3. Konsekuensi Kematian Rohani

Inilah konsekuensi dari kematian spiritual:

1. Secara natur, manusia TIDAK MAMPU mencari Allah

Tidak ada seorangpun yang berakal budi,
tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.
(Roma 3:11-12)

Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku;
Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku.
Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.
(Yesaya 65:1)

Banyak orang berpikir bahwa di dalam setiap hati manusia tersimpan suatu keinginan untuk datang kepada Allah. Banyak orang mengira bahwa setelah jatuh ke dalam dosa, manusia masih memiliki sisa kebaikan atau potensi yang dapat mendorongnya untuk mencari Allah atau untuk berbuat baik. Itu tidak sesuai dengan apa yang Alkitab katakan. Alkitab justru mengatakan hal yang sebaliknya. Alkitab berkata, “tidak ada seorangpun yang mencari Allah, tidak ada yang berbuat baik.”

Ini mungkin kedengaran sangat kontroversial bagi kebanyakan dari kita. Sebagian besar dari kita pasti berkata dalam hati, “Aku mencari Tuhan kok dan aku juga tahu ada beberapa orang yang kukenal yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.” Hal itu mungkin benar tetapi mungkin juga salah. Dan terlepas dari apakah itu benar atau salah, yang pasti Alkitab telah berkata bahwa secara natur, manusia yang berdosa tidak mencari Allah.

Orang ateis dan agnostik merupakan buktinya. Mereka secara sadar memutuskan untuk tidak mencari Allah. Itu tentu tidak mengejutkan, tetapi bagaimana dengan mereka yang bukan ateis dan bukan agnostik? Bagaimana dengan mereka yang memeluk agama tertentu? Ya, mereka memang orang-orang yang beragama dan mengaku bahwa mereka mencari Sang Pencipta. Namun, dengan kekuatan mereka sendiri, mereka tidak akan mampu menemukan Allah. Jika Allah tidak menolong mereka, maka pencarian mereka hanya akan berujung pada ilah-ilah palsu yang sangat jauh berbeda dari Allah yang benar.

Mungkin juga ada beberapa di antara mereka yang tahu siapa Allah yang benar. Sebut saja mereka ini adalah orang-orang Kristen pada umumnya. Di tangan mereka, mereka memiliki Alkitab yang penuh dengan informasi mengenai Allah yang benar. Mereka seharusnya mencari Allah. Namun, tetap saja, dengan kekuatan mereka sendiri, mereka tidak akan mampu mencari-Nya. Sebagian dari antara mereka akan kecewa dengan Allah dan memutuskan untuk meninggalkan-Nya sementara sebagian lagi akan menyangka bahwa mereka sedang mencari Allah padahal apa yang sebenarnya mereka cari adalah berkat-berkat-Nya. Apa yang mereka cari hanyalah pengampunan, keselamatan, kekayaan, kesuksesan, ketenangan, kesehatan, dan benefit lainnya yang juga diharapkan oleh orang-orang berdosa lainnya. Namun, jauh di lubuk hati mereka yang terdalam, mereka tidak pernah benar-benar menginginkan persekutuan dengan Allah di dalam ketaatan dan kekudusan. Jauh di dalam hati mereka, mereka membenci Allah.

Bagaimana denganmu? Apakah kau berpikir bahwa kau pernah atau sedang mencari Allah yang benar? Apakah kau yakin kau sedang mencari Allah yang ada di Alkitab? Well, Alkitab berkata bahwa secara natur kau tidak mampu mencari Dia. Dengan demikian, kalau saat ini kau benar-benar yakin bahwa kau sedang mencari Allah, maka berarti ada tiga kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah kau tidak mencari Allah yang ada di Alkitab, melainkan kau menciptakan allah versimu sendiri dan kemudian mencarinya. Kemungkinan kedua adalah kau tidak mencari Allah, melainkan hanya mengejar berkat-berkat-Nya. Atau kemungkinan ketiga, yaitu kau sungguh-sungguh mencari Allah yang benar tetapi itu bukan karena dirimu sendiri, melainkan karena Allah yang memampukanmu untuk mencari-Nya.

7101_10150465856839949_6159442636390770309_n

Ya, jika Allah tidak mengintervensi kehidupan manusia, manusia tidak akan pernah mampu mencari-Nya. Jika Allah tidak memberi diri-Nya untuk ditemui, manusia tidak akan menemukan-Nya. Jika Allah tidak memampukan manusia untuk datang kepada-Nya, maka semua manusia akan tersesat dan terhilang selamanya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
(Efesus 2:8)

Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku,
jikalau ia tidak DITARIK oleh Bapa yang mengutus Aku,…
(Yohanes 6:44)

10608624_10152720825678115_2879302725404335603_o

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2. Secara natur, manusia alamiah TIDAK MAU mencari Allah

Dosa berakibat pada kematian rohani. Kematian itu kemudian berimplikasi pada ketidakmampuan manusia untuk datang, percaya, dan mengasihi Allah. Namun satu hal perlu diperjelas di sini. Tidak ada satupun orang yang dapat berkata kepada Allah, “Jangan salahkan aku sebab secara natur aku memang tidak mampu datang kepada-Mu sebab aku telah mati!”

Ketidakmampuan spiritual tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan setiap pelanggaran yang manusia lakukan. Semua manusia tetap bertanggungjawab atas setiap dosa yang telah ia perbuat. Mengapa? Sebab akar dari semua itu bukanlah semata-mata karena manusia tidak mampu melainkan karena manusia TIDAK MAU melakukannya. Manusia berdosa tidak mampu datang kepada Allah sebab mereka tidak  mau datang kepada-Nya. Apa yang mereka mau hanyalah memuaskan hawa nafsu mereka yang penuh dengan dosa. Mereka tidak mencintai Allah, mereka hanya mencintai diri mereka sendiri.

Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu,
sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,
tetapi kamu tidak mau.
(Lukas 13:34)

…, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.
(Yohanes 5:40)

Allah tidak menciptakan manusia seperti robot yang mau tidak mau harus melayani mereka karena sudah di-program sedemikian rupa. Allah menciptakan manusia lengkap dengan kehendak bebas sehingga dengan kehendaknya sendiri manusia dapat dengan bebas memuliakan Allah. Namun, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia mengalami kematian spiritual. Manusia menjadi buta dan tuli terhadap firman Allah. Manusia tidak akan mengerti firman Allah jika Allah tidak menyingkapan tirai yang menutupi mata dan telinga rohaninya itu.

Tidak hanya itu, kehendak bebas manusia yang awalnya kudus, kini telah menjadi rusak. Manusia tidak lagi memiliki keinginan yang bebas dan murni untuk menyenangkan Allah. Kini, apa yang ada di dalam hatinya, hanyalah kejahatan. Apa yang manusia inginkan hanyalah memuaskan hawa nafsunya sendiri.

Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi
dan bahwa segala KECENDERUNGAN hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
(Kejadian 6:5)

Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa selalu mengejar kebebasan. Manusia berpikir bahwa dirinya terbebas dari apapun. Manusia berdosa berpikir bahwa ia memiliki kehendak bebas. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah mati. Mereka tidak menyangka bahwa satu detik pun di dalam hidup ini mereka tidak pernah merasakan kebebasan yang sejati. Mengapa? Sebab sejak lahir kehendak bebas mereka telah rusak. Mereka telah menjadi budak dari dosa-dosa mereka sendiri. Mereka telah ditaklukkan oleh iblis dan diperhamba oleh kedagingan mereka sendiri.

Dalam kondisi demikian, mustahil manusia dapat menginginkan Allah dari dalam hatinya sendiri. Bagaimana mungkin mereka dapat mencintai Allah? Mereka terlalu mencintai dosa-dosa mereka. Mereka mungkin akan membantah ini tetapi jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka akan mengaku bahwa mereka tidak pernah menginginkan Allah.

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging;…
(Roma 8:5)

Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri,
karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa;
dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
(Yakobus 1:14)

Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Bapak-bapak gereja menuangkan jawabannya di dalam Westminster Shorter Cathecism yang menjelaskan, “Tujuan hidup dari setiap manusia adalah untuk MEMULIAKAN Allah dan MENIKMATI-Nya selamanya.”

Namun, apa yang terjadi? Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia tidak pernah lagi memiliki keinginan yang sejati untuk memuliakan Allah. Jangankan memuliakan Allah, menikmati-Nya saja manusia enggan. Mengapa? Sebab untuk menikmati Allah, manusia harus meninggalkan semua kenikmatan dosa yang sebenarnya lebih menarik dan menggoda bagi mereka.

Semua manusia telah mati secara spiritual. Satu-satunya cara agar manusia bisa menginginkan Allah adalah jika Ia yang terlebih dahulu mengerjakan sesuatu di dalam hati manusia yang dipilih-Nya menurut kehendak-Nya.

karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu
baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
(Filipi 2:13)

IMG_257678093522882

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 3. Secara natur, manusia PASTI dan SELALU berdosa

Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.
(Roma 14:23)

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.
(Ibrani 11:6)

Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, secara natur tidak mampu datang kepada Allah dan tidak mau percaya kepada-Nya. Kecuali Allah terlebih dahulu memampukan mereka, mereka tidak akan beriman selama-lamanya. Hal ini berarti bahwa apapun yang dilakukan seseorang yang belum terlahir kembali, pasti dilakukannya tanpa iman sebab ia belum pernah menerima iman tersebut dari Allah. Dan sekalipun di permukaan tampak baik dan religius, perbuatan apapun yang dilakukan tanpa iman adalah dosa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang yang belum lahir baru tidak pernah putus-putusnya melakukan dosa. Bahkan ketika ia sedang tidak melakukan apapun, ia sedang berbuat dosa, sebab ia tidak memiliki iman di dalam hatinya.

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia,
tidak ada sesuatu yang baik.
(Roma 7:18a)

1970759_10152333002843115_1243672321_n

Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh
dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging
 — karena keduanya bertentangan
sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.
(Galatia 5:17)

Manusia yang tidak lahir baru tidak mungkin tidak berbuat dosa, bahkan barang sedetikpun. Manusia yang tidak lahir baru tidak mungkin dapat berbuat apa yang baik sebab sesuatu yang baik tidak mungkin dihasilkan oleh sesuatu yang kotor. Manusia yang tidak dilahirkan kembali tidak mungkin menyenangkan Allah. Ia masih berseteru dengan-Nya. Ia belum diselamatkan. Murka Allah masih berada di atas kepalanya.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,
karena ia tidak takluk kepada hukum Allah;
hal ini memang tidak mungkin baginya.
Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.
(Roma 8:7-8)

Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka,
ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging
dan pikiran kami yang jahat.
Pada dasarnya kami (KJV: we were by nature)
adalah orang-orang yang harus dimurkai (KJV: children of wrath)
sama seperti mereka yang lain.
(Efesus 2:3)

Jadi, apakah kematian spiritual tidak berbahaya? Kalau kau mengira bahwa kematian rohani tidak lebih dari sebuah istilah puitis yang ada di Alkitab, kau perlu memikirkannya kembali. Ingatlah akan hal ini: Sebelum kau menyadari bahwa kau telah mati, kau tidak akan pernah menginginkan hidup yang hanya dapat diterima dari Sang Pemberi Hidup. Sebelum kau menyadari betapa terhilangnya dirimu, kau tidak akan pernah mengerti apa artinya ditemukan kembali oleh Sang Gembala.

Ayub 14 4

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang Alkitab katakan tentang realita manusia yang berdosa benar-benar mengagetkan, bukan? Tidak ada satupun manusia yang dari dirinya sendiri bisa menginginkan Allah. Manusia yang berdosa akan senantiasa melakukan dosa. Manusia berdosa selalu membenci Allah dan mendukakan hati-Nya. Manusia berdosa telah lumpuh. Manusia berdosa telah buta. Manusia berdosa telah mati.

10424977_10150465606444949_2424257689819358095_n

Tidak ada satupun yang ada pada manusia yang membuat dirinya layak untuk diselamatkan oleh Allah. Oleh sebab itu, jika Allah ingin menyelamatkan seseorang, itu pasti bukan karena orang itu, melainkan karena dan hanya karena Allah sendiri. Paul Washer berkata, “Allah menyelamatkan kita bukan karena kita layak untuk diselamatkan, melainkan karena Dia adalah Juruselamat. Allah tidak menyelamatkan kita karena kita pantas untuk dikasihi oleh Allah, sebab yang pantas bagi kita adalah menerima murka-Nya. Allah menyelamatkan kita karena diri-Nya adalah kasih.” Dan puji syukur kepada Allah kita, sebab Ia tidak hanya berfirman bahwa Ia mengasihi umat-Nya tetapi juga membuktikannya dengan hadir ke dunia ini di dalam pribadi Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

Aku Datang Supaya Mereka Hidup

Di dalam Kristus, manusia berdosa yang telah mati memiliki pengharapan. Kristus telah berjanji bahwa Ia datang untuk memberikan hidup bagi domba-domba-Nya yang percaya kepada-Nya. Di dalam Kristus, ada kebangkitan roh. Di dalam Kristus, ada kelahiran baru.

#Bersambung ke “4. Harus Berbuat Apa untuk Lahir Baru?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s