4. Harus Berbuat Apa untuk Lahir Baru?

10499384_10152634763143115_763821998098146151_o

Adakah yang manusia bisa atau harus lakukan untuk membuat dirinya lahir baru?

Tentu saja jawabannya adalah TIDAK ADA. Tidak ada cara atau trik atau apapun yang dapat dilakukan oleh manusia untuk membuatnya lahir baru. Jika kita kembali meninjau Yohanes 3, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan kepada Nikodemus, “lakukan ini” atau “katakan ini” atau “doakan ini” supaya Nikodemus lahir baru. Tuhan kita hanya berkata, “Kau harus lahir baru untuk bisa melihat Kerajaan Allah.” Ketika Tuhan Yesus berkata demikian, Ia sedang memperkatakan suatu fakta bahwa manusia harus lahir baru, dan bukan sedang memberikan perintah untuk melakukan ini-itu supaya manusia bisa terlahir kembali.

Telah kita bahas di bagian sebelumnya bahwa setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, semua orang telah mengalami kematian rohani. Untuk memahaminya dengan lebih jelas, kita dapat mengumpamakan kematian spiritual dengan kematian fisik. Orang yang mati secara fisik tidak mampu melakukan apapun untuk membuatnya bangkit kembali. Tidak ada cara, trik, doa, mantra, atau apapun yang orang mati dapat pakai untuk membangkitkan dirinya sendiri. Sama halnya dengan itu, orang yang telah mati secara rohani tidak dapat melakukan apapun untuk membuat rohnya bangkit kembali dari kematian yang disebabkan oleh dosa. Dengan usahanya sendiri, ia tidak mungkin dapat memperbaiki hubungannya yang telah terpisah dari Allah. Dosa telah menjadi jurang pemisah antara dia dengan Allah. Dosa telah menelannya. Dosa telah menguasainya. Dosa menahannya di dalam kematian.

Dead Body

Kita juga dapat melihatnya dengan analogi yang lain. Tidak usah jauh-jauh, kita dapat menggunakan analogi yang Tuhan kita pakai untuk menegaskan kepada Nikodemus bahwa manusia tidak dapat membuat dirinya sendiri menjadi lahir baru. Analogi itu, tentu saja, adalah tentang kelahiran. Di dalam kelahiran jasmani, sang bayi tidak memberikan kontribusi apapun atau membuat keputusan apapun untuk terlahir ke dunia ini. Sang bayi tidak membantu Allah untuk memutuskan siapa yang akan menjadi orangtuanya atau kapan ia akan dilahirkan. Begitu pula dengan kelahiran secara spiritual. Kelahiran baru tidak direncanakan, dipicu, diputuskan, atau disebabkan oleh manusia. Kelahiran baru sepenuhnya adalah hasil dari keputusan Sang Orang Tua Rohani, yakni Allah sendiri.

Kelahiran baru bukanlah hasil dari pilihan atau pekerjaan manusia, melainkan sepenuhnya karya Allah. Kelahiran baru bukanlah buah dari rencana-rencana yang manusia buat, melainkan sepenuhnya inisiatif dari Allah.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,
yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging,
bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki,
melainkan DARI ALLAH.
(Yohanes 1 : 12-13)

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar
telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati,…
(1 Petrus 1:3)

Menerima panggilan altar, memberi diri dibaptis, mengikuti sidi, mengucapkan pengakuan dosa, mengikuti doa lahir baru yang dipimpin oleh seorang hamba Tuhan, bahkan mengaku percaya, tidak dapat menjadikan seseorang lahir baru. Lebih jauh dari itu, tidak ada satupun yang ada pada diri manusia yang dapat membuatnya layak untuk diregenerasi dan diselamatkan oleh Allah. Kekayaan, kecantikan, kebaikan, pengetahuan, dan apapun, tidak menjadikan seorangpun berhak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya yang kudus. Oleh sebab itu, jika Allah benar-benar ingin menyelamatkan manusia, pastilah Ia merencanakan keselamatan yang tidak tergantung pada kehendak manusia. Sebab jika keselamatan itu bergantung pada manusia, maka semua manusia akan gagal menerimanya.

Keselamatan yang Allah rancang merupakan keselamatan yang diberikan sebagai suatu hadiah (gift), bukan sebagai suatu penghargaan (reward). Keselamatan yang Allah tetapkan merupakan keselamatan yang tidak bersyarat (unconditional). Bagan ini memberikan sedikit gambaran mengenai rencana keselamatan itu:

Pemilihan > penebusan dosa > lahir baru > iman > pembenaran > pengudusan > pemuliaan
Election > atonement > regeneration > faith > justification > sanctification > glorification

Itu merupakan gambaran sederhana yang menggambarkan apa yang Alkitab ajarkan mengenai penyelamatan (salvation) yang Allah rancang. Allah Bapa memilih tanpa syarat. Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa tanpa syarat. Roh Kudus mengerjakan regenerasi juga tanpa syarat. Lihatlah! Keselamatan merupakan inisiatif dari Allah. Sejak permulaan, Ia telah menegaskan bahwa keselamatan merupakan pekerjaan-Nya dan tidak ada satupun manusia yang dapat memberikan nasehat apalagi bantuan mengenai keselamatan yang telah Ia rancang tersebut.

Lalu, apakah itu berarti bahwa manusia sama sekali lepas tangan dalam keselamatannya? Tentu tidak. Manusia juga memiliki peran dalam keselamatan dan peran itu dimulai dari bagian iman. Ya, beriman merupakan sesuatu yang manusia kerjakan. Beriman kepada Allah merupakan tanggungjawab setiap manusia. Tanpa iman, tidak akan ada pembenaran (justification) di hadapan Allah (Roma 3:28). Tanpa iman, manusia tidak dapat berkenan kepada Allah. Dengan demikian, pandangan tidak seimbang yang mengatakan bahwa manusia sama sekali tidak bertanggungjawab dalam keselamatan merupakan pandangan yang tidak Alkitabiah.

Namun, perlu kita mengerti bahwa pada dasarnya iman itu merupakan suatu anugerah dari Allah. Iman bukanlah sebuah penghargaan Allah atas usaha-usaha tertentu yang manusia lakukan. Ia memberikan iman kepada seseorang sebagai sebuah hadiah. Ia mengaruniakannya tanpa syarat. Kapan Ia memberikan iman itu? Ia memberikannya setelah sebelumnya Ia membuat orang itu lahir baru dan kelahiran baru itupun merupakan sebuah pemberian yang tiada bersyarat.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
(Efesus 2:8-9)

karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu
baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
(Filipi 2:13)

10470948_10152619251503115_1755815757071655898_o Ya, seseorang memiliki iman hanya setelah ia terlahir kembali. Iman hanya dimiliki oleh orang yang hidup, bukan orang yang masih mati di dalam dosa-dosanya. Itulah kesaksian Alkitab mengenai iman dan regenerasi. Kesaksian itu berbeda 180 derajat dengan apa yang banyak diajarkan saat ini, yakni seseorang mengalami lahir baru SETELAH ia mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

10498695_10152731365673115_5688138980320149018_o

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pertanyaan yang kini timbul adalah:
Mengapa Allah harus bekerja seperti ini?
Mengapa Ia merancang keselamatan yang tanpa syarat?
Mengapa kelahiran baru hanya Ia kerjakan sendiri tanpa asistensi dari manusia?

Pertanyaan itu mungkin menjadi momok bagi banyak orang, terutama bagi orang-orang “religius” yang berpikir bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri dengan perbuatan baik. Pertanyaan itu mungkin juga akan menjadi pertanyaan besar bagi banyak orang Kristen yang mengira bahwa dengan free will-nya, manusia dapat mengambil keputusan untuk menerima Kristus. Sayang sekali, kedua pandangan tersebut tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab. Alkitab menjelaskan bahwa keselamatan merupakan anugerah Allah yang telah Ia rancang bahkan sebelum Ia menciptakan dunia ini.

Jadi, kembali ke pertanyaan di atas, mengapa Allah merancang keselamatan yang tanpa syarat? Alkitab memberikan kesaksian bahwa Allah merencanakan keselamatan yang unconditional supaya pada akhirnya, satu-satunya pribadi yang layak menerima kemuliaan di atas keselamatan tersebut adalah Allah sendiri.

Keselamatan Bagi Allah

#Bersambung ke “5. Peristiwa Lahir Baru?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s