6. Kapan Seseorang Lahir Baru?

Bagian firman Tuhan yang menjadi sentral dan fondasi dari doktrin regenerasi adalah ini:

Angin

Dalam Yohanes pasal 3, Tuhan kita menjelaskan secara singkat mengenai peristiwa lahir baru kepada Nikodemus. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus bekerja layaknya angin yang berhembus. Kita tidak dapat memanggil angin ataupun menghentikan hembusannya. Angin berhembus sesuka hatinya. Kita tidak dapat melihat rupa angin dan kita juga tidak mengetahui dari mana, akan ke mana, atau kapan angin itu berhembus. Kita hanya dapat melihat efek dari hembusan angin tersebut. Ketika kita melihat daun-daun mulai bergoyang, kita mengerti bahwa angin sedang berhembus ke arahnya.

Demikianlah halnya dengan kelahiran baru. Manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti kapan ia lahir baru. Manusia tidak membuat Roh Kudus datang kepadanya. Manusia tidak juga mengetahui kapan Roh Kudus akan datang dan mengubahnya menjadi baru. Sama seperti angin yang berhembus tanpa terpengaruh oleh dedaunan, Roh Kudus meregenerasi hati seseorang tanpa kontribusi atau pertolongan dari orang itu. Namun, setelah Roh Kudus mengubahnya menjadi manusia baru, dunia akan melihat perubahan yang terjadi.

Seseorang tidak bisa berkata, “Aku tahu aku sudah lahir. Aku bahkan mencatat tanggal aku lahir baru.” atau “Aku sudah lahir baru tahun lalu KARENA aku maju altar call dan mengaku percaya.” Keyakinan yang demikian merupakan spekulasi yang berisiko. Mengapa berisiko? Sebab apabila ia tidak benar-benar lahir baru, maka sama saja ia sedang menipu dirinya sendiri. Semakin lama ia tidak menyadari bahwa itu tidak benar dan tidak menyelidiki hatinya, semakin lama pula ia merasa puas dengan kondisi rohaninya sendiri. Dan itu merupakan suatu kesombongan rohani. Jika seseorang yang sebenarnya mati merasa dirinya hidup, bukankah itu merupakan suatu kesombongan?

Memang benar bahwa beberapa tokoh besar dalam sejarah gereja, misalnya Agustinus, Martin Luther, Charles Spurgeon, David Brainerd, dan Hudson Taylor mengaku bahwa mereka sepertinya tahu kapan hati mereka diubah oleh Tuhan menjadi baru. Cara mereka lahir baru kurang lebih sama, yaitu mereka membaca atau mendengar suatu ayat firman Tuhan. Firman itu benar-benar menggugah hati mereka dan kemudian mereka merasakan “sensasi sorgawi” yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka kemudian meyakini bahwa saat itu merupakan saat di mana mereka mengalami lahir baru. Misalnya saja Martin Luther. Sebelum lahir baru, ia tidak pernah menemukan kedamaian hati sebab ia berpikir bahwa adalah suatu kemustahilan bagi manusia untuk dapat hidup benar di hadapan Allah. Suatu ketika, ia membaca Roma 1:16-17 dan momen itu mengubah hidupnya selamanya. Ia menulis dalam jurnalnya:

“Siang dan malam aku merenung sampai aku menemukan hubungan antara keadilan Allah
dengan pernyataan “orang benar akan hidup oleh iman”.
Barulah aku mengerti bahwa maksud dari keadilan Allah adalah kebenaran
yang dianugerahkan secara cuma-cuma untuk membenarkan kita melalui iman.

Pada saat itu, aku merasakan diriku terlahir kembali
dan aku berjalan ke arah pintu yang terbuka menuju Firdaus.

Bukankah apa yang mereka alami kurang lebih juga sama dengan apa yang kebanyakan orang Kristen sebut sebagai peristiwa lahir baru? Ya, bisa dibilang cukup mirip. Namun, ada perbedaan yang jelas antara lahir baru yang mereka alami dengan “lahir baru” yang diklaim telah dialami oleh kebanyakan dari orang Kristen masa kini. Perbedaannya adalah hidup mereka benar-benar berubah setelah peristiwa itu. Semenjak saat itu, mereka hidup dalam kebenaran dan kekudusan yang semakin hari semakin meningkat. Mereka tidak lagi jatuh bangun dalam dosa-dosa lama yang dahulu selalu menjadi kenikmatan bagi mereka. Setelah peristiwa itu, mereka benar-benar menjadi ciptaan baru dan mereka dapat melihat buah-buah yang mereka hasilkan sebagai bukti dari hidup yang baru tersebut. Dengan demikian, mereka memiliki alasan yang kuat untuk menganggap bahwa peristiwa saat mereka menikmati “sensasi sorgawi” itu merupakan saat di mana mereka dilahirkan kembali.

Nah, bagaimana dengan orang Kristen zaman sekarang? Berbeda dengan Luther, Brainerd, dan lain sebagainya, banyak orang Kristen masa kini mengaku bahwa mereka pernah merasakan “sensasi sorgawi”, sebagian mengaku sampai menangis tersedu-sedu atau berjingkrak kegirangan, kemudian menaikkan janji dan komitmen pada Tuhan untuk selalu setia dan akhirnya meyakini bahwa peristiwa itu adalah momen lahir baru mereka. Namun, apa yang terjadi setelah itu? Mereka jatuh, bangun, dan jatuh lagi dalam dosa yang sama. Tidak ada tanda-tanda peningkatan kekudusan hidup yang progresif. Tiap kali mengulangi dosa yang sama, mereka begitu sedih bahkan membenci diri mereka yang tidak sanggup berubah. Kemudian mereka memohon ampun. Mereka berusaha untuk berubah. Tetapi tidak lama setelah itu, mereka gagal lagi dalam mengalahkan godaan yang sama. Mereka meminta ampun lagi dan siklus itu terus menerus berulang.

Worked Up Mengapa mereka masih jatuh dalam dosa yang lama sekalipun mereka benar-benar bertekad untuk mengubah dirinya? Jawabannya adalah karena mereka terlalu mencintai dosa-dosa mereka itu dan mereka tidak bisa mengubah hati mereka sendiri. Hanya Allah yang sanggup melakukannya.

Mereka belum mengalami lahir baru. Mereka belum diubah oleh Tuhan Yesus. Itulah mengapa mereka masih jatuh dan jatuh lagi dalam lubang yang sama walaupun mereka yakin bahwa mereka sudah lahir baru.

Apakah itu yang saat ini terjadi pada dirimu? Apakah kau yakin bahwa kau sudah terlahir kembali tetapi kau masih hidup dalam kegelapan? Apakah, di dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau masih menyukai dosa-dosa kesenanganmu? Apakah kau yakin kau benar-benar telah mengalami transformasi hati dan bukan sekadar modifikasi perilaku? Jika kau mulai ragu bahwa kau sudah lahir baru dan jika kau mulai merasa bahwa kau sebenarnya masih merupakan dirimu yang lama, dengan segala kasih aku katakan ini: Menyadari kondisi rohanimu yang sebenarnya merupakan sebuah awal yang baik sebab mungkin kau memang belum lahir baru.

Tolong jangan salah artikan pernyataanku di atas dan tolong jangan menilai perkataanku itu kasar. Adalah baik apabila orang sakit menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Sama halnya dengan itu, adalah baik jika orang yang masih mati dalam dosa menyadari bahwa ia masih berada di dalam kegelapan itu. Mengapa itu merupakan hal yang baik? Sebab ketika seseorang menyadari dirinya sakit, ia akan segera mencari sang dokter. Sama dengan itu, ketika seseorang tahu bahwa ia sedang mati di dalam kegelapan dosanya, ia bisa segera memohon pertolongan kepada Sang Pemberi Hidup. Masih ada harapan bagi orang-orang berdosa. Dan pengharapan itu adalah Allah kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Angin berhembus ke mana ia mau. Kita tidak tahu dari mana ia datang. Kita tidak tahu ke mana ia pergi. Kita tidak membuatnya berhembus dan kita tidak menghentikannya. Demikian pula Roh Kudus. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana Ia datang. Kita tidak menyebabkan-Nya datang dan kita tidak bisa menghentikan-Nya. Ia bekerja seturut kehendak-Nya yang agung dan tak terselami itu.

Oleh sebab itu, jika kita berada di posisi sebagai pemberita Injil, maka kita perlu sangat berhati-hati untuk tidak terlalu gampang mengatakan, “Saudara, selamat Anda sudah lahir baru.” atau “Selamat datang dalam keluarga Allah.” Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rohnya sehingga sangatlah tidak bijaksana, terburu-buru, dan berbahaya apabila kita mengatakan pada orang yang kita Injili bahwa ia sudah lahir baru pada saat itu juga. Cobalah bayangkan apa konsekuensinya jika ternyata ia belum lahir baru!

Di sisi lain, jika kita berada di posisi sebagai penerima kabar Injil, kita perlu sangat hati-hati untuk tidak tergesa-gesa meyakini bahwa kita sudah lahir baru. Mungkin saja di suatu waktu, ketika kita menerima atau mengingat pesan Injil, kita merasakan sensasi yang begitu menyentuh hati kita. Mungkin saja itu membuat kita merasa seperti terhanyut dalam kasih Tuhan. Mungkin saja kita begitu tersentuh hingga kita menangis. Apakah itu tanda-tanda lahir baru? Bisa jadi, tetapi sekali lagi, jangan tergesa-gesa untuk menyimpulkan bahwa itu merupakan tanda dari regenerasi. Sensasi sukacita yang berlimpah-limpah juga bisa dikerjakan oleh iblis untuk menipu setiap orang dan membuatnya cepat puas rohani dan akhirnya tidak lagi merasa perlu untuk mengintrospeksi diri lebih dalam. Ada begitu banyak orang Kristen yang sedang tertipu atau menipu dirinya dengan cara demikian, janganlah kita menjadi salah satu dari antaranya.

Firman Tuhan pernah berkata:

Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi
dan bahwa segala KECENDERUNGAN HATINYA
selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
(Kejadian 6:5)

Betapa Liciknya Hati

Hati manusia, terutama hati manusia yang belum lahir baru, sangatlah licik dan penuh dengan tipu daya. Dalam banyak hal, termasuk hal-hal rohani, kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada perasaan atau pada apa yang dikatakan oleh hati kita. Mengapa? Sebab bisikan iblis dan godaan kedagingan kita dapat mengelabuinya. Firman Tuhan berkata bahwa kecenderungan hati setiap manusia semata-mata adalah kejahatan. Bagaimana mungkin kita dapat mendasarkan hal sepenting lahir baru hanya kepada perasaan, sensasi, atau bisikan dari hati kita yang jahat? Itu terlalu spekulatif dan berbahaya.

Jika demikian, lalu bagaimana kita dapat benar-benar meyakini bahwa kita sudah lahir baru? Apakah kita harus hidup sampai akhir hayat tanpa dapat mengetahui kondisi spiritual kita yang sebenarnya? Tidak, kita tidak perlu melewati sisa hidup kita tanpa dapat mengetahui apakah kita sudah lahir baru atau tidak. Firman Tuhan memberikan petunjuk mengenai itu. Firman Tuhan berkata:

Dari BuahnyaPuji syukur kepada Allah. Ia memang tidak memberikan petunjuk secara spesifik kepada kita tentang kapan seseorang mengalami regenerasi. Namun, Ia memberikan informasi yang jelas di dalam kitab suci mengenai tanda-tanda dari orang yang telah mengalaminya. Dengan mempelajari firman-Nya, kita dapat membedakan seperti apa orang yang sudah terlahir kembali dan yang tidak. Tetapi tidak hanya sampai pada mengetahui, Ia ingin agar kita menguji dan menyelidiki hati kita berdasarkan firman tersebut. Oleh sebab itu, dibanding meyakini bahwa kita sudah lahir baru dengan hanya berdasar pada perkataan hati atau perasaan, jauh lebih baik apabila kita merendahkan hati, meragukan kelahiran baru yang kita rasa kita miliki, menguji diri berdasarkan Alkitab, dan membiarkan Alkitab sendiri yang memberikan kesaksian kepada kita bagaimanakah kondisi spiritual kita yang sebenarnya.

Tegak Dalam Iman

#Bersambung ke “7. Tanda-Tanda Orang Lahir Baru: Tanda Pertama”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s