2. Apa itu Kematian Rohani

Mengapa lahir baru mutlak penting untuk keselamatan? Untuk menjawab pertanyaan itu, sejenak kita kembali ke masa 6000 tahun yang lalu, yakni ketika Adam dan Hawa hidup. Tuhan Allah berkata kepada Adam:

Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kaumakan buahnya,
sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.
(Kejadian 2 : 16-17)

Kita semua tahu bahwa pada akhirnya Adam dan Hawa gagal menaati firman Allah. Mereka  memakan buah terlarang itu. Mengetahui ketidaktaatan itu, Allah mengutuk iblis, Hawa, Adam, bahkan seluruh bumi. Sebagai konsekuensi dari semua itu, Tuhan mengirim kejahatan, penderitaan, kesusahan, bencana, bahkan maut untuk terjadi di atas dunia ciptaan-Nya ini.

Kita juga tahu bahwa walaupun Adam dan Hawa telah memakan buah itu, mereka tidak mati pada hari itu juga. Bahkan, mereka masih hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak kita. Jika Adam dan Hawa tidak seketika itu juga mati, lalu apa maksud Allah ketika Ia mengatakan “Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”? Mengapa mereka tidak mati pada hari itu juga?

Di sinilah terletak bagian pentingnya. Adam tidak mati jika kita memandang dan mengartikan kematian itu hanya secara jasmani. Namun, jika kita memandang kematian dari sisi yang lain, yakni secara rohani, maka kita akan menemukan kesimpulan yang berbeda. Adam memang telah “mati” pada hari itu juga. Tetapi kematian yang dia alami bukanlah kematian fisik, melainkan kematian spiritual. Mengapa? Sebab ia telah jatuh ke dalam dosa.

Kamu dahulu sudah MATI karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
(Efesus 2:1)

Kamu juga, meskipun dahulu MATI oleh pelanggaranmu…
(Kolose 2:12)

Paulus tidak mengatakan bahwa di dalam dosa-dosanya, manusia telah menjadi lemah, sakit, atau sekarat, melainkan mati. Ya, manusia telah mati oleh dosa-dosanya. Kematian yang Paulus maksud di dalam kedua ayat di atas bukanlah sebuah puisi, bukan sekadar kiasan, bukan pula majas hiperbola. Jika Allah mengatakan bahwa manusia telah “mati” karena dosa, maka manusia sungguh-sungguh telah mati.

Tuhan Yesus pun pernah berkata:

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik,
sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,
yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya,
tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
(Matius 23:27)

Tuhan Yesus menggunakan ilustrasi yang begitu tajam terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi. Aku yakin, teguran ini tidak hanya ditujukan kepada kedua kelompok itu, melainkan kepada semua orang yang merasa dirinya cukup baik dan layak di hadapan Allah.

Pertama, Tuhan kita mengatakan mereka sebagai orang-orang yang munafik. Kedua, Ia mengumpamakan mereka seperti sebuah kuburan. Ketiga, Ia menekankan bahwa sekalipun penampilan luar dari kuburan itu putih dan bersih, tetap saja esensi dari kuburan itu adalah mayat dan berbagai jenis kotoran yang ada di dalamnya.

Seperti itulah realitas dari orang yang belum lahir baru, yakni orang yang telah mati di dalam dosa-dosanya. Ia mungkin melakukan banyak hal di dalam hidupnya. Namun, ia tetaplah seperti sebuah kuburan yang tidak menghasilkan apapun yang betul-betul berarti. Mungkin ia mendapatkan apa yang menurutnya berharga. Namun, akan tiba saatnya di mana ia mengerti bahwa tidak ada satupun hal yang berharga selain apa yang bernilai bagi Kerajaan Allah. Ia mungkin pernah, atau bahkan mungkin sering, berbuat baik dan bersikap religius. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, terlepas dari ia mengakuinya atau tidak, ia adalah seorang pemberontak terhadap Allah yang benar. Ia adalah orang yang membenci Allah dan tidak patuh terhadap perintah-Nya. Mengapa? Sebab dosa berkuasa di dalam hatinya. Ia telah menjadi budak dosa dan bukan hamba Allah. Ia telah mati dan tak mampu menyelamatkan diri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jadi, Apa itu Kematian Rohani?

Kematian merupakan keterpisahan. Kematian secara jasmani berarti terpisahnya nyawa dari tubuh jasmani seseorang. Kematian secara rohani berdampak lebih serius dibanding kematian secara jasmani sebab mati secara spiritual berarti terpisahnya Allah dengan manusia.

Roma 3 23

Semua manusia, secara natur, telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak dapat bersekutu dengan Allah sedekat hubungan-Nya dengan Adam dan Hawa ketika mereka belum jatuh ke dalam dosa. Hubungan manusia dengan Allah kini seperti apa yang terjadi ketika Adam dan Hawa untuk pertama kalinya melakukan dosa. Pada waktu itu, Allah hendak mendatangi mereka. Namun, mendengar bahwa Allah mendekat, Adam dan Hawa bersembunyi dari hadapan-Nya. Mengapa? Sebab mereka takut (Kejadian 3:8-10).

Di bagian lain dalam firman Tuhan, Ia berkata:
Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan,
dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu,
dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu,
sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
(Yesaya 59:1-2)

Seperti itulah kini hubungan antara Allah dengan umat manusia yang berdosa. Manusia selalu bersembunyi dari Allah. Di sisi lain, Allah terkadang memutuskan untuk menyembunyikan diri dari umat-Nya. Allah itu kudus adanya, bahkan “Kudus, Kudus, Kudus” (Imamat 19:2). Sifat Allah yang kudus itu membuat-Nya terpisah dan berbeda dari manusia yang hina. Ya, itulah arti dari kata “kudus”, yakni terpisah. Satu-satunya cara agar manusia dapat bersekutu kembali dengan Allah adalah apabila manusia itu menjadi kudus kembali. Namun, apa daya, barang yang kotor tidak dapat membersihkan sesuatu yang kotor. Demikian pula dengan manusia yang berdosa. Manusia tidak mungkin dapat memperoleh kekudusan itu kembali dengan kekuatannya sendiri.

Itulah konsekuensi dari kematian rohani.
Namun, itu belum semuanya.

#Bersambung ke “3. Konsekuensi Kematian Rohani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s