7. Tanda-Tanda Orang Lahir Baru: Tanda Pertama

Di bagian sebelumnya, kita telah belajar bahwa kita tidak dapat mengetahui dengan pasti kapan seseorang mengalami lahir baru. Berpikiran bahwa suatu kejadian tertentu adalah momen di mana kita lahir baru merupakan spekulasi yang berisiko tinggi karena dapat membawa kita pada kepuasan dan kesombongan rohani yang menipu.

Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak menilai suatu pohon dengan melihat rupa dari pohon itu, melainkan dengan melihat buah-buah yang pohon itu hasilkan. Pohon yang kelihatannya baik bisa jadi menghasilkan buah yang buruk. Apabila buahnya buruk, maka pastilah pohon itu merupakan pohon yang buruk sekalipun penampilannya baik. Demikian pula dengan status lahir baru seseorang. Kita tidak bisa menilai apakah kita sudah lahir baru atau tidak hanya dengan meninjau seberapa besar keyakinan hati kita atau seberapa dramatis “momen sorgawi” yang pernah kita rasakan. Sebagaimana rupa pohon dapat menipu, hati kita sangat mungkin menipu diri kita sendiri.

Jadi kita harus bagaimana? Tuhan kita mengatakan, “Lihatlah buahnya” dan itulah yang harus kita lakukan. Kita harus melihat buah-buah yang kita hasilkan. Buah macam apa? Apa maksudnya buah itu? Apakah Alkitab juga menjelaskan mengenai buah-buah itu? Tentu saja. Bahkan, Alkitab PENUH dengan penjelasan mengenai buah-buah itu. Namun, kalau kita harus memilih bagian mana dari Alkitab yang paling mencolok dalam mencirikan orang yang telah terlahir kembali, maka kita harus memilih, menurutku, Surat 1 Yohanes.

Surat 1 Yohanes merupakan surat yang sangat penting – walau semua isi Alkitab sangat penting – setidaknya karena dua alasan. Alasan pertama dapat dilihat dari tujuan penulisan surat ini. Yohanes menulis:

TAHUYa, surat 1 Yohanes ditujukan untuk meneguhkan kepastian keselamatan di antara para jemaat yang saat itu sedang berada di bawah tekanan yang berat. Melalui surat ini, Rasul Yohanes ingin menguatkan hati para jemaat dan meyakinkan mereka bahwa sekalipun di dalam dunia ini mereka menderita, mereka akan menerima mahkota kemuliaan berupa hidup yang kekal apabila mereka sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Bukankah itu hal yang sangat penting?

Alasan kedua mengapa surat ini sangat penting adalah karena surat ini menjelaskan apa artinya menjadi orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Yohanes menulis, persiapkan dirimu untuk ini:

Hidup Seperti YesusMungkin alasan kedua ini akan terdengar ekstrem bagi beberapa orang Kristen. Bagaimana tidak? Pesan setajam ini sudah jarang sekali disampaikan dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita. Kekristenan zaman sekarang, secara umum, sudah melenceng terlalu jauh dari gereja mula-mula. Iman yang sejati kini dimaknai tidak lebih dari sekadar percaya pada suatu fakta bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa umat manusia dan menyelamatkannya dari neraka.

Memang benar, pengorbanan Yesus menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya dari neraka. Tetapi tidak hanya itu. Pengorbanan Yesus juga menyelamatkan setiap orang percaya dari perbudakan dosa. Pengorbanan Yesus memampukan setiap orang Kristen yang sejati untuk bertobat. Itulah iman yang sejati, yakni keyakinan yang teguh di dalam Yesus Kristus dan yang terbukti dengan dihasilkannya buah-buah pertobatan.

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan,”
aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan,
dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!
Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang,
bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati,
demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
(Yakobus 2:18-20; 26)

1609915_694515963946400_7443214164527259010_n

“Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup”. Di dalam surat ini, Yohanes menegaskan standar dari seorang pengikut Kristus. Dengan perkataan lain, surat ini menjelaskan tanda-tanda dari orang yang sudah lahir baru. Apakah tanda-tanda itu?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tanda Pertama

1. Melakukan Kebenaran

Orang yang lahir baru akan hidup di dalam kebenaran. Ia memiliki perasaan cinta kepada Allah yang berbeda dengan apa yang sebelumnya ia miliki. Ia memiliki perasaan takut akan Allah yang berbeda dengan apa yang ia rasakan sebelum ia lahir baru. Ia mencintai Firman Allah. Ia mempelajarinya dengan penuh sukacita dan memegangnya sebagai kebenaran yang sejati dan yang tertinggi di dalam hidupnya. Kerinduan hatinya adalah untuk hidup seturut dengan kehendak Allah, melayani-Nya, dan menyenangkan hati-Nya.

10628197_10152865401653385_156252411080497704_n

Ia menyandarkan seluruh hidupnya pada firman Tuhan Yesus yang berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” Itulah yang menjadi standar dan motivasi di dalam hidupnya. Ia tidak lagi memandang ketaatan pada perintah Kristus seperti dirinya yang dahulu memandangnya. Ia berjuang untuk hidup di dalam ketaatan. Ia tahu bahwa dengan kekuatannya sendiri ia tidak mungkin mampu melakukan semua itu. Itulah sebabnya ia selalu datang kepada Tuhan Yesus untuk memohon pertolongan dan kekuatan dari-Nya sehingga ia mampu hidup di dalam kebenaran-Nya. Singkat kata, dahulu ia adalah budak dosa tetapi setelah terlahir kembali ia menjadi hamba kebenaran Allah.

Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
(Roma 6:18)

dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah
di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
(Efesus  4:24)

Mazmur 86 11

Roh KUDUS berada di dalam hati-Nya. Kini, ia memandang kekudusan dengan penilaian yang sepenuhnya baru. Ia tidak lagi memandang remeh arti kekudusan dan kemurnian di dalam hidupnya. Baginya, kekudusan jauh lebih berharga dibanding ketenaran, kekayaan, kenyamanan, dan semua kenikmatan lain yang dipandang berharga oleh dunia. Ia berduka dengan kejahatan yang masih tersisa di dalam dirinya. Ia senantiasa bergumul dan berdoa agar Roh Kudus terus membawanya pada kekudusan yang kian hari kian sempurna.

11880_10151930815856286_1906761356_n

Ia mengerti bahwa tangan yang malas dan pikiran yang kosong akan menjadi alat iblis untuk menjatuhkannya kembali ke dalam lumpur dosa. Oleh sebab itu, ia mendorong dirinya untuk menjauhi kemalasan. Ia mendisplinkan dirinya. Ia terus berusaha melampaui tingkat kedisiplinan yang telah ia capai sebelumnya. Ia berjuang untuk cermat terhadap waktu yang ia miliki dan ia menggunakannya untuk kemuliaan Allah. Ia terus bekerja bagi Allah. Inilah yang terus menjadi hasrat dan memberikan semangat baginya, yakni kerinduan untuk memperluas kerajaan Allah di bumi di sorga. Ia ikut bekerja dengan Kristus yang berkata:

Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.
(Yohanes 5:17)

1939940_10152437718523423_4316323202476693298_n

Ia tahu bahwa tujuan hidupnya adalah untuk menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29) sehingga ia selalu mengarahkan pandangannya kepada Kristus. Ia ingin mengasihi seperti Kristus mengasihi. Ia rindu membagikan Injil seperti Kristus mengabarkan Injil. Ia ingin mengampuni seperti Kristus mengampuni. Ia berjuang untuk hidup rendah hati sebagaimana Kristus menghidupinya. Ia ingin hidup kudus seperti Kristus adalah kudus. Ia ingin taat kepada Bapa seperti Kristus taat kepada Bapa-Nya bahkan taat sampai mati. Ia menaklukkan segala pikiran kepada Kristus. Apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci, apa yang manis, apa yang sedap didengar, apa yang disebut kebajikan dan patut dipuji, itulah yang terus menerus dipikirkannya (Filipi 4:8).

Jangan salah, ia mengejar hidup yang benar bukan karena ia merasa bahwa ia akan diselamatkan karena kebaikan atau ibadah yang ia lakukan. Ia tidak percaya bahwa manusia dapat mencapai sorga dengan perbuatan baiknya sendiri. Ia tahu bahwa tidak ada satupun dari dirinya yang dapat membuatnya layak untuk datang ke hadirat Allah. Satu-satunya harapan baginya untuk dibenarkan di mata Allah adalah Kristus yang telah mati untuk menebus dosa-dosanya. Oleh sebab itu, ia terus berjuang untuk tidak berfokus pada dirinya sendiri untuk menemukan kepastian keselamatan itu dan sebaliknya ia mengarahkan matanya hanya kepada Kristus.

Away from myself

Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat,
tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.
(Galatia 2:16)

Tentu saja, ia bukanlah orang yang sempurna. Terkadang, ia bisa gagal. Terkadang, ia bisa jatuh dalam dosa kesombongan rohani. Ketika hal itu terjadi, Roh Kudus akan menginsyafkan dirinya. Ia akan sangat berduka karenanya. Namun, ia tidak akan terus mengurung dirinya dalam perasaan bersalah dan intimidasi iblis. Injil Kristus telah terukir di dalam hatinya sehingga ia akan selalu tahu jalan pulang kepada Sang Gembala. Ia percaya bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkannya. Ia percaya janji-Nya yang mengatakan bahwa Ia mengasihi umat-Nya dengan kasih yang kekal (Yeremia 31:3).  Ia selalu menemukan pengampunan di dalam hati-Nya.

Aku Takkan Meninggalkanmu

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Inilah yang dikatakan oleh Alkitab mengenai orang yang lahir baru.
Apakah yang Alkitab katakan tentang dirimu?
Apakah kau lahir baru?

Lapar dan Haus akan Kebenaran

#Bersambung ke “8. Tanda Kedua”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s