimana membuat hidup menjadi lebih hidup, padahal sedetikpun dalam hidup ini mereka belum pernah mengecap apa yang namanya hidup. Kawan-kawan, jika kita ada di dalam Kristus, sungguh kita telah beroleh hidup dan jika kita sudah hidup, mengapa lagi kita mengikuti teladan orang-orang “mati”?

Keluargaku yang terkasih di dalam Tuhan, dunia ini membenci TUHAN kita. Mengertikah engkau betapa seriusnya hal itu? Biar kusampaikan sekali lagi, dunia ini membenci TUHAN, dunia ini membenci Yesus Kristus. Jika demikian, mengapa kita masih berteman dengan dunia ini, melayani dunia ini, memperkaya dunia ini, memperluas kerajaan dunia ini?

Aku tidak berkata bahwa kita harus memisahkan diri dari orang-orang berdosa atau menarik diri dari peradaban dunia ini dan menjadi petapa di atas bukit. Tidak. Tuhan tidak menyuruh kita untuk menjauhi orang-orang berdosa, justru Dia mengutus kita bagaikan domba di tengah serigala untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik nan mulia yang dengannya nama TUHAN kita akan dipermuliakan. Kita tidak perlu mengasingkan diri, justru kita perlu hadir di dunia ini untuk menjadi wakil-Nya yang menyatakan kebenaran-kebenaran Allah serta kasih-Nya kepada umat manusia. Umat manusia perlu mendengar bahwa TUHAN merindukan mereka bagaikan induk ayam yang rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya (Matius 23:37).

2cf182e1e4580510709238679e14722e

Sekali lagi, Tuhan mengutus kita ke dalam dunia ini untuk membuat perbedaan dan bukan untuk menyamakan diri dengan dunia ini. Tuhan menugaskan kita untuk hidup di dunia ini supaya kita memberitakan nama-Nya dan kebenaran-Nya serta bersekutu dengan-Nya dalam penderitaan-Nya, dan bukan untuk menikmati hidup ini atau mengejar agenda-agenda pribadi kita sendiri.

Oh keluargaku dalam Tuhan, aku tidak tahu lagi harus menyampaikan apa. Tetapi tidakkah kau sadar, bahwa Tuhan Yesus sudah hampir tiba? Ya, Dia segera datang. Sudah siapkah engkau? Kesukaran, sakit penyakit, penderitaan, penganiayaan, bahkan kematian, akan datang mendahului Dia dan tidak dapat kita pungkiri, semua itu sudah ada di depan mata kita. Setidaknya, saudara-saudari kita di belahan bumi yang lain sedang berhadapan langsung dengannya. Tidak tahu kapan, cepat atau lambat, yang pasti penderitaan itu akan datang kepada kita.

Oleh sebab itu, sedilikilah diri kita.
Bagaimanakah pengharapan kita kepada-Nya?
Bagaimanakah iman kita terhadap-Nya?
Bagaimanakah cinta kita untuk-Nya?

Ketiganya akan menjadi minyak bagi pelita hidup kita. Dengan ketiganya, pelita kita menjadi terang. Dan nyalanya akan menerangi hidup kita dalam menjalani kegelapan zaman akhir ini. Tetapi lihatlah, kegelapan akan terus menerus menyerang kita. Iblis akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melemahkan hati kita bagaikan minyak dalam pelita yang semakin lama semakin menipis. Apakah persediaan minyak kita cukup? Ataukah pelita kita akan redup sebelum Tuhan Yesus datang?

Marilah kita menyelidiki hati kita masing-masing!
Tetaplah berjaga-jaga!

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.
Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. (1 Petrus 4:7)

Search me, O God, and know my heart: try me, and know my thoughts:
And see if there be any wicked way in me,
and lead me in the way everlasting.
(Psalms 139 : 23 – 24)

Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita sekalian. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s